
"Sayang, aku mau ganti ponsel. Kamu mau nemenin beli atau pulang dulu? " tanya Bagas pada Arsita. Ah, sekarang Bagas dan Arsita sudah resmi berpacaran. Bagaimana proses dan kelucuan nya hanya mereka yang tau, hihi.
Arsita menoleh kearah kekasihnya itu. "Kenapa ganti? " tanya Arsita.
"Kita sama-sama ganti, ya. Biar samaan! " bucin Bagas.
Arsita terkekeh mendengar itu. Bagas yang terkenal dingin dan judes itu ternyata bisa sebucin ini. "Terserah kamu, aku ngikut aja. " jawab Arsita seraya menyenderkan kepalanya di bahu Bagas.
Cup
Bagas mencium puncak kepala Arsita. Ia bahagia hari ini karena berhasil mengungkapkan perasaannya pada Arsita. Bukan hanya mengungkapkan perasaan, bahkan Bagas juga sudah melamar Arsita. Dalam waktu dekat Bagas dan Arsita akan menikah.
Sesampainya di depan toko Apple Store, Bagas memarkirkan mobil nya. "Ayo, sayang masuk! " ajak Bagas setelah selesai membukakan pintu mobil untuk Arsita. Arsita menerima uluran tangan Bagas dan mereka memasuki toko tersebut dengan bergandengan tangan mesra.
Pertama kali masuk, fokus Arsita tertuju pada seseorang yang duduk di lantai. "Sayang, liat! " ujar Arsita menunjuk seseorang yang berada di dekat kasir itu.
Bagas mengikuti arah tunjuk sang kekasih. "Ara? " ucap nya saat melihat sang adek. (Bagas sudah menceritakan semua tentang Ara pada Arsita, kalau adeknya itu ber transmigrasi).
Bagas dan Arsita berjalan mendekati Ara dan Soni yang masih terduduk lemes itu. "Dek! " panggil Bagas saat sudah berada di dekat Ara.
Ara mendongak menatap Bagas. "Abangg!! " seru Ara lalu memeluk Bagas dan mengabaikan Soni.
Bagas membalas pelukan Ara. "Ngapain disini, hm? " tanya Bagas lembut.
"Beli laptop. " sahut Ara polos seraya memperlihatkan paperbag yang berisi laptop itu.
"Ada duit kamu? " tanya Bagas heran. Perasaan Ara tidak pernah di kasih kartu black card, tapi bagaimana bisa adek nya itu membeli laptop. Arsita sendiri sudah paham dan Ia hanya tertawa kecil.
"Om kurus, yang bayar! " tunjuk Ara polos kearah Soni.
Bagas seketika terbelalak. Apa? Apa adek nya itu habis malak? Pantes saja laki-laki itu terduduk dilantai! Pikir Bagas yang melihat Soni seperti orang gila yang habis di tipu. Memang di tipu,haha.
"Om! " panggil Arsita dengan tawa kecil nya itu.
Soni yang sedari tadi diam bak patung itu, lantas menoleh ke arah Arsita yang baru saja memanggilnya itu. Soni mendongak menatap Arsita yang berdiri, Soni menampilkan raut wajah memelas.
Arsita terkekeh kecil. "Berapa, Om? " tanya nya.
"Ngapain nanya? Kamu mau menggantikan nya? " tanya Soni ketus.
Arsita dan orang-orang disana hanya bisa tertawa dan terkekeh melihat Soni yang seperti gembel itu.
"Saya, saya yang akan ganti semua. " ucap Bagas. Ia merasa tidak enak karena sang adek telah memalak orang seperti Soni, sudah kurus dipalak pula. Kan kasia, xixi.
"100jt." lirih Soni. Ia yang sebagai bawahan dari Dani tiba-tiba merasa miskin, karena mendapat kan yang 100jt itu tidak mudah. Wajar saja Soni tiba-tiba lumpuh karena Ia mendadak bangkrut. Trauma! Soni bener-bener trauma.
Bagas mengeluarkan ponsel nya lalu meminta nomor rekening Soni. Soni memberikan nomor nya, namun pandangan nya tetap kosong.
__ADS_1
Ting!!
Bunyi notifikasi pesan masuk di dalam ponsel Soni. Soni segara melihat dan cek isi pesan itu.
"200jt!! " kaget Soni dan langsung bangkit dari duduk nya. Ia untung 100jt dan itu membuat nya kembali semangat 45.
"Banyak benget! " protes Arsita pada Bagas.
Bagas tersenyum. "Bonus karena sudah menjaga adekku. " ucapnya.
"Om kurus, udah gak lumpuh? " tanya Ara polos yang melihat Soni tiba-tiba bisa berdiri.
"Udah sembuh. " sahut Soni senang. Ah, kalau begini kan Ia tidak jadi trauma.
Ara mengangguk lucu. "Tadi lumpuh kenapa? " tanya nya.
"Tulang kaki om, lemah. " sahut Soni asal.
Ara memiringkan kepala nya lucu. "Tulang lemah? " tanya Ara heran. Bukankah tulang itu keras? Pikir Ara.
Cup
Bagas mencium gemes pipi Chubby Ara. "Om nya kurus, princess! Jadi mudah lemah. " ujar Bagas mengejek.
Arsita terkekeh mendengar nada mengejek Bagas. Bagas itu menang cuek tapi mulutnya pedes. Soni sendiri tidak perduli dia di ejek, yang penting dia untung.
"Abang mau beli ponsel baru. " sahut Bagas. "Mbak, carikan dua ponsel keluaran terbaru! Dan ya, harus sama warna dan segalanya. " lanjutnya berbicara pada karyawan toko tersebut.
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar! " ucap karyawan tersebut dan Bagas menganggukkan kepalanya.
"Ara, jadi pulang? " tanya Soni.
"Biar Ara bersama saya, anda pulang saja. Dan maaf sudah di repot kan oleh Ara! " ucap Bagas merasa tidak enak karena adeknya itu.
"Ah, tidak masalah. Dan terimakasih bonus nya, saya pulang dulu. " pamit Soni dan diangguki oleh Bagas dan Arsita.
"Om kurus, nanti ketemu dan jalan-jalan lagi ya, papayyyy. " ucap Ara sambil melambaikan tangan mungilnya itu.
"Tidak bisa, setelah ini om mau pensiun jadi manusia. " ucap Soni seraya berjalan cepat meninggalkan toko tersebut. Walaupun ia tidak trauma lagi, tapi tetap saja ia jera bersama Ara.
Bagas dan Arsita tertawa mendengar penuturan dari Soni. Kalau pensiun jadi manusia! Terus, Soni mau jadi apa? Hantu? Alien?haha.
"Om kurus, mau jadi hantu kah? " tanya Ara polos.
Arsita terkekeh. "Kemungkinan." sahutnya.
"Gimana caranya? " tanya Ara lagi. Belum sempat Arsita menjawab, karyawan yang mengambil kan ponsel tadi datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ini, Tuan. " ujar karyawan tersebut.
"Keduanya sama persis? " tanya Bagas.
"Sama, Tuan! "
Bagas mengangguk. Lalu, ia mengeluarkan black card nya. Karyawan tersebut melakukan transaksi. Setelah selesai dari toko Apple Store, Bagas mengantarkan Arsita pulang ke apartemen nya.
"Kiss, "pinta Bagas pada Arsita yang hendak turun dari mobil itu.
"Ada, Ara. " ucap Arsita malu.
Bagas menoleh ke kursi penumpang, dan terlihat Ara sedang tidur. "Tidur." sahut Bagas. Arsita tau itu, ia hanya malu karena Bagas meminta ciuman.
Bagas mendekatkan wajahnya pada Arsita. Arsita sendiri hanya diam dan mulai memejamkan matanya. Bagas meraih tengkuk Arsita dan ia mulai mencium bibir ranum milik Arsita.
"Enak? " tanya Ara tiba-tiba. Bagas dan Arsita terkejut mendengar suara Ara. Mereka menoleh kearah kursi penumpang dan terlihat Ara sudah membuka mata nya lebar.
'Shittt!! 'Umpat Bagas dalam hati. Ia bukan marah pada Ara, tapi marah karena sudah menodai otak polos sang adek. Eh? Emang Ara masih polos soal ciuman? Bukankah Ara sudah tau itu, hihi.
"Abang, cium kakak cantik? Abang sayang kakak cantik? " tanya Ara polos. Bukankah kita ciuman harus sama orang yang kita sayang?.
"Hm, " Bagas berdehem sebagai jawaban. Arsita sendiri ia hanya menunduk dengan wajah yang memerah karena malu.
Ara yang melihat Arsita menunduk menjadi salah paham. "Abang, kakak cantik sedih karena abang cium cuma sebentar! " ucap Ara polos.
Arsita yang mendengar itu seketika mendongak seraya terbelalak. Ara salah paham, mana ada dia sedih, ia hanya merasa malu karena ciuman mereka dilihat oleh Ara.
"Kamu sih! " Arsita menyalahkan Bagas. Kan emang Bagas yang salah.
"Kamu mau. " Bagas tidak mau disalahkan sendiri. Ah, Bagas kan nyebelin, mana mau disalahkan sendiri.
"Kakak cantik! " panggil Ara.
Arsita menoleh dan tersenyum kaku ke arah Ara. "Apa? " tanya nya.
"Enakkan? " tanya Ara memandang Arsita polos.
"E-enak a-apa? " tanya Arsita gugup. Padahal ia paham apa yang dimaksud Ara.
"Di mam bibir nya, Ara suka saat bang Lima mam bibir Ara. " seru Ara polos.
"Heh! " tegur Bagas. Astagaa, adeknya ini polos tapi tidak punya malu.
Ara memiringkan kepala nya menatap Bagas dan Arsita bergantian. "Kalian sama-sama sayang kan? " tanya Ara. Bagas dan Arsita menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Berarti bisa buat dedek bayi dong? " tanya Ara polos.
__ADS_1
Gedubrak!!!