Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
masih kecil


__ADS_3

Bram mematung saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang bahkan orang yang memeluk nya itu memanggilnya dengan sebutan 'daddy'.


"Daddy hikss, Ara rindu daddy hikss.. " isak Ara yang masih memeluk tubuh tegap Bram.


Deg


Bram kembali terkejut dengan ucapan gadis yang sedang memeluknya itu.


"A-araaa? " ucap Bram terbatas, dia masih belum memutar badan nya untuk melihat siapa yang sudah memeluknya. 'Ara? Ara siapa? Ara anak aku? Atau Ara siapa? Tapi siapa lagi yang manggil aku dengan sebutan daddy kalau bukan Ara putri ku? 'Batin Bram bertanya-tanya dan tak terasa air mata jatuh di pipi nya karena mengingat mendiang putri nya itu.


Karena tak ada tanggapan dari Bram membuat Ara takut kembali bahwa Bram akan kembali memarahinya, Ara melepaskan pelukannya pada Bram kemudian berbalik menghadap panglima yang sudah ada dibelakang Ara.


"Bang, daddy masih marah sama Ara hikss, " Ara memeluk Panglima dan menangis didalam pelukan Panglima.


Bram tersadar dan membalikkan badannya, dapat dia lihat gadis yang memeluknya tadi sedang memeluk pria muda didepannya itu. Bram menghapus buliran bening itu dari sudut matanya. Dia menatap Panglima dengan raut wajah bingung dan bertanya-tanya.


"Siapa? " tanya Bram kepada Panglima.


"Panglima, " sahut Panglima datar.


"Dan dia? " tunjuk Bram pada gadis yang berada dalam pelukan Panglima.


"Ara, " sahut Panglima.


"Araa, " panggil Bram lembut sambil menyentuh pundak Ara yang bergetar karena menangis.


Ara yang dipanggil daddy nya pun melepaskan pelukannya pada Panglima dan berbalik menghadap Bram.


"Bella? " ujar Bram.


Ara menggeleng kuat sambil sesegukan, "no Bella, i'm Ara daddy.. " ucapnya.


"Daddy? " Bram semakin bingung karena Ara menyebutnya daddy.


"Hu'um daddy Ara dan bang Agas.. " ucap Ara tersenyum.


'Dia tidak mengerti apa itu transmigrasi, pasti tuan Bram bingung kenapa anak dari sahabatnya menyebutnya daddy. 'Batin Panglima.


"Kamu Bella anaknya Bima dan adek dari Bryan dan Brian. " ucap Bram pada Ara.


"Daddy gak mau anggap Ara anak? Hiksss.. " Ara kembali menangis saat mendengar ucapan dari sang daddy.


Panglima menghela nafas, "kita bisa bicara didalam sambil makan tuan, nanti dijelaskan. " ucap Panglima.


Bram yang bingung hanya mengangguk saja. dia mengikuti Panglima dari belakang. Ara memeluk Panglima sambil menangis, sungguh dia merasa sedih karena sang daddy tidak mengenalinya.


Ara lupa yah? Kalau tubuhmu bukan yang dulu lagi, gimana daddy Bram bisa tau bahwa kamu anaknya? Hedehh.


Panglima membooking restoran di lantai dua, mereka akan membicarakan hal serius dan itu bersifat privasi jadi dia memilih booking tempat.


"Kenapa booking tempat? " tanya Bram.


"Karena ini pembicaraan serius, " ucap Panglima.


Bram tidak bertanya lagi mereka menaiki anak tangga satu persatu.


Sesampainya di lantai dua mereka semua duduk dikursi bundar itu.


"Kamu duduk dulu yaa, " pinta Panglima lembut kepada Ara. Ara melepaskan pelukannya dari Panglima dan duduk di kursi yang sudah Panglima siapkan.

__ADS_1


Bram menatap Ara dengan raut wajah bingung nya, kenapa anak dari sahabatnya menganggapnya daddy? Padahal dia memang ingin menganggap Bella sebagai anaknya tapi dia belum sempat bertemu dengan Bima untuk meminta izin. Tapi hari ini dia bertemu dengan Bella yang sudah dulu menganggapnya daddy. Pikir Bram.


"Ara bisa kamu jelaskan kenapa kamu memeluk tuan Bram? " pinta Panglima, dia tidak ingin menjelaskannya dulu, dia ingin melihat bagaimana cara Ara menjelaskan kepada Bram bahwa Ara adalah anak Bram.


"Ara rindu daddy, jadi Ara peluk daddy.. " ucap Ara menatap Bram dengan raut penuh kerinduan.


"Kenapa panggil kamu panggil om dengan sebutan daddy? " tanya Bram.


Ara menatap polos kearah Bram, "karena daddy, daddy Ara. " ucapnya.


"Bukankah ayah kamu Bima bukan om? " tanya Bram.


"Sekarang ayah Bima memang ayahnya Ara tapi dulu daddy Bram, daddy nya Ara.. " jelas Ara dengan lucu nya.


Bram bingung dengan ucapan Ara, dia menoleh kearah Panglima yang sedari tadi hanya diam.


"Transmigrasi jiwa, " sahut Panglima yang paham akan tatapan Bram.


Bram semakin bingung, transmigrasi jiwa? Jadi maksudnya jiwa putri nya pindah ketubuh putri nya Bima gitu? Itulah yang dapat disimpulkan oleh Bram.


"Nama kamu siapa yang sebenarnya? " tanya Bram.


"Daddy sama kaya bang Agas saat pertama kali liat Ara, " Ara mencebikkan bibirnya lucu, "nama Ara, Ara Winda Bethany tapi karena wajah Ara sudah berubah jadi nama Ara menjadi Ara... Ara.. Ara apa bang? " tanya Ara pada Panglima, sampai saat ini dia masih belum ingat nama asli pemilik tubuh itu.


"Arabella Arshana.. " ucap Panglima.


Bram terdiam dan mencerna ucapan Ara, Arawinda Bethany? Nama putri nya kan? Benarkah jiwa putrinya pindah ke tubuh putri sahabatnya? Apakah sahabatnya tau bahwa jiwa yang ada ditubuh putri sahabatnya itu adalahhh putrinya? Bram kembali bertanya-tanya. Tapi disisi hatinya yang terdalam dia begitu senang jika benar-benar putrinya masih hidup itu berarti dia masih mempunyai kesempatan untuk membahagiakan putrinya kan?.


'Apa ini alasan Bagas menyarankan agar menganggap Ara sebagai anak sendiri? 'Batin Bram mengingat percakapan nya tempo hari bersama sang putra sulung.


"Ara? Putri daddy? " ucap Bram menatap Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Daddy, Ara rindu." ucap Ara.


Bram membalas pelukan putri nya, dia sangat terharu karena putrinya masih hidup walaupun sekarang berasa ditubuh orang lain. Bram mengelus lembut punggung mungil Ara dan sesekali mengecup pucuk kepala Ara tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Ara sekarang tidak lagi menangis karena rindu yang selama ini dia rasakan, sekarang dia kembali ceria memeluk Bram dengan sayang.


Ara mendongak menatap Bram, "daddy gak marah-marah lagi kan? " tanya Ara lucu.


Bram terkekeh gemes, "daddy gak marahin kamu lagi kok, dan daddy minta maaf selama kamu hidup bersama daddy, daddy selalu memarahi kamu. " ucap Bram dengan tulus meminta maaf.


Ara menggeleng, "no daddy gak usah minta maaf, daddy marah sama Ara karena Ara ganggu daddy kerjakan? , Ara minta maaf.. "


Cup


Untuk pertama kalinya Ara mencium pipi daddy nya itu, sudah lama dia ingin mencium daddy nya tapi karena daddy nya selalu marah-marah jika dia mendekat jadi dia tidak bisa mencium bahkan memeluk daddy nya itu.


Bram terharu mendengar ucapan Ara, dia mengira selama ini putrinya itu meninggal dengan rasa benci yang besar terhadapnya.


"Makan dulu Om, Ra.. " ucap Panglima.


Ara yang sedari tadi lapar pun melepaskan pelukannya dan duduk kembali dikursinya tadi.


Ara makan dengan lahap tanpa memperdulikan Bram dan Panglima saling berbicara karena dia juga tidak mengerti apa yang Bram dan Panglima bahas, Bram yang masih ragu akan putrinya itu kembali bertanya kepada Panglima dan sekarang mereka sedang membahas tentang transmigrasi yang mustahil itu.


"Apakah keluarga Arshana sudah mengetahui ini? " tanya Bram yang agak khawatir.


"Belum, " sahut Panglima.

__ADS_1


"Bagaimana kalau mereka tau bahwa putri mereka meninggal? Setahu saya Bima dan keluarga nya menyayangi putri bungsu mereka itu. " ini lah yang Bram khawatir kan jika gadis yang sedang makan didepannya ini adalah benar-benar anaknya lalu bagaimana nasib sahabatnya jika tahu bahwa putri mereka sudah meninggal dan jiwa yang ada ditubuh putri mereka itu adalah putrinya.


"Bella gadis yang pendiam dan suka menyimpan masalah sendiri padahal dia punya orang-orang terdekat yang baik dan sayang kepadanya, Bella sering dibully semasa SMP dan dia tidak pernah berbicara kepada om Bima dan tante Radella, bahkan kepada Bryan dan Brian pun Bella tidak menceritakan masalahnya sehingga dia memilih untuk pergi dari raga nya, " lirih Panglima walaupun dia sekarang menyukai Ara tapi tetap saja Bella lah yang lebih dulu menarik perhatiannya.


"Saya ingin membawa pulang Ara tapi saya juga takut akan membuat Bima dan keluarga nya sedih.. " lirih Bram.


"Maaf om, saranku sih sebaiknya biarkan Ara tinggal disana dulu dan nanti kita bicarain hati-hati dengan keluarga om Bima, keluarga om Bima sangat menyayangi Ara dan kalau kita mengatakan ini sekarang takut mereka akan bersedih. " saran Panglima.


Bram menghela nafas, dia tidak boleh egois walaupun dia ingin putrinya bersamanya tapi dia juga tidak boleh egois dengan membuat sahabatnya bersedih.


"Tapi sampai kapan? " tanya Bram.


"Tunggu waktu berjalan sebagaimana semestinya om, Ara juga nyaman berada di dekat mereka. "


"Jelas nyaman karena disana Ara mendapatkan kasih sayang oleh kedua orang tuanya, sedangkan dulu dia tidak pernah sama sekali mendapat kasih sayang dari saya, saya menyesali semua itu. " sesal Bram.


Mereka terus berbincang sambil makan siang, Ara sendiri sudah hampir habis makanannya.


"Yeayy Ara selesai makannya, huhu perut Ara besar seperti mau meletus-letus. " ucap Ara lucu sambil menusuk-nusuk pelan perutnya yang sedikit buncit itu.


Panglima dan Bram terkekeh melihat tingkah menggemaskan Ara. Ara menatap Panglima dan Bram bergantian.


"Kalau makan itu diam, kan jadi lama kalian makannya, " Ara mencebikkan bibirnya lucu karena melihat makanan Panglima dan Bram masih terlihat banyak.


Bram terkekeh, "udah mau pulang hm? Gak rindu daddy? " tanya nya.


"Ara rindu daddy, tapi Ara harus pulang karena ayah sama bunda pasti lagi nungguin Ara " ucap Ara polos tanpa tahu isi hati Bram yang sedikit tersentil dan membuat Bram kembali menyesali perbuatannya pada Ara dulu, dia tidak pernah mengharapkan Ara dulu.


"Maafin daddy yang tidak pernah memberikan kamu kasih sayang dulu princess.. " lirih Bram pelan dan Ara tidak mendengarnya.


****


"Ara kok belum pulang, " ucap Brian yang sudah setengah jam yang lalu sampai dirumah.


"Ck, kemana bajingan itu membawa Ara, " decak Bryan kesal, seharusnya Ara sudah dirumah sebelum dia sampai kerumah kan?.


"Coba chat atau telpon Lima Yan." titah Brian pada kembarannya itu.


"Udah gue coba tapi telpon nya gak aktif, kayanya sengaja dimatikan. " kesal Bryan yang sedari tadi menghubungi Ara dan Panglima namun tidak ada tanggapan sama sekali.


"Kenapa sih wajah kalian seperti nya terlihat kesal. " tanya Bima yang baru saja tiba diruang keluarga bersama sang istri.


"Ara belum pulang yah. " ucap Brian.


"Oo jadi karena Ara belum pulang makanya kalian kesal? " tanya Bima dan dou B pun mengangguk.


Bima dan Radella terkekeh melihat ke posesifan Bryan dan Brian terhadap Ara.


"Ara tadi kirim pesan ke ayah, katanya mau mampir makan dulu bareng Lima. " jelas Bima.


"Ck, kenapa lama banget. " decak Bryan.


Radella ikut terkekeh, "kenapa sih bang, Lima itu baik lohh cocok jadi calon mantu bunda. " ucapnya.


"Ara masih kecil bun, " kesal Bryan.


"Udah besar kok, " jahil Radella.


"Ck, aku mau ke kamar. " Bryan beranjak pergi dengan perasaan kesal terhadap Panglima.

__ADS_1


__ADS_2