
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan urusannya di peternakan miliknya, dokter Nanang pun memutuskan untuk kembali ke Puskesmas untuk melihat bagaimana keadaan Laras. Namun sayang, ketika dirinya sampai ke Puskesmas, Laras sudah pulang. Dan kata perawat Arum yang memang sangat mengenal Laras dan dokter Nanang karena dia juga merupakan perawat senior di Puskesmas tersebut menyampaikan pada dokter Nanang kalau Laras pulang bersama dengan ibu, adiknya dan juga Dipa.
"Dipa?" tanya dokter Nanang pada perawat Arum memastikan galau telinganya tidak salah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh perawat Arum.
Perawat Arum pun mengangguk sekali lagi memastikan bahwa memang benar apa yang dikatakan dan dokter Nanang tidak salah dengar.
"Iya dokter, Dipa. Pria yang waktu itu mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu dan dirawat oleh Laras!" tambah perawat Arum.
Dokter Nanang terlihat sangat kecewa. Masalahnya saat mengambil keputusan untuk melakukan tindakan besar kepada Laras waktu itu pria itu juga yang menandatangani surat keputusan pertanggungjawaban yang artinya pria itu sudah jelas ingin terlihat sebagai pahlawan bagi Laras, itulah yang saat ini ada di pikiran dokter Nanang.
"Baiklah perawat Arum, terima kasih!" ucap dokter Nanang baru memutuskan untuk mendatangi rumah Laras untuk tahu bagaimana keadaan dari wanita yang memang dia sukai itu.
Beberapa saat kemudian dokter Nanang sudah sampai di depan rumah Laras. Tapi dia begitu terkejut melihat sebuah taksi yang bertuliskan taksi bandara. Dokter Nanang awalnya berpikir ada tamu yang datang dari luar kota yang menemui Laras dan keluarganya. Namun tiba-tiba mata dokter Nanang melebar dan dia sangat terkejut melihat Laras yang keluar bersama pria itu dengan sebuah tas besar di tangannya.
"Laras?" panggil dokter Nanang yang juga langsung berlari menghampiri Laras.
"Ini apa? kamu mau kemana?" tanya dokter Nanang yang mulai panik karena Laras sudah berpakaian rapi bahkan dengan riasan yang sangat sederhana dan juga tas besar yang dibawa oleh Dipa, tas yang sama yang dia sering lihat di kamar Laras.
"Dokter, aku mau pergi ke luar kota. Em... aku akan bekerja. Terimakasih banyak selama ini dokter Nanang sudah banyak membantuku dan keluargaku. Aku akan selalu mengingat kebaikan dokter Nanang. Aku pamit ya dokter!" ucap Laras bak sambaran petir di siang hari bagi dokter Nanang.
Mata pria itu berkaca-kaca.
"Memangnya kenapa kalau bekerja di Puskesmas Laras? apa gajinya kurang? aku bisa tambahkan dari uang pribadi ku. Kenapa harus keluar kota?" tanya Dokter Nanang yang masih berusaha agar Laras tidak pergi keluar kota dan tetap bekerja di puskesmas bersama dengannya.
__ADS_1
Rasanya dokter Nanang masih tidak ikhlas untuk melepaskan Laras pergi jauh darinya.
"Hei, pak dokter! jangan menghalangi jalan seseorang menuju kebahagiaannya!" sela Dipa yang mulai menangkap kalau Dokter Nanang tidak akan membiarkan Laras pergi dengan mudah dan itu akan membuatnya juga Laras ketinggalan penerbangannya sebentar lagi.
"Siapa kamu? jadi kamu yang sudah membujuk Laras untuk meninggalkan desa ini? meninggalkan ibunya? meninggalkan adiknya? kenapa kamu melakukan ini?" tanya Dokter Nanang bertubi-tubi kepada Dipa.
Dipa yang seolah dipersalahkan oleh dokter Nanang karena dipikir telah membujuk Laras untuk meninggalkan desa pun terkekeh pelan.
"Ini sudah keputusan Laras, dan dia tidak meninggalkan ibu dan adiknya sama sekali. Dia justru melakukan semuanya ini demi keluarganya!" jelas Dipa membuat dokter Nanang tidak bisa menjawab ucapannya tersebut.
"Nak dokter, biarkan Laras pergi. Ibu dan Indra akan baik-baik saja. Nak Dipa juga sudah menempatkan beberapa orang menjaga kami!" ucap Indriyani yang menoleh ke arah dua orang yang ada di depan pintu rumah Laras. Satu orang perempuan dan satu lagi pria yang berbadan kekar.
'Ada apa ini sebenarnya?' tanya Dokter Nanang dalam hati.
"Laras, kita hampir terlambat! ayo!" ajak Dipa.
Dokter Nanang masih dengan mata yang berkaca-kaca terus berusaha untuk mendekati Laras. Namun Indra memegang kuat lengan dokter Nanang.
"Kak Indra, sudah! biarkan kak Laras pergi. Dia akan baik-baik saja!" ucap Indra berusaha meyakinkan dokter Nanang.
Dan mau tidak mau, dokter Nanang pun hanya bisa merelakan kepergian Laras meskipun hatinya tidak iklhas.
Mobil taksi bandara itu sudah melaju cukup jauh, Laras masih diam. Membuat Dipa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sepertinya dokter itu menyukai mu?" tanya Dipa sambil melirik sekilas ke arah Laras.
"Aku tahu!" jawab Laras kemudian mendengus lelah.
Dipa mengerutkan keningnya. Dia benar-benar melihat sosok yang berbeda dari Laras yang dia kenal beberapa hari yang lalu. Sosok Laras yang sekarang di hadapan nya ini benar-benar sangat dingin nyaris tak tersentuh.
"Aku cukup lega, ibu dan adikmu mengerti dengan apa yang akan kamu lakukan, bahkan tidak mencegah mu atau membuatmu bimbang!" ucap Dipa lagi.
"Rasa sakit kami begitu dalam tuan Dipa!" Laras menjawab dengan suara yang berat, matanya kembali memancarkan dendamnya pada Rahma dan Abimanyu.
"Aku dengar Abimanyu sudah tidak mengurus pekerjaan nya beberapa minggu ini, aku dengar dari anak buah ku perusahaannya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja!" jelas Dipa lagi yang ingin tahu bagaimana reaksi Laras setelah mendengar apa yang dia katakan itu.
"Benarkah?" tanya Laras santai.
"Mungkin saja dia sakit!" tambah Dipa lagi.
"Lalu kalau dia sakit, apa kamu akan menunda rencana untuk mempertemukan aku dengan nya? apa kamu akan menunggu dia sembuh baru kita akan membalas Sarah dan juga Rahma?" tanya Laras yang mulai jengah dengan semua pertanyaan Dipa yang dia rasa malah semakin membuat nya kesal saja.
"Rupanya kamu sudah tidak sabar ya menghancurkan mereka. Tapi Laras aku harap kamu bisa menahan emosi mu, di hadapan Abimanyu bersikaplah seperti Larasati yang dulu!" ucap Dipa mengingatkan Laras yang sepertinya sudah mulai emosi.
"Aku kesal padamu tuan Dipa, kenapa kamu terus menyebutkan nama orang itu dan menjelaskan keadaan nya padaku!" protes Laras.
Dipa pun mengangguk paham.
__ADS_1
"Aku mengerti, aku hanya mengetes emosimu saja. Istirahat lah, satu jam lagi kita akan tiba di bandara!" ucap Dipa.
Laras pun memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela mobil. Dia berusaha untuk memejamkan matanya, menyiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi besok ketika dia berdiri di depan Abimanyu Mahendra.