Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
memberitahu kebenaran


__ADS_3

"Bisa? " tanya Selena pada Bryan.


Saat ini Bryan sudah diperbolehkan pulang. Orang tua Bryan tidak bisa menjemput karena Ara masih tidur dan tidak bisa ditinggalkan. Mumpung hari minggu Ara mau malas-malasan iyakan hihi. Padahal Bryan ada dirumah sakit, dia tidak khawatir sama sekali. Apa karena menurutnya kalau Bryan meninggal maka Bryan akan hidup lagi seperti dirinya? Makanya dia tidak khawatir dengan keadaan Bryan?.


"Gak bisa, sayang! " manja Bryan pura-pura tidak bisa bangun, padahal yang sakit cuma bagian dada bukan seluruh badan.


Selena mendelik kearah Bryan. "Jangan bohong deh! " kesal Selena.


Bryan dan Selena sudah berbaikan karena mereka semalaman berdua. Brian dan yang lain mana? Mereka semua pulang tapi bukan di rumah masing-masing melainkan ke apartemen Panglima yang memang tidak jauh dari rumah sakit tempat Bryan dirawat. Mereka akan mengumpulkan bukti berupa video pembullyan Bella dan pengakuan Riri dan Risa untuk memperlihatkan pada Radella dan Bima.


Flashback on


"Kita pulang yuk, bosen kalau liat kulkas satu itu bucin. " ajak Juna yang jengah liat Bryan menggoda Selena. 


"Sirik aja, Lo! " ucap Hendra. 


"Heh, emang lo gak sirik? " tanya Juna kesal. 


"Sama juga sih, " ucap Hendra cengengesan. Riri dan Risa mana? Ah mereka sudah di jemput oleh ajudan Panglima dan dikurung. Mereka tidak akan bebas kecuali Radella dan Bima sendiri yang membebaskan mereka. Walaupun mereka sudah membantu Panglima bersandiwara buat membongkar kebusukan Lian tapi mereka tetap harus pertanggung jawab bukan? Mereka berdua mengangguk setuju untuk bertanggung jawab, walaupun mereka bingung karena melihat Bella/Ara tadi, kan katanya Bella meninggal. 


"Kalian jangan pulang dulu! " cegah Bryan, "Lim, bisa Lo jelaskan dulu? Kata lo Riri dan Risa digilir, kok mereka terlihat biasa saja? " tanya Bryan penasaran. 


Panglima menatap teman-teman nya satu persatu. "Gue udah nanya sama mereka semua tanpa harus ditutupi, setelah gue tau semuanya! Gue sengaja ngumpulin kalian di mansion gue dan ngungkapin kebenaran kalau Bella sudah meninggal dan yang sekarang adalah Ara. Dan gue liat senyum tipis diwajah Lian saat mendengar kebenaran itu. " ucap Panglima panjang lebar, rasanya sekarang rahang nya sakit karena tidak terbiasa ngomong panjang. Itu hanya sebagian yang dia jelaskan, belum lagi semuanya! Bisa-bisa mulutnya berbusa hanya karena ngomong panjang. Hedehh susah emang kalau kulkas bicara panjang ya xixi. 


Mereka semua menyimak dengan baik kecuali Selena yang masih kurang tau permasalahannya, tapi dia sedikit terkejut karena ucapan Panglima yang mengatakan kalau Bella sudah meninggal. 


"Apa tujuan dia ngelakuin semua ini? " geram Brian dengan tangan yang sudah mengepal sehingga urat lengannya bermunculan. 


"Untuk itu cuma Lian sendiri yang bisa menjawab, karena Riri dan Risa pun gak tau, mereka hanya tau kalau Lian sepupu Hans. " ujar Panglima. 


"Damn.. " umpat mereka semua. Pantas saja Lian mudah berkhianat, ternyata musuh mereka itu sepupunya. Mereka cukup kagum akan sandiwara Lian yang sempurna itu. Mereka tertipu dengan tingkah lucu Lian. 


"Jadi, Bella bener gak suci lagi? " tanya Juna. 


Panglima diam, dia pun belum mengetahui tentang itu semua. "Gue belum bisa yakin akan hal itu. " ucap nya. 


"Gue sih ngira Bella beneran sudah di nodai, karena takut hamil! Bella memilih me akhiri hidupnya. " ucap Hendra masuk akal. 


Bryan memejamkan matanya seraya mengatur nafas untuk menahan emosinya. "Apa alasan Lian ngelakuin itu ke keluarga gue, Sialan!! " marah Bryan. 


"Padahal selama ini keluarga kami kurang baik apa sama dia? Bunda menyayangi Lian layaknya anak sendiri karena Lian berasal dari anak broken home maka dari itu bunda menyanyangi Lian juga! Tapi dia malah tega ngelakuin ini ke keluarga kami. " timpal Brian dengan ber api-api karena emosi sudah dikhianati oleh teman yang sudah dia anggap saudara sendiri. Karena memang Brian lebih dekat dengan Lian. Mereka sama-sama bobrok dan jahil. 


"Terus sandiwara lo itu? " tanya Bryan. 


"Gue sengaja bikin sandiwara Riri dan Risa di nodai biar dia ikut kita ke markas Daddy, karena penasaran dengan dua perempuan itu akhirnya Lian ikut bukan? Jadi lebih mudah kita menangkapnya. " ucap Panglima. 


"Oke, jadi sekarang kita cari alasan kuat kenapa Lian berkhianat! Untuk membunuh nya biar gue aja. " desis Bryan dingin sehingga aura di ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin. 


"Bukan cuma lo, gue juga mau bunuh penghianat itu. " ujar Brian yang sudah tidak sudi menyebut nama Lian. 


"Cari tau alasannya dulu atau beri tahu tante dan om tentang transmigrasi ini? " tanya Hendra. 


Bryan dan Brian diam, kalau tidak diberitahu pasti orang tuanya penasaran kenapa Bryan bisa ditembak oleh Lian bukan? Tapi kalau diberi tahu dou B juga takut bunda dan ayah mereka syok. 


"Kita harus memberi tahu mereka, kita bisa menyembunyikan rahasia ini selama nya! " ucap Panglima yang tahu akan isi hati dou B. 


"Gue takut bunda akan menangis histeris, waktu Bella jatuh dari tangga itu aja bunda gak henti-hentinya menangis, apalagi kalau Bella sudah gak ada. " lirih Brian. 

__ADS_1


"Apakah Ara akan tinggal bersama om Bram dan bang Bagas, setelah semua ini terbongkar? " tanya Juna. 


"Besok kami semua tinggal bersama. " ucap Brian. Brian terdiam setelah mengatakan itu, ah pantes saja om Bram meminta tinggal bersama, ternyata ini alasannya. Pikir Brian. 


"Nanti kita bicarain besok, kita kumpul di rumah om Bima! Sekarang kita pulang ke apartemen gue dulu buat ngumpulin video serta bukti-bukti untuk diperlihatkan ke orang tua Bryan dan Brian. " ucap Panglima. Panglima memijat rahang nya yang pegal dan itu di lihat oleh mereka yang ada di ruangan Bryan itu. 


"Elehh, si kulkas sekali ngomong panjang rahangnya jadi pegel. " sindir Juna. 


"Makanya biasain ngomong panjang dong! " ledek Hendra. 


"Gue duluan! " ujar Panglima tanpa memperdulikan ejekan dari Juna dan Lian itu, dia keluar lebih dulu lalu di ikuti oleh Juna, Hendra, dan Brian. 


"Jangan main sosor yaa! " canda Brian sebelum hilang dari penglihatan Bryan dan Selena. 


Bryan mendengus kesal mendengar ucapan dari kembarannya itu, sedangkan Selena saat ini wajahnya memerah malu karena ngebayangin apa yang diucapkan oleh Brian tadi. 


Kita gak boleh bahas tentang Bryan dan Selena yaa, karena cerita ini khusus tentang Ara xixi. Bagas dan Arsita pun gak author ceritain, karena kalau banyak peran entar ceritanya jadi panjang haha. 


Flashback off


Bryan terkekeh melihat wajah kesal Selena, dia sungguh senang karena sekarang hubungan nya dengan Selena kembali seperti dulu. Bryan bangun dari brankar nya.


"Mereka belum datang? " tanya Bryan pada Selena. Katanya teman-teman nya akan menjemput dia dulu dan akan bareng ke rumah nya.


Selena mengedikkan bahunya. "Bukankah aku dari tadi bersama kamu? Mana aku tau mereka datang atau belum. " sahut Selena ketus.


"Sensi bangat sih, " goda Bryan. Bryan mendekati Selena dan memepetnya.


"M-mau ngapain? " tanya Selena gelagapan.


Cup


"Woyyy, sudah gue bilang jangan main sosor-sosoran! " teriak seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.


Selena kaget karena mendengar teriakan Brian, ya Brian yang berteriak tadi. Selena buka kaget karena disosor Bryan kan sudah terbiasa, ehh terbiasa? Xixi.


Bryan mendengus kesal mendengar suara cempreng dari kembarannya itu. "Pulang sekarang aja! " ucap Bryan pada teman-teman nya. Mereka pun keluar dan pulang.


***


Bram dan Bagas saat ini sudah berada dirumah Bima untuk menjemput mereka semua.


"Ara mana? " tanya Bagas yang sedari tadi tidak melihat adeknya itu.


Radella terkekeh, "dia belum bangun! " sahut Radella.


Bagas dan Bram tersenyum tipis. "Kebiasaan." ucap mereka spontan.


Radella dan Bima saling pandang saat mendengar perkataan Bram dan Bagas. "Kebiasaan? " tanya Bima bingung.


Seketika Bram dan Bagas sadar akan ucapan mereka. "Eh maksudnya, kebiasaan anak-anak sekarang kalau libur suka malas-malasan bangun. " kilah Bagas dan diangguki oleh Bram.


Radella dan Bima tersenyum, ah mereka sempat berpikir yang tidak-tidak tadi. "Iya, apalagi Ara! Kalau hari minggu gini suka bangun nya siang. " ucap Radella terkekeh.


"ASSALAMU'ALAIKUM!! " teriak Juna heboh. Mereka semua baru sampai dikediaman Arshana.


Bram, Bima, Radella, dan Bagas menoleh kearah pintu dan mendapati anak-anak sudah pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


"Walaikumsalam! " sahut mereka berempat.


Anak-anak pun masuk ke dalam. "Mau pindahan sekarang? " tanya Brian saat melihat Bram dan Bagas sudah di rumahnya.


"Nanti, Ara masih tidur. " sahut Bima.


Bryan mengangguk. "Bunda Ayah, ada yang ingin kami sampaikan. Dan Bryan harap kalian bisa menerima semua ini. " ucap Bryan serius.


Radella dan Bima mengernyit heran. "Ada apa? " tanya Bima penasaran.


"Lim! " panggil Bryan dan Panglima pun segera menyerahkan tablet nya yang sudah berisi semua vidoe pembullyan Bella serta rekaman suara antara Ara dan Bagas disekolah waktu itu.


Radella dan Bima melihat video seraya mendengarkan penjelasan dari Panglima dengan telaten. Bram dan Bagas mendadak gugup karena takut Bima dan Radella akan marah kalau mengetahui kebenaran bahwa Ara itu bukan anak mereka lagi. Padahal bukan salah mereka bukan? Jadi seharusnya Bima dan Radella tidak ada hak buat marah sama mereka. Tapi kembali lagi ke Radella dan Bima, kita lihat bagaimana respon keduanya.


"J-jadi Bella sudah meninggal? " tanya Radella dengan bahu yang bergetar.


Bima memeluk sang istri, dia tau ini kebenaran yang menyakitkan buat diri nya dan sang istri. "Bedebah, sialan! " umpat Bima saat mengetahui dalang dibalik kematian Bella. Dia tidak menyangka orang yang dia anggap anak justru malah berkhianat, pantes saja Lian dengan tega menembak Bryan, menodai Bella saja dia tega.


"Anak kita gak suci lagi, Mas? " tanya Radella dengan mata berkaca-kaca.


Bima menggeleng tanda tidak tahu. "Yang sekarang bukan Bella lagi, pantes waktu itu dia gak mau dipanggil Bella. " lirih Bima.


"Mas, Bella hikss! " tangis Radella.


Dou B dan yang lainnya merasa sesak tiba-tiba karena melihat Radella yang baik itu menangis.


"Bun! " panggil Bryan lirih, dia tau pasti kebenaran ini sangat-sangat menyakitkan buat orang tua nya.


Radella menoleh kearah Bryan. "Yan, adek mu hikss! " ucap Radella lirih sebelum kehilangan kesadarannya dipelukan sang suami.


"Bun? " panggil Brian saat melihat Radella menutup mata. Seketika mereka semua panik karena Radella tidak menjawab panggilan dari mereka.


"Yan, ambil minyak kayu putih! " titah Bima.


Bryan dengan segara berlari mencari kotak p3k, setelah menemukan yang dia cari. Bryan pun dengan cepat kembali.


***


Didalam kamar Ara masih bergulung dengan selimut nya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Meong meong


Kucing peliharaan Ara bersuara di depan sang majikan, si kucing merasa lapar, mungkin! Seharusnya sudah waktu sarapan kan? Karena Ara tak kunjung bangun dan si kucing sudah kelaparan. Si kucing pun menaiki tubuh Ara.


Meong meong


Si kucing terus bersuara akan tetapi Ara tidak terusik sama sekali. Karena kesal si kucing pun menggigit hidung Ara dan membuat sang empu terbangun langsung menangis karena kesakitan.


"Huaaa ayam nakal, hikss! " tangis Ara seraya bangkit dan membuat si kucing jatuh dan terjungkal ke lantai. Aihh sungguh malang nasib si kucing xixi.


"Ayam nakal, Ara bakal aduin ke ayah sama bunda. Hikss! " ujar Ara dengan tangan yang sudah bertengger di pinggang mungilnya memarahi si kucing. Setelah memarahi si kucing Ara berlari keluar untuk menemui orang tuanya sambil menangis.


Karena pintu sudah terbuka si kucing pun ikut berlari keluar, "ayam curang!! " ucap Ara saat melihat peliharaan nya itu mendahului nya berlari.


Ara mengejar kucingnya dan tepat saat sudah sampai di bawah Ara melihat banyak orang berkumpul. Ara mendekati mereka semua dan melihat sang bunda sedang tidur di pelukan sang ayah.


"Bunda, tidur? " tanya Ara.

__ADS_1


__ADS_2