
Sebilah pedang membelah jubah malam dengan sekejap, putri tidur membuka segala belenggu Divo.
Pemuda itu membuka mata dengan perasaan bahagia, dan saat menoleh kesamping, tak ada Laluna disana.
"Aaaaahhhhhh... hanya mimpi rupanya". Gumam nya.
Divo mendapati jika dirinya sudah mimpi basah, kemudian segara bangkit lalu melipat spray nya dan membawanya kebawah.
Sesampainya di dapur, Divo memasukkan nya sendiri pada mesin cuci sebab takut di ketahui oleh BI Sugeng.
"Den... sedang apa?". Tanya bik Sugeng yang tiba-tiba datang.
"E..eeehh... bik, ini aku lagi cuci sprai".
"Loh... kenapa Aden suci sendiri, biar bibi aja..".
"Ahhhh.. kan masih pagi banget, gak enak kalo nyuruh bibik".
"Ya.. udah jadi tugas bibik lah den".
"Lagian kalo di nantiin takut nya gimana-gimana bik, abis Moza ee di kasur".
Kebetulan Divo memiliki kucing peliharaan bernama Moza sehingga bisa menggunakan nya sebagai alasan yang masuk akal.
"Oh... gitu, yaudah biar nanti bibik yang jemurin".
"**K**alo gitu aku mau mandi dulu yah bik, mau kerumah mbak Laluna, nemenin Dania.".
"Oh.. iya, den".
Dan Divo kembali ke kamar nya menggunakan eskalator yang memang menjadi salah satu fasilitas mewah di apartemen nya itu.
*****
15 menit kemudian, Divo sudah bersiap. Dengan menggunakan dalaman kaos putih yang di padupadan kan dengan luaran kemeja putih yang seluruh kancing nya dibiarkan terbuka, dan celana panjang berwarna kaki, membuat penampilan nya semakin cool dan Stylish, apalagi di ditambah sneaker shoes putih yang keren abis. Semakin menunjang ketampanan dari seorang Divo.
Setelah semua nya beres, dia pun segera pergi ke apartemen Laluna.
__ADS_1
___--___--____
Sesampainya di dalam departemen, Dania yang melihat nya tak berkedip, sehingga semakin terlihat jelas di wajahnya akan ketertarikan nya pada Divo.
"Ehemmmm..". Laluna mendehem membuat Dania sadar dari terpesona.
"Eemm... eeeh.. ngapain kamu pagi-pagi kesini?". Tanya Dania grogi.
"Ya.. mau main lah, emang gak boleh?". Jawab Divo.
"Ya... nggak jugak".
"Sudah-sudah.. baru aja ketemu udah ribut, ati-ati ntar jodoh, loh!". Sergah Laluna.
"Apaan sih, mbak". Protes Divo dan Dania serempak.
"Ciihh... pake barengan lagi, tuhkan...!". Goda Laluna.
"Yaudah... jadi, berhubung hari ini mbak mulai masuk kerja, mbak titip Dania ya ke kamu, Div". Lanjut Laluna.
"Ih... aku kan udah gede.. ngapain sih pake di titipin segala?". Rengek Dania.
"Ayok anak baik, ikut abang ke dapur yuk, kita bikin makanan enak". Seru Divo konyol.
"Abang pantat mu...". Protes Dania.
"Heh... nanti aku itu emang mau jadi abang kamu kok, kan aku mau nikah sama mbak Laluna. Iya kang mbak?".
Mendengar pernyataan itu Laluna merasa geli, sementara Dania wajah nya berubah menjadi datar.
"Ada-ada saja.. yaudah mbak pergi dulu ya. kalian yang baik-baik..".
Laluna pun pergi kerja, tinggal lah Dania dan Divo saja.
Saat di dapur. Tiba-tiba Dania melempar pertanyaan pada Divo yang sedang asyik memasak.
"Emmm...menurut kamu mbak Luna itu gimana sih?".
__ADS_1
Mendapat pertanyaan itu, Divo mengernyitkan keningnya.
"Lah..emang kenapa?".
"Jawab aja apa susahnya, sih?".
"Ya... dia baik, dewasa, perhatian, sayang keluarga, dan.. cantik". Tutur Divo menjelaskan.
Ekspresi wajah Divo sumringah menunjukkan rasa kekaguman saat mengatakan kalimat yang terkahir.
Lalu dia mencicipi tumis kangkung yang sedang ia masak.
"Kamu suka ya, sama mbak Luna?".
Seketika Divo di buat tersedak.
"Ohhoookkk... kok kamu nanya nya gitu?".
"Ya... keliatan aja lah dari wajah kamu". Jawab Dania yang mulai bete.
Divo meraba-raba wajah nya.
"Emang kelihatan banget, ya?".
"Ya iya..".
"Suuuutttt!". Divo menyimpan jari telunjuk nya di bibir, mengisyaratkan agar Dania tidak banyak bicara lagi.
"Maksudnya, pertanyaan tadi itu bener?". Dania semakin penasaran.
Divo pun menggangguk kan kepalanya.
"A...apa?, sejak kapan?". Dania mulai merasa panas di hatinya.
"Ntah... aku jugak gak tau.. mungkin sejak kemarin malam". Jawab nya malu-malu.
"Udah lah gak usah di bahas lagi, nih tumis nya udah Mateng". Sambung Divo.
__ADS_1