Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 10


__ADS_3

Abimanyu tidak peduli lagi apa yang akan ayahnya lakukan kepadanya kalau sampai dia mengecewakannya dengan memutuskan untuk menceraikan Sarah. Yang Abimanyu inginkan saat ini adalah membuat Laras tidak meninggalkannya dan hal itu hanya akan terjadi jika dia memilih untuk menceraikan Sarah.


Langkah Abimanyu sangat cepat ketika dia sudah sampai di rumahnya, di rumah yang merupakan hadiah pernikahan dari kedua orang tua Abimanyu untuk Abimanyu dan Sarah.


Abimanyu masuk ke dalam rumah dan dia mencari di setiap sudut rumah keberadaan istrinya. Tapi hasilnya nihil, Abimanyu tidak menemukan Sarah di manapun di rumah mereka. Abimanyu lalu mencari seorang asisten rumah tangga yang kebetulan berada di ruangan tengah. Abimanyu mendekati asisten rumah tangga itu kemudian bertanya kepadanya.


"Nyonya dimana Bi?" tanya Abimanyu cepat.


"Maaf tuan, sejak tuan pergi Nyonya juga tidak pulang tuan!" jawab asisten rumah tangga itu sambil menundukkan kepalanya dengan membawa lap di tangannya yang dia pegang dengan erat karena saat dia melihat Abimanyu wajah tuannya itu sangat tidak enak dilihat.


Bukan karena tidak tampan atau acak-acakan tapi terlihat sangat marah dan emosi.


Abimanyu lalu berbicara kesal kemudian dia meninggalkan rumah nya itu. Abimanyu pun sudah bisa menebak kira-kira di mana istrinya itu berada saat ini. Abimanyu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dan menuju ke rumah mertuanya yaitu rumah Rahmalia.


Beberapa menit perjalanan yang harus di tempuh Abimanyu. Bahkan dia juga sudah meminta pengacaranya untuk menyiapkan semuanya mengenai masalah perceraiannya dengan Sarah. Semua hal, termasuk harta gono-gini dan juga hak asuh atas Cindy.


Setibanya di rumah Rahmalia, Abi turun dari dalam mobil dengan langkah pasti dia berjalan ke arah pintu masuk rumah besar yang merupakan rumah mertuanya. Abimanyu menekan bel dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Tuan Abi, silahkan masuk!" sapa seorang wanita paruh baya yang adalah asisten rumah tangga di kediaman ini.


Abimanyu lalu masuk ke dalam rumah dan asisten rumah tangga itu lalu mempersilahkan Abimanyu untuk duduk. Tapi Abi langsung mengangkat tangannya di depan asisten rumah tangga itu lalu berkata.


"Sarah ada di sini?" tanyanya dengan datar.


"Iya tuan, nona Sarah sudah beberapa hari di sini!" jawab asisten rumah tangga Rahma dengan jujur.


"Dimana dia sekarang?" tanya Abi lagi.


"Tadi ada di kamar nyonya besar, mau saya panggilkan tuan?" tanya asisten rumah tangga Rahma itu dengan sopan.

__ADS_1


Dan Abimanyu langsung mengganggu kan kepalanya dengan cepat. Asisten rumah tangga itu pun langsung bergegas untuk memanggil Sarah.


Abimanyu memilih menunggu Sarah sambil duduk. Tak lama kemudian Sarah yang sudah menuruni anak tangga dari lantai dua bergegas menghampiri Abi.


"Mas, kamu sudah pulang? bagaimana? kamu sudah menceraikan wanita itu kan?" tanya Sarah dengan sangat antusias.


Sarah sangat berharap kalau Abimanyu sudah menceraikan wanita itu seperti apa yang dia minta. Karena pasti kedua orang tua Abimanyu tidak akan mengijinkan Abimanyu menceraikan Sarah.


Abimanyu langsung berdiri dan melihat ke arah Sarah.


"Aku akan menceraikan mu, aku sudah masukan permohonan nya ke pengadilan, Sarah kita bisa bicara baik-baik dan menyelesaikan semua ini baik-baik!" jawab Abi.


"Mas!" pekik Sarah yang matanya sudah berkaca-kaca.


Pekikan Sarah itu membuat Abi tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan kepada Sarah.


"Kamu ingin menceraikan aku? lalu bagaimana dengan Cindy? bagaimana dengan ayah dan ibumu? mereka pasti tidak akan setuju kan?" tanya Sarah yang sudah sangat emosi.


Sarah langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak mas, aku tidak mau bercerai... pokoknya aku tidak mau!"


Brukk


Sarah pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Abimanyu yang awalnya diam saja langsung bergegas menghampiri Sarah.


"Sarah, kamu kenapa?" tanya Abi sambil meletakkan kepala Sarah di pangkuannya.


Seorang wanita paruh baya yang ada di lantai dua, sejak tadi memperhatikan dan menyaksikan tontonan yang ada di lantai itu. Bibirnya menarik senyum ketika melihat Sarah jatuh pingsan. Dengan cepat wanita itu lalu menuruni anak tangga dan menghampiri Abimanyu serta Sarah yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Sarah! Sarah!" teriak wanita itu yang ternyata adalah Rahma, ibu kandung Sarah.


"Ini Sarah kenapa Abi?" tanya Rahma uang sudah menangis. Entah sejak kapan Rahma sudah menangis tapi dia benar-benar terlihat sangat panik.


"Kami sedang bicara Bu, dan dia tiba-tiba pingsan !" jawab Abimanyu.


"Cepat angkat dia, kita bawa ke dokter!" ucap Rahma yang langsung berdiri dan menunjukkan arah pada Abimanyu.


Rahma sengaja membawa Abimanyu yang sedang menggendong Sarah ke arah mobilnya.


"Cepat Abi!" ucap Rahma panik membuat Abimanyu juga menjadi panik.


Setelah Abi memasukkan Sarah ke dalam mobil, Rahma juga meminta Abi agar ikut ke rumah sakit. Rahma sendiri yang mengemudi dan menentukan ke rumah sakit mana mereka akan menuju.


Sesampainya di rumah sakit, Ragam turun terlebih dahulu. Ternyata sudah ada dua orang perawat yang menunggu dengan membawa ranjang dorong. Rahma langsung membawa dua perawat itu mendekat ke arah mobilnya.


"Abi cepat!" teriak Rahma membuat Abi yang sedang berusaha mengeluarkan Sarah dari dalam mobil menjadi ikut panik.


Abi menggendong Sarah dan memindahkan nya dari dalam mobil ke atas ranjang dorong yang dibawa oleh dua orang perawat tersebut. Para perawat itu langsung membawa Sarah masuk dan menuju ke ruangan UGD. Disana juga sudah ada dokter yang menunggu.


Saat Abi akan ke bagian administrasi, Rahma melarangnya.


"Ibu, tapi aku harus mendaftar dulu!" ucap Abimanyu yang sudah mengerti tata cara atau SOP di rumah sakit.


"Kamu tunggu di luar ruangan itu dijaga saja Sarah siapa tahu saat dia sadar dia mencarimu, biar ibu yang urus administrasi nya!" ucap Sarah dan langsung pergi.


Abimanyu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa kata Rahma. Abimanyu menunggu sambil duduk di sebuah kursi besi yang ada di depan ruang UGD. Abimanyu tidak menyangka kalau kejadiannya akan menjadi seperti ini, sebelumnya dia tidak pernah mendengar kalau kesehatan Sarah bermasalah. Selama ini bahkan Sarah tidak pernah pingsan sama sekali. Dia tidak menyangka kalau keputusannya untuk bicara tentang perceraian dengan Sarah akan membuatnya histeris dan pingsan. Abimanyu hanya bisa berharap kalau Sarah baik-baik saja dan hanya syok, karena dia memang harus segera menyelesaikan urusannya di sini agar bisa memulai kehidupan barunya dengan Laras dengan tenang.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2