Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
bangga dg kepolosan ara


__ADS_3

"APA?!! " ucap Bryan tiba-tiba. Semua yang ada diruangan operasi itu kaget, bukan karena Ara tapi karena Bryan yang tiba-tiba bangkit dari alam Barzah, eh dari kematian maksudnya xixi.


Ara sendiri juga kaget karena suara Bryan cukup tinggi. "Bang Iyan, bikin Ara kaget huhu! " ujar Ara lucu.


Bryan menatap adeknya itu. "Kamu tadi bilang apa? " tanya Bryan.


"Kaget." ucap Ara polos.


"Bukan itu, tapi saat kamu bisikin abang tadi. " ujar Bryan yang masih menatap Ara tanpa sadar bahwa sekarang tatapan Selena dan yang lainnya seakan ingin membunuh Bryan beneran. Mereka di tipu? Bryan bersandiwara mati kah? Ujar mereka masing-masing.


"Abang denger? Bukankah abang mati tadi? " tanya Ara polos.


Bryan terdiam lalu dia menoleh ke samping dan terlihat Selena sedang menatapnya tajam. Bryan meringis ngilu melihat tatapan itu.


"Kamu bohongin, aku? " tanya Selena dingin.


"G-gak gitu maksud aku, a-aku cuma i-ingin tau isi h-hati kamu a-aja! " ucap Bryan gelagapan.


Flashback on


Bryan sedang di operasi dengan sadar. Maksud nya Bryan memang dibius tapi dia masih sadar. Kenapa masih sadar? Karena peluru yang ada di badan Bryan tidak dalam sehingga tidak membuatnya hilang kesadaran. 


"Skill menembak nya lemah, " gumam Bryan disela-sela operasinya. Kenapa Bryan mengatakan skill menembak Lian lemah? Karena peluru yang masuk tidak dalam dan tidak mengenai organ dalam Bryan. 


Bryan dibius agar saat pengambilan peluru Bryan tidak merasakan sakit, cuma bius biasa bukan bius yang membuat orang pingsan. Jadi, kalau bius itu tubuh kita akan dingin dibagian yang di bius itu tapi kita masih sadar. Kalau tubuh dingin kita tidak akan merasakan sakit lagi walau badan kita di sayat sekalipun. Bius itu cuma mendinginkan bagian yang dibius. Tidak ada efek apa-apa, Bryan masih bisa melihat dan mendengar percakapan antar dokter dan perawat itu. Sesekali Bryan berbicara dengan sang dokter. 


"Dok, apakah diluar sana banyak orangnya? " tanya Bryan. 


"Iya, mereka semua menangis! " ucap sang dokter. 


Bryan mengangguk mengerti, sekarang dia bangga dengan acting nya yang berbicara aneh-aneh pada saudara kembarnya itu. 


"Ternyata bersandiwara itu asik ya, Dok! " kekeh Bryan. (Ahh tidak cocok sekali Bryan yang dingin bersandiwara ya guys haha). 


Sang dokter geleng-geleng kepala karena kelakuan pasien nya. Bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu sedangkan yang diluar semua pada menangisi nasib si pasein. (Kayaknya yang ketembak otak Bryan deh guys, buktinya Bryan bisa gitu, prank kita-kita sampai nangis kan? Gak mungkin kan yang ketembak badan tapi yang rusak otak hahaha). 


Readers:kamu yang bikin cerita, Thor! Bisa-bisa nya kami ikut ketipu, huh! (Para readers mau demo yaa ke author hahaha). 


Note:author emang jahil hihi, sebagaimana nyebelin nya Ara, author juga begitu haha. Tapi bedanya, Ara nyebelin gemesin. Sedangkan author kagak haha. Oke lanjut ke carita. 


"Dok, habis ini bisa bantuin saya? " tanya Bryan. 


"Bantu apa? " tanya sang dokter tanpa menatap Bryan, karena dia masih fokus mengeluarkan peluru dari tubuh Bryan. 


"Keluar nanti, katakan pada mereka bahwa saya tidak selamat, Dok! " ujar Bryan. 


Sang dokter menghela nafas berat mendengar permintaan pasien. Apa tadi katanya? Mengatakan kalau pasien nya tidak selamat? Ah pasti keluarga dari pasein menangis histeris. 


"Kenapa? " tanya sang dokter. 


"Saya ingin mengetahui isi hati seseorang, Dok! " sahut Bryan. 


"Harus dengan kabar palsu? " tanya sang dokter lagi. 

__ADS_1


Bryan mengangguk, karena cuma dengan cara ini lah dia bisa mengetahui isi hati Selena yang sebenarnya bukan?. 


Sang dokter membuang nafas kasar seraya berhenti bekerja karena sudah selesai. Sekarang tinggal perban. 


"Gak kasian, sama orang tua kamu? Mereka pasti sakit hati! "


"Cuma sekali, Dok! Please!! " pinta Bryan memelas. 


"Baiklah! " pasrah sang dokter. 


Bryan tersenyum. "Terimakasih, Dok! " ucap nya dan diangguki oleh sang dokter. 


"Bersihkan ini! Saya keluar dulu! " titah sang dokter pada para perawat itu. 


"Baik, Dok! " ucap salah satu perawat. 


Flasback off


"Mau tau, gak usah dengan prank kematian! " marah Selena dengan memukul-mukul dada Bryan sehingga membuat sang empu kesakitan karena habis operasi.


"Aduh, duh duh!! " sakit Bryan. Selena yang mendengar Bryan kesakitan otomatis menghentikan pukulannya.


Brian yang sedari tadi diam pun segera menghampiri Bryan diikuti oleh Radella dan Bima.


"Gak jadi mati? Gue aja yang bunuh gimana? " geram Brian. Sudah tau kesabaran Brian setipis tisu tapi malah diuji kesabaran nya. Kan Brian jadi marah beneran.


Bryan tidak menghiraukan ucapan saudara kembar nya itu. Dia lebih memilih menatap orang tuanya, "maafin Iyan yah, bun! " ucap Bryan yang merasa bersalah sudah membuat orang tua nya bersedih.


"Ara membisikkan apa? " tanya Ara polos pada Brian.


"Lah? Tadi kamu bisikin apa sama ni orang, sampai dia bangun dan bangkit dari alam Barzah? " tanya Brian sambil menunjuk Bryan dengan perasaan yang masih kesel.


"Ara tadi cuma bertanya, apakah bang Iyan marah sama Ara karena udah cuci laptop bang Lima. " sahut Ara polos.


"Bagus! lanjutkan kepolosan mu, Dek! Baru kali ini abang bangga sama kepolosan kamu. " ucap Brian bangga seraya menepuk-nepuk pelan kepala Ara. Ara sendiri dengan polosnya menganggukkan kepala nya.


Selena dan Radella yang memerhatikan Brian dan Ara itu pun jadi terkekeh karena terhibur. Bryan yang melihat Radella dan Selena yang terkekeh itu jadi tersenyum.


"Manis, " gumam Bryan yang masih bisa didengar Selena. Wajah Selena memerah malu karena dipuji oleh Bryan.


Brian yang melihat Bryan tersenyum kearah Selena mendengus kesal. "Gak usah senyum-senyum, kami semua yang ada disini marah sama, Lo! " cibir Brian.


Bryan memutar bola matanya malas mendengar cibiran Brian. Lalu dia menatap orang tua nya bergantian.


"Ayah sama bunda marah? " tanya Bryan.


Bima menatap datar Bryan. "Bercanda kamu gak lucu, kasian bunda dan yang lain. " ketus Bima.


"Bun, maaf! " lirih Bryan yang merasa bersalah karena sudah membuat wanita yang melahirkan nya itu menangis.


Radella menatap sayang pada Bryan. "Lain kali jangan gini lagi! Bunda gak sanggup harus kehilangan kamu. " ucap Radella dengan sayang.


"Pasti, Bun! Maaf. " ucap Bryan meminta maaf lagi dan diangguki oleh Radella yang membuat Bryan tersenyum.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, noh! Sedari tadi Selena nangis terus sampai mau nyusulin kamu ke kuburan katanya. " ejek Brian pada Selena, "tapi, karena ini prank! Mungkin Selena makin marah sama, Lo! " lanjutnya menakuti Bryan.


Bryan menatap Selena yang sedang menatap Brian itu. "Kamu marah? " tanya Bryan pada Selena.


"Kakak cengeng siapa namanya? " tanya Ara polos pada Selena.


"Heh." tegur mereka semua saat mendengar pertanyaan polos Ara yang mengatakan kalau Selena cengeng.


"Why? " tanya Ara heran sambil menatap mereka dengan mata bulatnya itu.


"Kenapa bilang cengeng, hm? " tanya Bryan.


Ara mengerjap polos. "Soalnya kakak ini nangis terus dari tadi. " sahutnya polos. Karena tidak tau nama Selena jadi Ara memanggilnya kakak cengeng, Ara tidak salah bukan? Iya sih nangis itu cengeng. Bukankah Ara juga sering nangis? Tidak sadar diri dia.


Selena sendiri tidak tersinggung dengan ucapan Ara, dia malah terkekeh dengan kepolosan Ara.


"Dia nangis karena bang Iyan mati tadi. " celetuk Brian tanpa dosa.


"Emang kamu gak nangis? " tanya Bryan.


"Ara nangis kok, " ucap Ara.


"Kenapa nangis? Takut abang mati? " tanya Bryan.


Ara menggeleng polos. "Gak, Ara nangis karena liat bunda nangis. " sahut Ara polos.


"Hahahaha.. " Bima dan Brian tertawa secara bersamaan saat mendengar ucapan Ara. Mereka mengira Ara menangis saat datang tadi karena takut kehilangan Bryan. Ternyata oh ternyata, Ara menangis karena melihat sang bunda nangis xixi.


Selena dan Radella sendiri malah terkekeh mendengar ucapan Ara sekaligus melihat wajah masam Bryan.


"Kamu gak sayang sama abang? " tanya Bryan pada Ara.


"Ara sayang kok! " sahut Ara.


"Kalau abang dikubur di tanah nangis gak? " tanya Bryan.


Ara memiringkan kepalanya menatap Bryan lucu. "Abang mau dikubur, kenapa? " tanya Ara polos.


Lagi-lagi pertanyaan polos yang Ara lontarkan membuat mereka ketawa. Bryan sendiri menatap datar Ara, percuma dia bertanya dengan perasaan kalau jawaban Ara gak sinkron.


"Kenapa pada ketawa? Degem ngelawak kah? " tanya seseorang dibalik pintu ruangan tersebut.


Mereka yang ada didalam menoleh kearah pintu dan terlihat Juna yang ingin masuk diikuti oleh yang lain di belakang nya.


Juna yang masuk lebih dulu dan melihat kearah brankar Bryan, seketika dia terkaget-kaget karena melihat Bryan masih bernafas.


"Eee busyettt, dia bangkit. " ucap Juna heboh seraya menunjuk Bryan. Yang lain ikut terkejut sekaligus bingung karena Bryan ternyata masih terselamatkan.


"Busyet! " ucap Ara polos yang membuat mereka semakin terkejut.


"JUNAAAA!!! " teriak Brian.


***

__ADS_1


__ADS_2