Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 30


__ADS_3

Setelah mengganti botol infus dengan yang baru, Laras kemudian memeriksa denyut nadi pasien seperti yang di instruksi kan oleh Sekar. Tak lupa Laras juga mencatatnya.


"Perawat Laras, apa kamu sudah menikah?" tanya Dipa yang langsung membuat Laras menarik tangannya dari pergelangan tangan Dipa.


Gerakan refleks Laras membuat Dipa merasa tidak enak hati.


"Maaf, aku tidak punya maksud apa-apa. Hanya ingin tahu, apa suamimu tidak keberatan kamu bekerja shift malam begini?" tanya Dipa yang mengatakan alasan dia bertanya seperti tadi pada Laras.


"Saya sudah menikah pak Dipa. Tapi suami saya sudah tidak ada, jadi saya memang harus bekerja!" jawab Laras jujur.


Pandangan Dipa berubah menjadi sangat simpati pada Laras. Meskipun bukan hanya Laras perawat yang merawatnya, dan tadi juga ada beberapa perawat yang menjaga dan mengurusnya. Tapi Dipa merasa tidak ada yang setulus dan seikhlas Laras. Mereka baru bersikap baik ketika Dipa menanyakan dompetnya dan mengeluarkan kartu hitam berlist gold dari dalamnya dan membayar semua biaya administrasi dan perawatan nya di puskesmas.


"Pak Dipa, semua sudah saya periksa. Semuanya sepertinya baik-baik saja. Apa pak Dipa membutuhkan sesuatu lagi?" tanya Laras sebelum dirinya akan menyalin semua data yang tadi dia catat di buku kecilnya ke buku besar yang ada di ruang jaga perawat.


"Apa kalian benar-benar tidak menemukan ponsel ku?" tanya Dipa.


"Maaf pak Dipa, dari yang aku dengar dari satpam dan petugas ambulans yang membawa anda kemari. Warga menarik anda begitu saja dari dalam mobil yang sudah ringsek dan hampir terbakar, petugas ambulans hanya menemukan dompet anda yang terjatuh dan tak lama setelah itu kata petugas ambulans itu, mobil anda meledak dan terbakar! mungkin ponsel anda juga terbakar di dalam mobil!" jelas Laras yang membuat Dipa terdiam.


Laras mengira kalau Dipa mungkin saja sedang merindukan keluarganya atau ingin memberitahukan kabarnya pada keluarganya. Maka dari itu Laras meraih ponsel dari saku baju perawatnya dan mengulurkannya di depan Dipa.


"Kalau pak Dipa ingin menghubungi keluarga bapak, pakai saja ponsel ku. Pulsanya baru aku isi 20 ribu tadi siang. Silahkan!" ucap Laras menawarkan bantuan dan dia bahkan mengatakan jumlah pulsa yang baru dia isi.


Dipa tersenyum mendengar ucapan Laras yang begitu terus terang dan apa adanya. Dia berpikir benar kata teman-teman nya kalau wanita desa memang berbeda. Mereka lebih jujur dan apa adanya, tidak ambisius seperti wanita di kota pada umumnya.


Dipa lalu meraih ponsel itu dari tangan Laras.


"Terimakasih ya!" ucap Dipa dan di balas anggukan dari Laras.


Sambil menunggu Dipa menelepon seseorang, Laras pun duduk di kursi dan melihat ke buku catatan kecilnya. Dia membaca lagi tugas apa saja yang tadi di berikan oleh Sekar padanya.


Sedangkan Dipa, dia sedang menghubungi seseorang.


Cukup lama nada tersambung berbunyi di depan telinga Dipa. Tapi nomer yang dia hubungi tak kunjung menerima panggilan darinya.


Dipa bahkan berusaha menghubungi nomer itu hingga empat kali, barulah pemilik nomer kontak yang Dipa hubungi menjawab panggilan darinya.

__ADS_1


"Hallo, siapa ini. Pastikan urusan mu penting jika tidak...!"


"Jika tidak apa?" tanya Dipa menyela orang yang sedang kesal sepertinya di seberang telepon sana.


"Dipa, ini kamu?" tanya orang itu.


"Vicky, cepat hubungi nomer ini!" seru Dipa yang langsung memutuskan panggilan telepon dengan Vicky sahabatnya.


Laras yang melihat kejadian di depannya itu hanya diam.


"Pak Dipa takut pulsa ku habis ya?" tanya Laras menebak-nebak.


Tapi Dipa malah menanggapi pertanyaan Laras itu dengan senyuman.


"Biar orang itu yang menghubungi ku, ini sudah malam, akan sulit bagimu mencari tempat yang menjual pulsa. Kalau kamu butuh apa-apa malah akan sulit kan?" tanya Dipa menjawab pertanyaan Laras.


Laras pun mengangguk paham. Tak lama ponsel Laras kembali berdering.


"Halo!" ucap Dipa.


"Benarkah? dia menanyakan aku padamu? kenapa dia tidak lapor polisi atau mencari ku sendiri?" tanya Dipa terdengar kecewa.


Laras yang melihat Dipa terlihat sedih hanya bisa sesekali melirik ke arah Dipa.


"Kamu tahu kan ibunya seperti apa? dia mana ijinkan Sandra mencari mu sendiri. Kamu dimana? biar ku kabari Sandra?" tanya Vicky.


"Aku ada di rumah sakit, aku kecelakaan waktu pulang dari mengantarkan buku nikah Agung. Tapi jangan beritahu siapapun kalau aku masih hidup!" ucap Dipa membuat Laras langsung menoleh ke arah Dipa.


"Kenapa? Dipa jangan bercanda. Istrimu seperti orang gila mencari keberadaan dan kabarmu?" tanya Vicky.


"Apa dia menangis dan terlihat berantakan saat datang bertanya padamu?" tanya Dipa pada Vicky.


"Itu... dia tidak tampak seperti itu. Dia masih sangat cantik dan elegan seperti biasanya!" jawab Vicky.


"Lalu apakah ada kantung mata di bawah matanya, atau apakah kamu lihat wajahnya sembab?" tanya Dipa.

__ADS_1


"Saat hari pertama memang ada kantung mata di matanya, tapi kemarin sudah tidak ada. Dia terlihat baik. Tapi apa hubungannya semua itu dengan tidak boleh mengatakan tentang keadaan dan keberadaan mu?" tanya Vicky bingung.


"Ada Vicky, itu artinya dia masih baik-baik saja. Aku yakin meski dia khawatir tapi dia masih bisa makan dan minum dengan baik. Dia hanya takut kehilangan aku dan kehilangan seseorang yang bisa mengurus perusahaan untuknya!" lirih Dipa membuat Laras menatap kasihan padanya.


Tak terdengar sahutan dari Vicky di ujung telepon.


"Baiklah, aku menghargai keputusan mu. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun tentang keadaan mu. Tapi ibu mertuamu sudah melapor pada polisi, jika mereka yang menemukan mu lalu bagaimana?" tanya Vicky.


"Itu tidak akan terjadi, mobil ku hancur. Dan aku juga menggunakan kartu yang aku daftarkan atas nama orang lain!" jelas Dipa pada Vicky.


"Baiklah kalau begitu, tapi apa kondisimu baik? atau aku perlu ke sana untuk membantumu?" tanya Vicky yang memang sangat perduli pada Dipa. Hal itu karena mereka berasal dari panti asuhan yang sama. Sekolah bersama, dan bekerja bersama.


"Tidak perlu, sudah ada perawat cantik dan baik hati di sini yang menjaga dan merawat ku!" ucap Dipa membuat Laras langsung menundukkan wajahnya saat bertemu pandang dengan Dipa.


"Oh jadi begitu, baiklah. Nikmati kebebasan mu ya, jangan lupa kalau ada apa-apa, atau kamu memerlukan bantuan ku. Hubungi saja aku, aku akan selalu membantumu!" ucap Vicky dan Dipa pun memutuskan panggilan telepon.


Dipa lalu menyerahkan kembali ponsel Laras padanya.


"Terimakasih, tapi jika tidak keberatan bolehkah kamu simpan nomer itu untukku. Agar kamu bisa mengangkat nya kalau dia menelepon, dia teman baikku namanya Vicky!" ucap Dipa dan Laras langsung menyimpan nomer kontak Vicky di ponselnya.


Tapi Laras sangat penasaran karena dari percakapan yang dia dengar. Dipa malah terkesan tidak mau kembali pada keluarganya.


"Pak Dipa maaf, tapi kenapa pak Dipa tidak mau siapapun tahu keberadaan anda di sini?" tanya Laras penuh hati-hati.


Dipa hanya tersenyum.


"Karena aku mang sudah tidak punya keluarga lagi Laras, aku ini anak yatim piatu yang kebetulan lulus dengan nilai terbaik meskipun dari jalur beasiswa, tapi sayangnya aku mengira ada seorang wanita yang benar-benar mencintaiku. Tapi aku salah, aku hanya dijadikan sapi perah, yang bahkan tidak boleh memilih mau makan apa, dan mau pakaian yang bagaimana!" Dipa menarik nafasnya panjang.


"Dan setelah aku bisa keluar dari ruang lingkup itu, aku bisa merasakan aku bebas dan menjadi manusia lagi. Apa aku salah mengambil keputusan ini?" tanya Dipa pada Laras.


Tentu saja pertanyaan Dipa itu membuat Laras terkesiap. Tapi dia langsung menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku... aku tidak tahu!" ucap nya pelan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2