
Malam harinya setelah Indra dan ibu Indriyani pulang seusai menjenguk Laras dari sore. Laras pun akhirnya sadar. Dia sepertinya sudah bisa merasakan apa yang terjadi pada calon anaknya. Meski sudah membuka matanya, dia hanya diam tapi dengan air mata yang sudah mengalir dari setiap sudut matanya. Matanya memandang ke langit-langit kamar rawat inap itu dengan tangan kiri yang menyentuh ke arah perutnya.
Tangan kanan Laras di pasangi selang infus dan alat pendeteksi denyut nadi. Jadi tidak bisa dia angkat ke atas perutnya karena kondisinya juga sangat lemah.
Laras memikirkan semua kejadian yang terjadi padanya, dan menurutnya satu-satunya orang yang berhak bertanggung jawab atas semua ini adalah Abimanyu Mahendra. Kalau Abimanyu Mahendra tidak membohonginya dan menikahinya maka dia dan keluarganya tidak akan pernah menjadi musuh seorang Rahmalia Wijaya. Ayahnya tidak akan meninggal, sahabat baiknya tidak akan meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan bahkan kedua orang tua Wulan yang tidak tahu apa-apa ikut menjadi korban. Dan calon anaknya yang bahkan tidak mengerti apapun juga tidak akan berakhir seperti ini.
Tangan yang tadinya mengelus perut, kini mengepal dengan kuat.
'Aku tidak akan memaafkan mu Abimanyu. Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kamu, istri pertama mu dan mertua mu itu harus membayar semuanya!' batin Laras begitu mendendam pada ketiga orang yang menurutnya harus bertanggung jawab atas segala kepedihan yang dia rasakan.
Selama ini dia sudah diam, dia sudah mengalah. Dia memilih pergi dan menghindar, tapi sepertinya semua itu tidak membuat mertua suaminya itu puas.
Laras sudah bertekad di dalam hatinya akan membalas semua perbuatan ketiga orang itu dengan setimpal.
Laras kemudian memejamkan matanya. Membuat semua air mata yang terbendung tumpah semua.
Tapi kemudian Laras kembali membuka kelopak matanya. Dia memikirkan kalau dia tidak mungkin bisa melakukan semua ini sendiri. Dia butuh dukungan orang yang bisa berdiri kuat di belakangnya.
Laras pun memikirkan dokter Nanang. Bukan bermaksud memanfaatkan dokter Nanang. Tapi bukankah dokter Nanang menyukainya. Jika dia menceritakan semua masalahnya pada dokter Nanang, bisa saja kan dokter Nanang mau membantunya. Apalagi secara finansial, dokter Nanang juga sangat berkecukupan.
Tapi baru memikirkan dokter Nanang, seseorang tiba-tiba menyeka sisa air mata Laras dan membuat Laras terkejut. Mata Laras melihat tajam ke arah orang yang tengah berdiri dengan tatapan sedih bercampur kasihan pada Laras.
"Aku sudah tahu semuanya, ibu mu sudah menceritakan semuanya padaku!" ucap Dipa yang langsung menarik kursi plastik yang berada tidak jauh darinya dan langsung duduk di sebelah tempat tidur pasien Laras.
__ADS_1
"Aku ikut bersedih atas apa yang terjadi pada calon anakmu, dan juga sahabat mu!" ucap Dipa lagi dan Laras benar-benar tak menyangka kalau sang ibu akan menceritakan semua hal itu pada Dipa yang baru saja di kenal ibunya.
Melihat tatapan tidak percaya Laras, Dipa hanya tersenyum pahit.
"Kita sama Laras, kita adalah seseorang yang di buat rusak berdaya okeh keadaan. Kita sama!" ucap Dipa membuat Laras semakin bingung.
"Aku tahu, kalau kamu adalah istri kedua dari Abimanyu Mahendra!" ucap Dipa yang membuat mata Laras melotot.
"Jangan sebut nama pria pengecut itu di depanku?" kesal Laras. Terlihat dari matanya yang melotot, rahangnya yang mengeras dan penuh penekanan saat dia menyebutkan kata pria pengecut.
Dipa pun mengangguk paham. Dia tahu kalau Laras memang sudah benar-benar sakit hati sangat parah pada suaminya itu.
"Aku juga akan katakan sesuatu padamu. Kamu ingat apa yang aku katakan kemarin tentang alasan ku tidak ingin kembali?" tanya Dipa dan Laras hanya diam.
Laras jadi sangat cemas, karena sekarang dia bersama dengan kakak ipar dan musuhnya. Itu artinya Dipa adalah musuhnya juga. Tapi Laras kemudian berpikir lagi, dia ingat apa yang di katakan Dipa kemarin padanya, itu bahkan Dipa katakan sebelum dirinya tahu siapa Laras dan apa hubungannya dengan Abimanyu. Dari apa yang Dipa katakan itu, Laras yakin kalau dia juga mempunyai masalah dengan keluarga Wijaya. Apalagi tadi dia sempat mengatakan kalau dirinya dan Dipa sama.
"Jadi kita musuh atau teman?" tanya Laras yang sepertinya bukan lagi Laras yang dulu.
Laras yang dulu tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu. Dia akan lebih memilih untuk mengalah. Tapi karena rasa sakitnya sudah terlampau parah, Laras pun memutuskan untuk tidak ingin lagi diam dan mengalah. Dia ingin berjuang, setidaknya demi ayah dan juga sahabatnya yang menjadi korban keegoisan Rahma dan anaknya.
"Aku sudah katakan tadi Laras, kita sama!" jawab Dipa.
Laras langsung memalingkan wajahnya dari Dipa.
__ADS_1
"Setelah kamu sembuh, aku akan atur segalanya. Tadinya ku pikir aku ingin tinggal lebih lama di sini. Tapi sepertinya memberi mereka yang telah menyakiti kita kesempatan lebih lama bersenang-senang itu tidak baik bukan Laras?" tanya Dipa.
Laras masih terdiam. Meski dia sudah yakin dengan niatnya untuk balas dendam. Tapi dia masih memikirkan bagaimana ibu dan juga adiknya. Mereka sama sekali tidak bersalah, dia juga tidak ingin mereka mengalami nasib yang sama seperti ayah dan juga Wulan.
"Apa rencana mu?" tanya Laras yang sepertinya sudah sangat yakin dan tidak bisa di ganggu gugat lagi keputusannya.
Dipa melihat Laras yang sepertinya sudah sangat yakin sebenarnya cukup senang. Tapi saat Dipa menatap mata Laras, dia sangat sedih karena mata wanita yang begitu pengasih dan perhatian yang kemarin masih di lihatnya saat mengurusnya ketika dia sakit. Sudah tidak ada lagi pancaran kasih sayang itu, mata Laras itu benar-benar hanya tertinggal tatapan tajam dan dendam di sana.
"Aku tahu status mu sekarang masih istri Abimanyu. Aku juga tahu sebenarnya kamu menikah dengan Abimanyu karena kamu tidak tahu kalau dia sudah punya istri. Kamu tidak tahu kalau kamu ternyata adalah wanita lain dari suami orang!" ucap Dipa yang langsung membuat tatapan mata Laras menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
Melihat Laras sepertinya sangat marah dengan kata kata yang di katakan Dipa. Dipa malah semakin ingin membuat Laras semakin tersulut emosi.
"Laras dengar, Rahma sudah menganggap mu sebagai pelakor kan? karena itu dia menghancurkan keluargamu, dan membuat semua orang di dekat mu menderita? maka biarkan itu menjadi kenyataan!" ucap Dipa yang membuat Laras sedikit bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Laras yang masih belum paham maksud Dipa.
"Mereka menganggap mu sebagai pelakor kan? maka jadilah pelakor!" ucap Dipa membuat Laras terdiam mematung.
"Mereka menyerang mu karena mereka mengira kamu akan merebut Abimanyu dari Sarah, maka rebut lah Abimanyu dari Sarah! Biarkan mereka merasakan kesedihan yang sama Laras!" lanjut Dipa yang membuat mengepalkan tangan kirinya dengan kuat.
"Mereka mengira kamu adalah wanita lain, maka jadilah seperti itu!"
***
__ADS_1
Bersambung...