
"Ayahh, bundaa. " panggil Bryan saat masih menuruni anak tangga, wajah Bryan terlihat sedikit khawatir.
Radella dan Bima yang baru keluar kamar segera menemui putra nya itu.
"Ada apa? " tanya Bima pada Bryan saat mereka sudah berdiri saling berhadapan.
"Ara dimana? " tanya Bryan to the point, dia beru saja mengecek kamar adeknya tapi sang adek malah tidak ada.
"Dia jogging katanya, " sahut Radella.
"Apa!! "Bryan kaget mendengar ucapan sang bunda.
"Kenapa sih bang? " tanya Radella bingung.
"Bunda, kenapa biarin Ara keluar sendiri, arghhh. " sekarang Bryan semakin khawatir, dia mengambil ponselnya yang berada di kantong celana nya dan jari-jari nya seperti mencari nomor seseorang.
Radella dan Bima memperhatikan pergerakan putra nya yang terlihat khawatir itu.
"Hallo Lim, " Bryan menghubungi Panglima, sekarang hanya Panglima yang dia harapkan, Bryan tau kalau adeknya keluar itu tidak akan aman karena Panglima akhir-akhir ini mendekati adeknya secara Terang-terangan dan pasti musuh-musuh Panglima mengetahui itu.
"Hem? " dehem Panglima diseberang sana.
"Ara keluar sendiri Lim, " beri tahu Bryan.
"Apa? Kenapa bisa dia keluar sendiri, ahh sial dia tidak akan aman. " kaget Panglima yang diyakini Bryan saat ini temannya itu juga sedang khawatir.
"Ini semua karena lo udah deketin adek gue, awas aja kalau adek gue kenapa-kenapa. " geram Bryan, saat ini dia hanya menyalahkan Panglima yang sudah berani mendekati adek nya.
Tut tut
Panggilan dimatikan oleh Panglima tanpa menjawab ucapan Bryan.
"Sial, " umpat Bryan.
"Kenapa sih, Boy? " tanya Bima.
"Kenapa ayah biarin Ara keluar, sekarang Ara dekat sama Panglima yah, otomatis sekarang Ara menjadi inceran musuh om Panji dan Panglima. " desah Bryan, sungguh dia sedang khawatir dengan adeknya itu.
Radella tiba-tiba terduduk lemes membayangkan sesuatu yang terjadi pada putri kecilnya, tidak, putrinya tidak boleh kenapa-kenapa, "mas coba telpon Ara, " pinta Radella dengan mata berkaca-kaca.
"Percuma bun, Ara gak bawa HP. " ucap Bryan yang sempat melihat ponsel Ara tergeletak di nakas.
Radella tiba-tiba menangis, "ini semua salah bunda sama ayah yang biarin Ara keluar begitu saja hikss, " lirihnya.
Bima memeluk istrinya, dia paham apa yang dirasakan istrinya, itu kesalahan mereka yang membiarkan Ara keluar, saat itu mereka tidak bisa mengejar Ara karena keadaan tubuh mereka yang naked.
"Bryan, cari adekmu sampai ketemu, please.. " pinta Radella pada putra sulungnya itu.
Bryan menghela nafas, "Bryan akan cari Ara sampai ketemu, tapi Bryan harap bunda jangan menyalahkan diri sendiri oke, mungkin Ara masih disekitaran sini. " Bryan mencoba menenangkan sang bunda.
"Jangan sampai adek kalian kenapa-napa yaa bang, " pinta Radella.
"Iya bun, kalau begitu abang cari Ara dulu, " pamit Bryan dan diangguki oleh Bima dan Radella.
Bima membantu istrinya berdiri dan menuntunnya di sofa, "kamu tenang yah, InsyaAllah Ara tidak kenapa-napa. "
Radella mendelil sinis, "ini semua gara-gara kamu, jika terjadi sesuatu pada putriku maka kamu tidak akan mendapat jatah lagi. " ancam Radella, dia menyalahkan suaminya yang pagi-pagi sudah meminta jatah sehingga mereka tidak sadar bahwa Ara keluar sendirian.
"Kok gitu bun, " protes Bima tapi Radella tidak menjawab, dia mengacuhkan suaminya itu.
****
"Bagaimana? "tanya Panglima pada anak buahnya.
"Maaf tuan muda, nona Ara seperti nya tidak membawa ponsel saat keluar. " sahut anak buah Panglima yang ditugaskan melacak keberadaan Ara melalui ponsel.
"Sial, cari tahu apakah ada yang membawa gadisku, aku akan pergi untuk melihat sekitar taman dekat rumah nya dan mencari dia disana. " titah Panglima tegas.
"Baik tuan muda. "
Panglima berlalu pergi, selama Ara belum dipastikan menghilang maka Panglima tidak akan menghubungi ayahnya.
__ADS_1
**
Sedangkan yang dikhawatirkan tengah berceloteh riya didalam mobil.
"Om, " panggil Ara dengan wajah yang belepotan setelah memakan es krim.
"Ada apa? " tanya Dani merasa gemes dengan Ara yang seperti anak kecil.
"Boleh gak sih kalau Ara tidak memakai baju didepan laki-laki? " tanya Ara polos.
Alis dani terangkat kemudian dia menggeleng, "tidak boleh. " sahut Dani datar.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "berarti bunda tidak bohong tapi-tapi kenapa bunda gak pake baju sama ayah? " mata polos itu menatap Dani.
'Astaga, apakah orang tua gadis ini bercinta didepan anak mereka sendiri? 'Batin Dani merasa kalau otak polos Ara dinodai orang tua nya sendiri.
"Om, " Ara memanggil Dani seraya mengguncang kuat tubuh Dani dan membuat Dani kesulitan menyetir.
"Apa? " tanya Dani sedikit kesal tapi gemes.
"Om punya bunda? Seperti ayah punya bunda? " tanya Ara yang belum mengerti apa itu suami istri.
"Bunda om? " tanya Dani, dia takut salah mengira.
Ara mengangguk lucu, "iya kalau tidur selalu berdua. " Ara menunjukkan jari mungilnya membentuk 'v'.
Dani menghela nafas kasar, "itu namanya istri. " jelas Dani yang sekarang mengerti maksud Ara.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "istri? " bingung Ara.
Dani mengangguk, "iya istri, istri itu adalah wanita yang dinikahi oleh seorang pria. "
Ara mengangguk lucu, "om pernah tindih-tindih istri om? " tanya Ara polos.
Wajah Dani memerah mendengar perkataan polos dari Ara, dia bingung mau menjawab bagaimana, niatnya menculik Ara untuk memancing keluar nya si Panji itu bukan untuk menodai otak polos Ara.
"Mmm p-pernah. " jawab Dani gelapan, pokoknya sebisa mungkin dia menjelaskan kepada Ara tapi dengan normal agar tidak ternoda tu otak polos.
'Aihh gadis imut ini kalau kepo sangat membuat diri tidak tenang, 'batin Dani yang frustasi menghadapi pertanyaan random tentang orang dewasa dari Ara.
"Itu namanya suami istri yang main tindih-tindihan. " jelas Dani.
"Main tindih-tindihan gak pake baju om? " tanya Ara semakin menjadi dengan wajah polosnya itu.
Telinga Dani memerah mendengar itu, "i-iya. " sahutnya terbata.
"Biar apa gak pake baju om? " tanya Ara lagi.
Ahh rasanya Dani ingin memulangkan Ara karena takut pertanyaan Ara semakin membuat nya frustasi. "Biar dapet adek bayi.. " jawab Dani spontan, 'nahkan salah jawab kayaknya, ini kenapa bisa orang tuanya bercinta di depan gadis imut ini sih, 'batin Dani mengumpati kedua orang tua Ara.
Ara yang mendapat jawaban spontan itu lantas menangis, dan membuat Dani semakin gelagapan, "heyy kenapa menangis, om gak ngapa-ngapain lohh. "
"Hikss, Ara gak mau punya adek bayi dari ayah sama bunda, nanti Ara gak di sayang-sayang lagi hikss. " isak Ara.
Dani bingung bagaimana cara mendiamkan Ara agar tidak menangis, dulu dia tidak pernah mendengar mendiamkan putrinya menangis, karena istri nya yang akan mengurus itu.
"Kamu tenang ya princess, jika ayah sama bundamu tidak menyayangi kamu lagi maka om lah yang sayang sama kamu. " Dani mengelus lembut rambut Ara. Ahh sungguh Dani itu penculik yang berhati lembut terhadap anak-anak. Dani menyukai Ara saat menyapa Ara di taman tadi, Dani akan mengangkat Ara sebagai putri nya yaaa sebagai putri nya, walaupun Ara itu terlalu aktif bicara dan kelewat polos tapi Dani merasa gemes dengan Ara.
"Om sayang Ara? Why? " tanya Ara lucu sambil menghapus air matanya.
"Karena kamu lucu dan cantik, " kekeh Dani.
"Ara cantik hihi, " Ara terkikik lucu dan membuat Dani terkekeh. "Om mau bawa Ara kemana? " tanya Ara kemudian.
"Om mau culik kamu sebentar, " sahut Dani jujur.
"Culik? " Ara bingung, apa itu culik? Dia tidak pernah tau sebelumnya maka dari itu dia tidak takut dengan orang-orang.
Dani membuang nafas pelan, "culik itu saat kamu dibawa oleh orang asing yang belum pernah kamu kenal sebelumnya. " jelasnya.
"Kaya om? " tanya Ara dan diangguki oleh Dani.
__ADS_1
Ara mengangguk lucu sambil mencari sesuatu Dani yang melihat itu mengernyit heran.
"Kamu cari apa? " tanya Dani.
"Mmm HP Ara om, Ara mau kasih tau bunda sama ayah kalau Ara di culik. " sahut nya polos dan masih mencari benda pipih itu.
Dani membuang nafas kasar mendengar perkataan polos dari Ara, apa tadi katanya? Pengin bilang kalau dia sedang diculik? Bahkan mendengar kata 'culik' pun Ara sama sekali tidak takut, segitu polosnya kah dia? Pikir Dani tak habis pikir dengan sikap polos Ara yang cenderung seperti anak kecil yang baru dilahirkan.
"Aaa iya Ara lupa bawa HP dan Ara lupa..... " Ara menggantung kalimatnya sambil meraba tempat duduknya.
Alis Dani terangkat, "dan lupa apa? " tanya Dani.
"Om, " Ara malah memanggil Dani.
"Hem? " deham Dani.
"Om look, " Ara berdiri dan menunjuk kursi yang dia duduki tadi.
Dani menoleh kesamping dan melihat kearah tunjuk Ara, Dani bingung melihat seperti basah-basah di kursi tersebut.
"Kamu ngompol? " tanya Dani bingung.
Ara menggeleng, "no, Ara gak ngompol, Ara sudah besar. " bantah Ara.
"Terus itu apa? " tanya Dani.
"Darah, " sahut Ara polos.
Ckitttt
Dani yang mendengar kata darah tiba-tiba rem mendadak beruntung dia sempat menahan Ara yang berdiri itu sehingga Ara tidak terjungkang. Dani kaget kenapa ada darah? Bukankah dia tidak melukai Ara tapi kenapa itu apa? Ahh Dani linglung ini bukan seperti dirinya, dirinya seorang mafia bukankah darah itu hal wajar bagi Dani? .
"Kamu terluka? " tanya Dani agak khawatir, bagaimana pun juga sekarang dia sudah berubah dan dia bukan Dani yang dulu, semenjak kelahiran putri nya dia menjadi lembut terhadap wanita tapi rasa kesal terhadap sepupunya itu masih ada.
Ara menggeleng lagi, "terus darah apa itu? " bingung Dani.
"Mmm Ara PMS om, " ucap Ara.
Dani sekarang mengerti, "mau beli pembalut dulu? " tawar Dani dan Ara mengangguk.
Dani kembali menjalankan mobilnya, Ara tersenyum karena Dani tidak memarahinya karena mobil Dani kotor.
"Om, " panggil Ara.
"Apa lagi hm? " tanya Dani berusaha lembut.
"Ara Mmm, nanti setelah beli pembalut bantuan Ara pasangnya yah. " pinta Ara polos.
Ckittt
Lagi-lagi Dani rem mendadak dan membuat Ara kesal. "Om suka berhenti tiba-tiba, Ara kan jadi terjungkal. " kesal Ara padahal dia tidak terjungkal atau terpentok apapun karena Dani menghalangi nya.
Dani menghembuskan nafas terakhir ehhh nafas kasar, "kamu ngagetin om sih. " ucapanya.
Ara melotot kan matanya kearah Dani, "Ara gak ada ngagetin om ya. " garang Ara walaupun Dani tidak takut sama sekali.
"Tadi kamu bilang bantu pasangin pembalut ya om kaget lah, lagian kamu gak bisa apa pasang sendiri? " tanya Dani.
Ara menggeleng, "Ara kemarin dibantu bunda dan belum terbiasa, karena Ara diculik om jadi om yang bantu Ara. " jelas Ara polos.
Dani memijat pelan kepalanya, "kamu om pulangin aja ya, " ujar Dani hampir frustasi.
Ara memiringkan kepalanya, "why? " tanya Ara polos.
"Nanti aja culik nya saat kamu selesai PMS, " ujar Dani bak orang bodoh, seperti bukan mafia, jika Soni ikut menculik Ara maka dapat dipastikan Soni akan menertawakan Dani karena menjadi orang bodoh didepan gadis kecil yang polos itu.
"Mmm berarti 5 hari an lagi dong om? Ara kan sekolah. " ujar Ara polos.
"Nanti pulang sekolah om culik nya, nanti kalau kamu selesai PMS kabarin om ya, ini kartu nama om. " Dani menyodorkan kartu nama nya, dan malaikat pun pada ketawa, menertawakan kebodohan Dani xixi.
"Oke om, ayoo pulang. " seru Ara setelah mengambil kartu nama itu. Dani akhirnya bisa tersenyum karena sebentar lagi dia akan berhenti mendengar celotehan random dari Ara, sepanjang perjalanan pulang mengantar Ara, Dani sesekali tersenyum sambil mengelus lembut rambut Ara.
__ADS_1