
Jam menunjukkan pukul 11:00 wib, saat nya istirahat. Divo yang sedari tadi menunggu Laluna sampe selesai, tertidur pulas di sofa.
"Aiiihhhh.... dia ketiduran...!!".
Laluna pun menghampiri nya.
~Haruskah aku membangun kan nya?~. Dalam benak Laluna.
Dan saat Laluna hendak berbalik pergi, Divo menarik tangan nya.
"Mbak... mau kemana?, ko gak ngebangunin sih?".
"Emmmm.... aku pikir kamu capek banget gara-gara nungging aku sampai selesai".
"Yasudah... sudah waktunya makan siang, yuk kekantin!". Sambung Laluna.
"Emmm..". Divo mengangguk kan kepalanya.
Dan mereka pun pergi bersama.
***
Sesampainya di kantin, semua karyawan perempuan yang sedang makan siang, menatap tajam pria muda tampan yang berjalan di belakang manager mereka.
"Mari duduk...!".
"Kamu mau makan apa?". Sambung Laluna.
"Emmmm... aku...". Divo yang sadar jika dia sedang di perhatikan banyak orang, membuat nya merasa malu dan tidak PD.
"Iya... mau apa?".
"Samain aja deh sama mbak... lagian kan tadi aku jugak bawa kotak makanan ini, Masi bisa di makan kok!". Ucap Divo sembari menyodorkan kotak makanan ke atas meja.
"Kalo gitu... aku mau pepes tahu daging, sup, sama tumis sayur, kamu suka?".
__ADS_1
"Gimana mbak aja!!". Balas Divo.
Laluna pun memesan semua makanan tadi.
Setelah beberapa saat kemudian pesanan nya pun datang.
"Ini buk manager... sudah siap!". Ucap buk Diah sembari membawa baki yang berisikan semua pesanan tadi.
"Makasih buk...".
"Waaahhhh... temen Buk manager ini, baru yah.. saya kok baru liat... atau ini pasti pacar ibuk, kan". Cloteh buk Diah.
"Hmmmm... ini teman saya buk, Divo. Dia gak kerja di sini, emang kebetulan lagi berkunjung aja". Sangkal Laluna.
"Kirain..., soalnya ganteng banget, cocok sama buk manager hihi...". Goda buk Diah.
"Yasudah silakan di santap... semoga pak Divo suka ya makanan nya... kalo gitu permisi, pak... buk...". Sambung buk Diah undur diri.
Ketika Laluna dan Divo sedang menyantap makanan nya, tiba-tiba pak Gilang datang bersama sekertaris nya Dika.
"Selamat siang .. boleh kami gabung". Ucap pak Gilang.
"Div... kamu pindah ke sini... biar pak Gilang bisa gampang duduk!". Seru Laluna.
Laluna sengaja menyuruh Divo pindah ke sisinya, karena dia tidak ingin berdekatan dengan pak Gilang yang nantinya menjadi sebuah masalah. Lalu Divo pun pindah ke samping Laluna, rencana pak Gilang yang tadi nya ingin dekat dengan Laluna pun gagal, Dika yang mengerti dengan pemikiran atasan nya mencoba menahan tawanya.
Dengan terpaksa pk Gilang dan Diki pun duduk di depan mereka berdua.
"Emmmm... Div, aku suka Chicken rise nya, ini bi Sugeng emang the best deh...!". Imbuh Laluna.
"Hi... itu bukan bi Sugeng yang masak, tapi aku mbak...". Jawab Divo malu.
"Apa...? wah... kamu pinter masak ya, nanti kamu ajarin Dania deh, biar dia pandai masak kayak kamu". Puji Laluna.
Pak Gilang yang mendengar nya merasa tidak suka, dia kesal karena merasa memiliki rival baru, dan rival itu sangat bisa mencari perhatian pada wanita incarannya.
__ADS_1
Ueeeeeu...!! Laluna Sendawa tanpa merasa canggung.
"Ahhhhh... kenyang nya...!".
"Yuk Div... kita pergi!". Sambung Laluna.
"Kalian mau pergi kemana emang nya?, ini masih jam kerja loh, Luna..". Sanggah pak Gilang.
"Nggak kemana-mana ko pak, mau keruangan saya lagi, masi banyak pekerja soalnnya...".
Laluna dan Divo pun pergi meninggalkan mereka berdua.
****
Setibanya di dalam ruangan kerja Laluna.
"Piiuuuhhh.... untung saja kita cepet kabur dari sana!". Ucap Laluna.
"Loh... memang nya kenapa?".
"Nggak suka aja...".
"mbak gak suka tempat nya... atau orang yang duduk bersama kita?".
"Tentu... orang yang duduk bersama kita, saya risih setiap berdekatan dengan dia.".
"Emmm... kalo di lihat-lihat, kayaknya orang itu suka sama mbak, kan!".
"Apaan sih... mana ada, pokonya aku gak suka aja deket sama dia, aku gak mau nanti di musuhi sama semua karyawan wanita.".
"Memang dia siapa sih, mbak?". Divo penasaran.
"Dia CEO GC group.. pemilik perusahaan ini, namanya pak Gilang".
"Yasudah... aku pamit pulang dulu ya mbak, gak enak kalo kelamaan disini, aku kan bukan karyawan.".
__ADS_1
Divo pun pamit pergi pulang.
Dan saat dia sedang menyusuri lobi yang hendak masuk ke dalam mobil nya, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu mobil sehingga iya kesulitan untuk menutup nya.