Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
sandiwara


__ADS_3

Dor


Dor


Deg


"BRYAN!!! " ucap mereka semua karena terkejut melihat dua peluru meleset ke badan Bryan.


****


Prangg!!


"Astagfirullah! " ucap Radella kaget karena tiba-tiba gelas kaca yang dia pegang terlepas dan jatuh ke lantai.


"Sayang, kenapa? " tanya Bima yang tadi mendengar benda jatuh.


"Mas, perasaanku kok gak enak yah? " tanya Radella dengan raut wajah cemas.


Bima merangkul sang istri lalu dia membantu istrinya untuk duduk di kursi diruang makan tersebut.


"Gak enak kenapa, hm? " tanya Bima lembut.


"Mas, aku kepikiran anak-anak. " lirih Radella.


"Anak-anak tadi izin mau kerumah Panglima katanya, kamu tenang yaa! InsyaAllah anak-anak gak apa-apa kok. " ucap Bima berusaha menenangkan sang istri.


Radella menggeleng. Tidak, semua tidak baik-baik saja! Firasat nya mengatakan kalau terjadi sesuatu pada anak-anaknya, Radella yakin itu.


"Gak, Mas. Firasat ku tidak mungkin salah! " ucap Radella.


"Kamu tenang dulu, kita coba telpon anak-anak! "Ucap Bima.


Radella mengangguk lalu dia mengatur nafas perlahan. Bima mengambil ponselnya lalu dia menelpon nomor Bryan.


****


"BRYAN!!! " ucap mereka semua karena terkejut melihat dua peluru meleset ke badan Bryan.


"Brengsek!! " marah Brian lalu dia menghampiri orang yang menembak saudara kembarnya itu dan langsung membogem pelaku.


Bugh


Bugh


Bugh


"Penghianat, ajg!! " marah Brian dengan terus memukuli Lian, yaa Lian lah penghianat itu. Sebenarnya tadi, dia ingin menembak Riri tapi keburu Bryan jadi penghalang nya maka jadilah Bryan yang tertembak.


Lian sendiri tersenyum miring, tidak masalah dia gagal membunuh Riri tapi dia berhasil melukai Bryan. Orang yang selama ini yang membuatnya iri.


"Ian udah! Bryan harus dibawa ke rumah sakit sekarang! " ucap Juna.


Riri dan Risa sendiri terkejut karena Bryan rela menjadi tameng untuk mereka. Mereka makin berasa bersalah akan kejahatan mereka kepada Bella dulu.


"Brengsek!! Gue gak nyangka orang yang selama ini menjadi teman gila gue ternyata penghianat!! " desis Brian lalu dia mendorong Lian hingga membuat Lian terhuyung dan punggungnya menabrak dinding.


"Ajudan, kurung dia dan jaga dia selama kami di rumah sakit! " titah Panglima pada ajudannya untuk mengurung Lian.

__ADS_1


"Baik, Tuan muda! " ucap sang ajudan.


Lian sendiri hanya diam, untuk kabur pun percuma karena dia sedang berada di tempat lawan. Kenapa Lian ikut kesana? Sebenarnya Lian ingin kabur dan tidak mengikuti mereka tapi dia penasaran dengan apa yang dilakukan Panglima kepada Riri dan Risa. Jadilah, dia mengikuti saja. Saat sampai di markas Lian merasa ragu masuk dan ingin pergi tapi ajudan Panglima terus berada dibelakang nya seakan sudah tahu kalau Lian lah dalang dibalik semuanya. Dan dengan terpaksa Lian ikut masuk dan sandiwara nya terbongkar sekarang.


"Enaa.. " lirih Bryan yang sekarang sudah berada di dekapan Brian.


"Heh tolol. Lo mau sekarat yaaa, gak usah mikirin cinta! " kesal Brian karena saudara nya itu lebih memikirkan orang lain dari pada nyawanya sendiri.


"Cepat angkat dan bawa, bego! " ujar Juna menyuruh Brian untuk segara membawa Bryan.


Brian berdiri dan dengan sekuat tenaga menggendong Bryan yang sudah berlumuran darah itu. Yang lain ikut berdiri termasuk Riri dan Risa.


Juna berhenti di depan Lian dan menatap Lian dengan sorot mata kecewa. "Gue kecewa, gue bodoh karena tidak bisa menilai mana teman dan mana lawan! " lirih Juna.


Lian diam dan menatap Juna. Sakit, Lian merasa sakit saat Juna mengatakan itu. Mungkin, karena selama ini Juna lah teman paling gila nya. Maka dari itu dia merasa sakit saat Juna mengatakan kecewa padanya. Tapi, karena perasaan jahatnya lebih mendominasi jadi dia berusaha acuh akan ucapan Juna. Juna berlalu pergi meninggalkan Lian yang diam saja itu dengan perasaan yang amat teramat kecewa.


Panglima mana? Panglima sudah keluar menyiapkan mobil untuk membawa Bryan kerumah sakit.


"Lo lakik, jangan cengeng hah hah! " ledek Bryan yang masih berusaha sadar dalam gendongan Brian yang sedang menangis itu.


Brian menatap datar saudara kembarnya itu. "Lo kalau sembuh harus pijitin gue, karena gendong lo badan gue sakit-sakit nih. " canda Brian.


Bryan tersenyum tipis. "K-kalau gue gak s-selamat, jaga bunda, Ara dan Ena untuk gue. " ucapnya lemah.


"Ngomong apasih, ege! " kesel Brian karena saudara kembarnya itu terus saja berbicara aneh.


"Masuk mobil! " titah Panglima saat mereka sudah keluar markas. Brian dengan cepat memasukkan Bryan ke mobil.


"Riri dan Risa ikut Juna dan Hendra. " ucap Panglima dan diangguki oleh keduanya.


Drrt drrt drrt


Suara ponsel terdengar di pendengaran Panglima.


"Ian! " panggil Panglima.


"Hm." sahut Brian.


"Itu ponsel Bryan bunyi. " beritahu Panglima.


Brian merogoh saku celana Bryan dan mengambil ponsel itu. Terlihat dilayar ponsel nama sang ayah. Brian mengangkat panggilan telpon itu dengan tangan gemetar.


"H-halo.. " ucap Brian terbata.


"Kalian masih dirumah Lima? " tanya Bima. 


"Kami dijalan menuju rumah sakit, yah! " ujar Brian.


"Kenapa? Ngapain? Apa yang terjadi? " suara Radella terdengar cemas diseberang telpon sana. 


Brian menatap saudara kembarnya yang masih setengah sadar itu. "Bun, Bryan tertembak dan kami membawa nya kerumah sakit. " lirih Brian sambil memejamkan matanya, dia yakin pasti saat ini sang bunda akan menangis histeris.


"Kan sudah aku bilang, Mas. Firasat ku tidak mungkin salah, Hikss Bryan. " terdengar suara histeris dari Radella yang membuat hati Brian semakin sakit. 


"Kasih tau kalian kerumah sakit mana? Kami akan segara menyusul. " ucap Bima. 


"Hm, nanti Ian sharelok, yah! " ucap Brian.

__ADS_1


Tut tut tut


Skip


Panglima dan dou B sudah sampai di parkiran rumah sakit. Disana, sudah ada Juna, Hendra, Riri, Risa dan perawat lainnya yang menunggu. Brian dengan cepat membawa Bryan ke brankar yang sudah disiapkan.


"P-panggil s-semua o-orang, termasuk Ena! " ucap Bryan lirih. Brian sedari tadi menangis sambil berlarian mendorong brankar.


"Diam dulu, bisa? " kesal Brian karena Bryan memikirkan orang lain. Padahal dia pun tau kalau harus memanggil orang-orang yang penting menurut nya.


Sesampainya didepan ruangan operasi Brian malah hendak ikut masuk. Namun, ditahan oleh dokter.


"Maaf, tunggu diluar saja! " ucap sang dokter. Tanpa menunggu jawaban dari Brian sang dokter segera masuk kedalam ruangan operasi yang sudah dipersiapkan sebelum nya. Sebelum kerumah sakit, Panglima sudah menghubungi pihak rumah sakit agar menyiapkan segalanya.


"Lo harus selamat, Yan! " lirih Brian sambil memandangi ruangan operasi itu. Sedangkan yang lain juga menatap sedih kearah ruangan operasi.


"Maafin kita.. " ucap Riri tiba-tiba. Brian membalikkan badan dan melihat kearah Riri dan Risa yang sedang menunduk itu.


"Kalian, bisa jalan? " tanya Brian heran. Bukankah mereka habis digilir? Tapi kenapa bisa jalan? Heran Brian.


Itulah yang janggal di hati Juna dan Hendra sedari tadi, dengan mudahnya Riri dan Risa bisa berjalan.


"Sandiwara! " ucap Panglima.


Brian, Juna, dan Hendra menatap Panglima bingung. "Maksudnya? " ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Briannn!!! " belum sempat Panglima ingin menjelaskan semuanya, orang tua dou B datang dengan wajah Radella yang basah karena menangis sepanjang jalan.


Brian menghadap Radella lalu memeluk sang bunda. "Bun, Ian gak bisa jaga Iyan. " lirih Brian didalam dekapan sang bunda.


"Apa yang terjadi, sebenarnya? " tanya Radella.


"Maaf, tante.... "


"Jangan sekarang! " ujar Panglima menyela ucapan Riri. Saat ini, Radella dan Bima syok dengan keadaan Bryan. Kalau dicerita kan tentang Ara lagi tambah syok nanti Radella dan Bima.


"Apa? " tanya Radella menatap mereka satu persatu.


"Nanti Ian ceritain semua ya, Bun. " ujar Brian mencoba menenangkan hati sang bunda.


"Adek kalian mana? " tanya Bima.


"Ara bentar lagi kesini bareng mommy dan daddy, Om!" sahut Panglima dan Bima mengangguk.


"Sebenarnya kalian habis dari mana? " tanya Bima.


"Markas om Panji, yah. " ucap Brian.


Bima menatap anak-anak dengan menyelidik. Dia ingin bertanya tapi melihat kondisi sang istri niatnya pun ia urungkan.


"Ayah, Bundaaaa... " teriak Ara yang baru datang bersama Panji dan Puteri.


"Om, tante.. " ucap seseorang yang ada dibelakang orang tua Panglima.


"Ara, Ena.. " ucap mereka semua kecuali Riri dan Risa yang menatap Ara heran. Kenapa heran? Bukankah katanya Bella sudah tiada? Tapi yang mereka lihat itu apa? Bella versi anak remaja zaman sekarang, maksudnya tidak cupu lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2