
Satu jam dalam perjalanan,akhirnya mobil hitam mewah itu memasuki pagar tinggi dengan halaman yang luas.Kini mobil berhenti di depan teras rumah yang cukup luas menurut Karin.
"ini rumah kita mah?" tanya Karin yang takjub melihat rumah itu.
"iya sayang,ayo kita turun" ucap Bu Rena yang sudah turun terlebih dahulu.
Rainna turun dengan hati-hati dari mobil itu,meskipun badannya sudah bisa berjalan tapi belum terlalu kuat untuk berdiri lama.
"akhirnya kamu kembali ke rumah ini sayang" ucap Pa Ryan yang menutup pintu mobil bagian depan.
"i-iya pah" ucap Rainna.
"ayo masuk, pelan-pelan saja jalannya jangan terburu-buru" ucap Pa Ryan.
"mulai sekarang kamu harus perhatiin kesehatan kamu, kalo ngerasa sakit jangan paksain buat sekolah dulu ya" ungkap Bu Rena yang khawatir jika terjadi lagi sesuatu pada putri kesayangannya itu.
Bu Rena, Pa Ryan dan Rainna masuk ke dalam rumah itu,mereka sudah di sambut oleh Pa Ujang yang bertugas menjaga rumah dan Bi Sri yang membantu pekerjaan rumah tangga sama seperti Bi Minah.
"gila sih ini mah gede banget" gumam Karin dalam hati.
"ayo kamu istirahat di kamar kamu dulu, mamah anter ke atas" ajak Bu Rena menaiki anak tangga.
"iya mah,ayo" Rainna sedikit antusias ingin melihat bagaimana kamar tidurnya.
__ADS_1
membayangkan ruang keluarganya saja sebesar ini apalagi kamar tidurnya.
Rainna berjalan di tangga dan melihat-lihat kondisi di sekitarnya benar-benar membuatnya kaget.Dia tak pernah membayangkan akan bisa tinggal di rumah yang besar seperti istana ini.
"ayo masuk" Bu Rena menunjukkan di mana letak kamarnya lalu membuka pintu kamar tersebut.Saat di buka pintu kamar Rainna.Nuansa yang berwarna pink sangat mendominasi dinding dan kamarnya.
"waahh" ucap Karin takjub.
"kamu kenapa sayang?" tanya Bu Rena.
" gak apa-apa kok mah" Rainna sadar dari ketakjubannya.
"kamu istirahat dulu,biar nanti Bi Minah yang nganterin Makanan dan minuman ke kamar kamu" ucap Bu Rena.
" jangan sayang,kamu istirahat aja sampai kamu pulih dan sehat seperti biasanya." ucap Bu Rena.
Rainna hanya menganggukkan kepala, menuruti semua perkataan Bu Rena.Karena sudah lama dia tak pernah di perhatikan seperti ini.Meskipun dia berada di panti tapi dia tak pernah di prioritaskan seperti ini.Di panti semua perhatiannya sama tak di beda-bedakan.
Karin merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini yang selalu menyayanginya,meskipun mereka tak tahu jika dalam tubuh anaknya itu adalah jiwa orang lain.
Akhirnya Rainna mengistirahatkan dirinya,tertidur di kasur yang lumayan besar menurutnya dan sangat empuk.Berbeda dengan kasur yang berada di kontrakannya.Kecil,tipis dan bikin badan bisa pada nyeri.
Karin malah berharap selamanya dia akan merasakan seperti ini,bukan karena kemewahan yang di suguhkan oleh Bu Rena dan Pa Ryan.Tapi perhatian yang tidak pernah Karin dapat saat kecil.
__ADS_1
**
Hari sudah malam.
kini Rainna sudah bisa mandi sendiri, dengan air hangat yang di sediakan di kamar mandinya.Kalau di kontrakan,dia ingin mandinair hangat pasti harus masak airnya terlebih dahulu.Tapi disini semuanya sudah di siapkan.Apa yang Karin dulu tak punya semua nya tersedia disini.
Rainna sudah menggunakan pakaian santai yang ada di lemari.Dia keluar kamar lalu berjalan menuju lantai bawah.Padahal jam masih menunjukkan pukul enam sore.Namun dia kini sudah rapih dan mengelilingi sekitaran rumah itu.
Di lantai bawah dia melihat Bi Minah yang tadi sama-sama saat naik mobil.
"non,mau kemana?" tanya Bi Minah.
"eh bi,aku mau jalan-jalan aja di bawah sini,dikamar bosen banget soalnya" ucap Rainna.
"tapi non udah baikan?" tanya Bi Minah yang takut jika anak majikannya itu sakit kembali.
"Gak apa-apa ko bi, bibi tenang aja".
"iya deh kalo begitu, jangan jauh-jauh ya"
"iya bi, papah sama mamah kemana?" tanya Rainna yang melihat rumah tersebut tampak sepi.
"oh itu ,Ibu sama Bapak lagi keluar dulu katanya lagi ada urusan dulu sebentar" ungkap Bi minah.
__ADS_1
"oh ,ya udah kalo gitu aku ke sana dulu ya bi" ucap Rainna yang menunjuk ke ruang tengah melihat televisi besar yang mati