
Suara Laluna membangun kan Divo, membuat laki-laki itu seketika bangkit dan menghampiri nya.
"Mbak Luna, kamu sudah sadar...". Ucap Divo.
"Kenapa saya ada di sini, konspirasi apa yang sedang kamu rencanakan ini?". Laluna langsung curiga.
"Tenaga dulu mbak... biar aku jelasin, aku gak ada niat apa-apa, justru aku hanya mencoba untuk menyelamatkan mbak Luna". jelas Divo.
"Maksudnya?".
"Sekarang, mari kita ke kamar mbak, dan lihat apa yang sudah terjadi!!.". Seru Divo.
Dan akhirnya mereka berdua pun pergi menuju kamar Laluna.
Sementara itu sesampainya di sana, ia terkejut saat mendapati Dania yang masih tertidur tanpa busana bersama pak Mahes.
"Da..Dania?". Teriak kecil Laluna.
Tentu hal itu membangunkan Dania.
"Ukkkhhhh... mbak, kepala ku pusing". Dania memijat lembut kepalanya.
"Apa yang sudah terjadi?". Tanya Laluna.
"Apa....?". Dania masih tidak sadar,
Dan saat ia hendak menggaruk bahu nya, ia menyadari jika ia tidak memakai baju. Seketika Dania bangkit menutupi dadanya dengan selimut dan menoleh kesamping nya yang ternyata ada seorang peria yang masih tertidur pulas.
"Aaaaahhhhhh...... apa yang telah terjadi".
__ADS_1
Teriakan nya membangun kan pria itu dan membuat nya terperanjat bangkit.
"Pak... pak Mahes?". Dania keheranan.
"A..ada apa ini?". Pak Mahes masih linglung.
Setelah penglihatan nya jernih, pak Mahes terkejut tak percaya jika wanita yang kemarin malam ia tiduri bukanlah Laluna, melainkan Dania.
"Da...da.. Dania?, kenapa kamu...". Pak Mahes kebingungan.
"Apa sebenarnya ini semua, kenapa pak Mahes melakukan itu pada adik saya?". Laluna mulai tersurut emosi.
"Sa...saya... saya....". Pak Mahes tak sanggup untuk menjelaskan.
Sementara Dania jugak malah menangis dan tidak dapat ditanyai.
"Saya tidak mau tahu, saya harap pak Mahes bertanggung jawab dan menikahi adik saya segera!". Seru Laluna.
"Ta.... tapi mbak, aku gak mau nikah sama om Mahes". Dania mencoba menolak.
"Lalu mau jadi apa kamu, dia sudah merenggut masa depan kamu, dengan terpaksa kamu harus bersedia.". Tegas Laluna.
Harapan Dania untuk mendapatkan Divo pun musnah, dia tak menyangka jika rencana yang telah dia persiapkan justru malah memakan dirinya sendiri. Kebencian di dalam hati Dania terhadap Laluna perlahan mengisi relung hati nya.
Menyadari jika untuk sekarang dia tidak akan bisa mendapatkan cinta Divo, maka untuk sementara ini dia harus setuju menikah dengan pak Mahes.
"Kalo gitu kamu pakai dulu baju kamu, kita bicarakan hal ini setelah pulang ke rumah". Ucap Laluna.
"Iya mbak". lirih Dania.
__ADS_1
Divo menarik Laluna keluar kamar untuk membicarakan tentang apa yang sudah terjadi.
###Keduanya pergi ke lestouran di sebelah penginapan.###
"Kenapa kamu ngajakin aku kesini?". Laluna heran.
"Dasar bodoh!". Ucap Divo sembari mengacak lembut rambut Laluna yang di biarkan tergerai.
"Ukkkhhhh .. apaan sih, yang sopan ya... usia saya hampir sama dengan ibu kamu". Grutu Laluna.
"Ehhhh... iya...iya... maaf, aku ngerasa kalo kita seumuran hehe".
"Jadi apa yang ingin kamu katakan?".
"Jadi mbak belum sadar jugak apa yang sudah terjadi?".
"Iya apa?". Laluna masih tak menyadari.
"Dania dan papa ku sudah mengatur rencana untuk mencelakai mbak, aku mendengar papa telepon sama Dania ketika aku pulang untuk bermaksud melihat keadaan mama di rumah, papa meminta Dania untuk mengajak mbak liburan ke sini, dan menyuruh Dania untuk mencampurkan sesutu ke makanan mbak, sehingga mbak gak sadarkan diri, dan papa... bisa melakukan hal itu ke mbak, jadi bisa di bilang ini adalah senjata makan tuan, jika bukan aku yang mengikuti papa, dan menukar kopi yang di kasi Dania pada mbak tadi malam, mungkin yang sekarang tidur dengan papa itu adalah mbak". Tutur Divo menjelaskan.
Mendengar itu Laluna sangat tidak menyangka, bahwa adik nya sendiri akan mencelakai nya.
"Kenapa rasa nya itu tidak mungkin, lalu... apa alasan dia melakukan itu pada kakak nya sendiri?".
"Alasan nya hanya satu, dia ingin membuat mbak Luna nikah sama papa, sehingga...". Ucapan nya terpotong dan pipi Divo berubah menjadi merah.
"Dan apa...? dan dia bisa dekat dengan kamu?. Yaampun dia memang sudah benar-benar di butakan oleh Cinta, padahal aku sama kamu kan tidak ada apa-apa, kenapa dia bisa berpikiran seperti itu". Ucap Laluna.
"Ta...tapi... aku berharap bisa lebih dari itu". Divo memotong ucapan Laluna.
__ADS_1
Laluna terdiam, ia tidak menyangka bahwa akan keluar kata-kata itu dari mulut seorang peria muda yang apabila dia sudah menikah dan memiliki anak, mungkin usia nya akan sama dengan remaja yang saat ini berada di hadapan nya itu.