
"apa? gak salah bu nyawa orang di bayar dengan uang?" ucap Rainna kaget karena baru mengetahui fakta baru ini.
"ibu bisa apa nak, Karena urusannya akan menjadi panjang jika kita laporkan pada pihak berwajib" ucap Bunda
Tanpa meneruskan kembali obrolan itu, Bunda dan Rainna menaiki sepeda motor itu menuju ke tempat pemakaman Karin berada.Bunda tak ingin jika nanti sampai ke sana malah kesorean.
satu jam dalam perjalanan akhirnya Bunda memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah gerbang yang kawasannya terbilang cukup sepi.
Rainna pun turun dari motor Bunda.
"kita sudah sampe Bu?" tanya Rainna yang melepaskan helm yang tadi dia pakai.
"iya, sebentar ya Ibu beli dulu bunga untuk Karin" ucap Bunda yang menyimpan helm dan memarkirkannya disana.
"ehh, udah biar aku aja Bu" ucap Rainna.
"Udah Ibu aja, dia tuh anaknya pemilih sampe bunga aja harus khusus yang dia suka" ucap Bunda.
"engga apa-apa Bu, aku tau kok apa bunga kesukaan Karin" ucap Rainna lalu pergi menuju ke tempat yang berjualan bunga di daerah situ.
__ADS_1
Tak lama Rainna pun membawa beberapa tangkai bunga lily putih yang dia sukai.Karena disana hanya tinggal beberapa tangkai, dan bunga taburan agar tercium wangi makam Karin.Bunda pun berjalan memasuki area pemakaman Karin.Rainna mengikuti Bunda dari arah belakang.
"ayo sini" ucap Bunda yang berhenti disalah satu gundukan tanah yang memang belum mengering.
"ini makam aku-eh Karin Bu?" lirih Rainna.
" iya nak, ini lah rumah terakhir Karin" ungkap Bunda menutupi kesedihannya.
Rainna pun membersihkan beberapa rumput liar yang sudah mulai tumbuh disekitaran makam Karin.Hampir saja dia meneteskan airmatanya.Bagaimana bisa jasadnya terkubur namun jiwanya kini masih bisa hidup didalam tubuh seseorang.
"Karin, Bunda bawa temen kamu kesini.Katanya kamu pernah bantuin dia ya" ucap Bunda melihat ke arah makam Karin dan menaburi bunga yang tadi di bawa Rainna.
Rainna mengusap nisan kayu yang masih kokoh berdiri yang bertuliskan nama dirinya Karin.Bunda membacakan doa untuk Karin sedangkan Rainna masih menatap tidak percaya,kenapa dirinya bisa seperti ini.Padahal kini jiwanya baik-baik saja.
lumayan cukup lama mereka disana,akhirnya Bunda mengajak Rainna pulang.Bunda takut jika terlalu sore keburu gelap.
"ayo nak, kita pulang sekarang?" ajak Bunda pada Rainna
"ehh ,iya Bu mari" ucap Rainna yang tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"kamu doain aja biar Karin tenang ya, kalo kamu mau sering-sering kesini boleh kok" ucap Bunda mengelus punggung Rainna,seolah memberikan kekuatan pada diri Rainna.
" iya bu, aku izin kalo kapan-kapan aku dateng kesini lagi" ucap Rainna lalu mengikuti Bunda yang berjalan keluar menuju area luar pemakaman.
"boleh kok nak, Bunda yakin Karin pasti senang jika selalu didoakan oleh teman-temannya." jawab Bunda.
Mereka pun kini kembali menuju ke panti dengan menggunakan motor yang tadi Bunda bawa.Lumayan cukup lama karena hari mulai sore dan jalanan sedikit macet.Akhirnya Bunda dan Rainna sampai di halaman Panti asuhan.
"kamu mau masuk dulu nak?" tanya Bunda melihat wajah Rainna yang tetlihat lemas .
"kayanya aku langsung pulang deh Bun, lagian udah sore juga,aku takut mamah dan papah aku nyariin" ucap Rainna.
"oalah, emang kamu tadi sebelum kesini gak bilang dulu orang tua kamu." tanya Bunda yang sedikit panik.
"hehe, bilang kok bun, aku bilang bakal pulang telat"jawab Rainna.
"iya sudah kamu langsung pulang ya, jangan sampai orang tua kamu khawatir,makasih juga ya sudah mau ke makam Karin" ucap Bunda .
Rainna pun kini pamit dan menunggu ojeg online yang dia pesan.Agar lebih cepat sampai kerumah dan bisa menghindari kemacetan di jam-jam oulang kantor seperti ini.
__ADS_1