
Ternyata itu adalah pria yang dia dan Laluna temui di kantin. Dengan sedikit kasar dia menarik Divo keluar dari mobil.
"Pak, Gilang?".
"Iya... ini saya..., saya tanya kamu bener-bener, kamu siapanya Laluna?".
"Saya tetangga nya mbak Luna pak". Jawab Divo santai.
"Kamu serius?".
"Iya... saya serius, ngapain saya bohong!". tegas Divo.
"Memang nya kenapa pak Gilang nanya sampai seperti ini, pak Gilang suka sama mbak Luna ya?". Tutur Divo mengintrogasi.
"Alah... kamu gak usah banyak bicara". Sergah pak Gilang.
"Yasudah kalo gitu saya duluan... permisi!". Ucap Divo.
Lalu pemuda itu masuk kembali ke dalam mobilnya, kemudian menyalakan mesin dan melaju pergi.
Semetara itu pak Gilang yang masih berdiri melihat kepergian Divo, merasa sedikit tenang setelah mendengar penjelasan pemuda itu. Namun hati nya kembali gelisah bagaimana jika pemuda tadi membohongi nya. Hal itu membuat dia memberi titah pada sekertaris nya Dika untuk mencarikan informasi tentang pemuda yang mengaku tetangga Laluna itu.
----*----
Beberapa hari setelah nya, Dika menyerahkan semua informasi tentang Divo pada pak Gilang. Dia mendapati jika Divo adalah seorang anak dari pengusaha terkaya ke 3 di Asia, namun kelainan biseksual nya membuat ia di kucilkan oleh keluarga nya sehingga tinggal seorang diri di apartemen nya yang bersebelahan dengan apartemen Laluna. Awalnya Divo memiliki pacar sesama jenis bernama Tony, namun laki-laki itu menghianatinya dan hampir menjual nya pada seorang peria tua gay.
"Ck... ternyata hanya seorang gay, meskipun bukan dari keluarga biasa, tapi mana mungkin Luna suka sama laki-laki macam itu, tidak normal.. jadi untuk sementara ini aku aman..". Imbuh nya.
__ADS_1
Pagi itu pak Gilang dengan sengaja mendatangi Laluna ke ruang kerjanya. Setibanya di dalam, dia dapati Laluna yang sedang berbincang asik di telepon ntah dengan siapa, yang membuat nya sedikit cemburu.
"Selamat pagi...!". Sapa pak Gilang.
Laluna pun terkesiap dan langsung mematikan telepon nya.
"Eeeehhh... pak, pagi!! ada apa bapa pagi-pagi ke ruangan saya?". Tanya Laluna.
"Kamu pasti belum sarapan, kan. yuk sarapan bareng!". Ajak pak Gilang.
"Emmmm.. maaf pak, kebetulan saya sudah sarapan di rumah tadi".
"Oh... begitu ya, yasudah kalo gitu saya duluan ya!". Ucap pak Gilang dengan sedikit kecewa.
Pak Gilang pun pergi dari ruangan Laluna. Lalu wanita itu menarik nafas dan membuang nya berat.
Kemudian Laluna kembali mendial kontak yang bernama Dania. Dan Dania pun langsung mengangkat nya.
~Halo kak..? ko di matiin tiba-tiba, sih~.
~Iya maaf.. tadi ada pak Gilang masuk~.
~Aheeemmmm cie...~.
~Apaan sih, yaudah.. jadi gimana?, kamu jadi ngadain ultah Angga di cafe itu?~.
~Jadi dong kak~.
__ADS_1
~Yasudah.. udah dulu ya, aku masih ada banyak kerjaan..bye~.
~Oke..~.
Laluna pun mematikan telpon nya.
****
Siangnya, Laluna pergi ke cafe yang akan di adakan acara ultah Angga.
Namun setiba nya di sana, mata nya terkesiap melihat sosok yang sedang bermesraan dengan teman Dania sendiri.
Rasa hati ingin melabrak pasangan yang sedang berselingkuh itu. Namun, hal itu hanya akan membuat mereka menjadi lebih hati-hati agar tidak ketahuan. Dan jika Laluna langsung memberi tahukan nya pada Dania, adik nya itu tidak akan percaya.
Click....!!
Terdengar lah bleet handphone yang sedang menangkap layar.
"Divo...?".
Laluna yang terlalu fokus tidak menyadari akan keberadaan pemuda itu di samping nya.
"Yup... pasti mbak Laluna pingin bukti ini kan.. buat ngasi tau ke Dania". Ucap Divo.
Laluna pun menganggukkan kepalanya.
Lalu Divo mendekati nya dan membisikkan sesuatu pada telinga Laluna.
__ADS_1