
"Kakak cantik! " panggil Ara pada Arsita yang tengah asik menyetir itu.
"Kenapa? " tanya Arsita tanpa menoleh ke arah Ara.
"Ara mau ketemu om penculik. " ucap Ara.
Saat ini, Arsita dan Ara ingin pulang ke apartemen Arsita. Arsita dan Ara baru selesai makan di restoran, Ara hari ini akan di titipkan pada nya dan akan dikabari kalau Ara sudah bisa pulang.
Arsita menoleh kearah Ara. "Kenapa ingin ketemu? " tanya Arsita.
"Ara mau ketemu aja, Ara suka kalau jalan-jalan sama om penculek. " sahut Ara polos.
Arsita mengangguk seraya tersenyum, Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan nya. Masih jam tiga sore, itu berarti Dani masih di kantor, Arsita berniat membawa Ara ke kantor sang ayah dan menitipkan Ara, karena dia akan ada kesibukan dan itu akan sangat sulit jika dia bersama Ara.
"Baiklah, kita ke kantor nya sekarang. " ujar Arsita.
"Yeayyy, " girang Ara yang membuat Arsita gemes. Bukannya Ia jahat karena ingin membuat ayah nya ternistakan oleh Ara. Namun, Ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Jadi, Ara harus dititipin. Apa sih yang ingin Arsita lakukan sehingga harus menitipkan Ara? Arsita pengin ngedate sama Bagas guys, entah kapan mereka dekat, itu hanya mereka yang tau, hihi.
Skip
Sesampainya di perusahaan A.L Company. Perusahaan milik Dani.
Arsita mengajak Ara turun lalu, mereka memasuki perusahaan tersebut. Banyak orang yang menunduk hormat pada mereka, karena para karyawan di sana tau kalau Arsita anak dari pemilik perusahaan tersebut.
Arsita menuju meja resepsionis dan menanyakan soal sang ayah. "Papi, ada di dalam? " tanya Arsita dengan tangan yang setia menggengam tangan mungil Ara.
"Ada, Nona! Silakan datangi saja. " ujar karyawati tersebut, Ia tidak menghubungi Dani terlebih dahulu. Karena, Dani pernah mengatakan kalau istri dan anaknya yang mencari langsung suruh masuk saja tanpa harus izin kepadanya.
"Ah tidak, saya mau langsung pergi. Saya titip adek saya ini, tolong antarkan dia ke ruangan papi. " ujar Arsita.
Sang resepsionis tersebut melihat kearah Ara yang sedang melambaikan tangan mungil nya ke semua pekerja yang berlaluan.
"Baik, Nona. " ucap nya sopan.
Arsita tersenyum lalu ia menyuruh Ara menghadap nya. "Dek, kamu sama mbak ini ya ketemu papi nya. Kakak mau pergi karena ada urusan. " ucap Arsita lembut.
Ara menatap polos resepsionis tersebut lalu mengangguk seraya tersenyum cerah ke arah Arsita. "Oke, kakak cantik. " ucapnya lucu.
Arsita terkekeh lalu menarik pelan hidung Ara. "Gemesin banget sihh. Kakak pergi dulu ya! " pamit Arsita seraya melambaikan tangan nya pada Ara.
"Hu'um, papayyy... " Ara membalas lambaian tangan Arsita seraya menatap kepergian Arsita itu.
"Hm, ayo, Nona kecil. " ajak sang resepsionis.
Ara menoleh lucu. "Ara udah besar. " kesalnya lucu yang membuat orang-orang disana menahan gemes karena pipi chubby Ara terlihat lebih lucu jika Ara sedang kesal.
"Ah iya, Nona, mari. " Ara mengikuti langkah kaki sang resepsionis. Mereka memasuki lift, keadaan lift sungguh berisik karena Ara tak henti-henti nya berceloteh. Mereka yang ada di lift bukannya marah karena berisik, meraka malah tertawa gemes akan celotehan absurd Ara.
TING!!
Lift terbuka dan terlihat lah seorang pria paruh baya yang baru keluar dari ruangan Dani. Ara melihat orang asing yang agak lain dari yang lainnya itu. "Wajahnya serem. " Ara bergedik ngeri melihat wajah pria paruh baya tersebut.
Sang resepsionis menunduk hormat pada pria tersebut lalu menarik pelan tangan Ara dan membawa Ara ke ruangan Dani.
Sedangkan di dalam ruangan, Dani sedang asik berbicara dan temannya Soni. "Kata nya teman dari Panglima ada yang berkhianat! " ucap Soni dengan gaya ibu-ibu gosip.
"Udah tau, " sahut Dani malas. Mereka itu juga mafia jadi mudah saja mengetahui informasi ginian. Tapi, kenapa temannya itu lebay. Padahal bukan urusan mereka kok.
Soni mendengus kesal karena Dani tidak bisa diajak ngegosip, padahal gosip itu asek bukan?.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk! " ucap Dani.
Ceklek
__ADS_1
Dani dan Soni memandang kearah pintu yang mulai terbuka itu.
"Om penculik..!! " teriak Ara saat membuka pintu itu lebar.
Deg
"S-suara A-ara.. " ujar Dani terbata seperti orang yang kambuh trauma nya.
"Eh, suara siapa itu? Gemes bener. " heran Soni saat mendengar suara kecil Ara. Ara masuk dan berlarian kecil menghampiri Dani.
Hap
Ara memeluk Dani yang mangap-mangap itu karena ulah Ara yang kekencangan memeluk nya. Soni melongo karena baru pertama kali ada bocah yang berani dengan seorang Dani.
"Maaf, Tuan. Nona muda menitipkan anak kecil ini dan meminta saya mengantarkan nya pada, Anda. " ucap resepsionis sopan. Tapi, menyebut Ara dengan sebutan anak kecil.
Dani berusaha meraup oksigen setelah Ara melepaskan pelukannya. Dani mengatur nafasnya lalu menatap karyawan nya itu. "Sekarang dimana putriku? " tanya Dani.
"Nona, langsung pulang, Tuan. "
Dani menghela nafas kasar, pasti anaknya itu sengaja menitipkan makhluk kecil pemeras ini. Dani menjadi was-was dan takut kalau Ara kembali memeras nya. Sebenarnya, tidak masalah sih duit segitu. Tapi, ahh sudahlah, sulit bagi Dani untuk menjelaskan.
"Kau, kembali lah! " titah Dani pada resepsionis tersebut. Resepsionis tersebut pamit seraya menunduk hormat lalu melipir pergi dari ruangan sang tuan.
"Om! " panggil Ara.
Dani dan Soni lantas menoleh kearah Ara. "Apa? " tanya Dani. Ara duduk di sofa single tanpa disuruh, Ara memandangi Soni yang tidak pernah ia lihat itu.
"Om kurus ini siapa? " tunjuk Ara pada Soni. Dani tertawa kecil karena Ara mengatai Soni kurus, ya walaupun itu memang kenyataan hihi. Ara kan masih kecil, masih suci, mana mungkin dia berbohong, haha.
Soni mendelik sinis kearah Dani yang tertawa itu. "Ekhm, perkenalkan nama om adalah Soni. " Soni mengulurkan tangannya pada Ara dan Ara menyambutnya.
"Ara! " ujar Ara yang menyebutkan namanya itu. Seketika Soni mengangguk mengerti akan ketakutan Dani tadi. Rupanya gadis kecil yang sering Dani bicarakan itu bener-bener adanya. Gadis yang tidak pernah ada rasa takut dan terlihat seperti anak-anak menggemaskan.
"Om kurus, ngapain di sini? " tanya Ara polos.
"Kenapa om kurus manggilnya? Kan om udah sebutin nama om tadi. " protes Soni yang tidak mau di katai kurus walaupun itu kenyataan.
Ara mengerjap polos. "Ara mau manggil om kurus aja. " ucap nya polos.
"Om Soni aja. " ujar Soni.
"Om kurus, Ara bilang. " kekeuh Ara dengan garangnya.
'Pfft, seperti nya untuk sekarang aku aman, karena gadis kecil ini sudah ada bahan nistakan. 'Gumam Dani dengan menghela nafas tenang.
"Terserah kamu deh! " pasrah Soni. Malas dia berdebat dengan anak kecil yang pasti tidak mau mengalah itu.
Ara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ara melihat kearah meja dan terlihat cemilan yang berasal dari Garut, Jawa Barat itu. Cemilan yang di bawakan oleh rekan bisnis Dani yang baru saja Ara temui di dekat lift tadi.
"Ini tolol. "Seru Ara mengambil cemilan itu.
"Heh, mulutnya! " tegur Dani dan Soni bersamaan saat mendengar ucapan kasar yang keluar dari mulut Ara.
Ara memiringkan kepalanya. "Why? " tanya Ara heran. Kenapa setiap dia bicara selalu saja ditegur.
"Jangan bicara seperti itu lagi. " tergur Dani.
"Why? Kan Ara cuma menyebutkan nama makanan ini. Tolol kan ini. " ucap Ara polos sambil memperlihatkan cemilan yang ada ditangannya itu.
Dani dan Soni melihat kearah telapak tangan mungil Ara. Mereka saling pandang, entah kenapa mereka mendadak lupa nama makanan yang ada di Ara itu.
"Tiba-tiba aku lupa nama nya ketika mendengar dia salah menyebutkan nama makanan ini. " keluh Soni.
Dani mengangguk, ia juga lupa karena sebelum nya Ara menyebutkan nama makanan itu 'tolol'.
__ADS_1
"Coba cek google. " titah Dani pada Soni. Sekarang mereka cosplay jadi orang bodoh hanya karena kalimat polos yang keluar dari mulut Ara.
Setelah selesai mencari nama makanan khas Garut itu, Soni tiba-tiba tertawa. Bisa-bisa nya Ara menyebut dodol itu dengan sebutan tolol.
"Kenapa? " tanya Dani yang heran melihat Soni tertawa.
"Nih, " Soni menyodorkan ponsel nya pada Dani.
Dani melihat tulisan 'Makanan khas Garut adalah.. 'Itulah yang tertulis di google dan terlihat lah gambar-gambar dodol yang persis seperti yang Ara pegang itu. Dani menoleh ke arah Ara yang sudah melahap tolol ehh dodol itu.
Dani menghela nafas lelah. "Ara, ini namanya bukan tolol. Tapi, dodol!! " jelas Dani.
Ara mendongak menatap Dani. "Ara tau. " sahut Ara dengan mulut yang masih mengunyah itu.
Dani dan Soni membuka mulut mereka dan menatap cengo kearah Ara. "Kalau tau, kenapa tadi bilangnya itu to,,, ehhmm t-tolol. " tanya Soni dengan terbata diakhir kalimat, karena dia merasa tidak enak berbicara kasar didepan anak-anak.
"Tadi Ara lupa, sekarang Ara sudah ingat. " sahut Ara polos. Ara kembali melahap dodol itu sambil menggoyang kan kepala nya ke kanan dan ke kiri.
Masih dengan wajah cengo, Dani dan Soni saling pandang. Mereka berdua tertawa miris karena ulah Ara yang polos. Mafia seperti mereka kehilangan harga diri jika sudah di hadapan kan dengan gadis polos nan menggemaskan itu.
"Om! " panggil Ara pada Dani.
"Apa? " tanya Dani seraya bermain ponsel.
"Hm, Ara mau minta sesuatu boleh. " tanya Ara to the point.
Glek
Dani menelan saliva kasar, dia menatap Ara ragu-ragu. "M-minta a-apa? " tanya Dani gelagapan.
Soni yang menangkap gelagat Dani itu mengulum bibir menahan tawa. Ia tau kalau temannya itu takut pada Ara.
Ara menatap Dani polos seraya tersenyum manis. Namun, senyum Ara itu dianggap senyum smirk bagi Dani.
"Nanti aja, kalau om anterin Ara pulang. " ujar Ara.
"Om kurus aja yang anterin kamu yah? " ucap Dani yang hendak menghindari mengantarkan Ara itu.
Ara menoleh kearah Soni, bak sihir tatapan Ara membuat Soni juga takut. "Om kurus, banyak duit? " tanya Ara.
Soni menggeleng kuat. "O-om, g-gak punya d-duit. " dusta Soni yang membuat Dani mengumpat kesal ke arah temennya itu.
"Om kurus, tipu-tipu Ara yaa!! " tuduh Ara.
Soni mengganguk refleks, tapi detik berikut nya menggeleng kuat. "G-gak, om m-mana mungkin b-bohongin, Ara. " kilahnya.
Ara mengangguk lucu. "Kalau begitu, om penculik aja yang nganter Ara pulang. " ucapnya polos.
'Damn it. 'Umpat Dani.
****
Hendrik berlari menyosori lorong rumah sakit. Hendrik di hubungi oleh sang adek Zaskia, yang mengatakan kalau Lian meninggal.
Sesampainya disana, Hendrik langsung melihat marah jenazah Lian yang masih berada di ruangan operasi itu.
Alarex yang melihat mantan kakak iparnya itu datang lantas mendekat dan mencengkram kuat kerah baju Hendrik.
"PUAS, PUAS ANDA SUDAH MEMBUAT ANAK SAYA MENJADI KRIMINAL, HAH!! " teriak Alarex tepat di depan wajah Hendrik.
Hendrik hanya diam, dia tau kalau dia salah. Salah mendidik sang anak, sehingga Lian ikut terjerumus.
Zaskia tidak melerai, ia masih menangisi kepergian putra nya itu.
"Katakan dimana Hans, dia harus bertanggung jawab! Kalau perlu dia juga harus M-A-T-I..!!! " desis Alarex dan dia menekan kan kata 'mati'.
__ADS_1
Deg