
Ara berjalan dengan riang mengikuti pelayan itu dari belakang. Saat sampai di taman Ara langsung berlari menghampiri Puteri yang sedang duduk santai di Gazebo bersama sang suami.
"Mommy, Daddyyyy!! " panggil Ara dengan berlarian kecil menghampiri Panji dan Puteri.
Panji dan Puteri menoleh kebelakang dan tertawa gemes melihat Ara yang berlari dengan kaki mungilnya itu.
"Hati-hati, sayang! " peringat Puteri.
Brukk
Baru saja diperingatkan Ara malah jatuh tersungkur karena tersandung kaki nya sendiri.
Panji dan Puteri kaget, mereka lantas berdiri dan menghampiri Ara yang sedang tersungkur ke tanah tersebut.
"Nona! " sang pelayan terkejut lalu dia membantu Ara berdiri.
"Hikss, kaki Ara berdarah, hikss! " tangis Ara karena lutut nya berdarah.
"Sayang, are you okey? " tanya Puteri khawatir.
Ara menatap Puteri dengan wajah yang sudah berderai air mata. "Mommy, look! " tunjuk Ara pada lutut nya.
Puteri dan Panji mengikuti arah tunjuk Ara. Panji dengan segera menggendong Ara ala bridal style. Mereka pun pergi meninggalkan taman menuju mansion kembali.
"Makanya jangan lari, hm! " ucap Panji.
Ara cemberut, "mommy, daddy marah-marah Ara. " adanya lucu.
Puteri terkekeh karena Ara tidak mau disalahkan. "Bener kata daddy, sayang! Lain kali, jangan lari-lari lagi yah! " nasehat Puteri.
"Hu'um, " Ara mengangguk patuh walaupun wajahnya masih cemberut karena ditegur.
"Kenapa wajahnya cemberut, hm? " tanya Panji.
Ara menatap Panji yang sedang menggendong nya itu, "sakit, daddy! " lirih Ara.
"Nakal sih, " ejek Panji.
Ara menggeleng lucu, "no, Ara gak nakal-nakal. " bantah Ara.
"Kamu nakal, "
"No."
"Nakal, "
"No."
"Nakal."
Settt
"Aaaaaa! " teriak Panji yang membuat Puteri terkejut.
"Kenapa, Mas? " tanya Puteri.
Panji menatap Ara yang sedang menatap nya juga dengan wajah polos tak berdosa, padahal Ara baru saja menggigit niple nya itu. Puteri dibelakang Panji jadi dia tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Ara.
"Putrimu, " sahut Panji.
"Kenapa Ara, Mas? " tanya Puteri lagi. "Sayang, kamu apain daddy? " tanya Puteri pada Ara.
Ara menatap Puteri, "Ara gigit-gigit daddy! " sahut Ara polos.
"Apa yang digigit? " tanya Puteri.
"Ini, " tunjuk Ara pada niple Panji. Puteri yang melihat itu pun tertawa kecil.
"Kenapa digigit, hm? " tanya Puteri.
__ADS_1
"Mommy dengar tadi? Daddy bilang Ara nakal! Padahal Ara gak nakal-nakal, Mommy!" jelas Ara lucu.
Puteri mengangguk karena dia mendengar perdebatan antara Ara dan suaminya tadi, tapi dia tidak menyangka kalau Ara bakal melakukan hal tadi, yaitu menggigit niple sang suami.
Panji mendengus kesal, "kamu nakal, buktinya kamu gigit daddy. "
Ara menatap garang kearah Panji yang membuat sang empu menahan tawa karena lucu dengan ekspresi Ara yang sama sekali tidak cocok berlaku garang karena wajah Ara itu sangat menggemaskan.
"Ara gigit daddy, karena daddy duluan ngatain Ara! " garang Ara. Puteri terkekeh melihat tingkah Ara yang seperti anak kecil yang tidak mau disalahkan.
"Oke oke, daddy minta maaf. Jangan marah lagi, hm! " Panji memilih mengalah saja.
Ara tersenyum senang. "Ara mau maafin daddy. Tapi, dengan satu syarat! " ucap nya.
"Apa? " tanya Panji.
****
Brakkk
Brakkk
"Brengsek! " murka Dou B. Mereka menggeprak meja kaca yang ada didepan mereka itu. Sehingga, meja tersebut retak.
"Nah, loh retak! " kaget Lian karena terkejut akan tindakan Dou B bukan terkejut karena meja nya retak.
"Berani nya mereka melakukan itu terhadap Ara!! " desis Bryan.
"Kita temui mereka! " aja Brian lalu dia berdiri. Namun, dia ditahan oleh Hendra.
"Sabar, kita bicara kan ini dulu. " ujar Hendra mencoba menenangkan Brian yang sekarang terlihat ingin memakan orang.
Brian menghela nafas kemudian dia duduk kembali. "Siapa? " tanya Brian.
"Belum diketahui, " sahut Panglima.
"Sempat dilecehkan? " tanya Hendra.
Panglima mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu, "belum diketahui, " ucap Panglima.
"Sempat atau tidak, pria itu harus mati!! " tekan Bryan dan diangguki oleh Brian.
Panglima menatap Dou B bergantian, "gue yang sendiri yang akan membunuh pria itu karena sudah berani melirik Bella. " sahut Panglima dingin.
Juna, Lian, dan Hendra sebenarnya bingung kenapa Panglima kembali memanggil Ara dengan sebutan Bella, tapi mereka berusaha acuh dan abaikan karena yang mereka bicara kan ini kasus penting.
Sedangkan Dou B sudah dikuasai amarah. Jadi, mereka tidak menghiraukan panggilan Panglima untuk Ara lagi.
Bryan mengusap wajah kasar. Saat ini, Bryan bener-bener merasa gagal menjadi seorang kakak, dia mengira adek nya hanya di bully biasa. Karena, adek nya selalu terlihat baik-baik saja saat dirumah. Namun, siapa sangka kalau sampai terjadi begini.
"Degem masih hilang ingatan? " tanya Juna.
"Emang kenapa? " tanya Lian balik.
"Kalau dia sudah ingat, kita bisa menanyai tentang kejadian itu dan tau siapa pria itu! " ucap Juna dan diangguki oleh Hendra.
"Bener sih, " sahut Lian.
"Panggil aja lagi degem, terus kita tanyai. " usul Juna.
"Percuma! " sahut Panglima singkat.
Semua menoleh kearah Panglima dengan raut wajah bertanya-tanya, "kenapa? " tanya Brian.
Panglima menghela nafas dan menatap teman-teman nya satu persatu. Lalu, Panglima kembali mengotak-atik ponselnya, Panglima pun menyerahkan ponsel itu kepada teman-teman nya.
Mereka yang penasaran pun mendengarkan dengan baik rekaman suara tersebut. Setelah mendengar mereka terkejut dan seakan tidak percaya dengan yang mereka dengar.
"M-maksudnya? " tanya Brian terbata. Sungguh, ini sangat membuatnya terguncang.
__ADS_1
"Seperti yang kalian dengar. Tapi, gue belum bisa menyimpulkan alasannya sebelum kasus ini selesai. " sahut Panglima.
"Brengsek! Biadab! Sialan! Kaparat!! " segala macam umpatan Bryan keluarkan karena merasa marah sekaligus gagal.
"AAAAAA, GUE ABANG YANG GAK BERGUNA, SIALAN!!! " teriak Brian frustasi sekaligus merasa bersalah.
"T-tapi, benerkah itu nyata? Maksudnya, dizaman seperti ini? " bingung Juna.
"Ara polos, tidak mungkin dia berbohong bukan? " ujar Hendra.
Juna, Lian, dan Brian mengangguk. "Jadi ini alasan degem berubah? " tanya Juna.
"Hem, " sahut Panglima.
'Pantes, Ara senang tinggal bersama om Bram dan bang Bagas. 'Batin Bryan.
"Ber transmigrasi? Gue masih belum bisa mempercayai ini! " Brian menolah fakta bahwa Ara ehh Bella, adeknya sudah tiada, dan menyerahkan tubuhnya pada Ara.
Ya yang mereka dengar dari ponsel Panglima tadi adalah. Saat, Ara menemui Bagas pertama kalinya di sekolah. Beruntung anak buah yang ditugaskan Panglima menjaga Ara itu sempat merekam pembicaraan antara Ara dan Bagas.
"Itulah kebenarannya! " sahut Panglima.
Bryan menatap Panglima tajam. "Kenapa baru sekarang? Kenapa? " marah Bryan dengan mencengkram kerah baju Panglima.
"Gue harus mencari kebenarannya. " sahut Panglima.
Bryan menghela nafas kasar lalu dia melepaskan cengkraman nya pada kerah baju Panglima. Dia paham kalau Panglima akan mencari kebenaran dulu agar bisa memberi tahu tentang ini semua.
"Pantes waktu itu gue ngeliat kalau Bella sengaja menjatuhkan diri dari tangga. " ucap Brian tiba-tiba.
Mereka semua menoleh kearah Brian dengan tatapan bingung.
"Maksud nya, Degem sengaja menjatuhkan diri dari tangga karena dia ingin meakhiri hidup? " tanya Lian.
Brian mengangguk pasti, dia bener-bener melihat adeknya itu sengaja menjatuhkan diri. Tapi, dia hanya diam karena dia berpikiran kalau dia hanya salah lihat.
"Sebesar apa masalah nya hingga dia memutuskan untuk meninggalkan dunia ini? Apa pria itu sempat melecehkan nya. Sehingga, dia memilih untuk pergi dari dunia ini? " Hendra bertanya-tanya.
"Damn it. " umpat Bryan, dia bersumpah akan menghancurkan orang-orang yang sudah membuat adek nya mengakhiri hidup nya sendiri.
"Dia pergi meninggalkan sebuah misteri yang harus kita pecahkan." ucap Panglima dan diangguki yang lainnya.
"Tapi kenapa? Kenapa harus adek gue yang ngalamin! " lirih Brian dengan air mata yang sudah menetes kebawah.
"Lo harus kuat, dan balaskan perbuatan mereka terhadap adek lo. " Hendra menguatkan Brian.
"Tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin dua perempuan itu sampai ngejual Bella tanpa ada dendam tersembunyi bukan? " ucap Lian yang sekarang terlihat pintar dari sebelum nya.
"Bener, pasti ada sesuatu yang membuat dua perempuan itu tega ngelakuin itu ke Bella. " timpal Juna.
Panglima dan Bryan mengangguk paham. Bener, yang dikatakan teman-teman nya itu, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Sehingga, mereka tega ngejual Bella.
"Kalau begitu kita temui dua perempuan itu, dan kita tanyai. " semangat Brian. Sungguh, dia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan dua perempuan itu terhadap Bella adeknya.
"Ayo! " ajak Bryan juga. Yang lain mengangguk dan mereka semua berdiri, bersiap untuk pergi ke markas Panji.
Saat mereka keluar dan menuju motor masing-masing terdengar suara Ara yang memanggil mereka semua.
"Abangggggg!! " teriak Ara senang karena sekarang dia sedang menunggangi punggung Panji, Ara bermain kuda-kudaan dengan Panji yang menjadi kuda. Puteri sedari tadi terus tertawa karena melihat tertekan suaminya itu, padahal sebelum nya tidak ada yang berani memerintah sang suami. Tapi sekarang, lihatlah! Ara bisa memerintah Panji dan menuruti kehendak gadis itu. Yaitu, dengan menjadikan Panji kuda untuk Ara tunggangi xixi.
Panglima dan yang lain menoleh kearah Ara yang seperti nya terlihat sangat senang menunggangi punggung Panji.
Bryan hanya melirik kemudian dia menaiki motor sport nya tanpa menyapa Ara, "gue duluan! " ucap Bryan lalu dia pergi.
"Abang Iyann.. " panggil Ara saat melihat motor Bryan pergi meninggalkan mansion Panglima.
***
Hayoo kalian bisa menebak apa alasan Riri dan Risa tega ngelakuin itu ke Bella?
__ADS_1