
"Lima ajak Ara bolos kah? " tanya Brian pada Bryan yang baru saja selesai menelpon Panglima.
Saat ini dou B dan yang lain sedang dikelas, mereka baru saja selesai makan dikantin sekolah.
"Hm, Ara di mansion Lima. " sahut Bryan.
"Ternyata si Lima bisa bolos juga yah!" ucap Lian.
"Iya, mana dibawa ke mansion lagi. Woahh! " timpal Juna.
"Emang kenapa kalau di mansion? " tanya Hendra.
"Seharusnya kalau ngajak bolos itu bawa ke hotel. " ucap Juna tanpa beban.
Plak
Plak
Plak
Juna mendapat tiga tamparan dari Lian, Hendra, dan Brian. Lian menampar bahu kanan, Hendra menampar bahu kiri, dan terakhir Brian di kepala. Sehingga, membuat sang empu kesakitan.
"Ssshh, sakit egeee! " kesal Juna.
"Lagian lo, mana ada bolos ngajak ke hotel? Biasanya kalau bolos sekolah itu ngajak ke kantin, angkringan, atau jalan-jalan ke taman hiburan. " ucap Hendra dan diangguki yang lain.
"Lah? Kan ngajak pacar itu enaknya ke hotel, biasanya orang-orang gitu kok. " sahut Juna dengan polosnya yang membuat teman-teman ingin muntah.
"Lima gak sebejat itu! " ketus Brian.
"Iyasih, tapi kalau Lima beneran ngajak degem ke hotel! Gimana jadinya? Kan degem itu polos, haha. " ujar Lian yang diselingi tawa diakhir perkataannya.
Juna dan Hendra ikut tertawa karena membayangkan kepolosan Ara yang jika diajak enak-enak.
Brian mendengus kesal karena teman-teman nya itu menertawakan kepolosan adeknya, "Jangan menertawakan adek gue! " kesal Brian.
"Elahh, sok-sokan marah! Padahal lo sering kan menertawakan kepolosan Ara. " ujar Lian.
"Terserah gue, gue abangnya dan yang berhak menertawakan Ara hanya gue! " pungkas Brian.
"Tidak ada yang boleh menertawakan adek gue termasuk, Lo! " ucap Bryan seraya menatap sengit mereka semua dan yang terakhir Brian.
Setelah berucap begitu Bryan pergi keluar kelas meninggalkan teman-teman serta kemberannya yang sedang menatapnya datar.
"Mau kemana, Lo? " tanya Brian saat Bryan sudah diambang pintu kelas.
"Bolos! " sahut Bryan singkat.
"Ck, kenapa dia malah ikutan bolos. " decak Brian.
"Bolos juga sono, ajak Susi ke hotel!! " canda Juna.
Brian tersenyum, "Ide yang bagus, oke! Gue bolos juga. Bye!! " Brian ikut pergi yang membuat Lian, Juna, dan Hendra cengo.
"Bisa-bisa nya dia nerima usulan sesar dari gue. " ujar Juna cengo. Padahal dia tadi hanya bercanda tapi Brian? Bener-bener ingin mengajak Susi bolos kah? Bingung Juna.
__ADS_1
"Beneran kah? " tanya Lian cengo.
"Gak mungkin lah, haha! " sahut Hendra tertawa, paling Brian ngajak Susi bolos dengan mojok disisi sekolah! Pikir Hendra.
"Kita bolos juga yukk! " ajak Lian pada kedua temannya itu.
"Heh, kita udah gak pinter! Masa bolos pula, bagaimana nasib nilai ha? " ujar Hendra yang lebih dewasa dari Lian dan Juna.
"Cuma sehari doang, elahh! "
"Tetap aja, gak boleh! "
"Si paling rajin, tapi gak pinter-pinter. " ejek Lian.
"Setidaknya absen aman, " sahut Hendra.
"Terserah lo, gue mau tidur aja! " ucap Juna lalu dia melipat kedua tangannya di atas dan menenggelamkan wajahnya disana.
"Yeee, sama aja ini bolos. " ujar Lian.
"Beda! Bolos gak ada dikelas, sedangkan gue ada. " ucap Juna.
"Yayaaya, terserah! "
****
"Kenapa kalian melakukan itu? " tanya Panglima datar.
Riri dan Risa saling pandang dengan wajah mereka yang terlihat sedang ketakutan, bagaimana tidak takut? Panglima saat ini sedang memegang pisau kecil.
"Main-main? MAIN-MAIN KALIAN BILANG HAH? " bentak Panglima.
Riri dan Risa meneguk ludah kasar, mereka takut melihat kemarahan Panglima.
"Lo siapa? Emang apa hubungan si cupu itu sama, Lo? " Riri masih dengan berani nya bertanya seperti itu.
Panglima menatap tajam Riri, "Siapa pun dia itu bukan urusan, Lo! " ujarnya.
"Kalau bukan siapa-siapa gak usah semarah ini dan sampai nyulik kami. " ucap Riri yang mungkin tidak ada rasa takutnya, sedangkan Risa hanya diam, dia dapat merasakan sesuatu yang akan terjadi terhadap mereka.
"DAN KALIAN SIAPA YANG BERHAK NGEJUAL BELLA, SIALAN!!? " murka Panglima. Sungguh dia bener-bener marah karena dua perempuan didepan itu bukan hanya membully tapi juga menjual Bella.
Riri terdiam karena melihat Panglima semakin marah. Panglima berjongkok di depan Riri dan Risa, dia memainkan pisau kecilnya di lengan Riri dan Risa.
Patss
Patss
"Akhhh, "
"Awwww."
Kedua tangan Panglima yang memegang pisau itu ia tancapkan ditelapak tangan kanan Riri dan Risa, sehingga membuat sang empu kesakitan dan telapak tangan mereka mengeluarkan darah seger.
"Ini balasan buat kalian yang sudah berani nyentuh Bella. " Panglima tersenyum devil melihat darah seger yang keluar itu. Panglima mencolek darah Riri dan Risa itu lalu dia menjilat nya satu-satu yang membuat Riri dan Risa jijik sekaligus takut.
__ADS_1
"Rasanya gak enak, " ucap Panglima seraya menjulurkan lidahnya karena memcicipi darah yang tidak enak menurut nya, biasanya dia suka darah-darah korban yang dia bunuh.
"Sebelum nyawa kalian hilang, ceritakan semua nya tentang kalian menjual Bella. " ucap Panglima datar.
"Gue gak akan cerita kan, tuh! Nyawa kami tetap hilang. " ucap Riri.
Panglima menatap tajam Riri yang seperti nya tidak takut padanya itu, padahal dalam lubuk hati terdalam Riri begitu ketakutan, apalagi tadi dia melihat jelas Panglima menjilat darah. The real psikopat! Batin Riri dan Risa.
"Cerita atau gue lukain kalian lebih parah dari ini! " ucap Panglima dingin yang membuat hawa disekitar juga dingin.
"Gak mau, " tolak Riri bersikeras, sedangkan Risa hanya bisa diam dan tidak berani menyahut.
Settt
Panglima mencengkram kuat pelipis Riri, "Cerita atau gue siksa! " ucap nya dingin.
.
"B-biar gue yang c-cerita. " Risa mengangkat suaranya.
"Cepat."
Risa mengangguk dan melirik kearah Riri sejenak. "K-kami sebenarnya hanya ingin mengerjai Bella, kami mengajak Bella ke club untuk meminumi nya alkohol. Karena Bella terus menolak akhirnya kami marah dan saat itu kami ingin menyeretnya keluar club, tapi ada laki-laki yang meminta Bella untuk menemani nya di club, karena kami tidak menyukai Bella kami pun setuju dengan kesepakatan laki-laki itu harus membayar 10jt ke kami, dan laki-laki itu setuju, setelah itu kami pergi tanpa tahu apa yang terjadi pada Bella lagi. " jujur Risa, dua tau pasti setelah ini nyawa nya dan Riri akan hilang tapi setidaknya rasa bersalahnya terhadap Bella bisa berkurang karena menceritakan itu pada Panglima.
"Siapa laki-laki itu? " tanya Panglima dingin.
Risa menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu karena mereka belum pernah melihat laki-laki itu sebelum nya.
"SIAPA? " teriak Panglima karena tidak mendapat kan jawaban.
"K-kami tidak tahu. " sahut Riri.
"Damn it, " umpat Panglima. "Ajudannnn, kalian kesini dan gilir mereka. " titah Panglima kepada ajudan-ajudannya.
Terlihat sepuluh ajudan sedang memasuki ruangan. "A-apa maksud nya gilir?" tanya Riri ketakutan.
Panglima tersenyum devil, "Gue akan memberikan kenikmatan dulu sebelum menghilang kan nyawa kalian, baikkan gue? " seringai jahat muncul di bibir Panglima.
Riri dan Risa menggeleng seraya menangis, mereka memang nakal tapi mereka tidak pernah melakukan hal murahan seperti menjual diri maka dari itu mereka ketakutan saat melihat tubuh besar dari sepuluh pria itu.
"M-maafkan kami hikss, " tangis Risa.
"I-iya kami minta maaf. " ujar Riri.
"Ini balasan karena kalian menjual Bella dengan harga 10jt, dan gue memberikan 10 pria. Bukankah itu impas? " ujar Panglima lalu dia mengisyaratkan kepada sang ajudan-ajudannya untuk memulai permainan. "Gue balik, kalian bermainlah! " ujar Panglima, dia akan menemui gadis nya sebelum gadisnya itu terbangun dari tidurnya.
"Oh ya, kalian bermain sambil intogerasi mereka, siapa tau mereka berbohong soal pria yang sudah membeli Bella. " ujar Panglima sebelum dia bener-bener keluar dari ruangan itu.
"Baik, Tuan Muda. " sahut salah satu ajudan itu.
'Gue bersumpah akan membunuh laki-laki itu kalau bener-bener Bella telah dilecehkan olehnya, mungkin karena meresa tidak suci lagi Bella memilih pergi dari raganya? 'Batin Panglima masih bertanya-tanya tentang penyebab Bella memilih pergi dari kehidupan nya.
**
Part kali ini gak ada Ara yaa hihi...
__ADS_1
Happy reading guyss♡♡