
Sembilan bulan kemudian.
"Bibi!! " panggil Ara.
Beberapa pelayan yang mendengar teriakan majikan kecilnya lantas menghampiri Ara.
"Iya, Nyonya? " tanya kepala pelayan.
Ara melihat ada sekitar lima orang pelayan yang datang. "Emm, Ara mau ambil minum itu, tapi susah karena perut Ara udah besar. " adu Ara lucu sambil menunjuk gelas minuman yang ada di meja.
Ara saat ini sedang nonton upin-ipin kesuksesan dengan banyak cemilan yang ada di meja. Ara bosen di Mansion karena Panglima sedang kerja dan dia pun sudah cuti sekolah. Ara kesusahan bergerak karena perut Ara yang sudah membesar. Satu pelayan mendekat dan mengambilkan minuman itu untuk Ara.
"Cemilan nya juga! " titah Ara. Sang pelayan mengambilkan cemilan itu untuk Ara.
"Perlu saya suapi, Nyonya? " tanya sang pelayan yang kasian melihat Ara kesusahan.
Ara menggeleng lucu. "Gak mau, kalian pergi saja. " ujarnya.
"Baiklah, Nyonya! Kami permisi. " pamit para pelayan itu.
"Hu'um." sahut Ara.
Ara memakan dengan lahap cemilannya lalu dia minum. Setelah minum Ara mau meletakkan gelasnya. Tapi Ara kesusahan.
"Eh, Ara kesel, susah banget gerak. " kesal Ara. Ara melihat perut nya yang besar itu. Lalu dia tersenyum.
"Taro sini, ah. " ujar Ara lalu meletakkan gelas air minum itu di perut besarnya. Ara menyenderkan punggung nya di sandaran sofa agar air minum tidak tumpah. Tangan Ara sebelah kiri memegang toples cemilan. Sedangkan, yang kanan menyuap cemilan ke mulutnya.
"Dedek bayi jangan gerak-gerak, ya. Nanti minuman Ara tumpah-tumpah. " nasehat Ara pada perutnya itu. Para pelayan dan bodyguard yang melihat itu menahan gemes akan tingkah majikan kecil mereka.
Ara kembali fokus pada tontonan nya sambil nyemil, kadang ia minum dengan sedotan agar dia tidak perlu repot lagi memegang gelas untuk minum, sangat menggemaskan.
Tak lama Panglima datang dan melihat Ara yang sedang berada di ruang keluarga. Panglima pun menghampiri Ara.
Saat semakin dekat Panglima terkekeh melihat Ara yang seperti Malas-malasan itu. Kenapa seperti Malas-malasan? Karena Panglima melihat gelas air minum itu di atas perut Ara. Tapi, sangat menggemaskan.
"Sayang! " panggil Panglima.
Ara yang mendengar suara Panglima hendak menoleh kebelakang. Namun, tidak jadi karena kalau dia bergerak maka air itu akan tumpah.
"Abang suami!! Jangan panggil-panggil gitu. Ara gak bisa lihat, abang sini cepat. " ujar Ara yang bergerak kaku itu.
Panglima terkekeh gemes lalu mendekat dan duduk di samping Ara. Panglima menjauhkan gelas itu dari perut Ara.
"Anak daddy sama mommy lagi ngapain di dalam. " Panglima malah mengajak si bayi yang belum lahir itu berbicara. Sehingga membuat Ara cemburu.
"Ara dulu yang di sapa, kenapa adek bayi. " kesal Ara lucu.
Panglima menatap istri kecilnya. Dia menarik gemes hidung Ara. "Kan tadi sudah. " ujar Panglima gemes. Memang sudah kan? Saat Panglima manggil 'sayang' tadi.
"Tadi abang di belakang, Ara kan gak bisa lihat wajah abang. " rajuk Ara.
Karena gemes Panglima menciumi wajah Ara. "Iya-iya maaf. " gemes Panglima.
"Hu'um, " Ara mengangguk saat diri nya sudah tidak di cium Panglima lagi.
"Sudah makan siang, hm? " tanya Panglima seraya menyelipkan anak rambut Ara.
Ara menggeleng polos. "Belum." ujarnya.
"Kenapa belum, hm? " tanya Panglima. Sebenarnya sekarang dia ingin marah kepada para pelayan yang tidak menawarkan Ara makan siang. Bukan tidak menawarkan, mereka semua membujuk majikan kecil mereka untuk makan. Tapi, Ara nya keras dan tidak mau makan. Katanya mau nunggu Panglima aja, karena Panglima pulang dari kantor memang siang hari.
Ara mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ara mau nungguin abang suami. " sahut nya lucu.
"Lain kali gak usah nungguin, ya. Kamu harus makan, kasian anak kita. " Panglima mengusap perut buncit itu.
"Biarin adek bayi nya kelaparan, biar cepat keluar. " ujar Ara polos. Mana bisa gitu? Kalau belum waktu nya keluar mana mungkin di bayi keluar, kan? Ada-ada aja Ara itu, hihi.
Panglima terkekeh, istri nya itu memang tidak sabaran menunggu anak mereka keluar. Dari usia kandungan tujuh bulan kemarin Ara merengek meminta si bayi keluar dengan alasan capek bawa perut gede dan lebih ingin melihat si bayi. Semua orang di buat kalangkabut karena Ara menangis.
"Adek bayi cepat keluar, Ara capek bawa adek bayi terus, hikss. "
Begitulah kemarin Ara berucap dan berujung Panglima dan teman-temannya jadi korban. Kenapa jadi korban? Karena Ara meminta mereka semua untuk dandan dan berpenampilan seperti perempuan agar bisa menghibur Ara.
Back to topik.
"Kita makan, ya! " ajak Panglima pada Ara. Ara mengangguk patuh.
Panglima menggendong Ara ala bridal style. Panglima mendudukkan Ara di kursi dengan perlahan. Lalu, dia ikut duduk di samping sang istri kecil.
Mereka mulai makan dengan tenang, Panglima dengan setia menyuapi istri kecil nya itu. "Bang! " panggil Ara.
__ADS_1
"Kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.
"Ara pipis. " ujar Ara polos.
Panglima menautkan kedua alisnya bingung. "Pipis? " tanya nya memastikan.
Ara mengangguk polos. "Hu'um. "
Panglima melihat kebawah kursi yang Ara duduk. Benar, ada air yang keluar di balik kaki Ara. Kepala pelayan yang mendengar itu juga ikut melihat. Si kepala pelayan reflek berteriak karena melihat air itu.
"Itu air ketuban, Tuan! Nyonya mau melahirkan!! " pekik kepala pelayan tersebut.
"Shitt.. " kaget Panglima lalu dengan segara menggendong Ara keluar.
"Abang suami, air ketuban apa? " tanya Ara polos di sela lari nya Panglima.
"Sst, sayang. Diam dulu, kita akan segara ke rumah sakit. " sahut Panglima panik. Yang mau melahirkan saja tidak panik dan malah dengan polos nya bertanya.
Di dalam perjalanan Ara sudah merasakan sakit pada perut nya. "Bang, Ara sakit, hikss. " adu Ara sambil memegang perut nya.
Panglima yang sedang menghubungi semua orang lantas menatap sang istri yang sudah berkeringat menahan sakit.
"Sabar, sayang. Pak Tarno lebih cepat!!! " titah Panglima pada sopir pribadi nya itu. Pak Tarno dengan perasaan gugup melajukan mobil itu.
"Hikss, sakit. Ara gak mau hamil lagi, hikss. " isak Ara didalam dekapan Panglima.
"Tahan sebentar, sayang! "
Skip
"Aaaaa, sakitt.. " teriak Ara sambil terus menjambak rambut Panglima didalam ruangan bersalin itu.
Oekk oekk oekk
Karena teriakan Ara yang kuat membuat si bayi keluar. Dan terdengar lah tangis bayi di dalam ruangan tersebut.
Panglima menitikkan air mata nya kala mendengar suara tangis bayi yang selama ini ia dan istrinya tunggu-tunggu.
"Selamat, Tuan, Nyonya. Bayi nya perempuan dan cantik seperti ibu nya. " ucap dokter perempuan yang membantu Ara bersalin tadi. Setelah mengatakan tersebut si dokter pergi untuk membersihkan si bayi.
Panglima melihat kearah Ara yang sedang mengatur nafas itu.
Panglima mengecup wajah Ara beberapa kali. "Terimakasih, terimakasih sudah melahirkan putri untukku, sayang! " ujar Panglima dengan sayang.
Ara sendiri tidak memberikan reaksi apa-apa saat Panglima berucap seperti itu. Kan Ara polos, dia malah mencari bayi nya dan tidak sabar ingin melihat wajah si bayi.
"Abang suami, adek bayi nya mana? " tanya Ara.
"Sabar, sayang. Dokter membersihkan nya dulu. " beritahu Panglima.
"Ara gak sabar lihat adek bayi, huhu. " ujar Ara lucu. Panglima dan para perawat yang sedang membersihkan Ara itu terkekeh gemes mendengar rengekan Ara.
***
"Bagaimana dengan Ara dan bayi nya? " baru saja Panglima keluar dari ruangan bersalin. Dia sudah di suguhi pertanyaan dari beberapa orang yang ada di sana.
"Ara dan bayi nya selamat dan sehat, Bun. " beritahu Panglima pada Radella.
"Alhamdulillah!! " sahut mereka semua.
"Ponakan gue, laki-laki atau perempuan? " tanya Brian.
"Perempuan."
"Akhirnya, gue punya ponakan perempuan juga. Bagas dan Bryan kan anaknya laki-laki. " senang Brian.
"Boleh kita masuk dan melihat nya? " tanya Puteri.
"Tunggu Ara di pindahan ke ruang rawat baru bisa jenguk semua, Mom. " jelas Panglima.
"Baiklah, Mommy sungguh tidak sabar melihat princess nya Dirgantara. " seru Puteri.
***
Diruang rawat Arabella Arshana.
Semua berkumpul dan bercanda di ruangan itu. Mereka semua bergantian menggendong si bayi yang baru lahir kedua itu.
"Siapa nama cucu daddy ini, Lima? " tanya Panji seraya menggendong bayi tersebut.
Panglima yang sedang menyuapi Ara bubur itu lantas menatap sang istri. "Kamu mau kasih nama siapa? " tanya Panglima pada Ara.
__ADS_1
"Ara gak tau. " ujar Ara polos lalu menyambar bubur yang sudah dekat dengan mulut nya itu.
Semua orang terkekeh melihat itu. Panglima tersenyum melihat sang istri yang lapar setelah melahirkan.
"Aruna Putri Dirgantara! " ujar Panglima.
"Nama yang bagus. " komentar Hendra. Dan diangguki oleh yang lainnya.
"Di panggil apa nih? " tanya Juna.
"Aru atau Una? " saran Bryan.
"Aru aja! " ujar Brian.
Mereka semua mengangguk dan mulai melihat bayi Aru yang berada di gendongan Bram. Bram melihat bayi Aru dengan seksama.
"Dia seperti mirip Ara sewaktu kecil. " celetuk Bram. Bagas ikut menelisik bayi Aru.
"Eh, iya. " kaget Bagas. Kenapa bisa mirip Arawinda? Kan sekarang Arawinda di tubuh Arabella. Radella dan yang lain pantas tidak berkomentar, ternyata bayi Aru mirip Arawinda sewaktu bayi.
"Bisa gitu, ya? " bingung Juna.
"Iya, padahal Ara kan udah pindah ke tubuh Bella. " ujar Brian.
Ara sendiri menatap polos mereka semua. "Itu kan anak Ara, wajar dia mirip Ara kan? " ujar Ara polos.
"Mirip Ara atau Bella, Aru tetap anak kami. " jelas Panglima. Dia tidak mempermasalahkan anak nya mirip siapa pun.
"Iya-iya, lagian cantik kok ini, malah cantik banget. " gemes Brian lalu menoel-noel pipi gembul Aru.
Hendra mendekat. "Boleh gendong, om? " pinta Hendra pada Bram. Bram menyerah kan bayi Aru ke Hendra.
"Cantik, dan menggemaskan. " ucap Hendra sambil membelai lembut pipi bayi Aru. Bayi Aru tersenyum mendapat sentuhan dari Hendra.
"Wehh, dia tersenyum. Wahh, seperti nya bayi lo suka sama Hendra, Lim." heboh Juna. Pasalnya dari tadi mereka megang dan nyentuh bayi Aru, Aru nya tidak memberikan respon apa-apa. Giliran di sentuh Hendra langsung ngerespon.
"Seperti nya jodoh Hendra, Aru. " canda Brian dan mendapat tatapan tajam dari Panglima.
Hendra sendiri hanya tersenyum memandangi wajah cantik Aru.
Hendra mencium hidung Aru dan lagi-lagi Aru tersenyum.
"Wah, fixs sih ini. Hendra jodoh Aru. " kompor Juna. Panglima yang kesel lantas berdiri dan mengambil anak nya itu dari Hendra. Bayi Aru menangis dan membuat Juna dan Brian semakin mengompori Panglima yang sudah resmi jadi orang tua itu.
"Nah, ponakan gue gak mau jauh dari jodoh nya. "
"Wahh, di bayikk, udah tau aja dia nyamannya ama siapa, haha. "
Para orang tua geleng-geleng kepala seraya terkekeh mendengar candaan dari Brian dan Juna itu. Panglima sendiri memasang wajah kesel.
Radella mendekat ke brankar Ara. "Sayang, susuin anak nya. " ujar Radella menyuruh Ara untuk menyusui Aru.
Panglima menyerahkan Aru ke gendongan Ara. Ara menerima bayi nya tersebut. "Ara gak kau susuin. " ucap Ara.
"Kalian keluar dulu, mungkin Ara malu ada kalian. " ujar Radella yang mengerti akan hal itu.
Ara menggeleng kuat. "No, Ara gak malu. Tapi memang Ara gak mau susuin. " beri tahu Ara.
"Kenapa, sayang? " tanya Puteri.
"Susu Ara cuma buat bang Lima, kata bang Lima gak ada yang boleh nyentuh. " jelas Ara polos.
Para orang tua terkekeh mendengar itu. Sedangkan teman-teman Panglima awal nya terdiam lalu mereka ketawa.
"Ajegilee, kelaparan dong tu bayikkkk, hahaha. " tawa Juna.
"Parah sih, Lima. " kekeh Hendra.
"Selena aja yang susuin, hahaa. " tawa Brian.
Panglima sendiri di buat malu karena ucapan polos yang keluar dari mulut sang istri.
"Sayang, susuin aja gak apa. " titah Panglima.
Ara menatap polos Panglima. "Abang, gak marah? " tanya Ara polos.
"Njirr, ngapain marah, nyusiin anak sendiri juga, haha. "
"Tolong, adek gue udah punya bayikk masih aja polos. "
Mereka semua di buat tertawa kembali karena kehebohan antara Juna dan Brian dan kepolosan Ara itu.
__ADS_1