
Seminggu kemudian.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Panglima Dirgantara bin Panji Dirgantara dengan anak saya yang bernama Arabella Arshana dengan maskawin berupa uang 20 triliun,Mansion 2 buah, apartemen 5 buah, pulau pribadi 3 buah, pesawat pribadi 1 buah, jet pribadi 2 buah,perusahaan cabang 5 buah, tunai. " ucap Bima tegas.
Teman-teman Panglima yang mendengar mahar segitu banyaknya di buat ternganga lebar.
"Woyy lah, maharnya gak kaleng kaleng cuyy. " heboh Juna.
"Jiwa miskin gue meronta-ronta minta dinikahin Lima juga, " cicit Brian dan mendapat tabokan dari Susi. Enak aja minta dinikahin. Terus, dia gimana kabarnya? Masa ditinggal gitu aja? Ya Susi gak mau lah.
"Sultan emang beda. " timpal Hendra dan diangguki yang lain.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arabella Arshana Binti Bima Arshana dengan mas kawin tersebut, tunai!! " ujar Panglima lantang.
"Bagaimana para saksi, Sah? " tanya pak penghulu.
"SAHHH!!! " teriak mereka heboh.
"Alhamdulillah!! " pak penghulu membacakan doa.
"Bang Lima, kenapa kita duduk disini? " tanya Ara polos. Ara bingung kenapa dia harus duduk di antara orang-orang dan yang lebih membuat Ara bingung adalah, saat teman-teman Panglima berteriak 'sah'.
Nah kan, Ara itu polos. Mana tau dia nikah-nikah, minta di nikahin doang. Tapi, tidak tau apa dan bagaimana itu nikah, xixi.
Panglima tersenyum lalu Menyodorkan tangannya untuk di cium Ara. "Kita sudah resmi menikah, dan sekarang cium lah punggung tangan suami mu ini. " titah Panglima lembut.
Ara mendongak menatap Panglima yang terlihat lebih tampan dari biasa nya, Panglima menggunakan tuxedo yang menambah karisma dan kadar ketampanan nya lebih tinggi. Saat Ara hendak mencium punggung tangan Panglima, tiba-tiba Puteri menggeplak lengan kokoh Panglima.
Plak
"Tukar cincin dulu, baru cium tangan. " ujar Puteri lumayan kencang dan membuat semua yang hadir tertawa. Ara sendiri hanya memandang polos saat Puteri menegur Panglima.
Panglima malu? Oya jelas, tapi dia dengan secepat kilat merubah raut wajahnya menjadi tenang. Panglima menyambut kotak cincin yang berbentuk hati itu dari sang Mommy. Panglima mengambil sebelah tangan Ara, lalu memasang kan cincin di jari manis Ara.
"Cantik, kaya Ara, hihi. " Ara terkikik memandangi jari manis nya, ah lebih tepatnya memandang cincin berlian bermata satu itu.
Semua orang terkekeh gemes melihat Ara yang terkikik itu. Radella menyerahkan satu cincin pada Ara untuk dipasang kan pada Panglima.
Ara memandangi cincin besar itu. Cincin besar? Ya cincin yang muat dua jari Ara kalau di masukin. "Gak muat, Bun. " ucap Ara polos.
Radella dan yang lain tertawa kecil. "Pasangin ke jari suami kamu, sayang! " titah Radella seraya mencubit gemes hidung Ara.
Ara mengangguk patuh, lalu dia mengambil tangan Panglima dan memasangkan cincin itu pada jari manis Panglima. "Cium, " titah Panglima langsung.
Ara yang mendengar perintah Panglima itu lantas menatap mereka yang ada di Mansion Bram itu. Dengan sedikit malu Ara mendongak menatap Panglima.
Cup
Ara malah mencium sudut bibir Panglima yang membuat semua bertepuk jidat. Maksud Panglima cium itu, cium tangan. Tapi, Ara malah mencium sudut bibir Panglima.
"Lah, salah pahaman itu, Bocil, haha. " tawa Juna.
"Gini nih, kalau bocil kepolosan menikah. " Brian geleng-geleng kepala dengan kepolosan adek nya itu. Bryan, dan yang lainnya hanya terkekeh mendengar ucapan Brian.
Panglima tersenyum gemes karena Ara yang salah pengertian itu. "Cium tangan, sayang! " ucap Panglima lembut.
Dengan segara Ara mencium punggung tangan Panglima. Disaat Panglima ingin mencium kening Ara, tiba-tiba Ara menghentikan nya dan membuat semua orang kembali terheran.
"Kenapa ditahan, Princess? " tanya Bram.
Ara menoleh kearah daddy nya itu. "Gak boleh cium wajah, cium tangan kaya Ara cium tangan, Bang Lima. " ucap Ara polos seraya menyodorkan tangannya kearah Panglima.
"Njir lah, polos banget, haha... " pecah sudah tawa Juna. Juna tertawa nyaring dan membuat orang-orang ikut tertawa.
Ara menatap mereka yang tertawa itu heran. "Why? " tanya Ara.
"Gak apa-apa, " sahut Panglima lembut lalu dia mengecup mesra punggung tangan Ara. Setelah mengecup punggung tangan Ara, Panglima menangkup kedua pipi chubby Ara, yang membuat bibir Ara maju beberapa senti ke depan.
Cup
Panglima mengecup kening Ara. Semua orang termasuk teman-teman Panglima bersorak heboh, kecuali Brian yang diam dan menatap iri pada pasangan pengantin baru itu.
"Kamu kenapa? " tanya Susi yang melihat raut wajah cemberut dari kekasihnya itu.
Brian menoleh kesamping sang kekasih. "Mau nen, eh mau nikah jugaa.. " rengek Brian seperti anak kecil. Susi menghela, dia sudah biasa menghadapi sikap kekanak-kanakan Brian setahunan ini. Tapi, anehnya! Bukannya ilfil, Susi malah semakin mencintai Brian.
__ADS_1
"*****.... *****... " ejek Juna yang mendengar ucapan Brian yang salah tadi.
Brian tidak mengindahkan perkataan Juna. "Ayanggg, nikahhhh!!! " Brian semakin merengek pada Susi.
"Iya, minggu depan! " karena lelah Susi pun menjawab asal. Karena jawaban asal yang Susi berikan membuat Brian berdiri sambil meninju-ninju angin kesenangan.
Semua orang menatap Brian heran. "Kamu kenapa sih? " tanya Bagas heran.
"Minggu depan aku kawin, eh nikah, huhuyyy. " heboh Brian yang membuat Susi menutup wajah nya dengan telapak tangannya karena malu. Semua orang terkekeh melihat itu.
Mereka mulai menyalami pengantin dan memberikan selamat. Panglima menyembunyikan tubuh mungil Ara di belakang karena dia tidak ingin istri kecil nya di sentuh orang lain(posesif).
Para orang tua sudah bersalaman dan waktunya para teman-teman Panglima sekaligus Ara yang menyalami pengantin baru itu.
"Degem, selamat ya! " ucap Hendra seraya menyodorkan tangannya guna untuk bersalaman dengan Ara. Tapi, Panglima dengan cepat menepisnya. Dia tidak rela jika istri nya di sentuh teman-teman nya. Hendra menatap datar Panglima lalu dia menjauh, lebih baik dia makan-makan saja.
"Degem, tau kan suara ******* yang bagus untuk malam pertama? " tanya Juna.
Ara menatap polos Juna, lalu dia menggeleng polos."gak tau. "Ujar nya.
"Ahhh..." Juna mempraktikkan suara ******* itu. "Gitu, Degem. " beritahu Juna.
Plak
Plak
Plak
Juna mendapat tiga tampolan di lengan kanan dan kiri nya. "Jangan ngajarin yang aneh-aneh. " tegur Bryan.
"Lah, gak salah dong. Kan Degem udah nikah! " sungut Juna seraya mengelus ngelus lengannya yang perih.
"Ara, gak boleh hamil cepat. " ujar Brian. Juna mengangguk mengerti, lalu dia menjauh untuk mendekati Hendra. Juna tidak bersalaman karena dia tau kalau endingnya akan seperti si Hendra.
Ara yang mendengar ucapan Brian lantas mata nya berkaca-kaca. Dia kan menikah dengan Panglima ingin hamil dan punya dedek bayi. Tapi, kenapa dia malah tidak di perbolehkan hamil dengan cepat? Pikir Ara yang siap hendak menangis itu.
"Eh, eh, Princess. Kenapa? " tanya Bima saat melihat mata putri nya itu berkaca-kaca.
"Ara mau hamil-hamil cepat, hikkss. " Ara terisak lalu dia membenamkan wajahnya di balik jaz yang dikenakan Bima.
Bima memandangi Bram dan Radella bergantian seraya menepuk-nepuk pelan punggung Ara yang bergetar kecil karena menangis.
"Selamat nya gadis kecil. " ucap Dani yang datang bersama sang istri. Dan di belakang Dani ada sekretaris pribadi nya yaitu Soni.
Ara yang tadi terisak tiba-tiba terhenti saat mendengar suara Dani. Ara tersenyum cerah pada Dani dan Soni. Mereka yang melihat senyum Ara itu sudah di buat ketar ketir. Ingin rasa nya mereka menghilang sekarang.
"Om penculik, Om kurus, mana? " Ara menyodorkan tangan mungilnya itu tetap di depan Dani.
"Apa? " tanya Dani pura-pura tidak mengerti. Dini menyikut perut sang suami.
"Hadiah kamu ada kok di tempat tumpukan hadiah. " ujar Dini lembut.
Ara mengetahui itu. Tapi, dia ingin meminta yang lain. "Ara tau, tapi Ara mau yang la..... "
"Kami pulang dulu, gadis kecil. " Dani menyela kalimat Ara dan segera menarik pelan tangan sang istri. Soni yang sudah ketar ketir sedari mendekati Ara tadi. Dengan kaki yang gemetar Soni mengikuti Dani.
Semua keluarga Ara dan Panglima tertawa melihat itu. Mereka tau kalau Dani dan Soni itu takut tiba-tiba bangkrut karena kalimat yang akan Ara keluarkan.
Ara menatap polos kepergian om penculik nya. "Why, jalannya gitu? " tunjuk Ara pada jalan Soni yang tergugu seperti kakek-kakek.
"Dia sudah tua. " kekeh Bram.
Ara mengangguk mengerti. "Kayak ayah, daddy Bram dan daddy Panji, kan? " ucap Ara polos.
"Hahahah," Seketika tawa anak-anak pecah. Beruntung para kolega bisnis antar dua keluarga sudah pada pulang. Jadi, mereka bebas untuk tertawa.
Skip
Malam hari nya, Panglima di buat misuh-misuh karena Ara sedari tadi selalu saja memakan es krim dan mengabaikan Panglima yang duduk di samping nya. Kata nya mau cepat-cepat buat dedek bayi. Tapi? Kenapa sekarang Panglima malah di cuekin ga nya karena bebeberapa cup es krim.
"Sayang, sudah ya makan es krim nya! " tegur Panglima lembut. Sudah empat cup Ara menghabiskan es krim. Namun, Ara tetap belum merasa puas.
Karena cemburu dengan es krim yang masuk ke mulut Ara. Panglima segara mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.
"Ada apa, Boy? Minta Toturial malam pertama? " goda Panji di seberang telpon sana. Padahal dia dan sang istri baru sampai di mansion. Tapi, Panglima sudah menghubungi nya saja.
__ADS_1
"Bukan! " jawab Panglima ketus.
Terdengar kekehan di sebarang sana. "Lalu? " kekeh Panji.
"Tutup pabrik es krim sekarang juga, Dad!! " cemburu Panglima.
"Kenapa di tutup? " seperti nya Panji terkejut mendengar ucapan sang putra.
"Ara, mengabaikan Lima karena es krim, Dad! " adu Panglima kesal.
"Hahaha, astaga. " Panji malah menertawakan nasib putra nya itu. Panglima sendiri mendengkus kesal karena dia belum dapat persetujuan dari sang daddy untuk menutup pabrik es krim itu.
"Dad!! " panggil Panglima agak ngegas.
"Weee, santai, Boy! Kita tidak bisa menutup pabrik itu kalau mereka tidak bersalah. " jelas Panji memang bener, walaupun mereka keluarga terpandang se dunia. Mereka tetap tidak bisa main tutup pabrik orang kalau tidak ada salahnya. (Sikap pencemburu dan posesif Panglima di mulai dari sekarang, guys haha).
"Mereka salah, Dad! Mereka sudah membuat istri Lima mengabaikan suaminya. " kesal Panglima.
"Hahah, sudah lah! Urus saja istri kecil mu itu. Daddy mau enak-enak sama Mommy, wleee. " Panji sengaja mengejek Panglima.
Tut
Saat Panglima mau proses tiba-tiba panggilan telpon itu terputus dan membuat Panglima kesal. Panglima melihat kearah Ara yang masih setia dengan es krim nya itu. Panglima sekarang tidur di mansion Ara dulu ya, besok mareka baru pindah ke mansion pribadi milik Panglima.
Panglima mendekati Ara seraya membuka kancing baju tidur nya. "Sayang! " panggil Panglima.
"Hem? " Ara hanya melirik sekilas lalu kembali menyuap es krim itu.
"Mau es krim yang gak bisa habis-habis gak? " tanya Panglima berbisik.
Ara mendongak dan menatap wajah tampan suami nya itu. "Mau... " seru Ara.
"Ini taro nakas dulu ya! " Panglima mengambil cup es krim yang di tangan Ara. Lalu, dia meletakkan es krim itu di nakas.
Ara dengan wajah tak sabaran ingin memakan es krim yang tak bisa habis-habis itu. "Mana mana? " ujar Ara tak sabaran.
Panglima tersenyum jahil, lalu dia membuka keseluruhan pakaiannya, dan sekarang Panglima sudah naked.
Ara memiringkan kepalanya lucu. Ara mengamati tubuh kelar Panglima. Dan Ara menyentuh roti sobek yang baru pertama kali dia lihat itu.
"Keras! " ujar Ara polos seraya menusuk-nusuk perut Panglima dengan telunjuk mungilnya.
"Gak mau pegang es krim nya? " tawar Panglima.
Ara dengan polos celingak-celinguk mencari es krim yang Panglima maksud. "Gak ada. " ujar Ara polos.
"Ini." tunjuk Panglima pada es krim yang dia maksud.
Ara memiringkan kepalanya dan menatap intens pada es krim yang Panglima maksud. "Ini bukan es krim. " bantah Ara polos. Mana ada es krim bentukan nya seperti terong begitu.
"Ini, es krim yang akan membuatmu hamil, sayang. " bisik Panglima sensual. Ara yang mendengar itu seketika mata nya berbinar.
"Gimana cara nya buat Ara hamil dengan benda kecil ini? " tanya Ara polos. Panglima ternganga karena Ara mengatakan 'benda kecil'. Padahal kepunyaan nya termasuk yang gede di kalangan remaja seusia nya itu. Aih, sudahlah! Panglima tidak mempersalahkan itu, saat nya dia membuat gadis nya hamil bukan? Panglima akan menuruti keinginan Ara yang ingin hamil, dan tidak menuruti keinginan para orang tua.
"Masukin ke sini. " tunjuk Panglima pada inti tubuh Ara.
Ara menatap inti tubuhnya yang masih tertutup itu. "Jadi, bang suami berada di atas Ara, bukan? " tanya Ara polos. Loh, Ara tau? Kan Ara memanag tau karena saat Dani menculiknya, Dani menceritakan kalau itu cara membuat dedek bayi.
Panglima tersenyum lalu mengangguk. "Iya, abang buka ya baju nya! " pintar Panglima dan Ara mengangguk polos. Panglima menanggalkan seluruh pakaian Ara dan sekarang Ara sama seperti diri nya yang naked. Panglima perlahan merebahkan Ara yang menurut saja semua permainan Panglima.
"Mulai sekarang semua yang ada di tubuh kamu, ini semua punya aku, dan tidak ada yang boleh menyentuh mengerti? " tanya Panglima dan Ara mengangguk seraya tersenyum manis kearah Panglima yang sudah berada di atasnya itu.
Cup
Panglima mulai mengecupi, mencium, dan menyesap seluruh badan Ara. Ara di buat geliat-geliat tidak karuan. Saat sudah selesai mencumbu, Panglima menatap lekat Ara yang sudah berkeringat banyak itu.
"Ini akan sakit, tahannya! " beritahu Panglima lembut.
"Kenapa sakit? " tanya Ara polos.
"Diam dan rasakan, jika ini bener-bener sakit kamu boleh memukul dan menjambak rambut abang! " jelasnya dan Ara hanya mengangguk polos.
Dengan perlahan Panglima mengarahkan senjata nya itu kedalam lobang yang selama ini di butuhkan oleh senjatanya itu.
Ara mulai meringis karena merasakan tusukan-tusukan yang tak kunjung masuk itu. Panglima memejamkan matanya sebentar lalu dengan sekali hentakan senjatnya masuk setengah.
__ADS_1
"Aaaaa, abang Lima jahat hikss, bang Lima buat Ara sakit, hiksss. " isak Ara. Beruntung kamar Ara kedap suara. Sehingga suara teriakan Ara tidak terdengar.
"Sakitttt.....!!! "