
Divo yang semakin terhanyut membuat tangan nya bergerak tanpa sadar.
"Tidak tahu diri!".
Laluna menepis tangan nya dengan keras.
"Maaf aku.. aku terlalu senang". Ucap Divo
"Jadi gimana, kamu mau kan jadi pacar aku?". lanjut Divo.
Tidak dengan jawaban Laluna menggeleng kan kepala nya.
"Tapi... barusan kamu cium aku". Divo kecewa
Lalu wanita itu menarik kerah Divo dan mendekatkan diri ke telinga kemudian...
"Aku jugak nggak tau sejak kapan aku suka sama kamu, tapi aku gak mau jadi pacar kamu.. Aku cuma mau jadi istri kamu". Jelas Laluna di telinga nya.
"Se..serius?". Divo tak percaya.
"Iya aku mau jadi istri kamu". tegas Laluna.
"Kalo gitu sekarang kita ke KUA". tarik Divo
Dan mereka pun beneran pergi ke lembaga urusan agama untuk melakukan pernikahan secara dadakan.
*
__ADS_1
*
*
Semua berjalan dengan lancar, namun karena mendadak mereka belum bisa membawa pulang surat nikah
"Sekarang kita ke toko untuk membeli cin-cin pernikahan.. setelah itu". Divo menghentikan ucapan nya dan menarik Laluna kedalam mobil
***
Malam semakin larut, setelah membeli cin-cin Divo memutuskan untuk bermalam romantis di sebuah hotel di pinggir pantai.
Setelah memesan sebuah kamar, Divo langsung menggendong istri yang baru ia nikahi dari sejak masuk kedalam lift.
Sepanjang lorong menuju kamar meraka tak henti-hentinya saling menatap dan mencurahkan kecintaan nya satu sama lain.
Divo pun melangkah menuju balkon lalu merebahkan tubuh Laluna di atas ranjang itu, kemudian dia menatap Laluna intens, lalu Divo mengecup bibirnya sehingga saling bertaut dengan mesra.
Semilir angin yang berhembus tak mampu menusuk tulang kedua sejola itu yang tetap hangat oleh kedua tubuh nya yang saling menempel.
"Sayang.. boleh kan kalo malam ini aku..".
Namun ucapan lirih Divo di potong oleh telunjuk Laluna yang menutup bibir nya.
"Aku sudah siap, kok". Jawab Laluna dengan nada manja.
"Tapi ini di luar, gimana kalo ada orang yang lihat kita?". Sambung nya
__ADS_1
"Tidak akan, sayang...". Divo berusaha meyakinkan istrinya.
Kemudian pria muda itu bangun dari tubuh Laluna untuk membuka kemeja lalu kembali mendekap, kini kepala Divo tepat di atas kepala Laluna. Bahagia sekaligus tak menyangka jika kasih nya akan berpadu menjadi satu di malam yang bersejarah ini.
perlahan Divo mengecup lembut bibir Laluna, tanpa henti mencurahkan kasih lewat mata yang saling menyapa, mereka hanyut dalam buaian satu sama lain.
Nafas kedua nya mendesah semakin tak beraturan, luput dalam angan, nya Divo dan Laluna tak mampu lagi mengendalikan diri satu sama lain.
tanpa sadar tubuh keduanya mendekat lalu merapat, hingga akhirnya tubuh mereka saling menyentuh.
Tangan Divo perlahan turun ke pinggul Laluna, lalu dengan lembut ia melepaskan kain penutup dunia milik isrinya.
Laluna merasakan ada benda tumpul yang mencoba memaksa masuk, namun perlahan wanita itu merasakan ada bagian yang terbuka. Kemudian batang itu sekuat tenaga menusuk-nusuk lubang v*gi** nya. Awalnya tusukan itu terasa sakit seperti tertusuk jarum, namun lama-kelamaan tusuk itu menjadi geli-geli nikmat.
Semakin terhanyut dalam kenikmatan semakin membuat kedua nya hilang akal yang tanpa sadar membuat Laluna tak henti mendesah nikmat
"Aggghhhh... Aggghhhh.. stttt.. Sa.. yang". Suara Laluna tertahan berat
"Gimana kamu suka, tidak?".
"Aaahhhhgggggggggghhh... I..iya aku suka".
Lalu Divo mempercepat ge*jot*n nya membuat Laluna semakin mabuk kenikmatan, hingga pada akhirnya cairan hangat pun memenuhi v*gi*a nya
__ADS_1