
Seminggu setelah kejadian di hotel, Rio hilang kabar ntah kemana. Membuat terlihat jelas jika kemarin ia hanya main-main ketika datang untuk meminta kesempatan.
Divo juga tak pernah terlihat lagi di hadapan Laluna, membuat Laluna semakin bingung dan merasa bersalah.
Malam mulai menampakkan redupnya, seperti burung gagak agung yang mengepakkan sayapnya di atas langit. Gelap.. sunyi.. dan sepi. Semilir angin masuk melalui pentilasi jendela kamar masuk ke setiap jengkal aliran darah Laluna. Dingin, bak menusuk tulang. Tidur nya terbangun oleh mimpi yang menyisakan sesak di hati.
Nirwana telah menegukkan secawan arak cinta pada hati Laluna, gelisah... ntah apa yang kini ia inginkan dan pikirkan.
Ia pun terjaga dari tidurnya. Dan ketika iya lihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 02:00 pagi.
Pajar masih cukup lama, namun Laluna masih belum jugak bisa tidur kembali.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah menuju jendela. Ketika ia membuka gordennya. terlihat di sebrang sana seorang pria yang sedang termenung di depan jendela kamarnya yang kebetulan saling berhadapan dengan jendela kamar Laluna.
Dan pada saat kedua nya menyadari, sesaat mereka saling menatap. Lalu pria itu menutup gordeng jendelanya dan mematikan lampu kamarnya.
Laluna tentu memaklumi hal itu, ia sadar jika yang sudah ia lakukan pada pria itu sangat lah keterlaluan.
__________*
__ADS_1
Keesokan harinya, tepat hari minggu. Laluna lari santai di taman kota, banyak jugak pasangan-pasangan muda dan tua yang jugak sedang joging dan senam.
Ketika ia sedang menuju kolam yang berada di tengah-tengah taman. Disana ia melihat sosok pria yang sedang duduk dengan seragam olah raga yang basah di penuhi keringat.
Pria itu pun membuka kaos nya dan terlihat lah badan kekar dan perut sixpack nya yang membuat wanita-wanita muda yang sedang melintas terpesona di buat nya.
Hal itu membuat Laluna spontan dan menghampiri laki-laki itu untuk menutupi tubuh nya.
"Divo... kenapa kamu buka baju, gak malu apa?". Sanggah Laluna sembari menutupi dada telanjang Divo dengan baju Divo tadi.
"Hei... apa-apa sih mbak... ya nggak lah!".
"Nggak lah mbak, ngapain juga, kan mbak bisa lihat sendiri baju aku basah sama keringet, gak nyaman lah".
"Iya.. tapi kamu di liatin banyak orang, gak malu apa?". Protes Laluna.
Divo tersenyum menyeringai.
"Kenapa? mbak cemburu ya?".
__ADS_1
"Apaan sih, siapa yang cemburu". Sergah Laluna.
"Oh... terus kenapa perduli sekali orang-orang liat tubuh aku?".
"Ya... ya... emang kamu gak malu apa?".
"Yaudah.. yaudah... baju nya aku pake lagi, biar yang tahu tubuh aku cuma mbak seorang aja, kan". Goda Divo.
"Kamu....". Laluna tersipu malu.
Hari semakin siang membuat Laluna merasa kepanasan. Dan dia pun membuka kartigan nya hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan dada yang terbentuk sempurna. Tangtop yang basah, membuat garis dada terlihat semakin jelas yang membuat wanita-wanita iri melihat nya, dan para laki-laki yang sedang melintas pun di buat terpesona.
Hal itu membuat Divo tidak suka sehingga dengan spontan ia memeluk Laluna.
"Ahhhh...apaan sih, lepasin!".
"Mbak jugak, lihat.. banyak orang-orang yang liatin mbak, kok berani banget sih.. gak malu apa?".
Pada saat Laluna meronta, Divo semakin mempererat pelukannya sehingga tubuh mereka menempel dengan sangat.
__ADS_1
Divo pun tertegun melihat belahan bulatan kenyal yang putih mulus menempel kuat di perut nya terasa geli-geli lucu. sehingga membuat pipi nya merah seperti udang rebus.