
"Cinta tidak pernah tahu kemana dia akan pergi berlabuh".
Begitu pun apa yang sedang Laluna rasakan saat ini, melihat photo pernikahan Dania dan Mahes di dinding rumah, ia teringat kembali kepingan-kepingan kenangan saat bersama dengan Rio. Cin-cin melingkar di jari manis, dan ikrar janji suci yang sudah menjadi cita-cita indah, hancur begitu saja oleh penghianatan.
"Laluna?".
Lamun nya buyar oleh suara yang memanggil nama nya.
"Mbak Ira?".
"Kapan kamu datang... ko mbak gak tau?". Tanya Ira.
"Belum lama...". Jawab Laluna.
"Oh..., ada perlu apa?".
"Ada berkas yang harus di tandatangani pak Mahes dari kantos aku".
"Oh... kalo gitu biar aku bangunin dulu ya". Seru Ira sembari bergegas pergi.
.
.
__ADS_1
.
Sesampainya di depan kamar, ketika hendak membuka pintu, dari dalam kamar Ira mendengar suara desahan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia tahu betul apa yang sedang di lakukan oleh suami dan madu baru nya itu di pagi hari.
Tak ingin mengganggu, Ira pun kembali ke bawah menemui Laluna.
"Maaf.. mas Mahes masih tidur". Ucap Ira dengan wajah sedikit murung.
"Oh... baiklah, kalo begitu aku undur diri dulu ya mbak, biar berkas nya aku taro di sini". Seru Laluna.
****
Ketika ia memarkirkan mobilnya tepat di depan halte, ternyata benar saja jika pria itu adalah Rio. Dan Laluna pun keluar dari mobil nya.
"Ri... Rio?". Laluna tak percaya.
"Lu... Luna?".
Rio langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Laluna.
Dengan seketika menggapai kedua tangan luna.
__ADS_1
"Lun...lun... tolong aku, kasih aku kesempatan ya... aku bangkrut, pacar aku bawa kabur semua aset yang kupunya, termasuk perusahaan aku. Aku tau kamu masih cinta kan sama aku.. kamu pasti gak tega kan liat aku begini?". Pinta nya tanpa rasa malu.
Bodoh dan cinta itu beda tipis, tentunya hati Laluna cukup terguncang. Ketika ia sedang mempertanyakan hati nya pada diri sendiri, tiba-tiba sebuah tangan merangkulnya dari belakang.
"Benar-benar laki-laki yang tidak tahu malu... setelah nyakitin dan ngehianatin, segampang itu minta balik, lalu nyakitin lagi, dan sekarang minta balik lagi". Hardik pria yang tiba-tiba muncul itu.
"Di..Divo?". Laluna kaget.
"Denger ya mas... Laluna sekarang punya saya, saya harap Anda tidak akan pernah menggangu nya lagi." Tegas Divo.
Kali ini Rio kalah, oleh pria muda yang seharusnya jadi anak nya itu.
"Baik... saya tidak akan lagi mengganggu Luna". Jawab Rio.
Dan dengan penyesalan Rio pun pergi meninggalkan mereka.
"Kamu apa-apaan sih?, apa hak kamu nyuruh Rio buat nggak ganggu aku lagi?". Laluna kesal.
"Cinta boleh mbak, bodoh jangan...!!". Seru Divo.
"Papa kan udah nikah nih, si Rio itu jugak gak bakal berani gangguin mbak, jadi aku punya hak dong buat deketin mbak, dan ngejar mbak...". sambung Divo.
"Omong kosong...!, terserah lah saya malas nanggapi anak kecil kayak kamu". Ketus Laluna sembari pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
"Biar pun anak kecil, tapi bisa bikin mbak nyaman kan... lagian mbak harus tanggung jawab sama anak kecil ini". Teriak Divo.