
Setelah kejadian itu, Dania mengurung diri di apartemen. bagai mana tidak, pernikahan yang tinggal menghitung hari semuanya hancur, kekasih nya telah menghianati dia dengan teman nya sendiri. Hari-hari nya suram, seakan mati rasa membuat Laluna sangat kawatir dan meminta cuti untuk beberapa hari karena ingin menemani adik nya itu.
Dania yang sedang sarapan di meja, malah melamun dan hanya mengaduk-aduk makanan nya.
"Dek... kenapa?, masakan mbak gak enak ya?". Tegur Laluna.
"Emmm... enggak ko mbak, masakan nya enak..".
"Terus kenapa cuma di aduk-aduk aja.. gak di makan".
"Hmm... aku nya aja yang lagi gak punya selera makan".
"Emmm... yaudah, senggaknya kamu makan lah sesuap dua suap!". Seru Laluna.
"Iya mbak.".
Ting...tong...!! Suara bel berbunyi beberapa kali.
Laluna pun pergi menuju pintu, saat di lihat di monitor kecil yang menempel di samping pintu. Muncul wajah Divo di dalam nya, Lalu dia segera membuka kan nya.
"Hai mbak... boleh aku masuk?". Sapa Divo.
"Tentu..!".
Kemudian Laluna memperkenankan nya masuk, dan mengajak Divo ke ruang makan untuk sarapan.
"Sini duduk... kita sarapan bareng!". Seru Laluna.
Lalu Divo duduk berhadapan dengan Dania.
"Hai, Dan...!! gimana kabar kamu, baik kan?". Divo memulai percakapan.
"Aku baik". Jawab Dania singkat.
"Oh ya... gimana kalo hari ini kita ke mall, atau kemana ke gitu, yang seru?". Divo mengajukkan saran.
"Emm.. ayok, yuk Dan.. lagian gak baik loh sampai berlarut-larut gitu.". Sanggah Laluna.
Dania pun terlihat sedang berpikir, apa yang dikatakan embak nya benar jugak. Hingga akhirnya dia pun setuju.
"Yaudah, ayok. Tapi aku ganti baju dulu ya".
"Yeyyy .. jalan-jalan!". Sorak Divo seperti anak kecil membuat Dania tertawa.
__ADS_1
****
Tanpa sepertujuan Divo dan Dania, Laluna yang menyetir mobil membawa mereka berdua ke taman bermain anak-anak.
Setibanya di sana, mereka tak habis pikir jika harus berbaur dengan anak-anak yang kebanyakan anak TK untuk bermain bersama di usia nya yang di bilang sudah tua.
"Mbak gak bercanda, kan? masa kita di bawa kesini... ke mall kek, ke mana kek, gituh..". Protes Divo.
"Syuddah jangan banyak protes, yuk Dan.. kita masuk!". Seru Laluna.
Dan dengan sedikit terpaksa Divo jugak ikut.
Laluna mengajak kedua remaja itu pergi menemui teman-teman nya yang kebetulan sedang mengajak anak-anak mereka bermain di sini.
"Haii girls...!!". Teriak Laluna.
Dan semua teman Laluna pun menengok pada mereka bertiga.
"Hai.... ehh, ko ada di sini?". Tanya sisi.
"Biasalah.. boring di rumah, oh ya.. kenalin ini adik-adik aku, Divo dan Dania.".
"Dan ini namanya bmak sisi, mbak Tamara, mbak inggrit, sama mbak Niken". Lanjut Laluna memperkenalkan.
"Hai mbak... selamat siang!". sapa Divo dengan senyum tipis.
"I..iya mbak". Jawab Divo kikuk.
"Jangan di cubit jugak kali, kasihan tau anak orang, emang ganjen dasar". Sanggah Tamara.
"Iya nih, emang gak bisa lihat yang ganteng-ganteng". Timpal Niken.
"Jangan di cubit dong.. tapi di gini, nih". Balas Inggrit memeluk Divo.
Dan semua pun tertawa geli melihat tingkah Inggrit.
"Sayang... kesini-kesini.. ada Tante cantik dan ganteng!". Seru Sisi.
Lalu anak-anak mereka pun datang menghampiri.
"Nah Divo, Dania.. kenalin. ini Eca, anak nya mbak. Ini Lisa anak nya mbak Inggrit, ini Dito anak mbak Tamara, dan ini Axel anak mbak Niken". Tutur Sisi menjelaskan.
"Hai...". Sapa Divo.
__ADS_1
"Hai jugak om Divo". Seru anak-anak serempak.
"Ehh... om Divo jajanin es krim mau, gak?".
"Mau...mau ...!!".
"Eh... tapi Eca kan gak boleh makan es krim". Sanggah Sisi.
"Gak papa lah, Si... sekali ini, kasian lah dia...". Bela Tamara.
"Yaudah deh .. sekali ini ya, Eca".
"Iya mah". Jawab Eca.
"Yaudah yuk... let's go! kamu jugak ikut Dan...".
"Emmm... iya!". Balas Dania.
Lalu mereka berdua pun pergi menuju kedai es krim terdekat bersama anak-anak.
***
Setibanya di kedai, Divo menyuruh anak-anak untuk memilih sendiri parian apa yang mereka suka. Dengan sikap dan cara bicara nya yang lembut terhadap mereka, membuat Dania yang melihat nya merasa tergerak.
~Andai kamu kayak Divo ya, Ngga..~ dalam benak Dania.
Setelah menerima eskrim yang mereka suka, giliran Divo dan Dania yang memilih.
"Nah... kalo aku mau coklat, kamu Dan?".
"Aku samain aja sama kamu". Jawab Dania.
"Oh... baiklah".
Mereka pun memakan es krimnya dengan bahagia.
"Wah... jadi gini rasanya es klim... emmm enakkk". Gumam Eca.
"Emang mamih Eca gak pernah beliin?". Sanggah Divo.
"Enggak... mamih larang Eca makan eskrim, katanya kalo makan es krim gigi kita bakal bolong, nanti banyak kuman jahat di mulut". Jelas Eca.
"Oh... gitu ya.. hahahahaha... berati om Divo kuman nya dong... kan ngajak Eca makan es krim". Balas Divo.
__ADS_1
Mendengar ucapan Divo anak-anak pun tertawa.
Lagi-lagi Dania merasa tersentuh dengan perlakuan Divo pada anak-anak. Yang dia tahu, Divo adalah pria tampan, baik, dan maskulin. Dania jugak tidak mengetahui masa lalu Divo yang kelam itu. membuat Divo, menajdi pria sempurna di mata Dania. Tiba-tiba Dania merasa ada yang aneh dengan perasaan nya, jantung nya berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama?.