
Di rumahnya, setelah selesai mandi dan makan malam Laras pun mengatakan kalau nanti malam sekitar jam setengah sepuluh dia akan kembali bekerja di puskesmas karena dia sudah menyanggupi untuk bekerja sebagai perawat di shift malam. Sudah hampir satu bulan Laras bekerja di puskesmas, Arum juga mengajarinya banyak hal jadi dia merasa sudah bisa mengganti infus dan merawat pasien rawat inap. Arum sudah mengajarinya apa saja yang di perlukan kalau menghadapi situasi darurat pasien.
Jika Laras merasa sangat yakin, karena dia juga sedang hamil. Pasti nanti akan sangat banyak pengeluaran saat dia melahirkan dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengumpulkan uang. Lagipula dia juga harus cuti kan setelah melahirkan, dan pasti saat itu dia tidak bisa menghasilkan uang, karena itu dia harus banyak menabung mulai sekarang.
Ibu Indri justru merasa sedih karena Laras harus bersusah payah begitu keras.
"Laras, maafkan ibu yang tidak bisa banyak membantu ya!" ucap Indri yang merasa sedih.
Laras yang tadinya sedang merapikan meja makan pun langsung meletakkan kain lap yang dia pakai untuk mengelap meja lalu berjalan ke belakang Indriyani dan memeluk ibunya itu dari arah belakang.
"Ibu jangan bicara begitu, ibu sudah melakukan banyak hal untuk Laras dan Indra. Pekerjaan ini tidak berat kok Bu, di pagi hari aku hanya mendata pasien dan menyerahkan resep obat ke apoteker. Dan malam tugas ku hanya mengganti infus pasien rawat inap. Dan kalau pasiennya istirahat, kata mbak Arum aku juga boleh istirahat. Ibu jangan terlalu khawatir, aku dan bayiku ini sehat. Kami pasti akan baik-baik saja!" terang Laras menjelaskan panjang lebar pada sang ibu kalau dia dan bayinya akan dalam keadaan baik-baik saja.
Indriyani yang juga sempat merasa bersalah karena sudah meminta dokter Nanang menyembunyikan kehamilan Laras itu pun memegang telapak tangan putrinya dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang ada di sebelah Indriyani.
"Laras, ibu juga minta maaf ya. Ibu yang minta nak dokter merahasiakan kehamilan itu, ibu takut kamu tidak bisa menerimanya karena semua yang telah terjadi!" ucap Indriyani dengan mata yang berkaca-kaca.
Laras tersenyum dan menepuk tangan ibunya yang sedang menggenggam tangannya.
"Aku mengerti Bu, tapi seperti kata ibu. Anak ini sama sekali tidak tahu apapun, jadi anggap saja. Dia adalah hadiah dari Tuhan untuk melengkapi keluarga kecil kita ini. Dia juga tidak perlu tahu siapa ayahnya, sama sekali tidak perlu tahu!" lirih Laras yang langsung di peluk oleh Indriyani karena mata Laras sudah berkaca-kaca.
"Ibu, Kak Laras... aku juga mau ikut di peluk!" ucap Indra yang tengah berdiri di dekat meja makan sambil mengucek matanya. Rupanya dia sudah tertidur tadi di ruang tamu saat sedang belajar setelah makan malam.
"Ayo kemari!" panggil Laras. Dan Indra pun memeluk kakak perempuannya dan juga ibunya.
'Indra janji, Indra akan belajar dengan sungguh-sungguh. Indra akan dapatkan beasiswa itu dan akan menjadi dokter, supaya bisa membantu ibu dan Kak Laras. Indra akan menjaga ibu dan juga kak Laras nanti. Indra janji!' ikrar Indra dalam hati sambil memeluk erat ibunya dan juga kakak perempuan nya.
__ADS_1
Setelah jam menunjukkan pukul setengah sepuluh, Laras pun pamit pada sang ibu.
"Kak, Indra anterin ya sampai ke pangkalan ojek?" tanya Indra yang sudah membawa senter dan juga memakai jaket.
"Wah, adik kakak sangat bertanggung jawab ya!" kekeh Laras membuat Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya benar, biar di antar Indra ya. Setelah antar kakak mu kamu juga langsung pulang ya!" ucap Indriyani pada Indra yang di balas anggukan cepat oleh Indra.
Tapi baru akan melangkah keluar pintu, tiba-tiba Laras, Indra dan ibu mereka di kejutkan dengan suara mobil yang berhenti di depan rumah Indriyani.
"Loh, nak Dokter!" sapa Indriyani ketika melihat dokter Nanang keluar dari dalam mobil.
"Selamat malam bi!" sapa dokter Nanang yang langsung menyalami Indriyani dan mencium punggung tangannya.
"Selamat malam nak dokter!" sahut Indriyani.
Dokter Nanang sengaja minta ijinnya pada Indriyani, karena kalau pada Laras. Wanita itu pasti akan menolaknya. Laras benar-benar tidak mau merepotkan siapapun jika bisa.
Dan setelah mendengar kalau dokter Nanang bersedia mengantar jemput Laras saat kerja shift malam, sebenarnya Indriyani sangat senang. Karena keamanan putrinya itu akan terjamin jika berangkat dan pulang kerja bersama dengan dokter Nanang.
"Tapi, apa tidak merepotkan nak dokter?" tanya Indriyani yang merasa tidak enak hati juga kalau harus merepotkan anak dari sahabatnya itu.
"Sama sekali tidak bi, aku malah senang bisa lebih sering bersama dengan Laras!" jawab dokter Nanang malu malu.
Laras hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Arum itu benar, kalau dokter Nanang itu menaruh hati padanya. Tapi Laras sama sekali tidak menginginkan hal itu.
__ADS_1
"Dokter, tidak perlu seperti ini. Aku bisa berangkat sendiri. Tadi sore saat pulang aku juga sudah bilang pada tukang ojek langganan ku untuk menungguku jam setengah sepuluh!" ucap Laras beralasan.
Padahal Laras sama sekali belum mengatakan hal itu pada tukang ojek langganan nya.
Raut wajah kecewa jelas terpancar di wajah dokter Nanang.
"Laras, aku mohon. Aku malah tidak akan tenang kalau tidak memastikan kamu sampai di puskesmas dengan aman. Kita bisa mampir ke pangkalan ojek dan mengatakan pada tukang ojek langganan mu!" ucap dokter Nanang yang masih berusaha membujuk Laras agar mau dia antar ke puskesmas.
Indriyani yang melihat dan dapat merasakan ketulusan dokter Nanang pun langsung menepuk bahu Laras pelan.
"Laras, nak dokter benar. Kamu akan lebih aman pergi dengan nak dokter. Kamu kan sudah punya nomer mang Ujang, nanti kamu juga bisa kirim pesan padanya untuk tidak menunggu mu!" ucap Indriyani yang tahu bahwa Laras berbohong. Sebab sore tadi yang mengantar Laras bukan mang Ujang tukang ojek langganan nya, tapi orang lain.
"Iya kak, lagipula kalau berangkat dengan dokter Nanang, kakak tidak akan kedinginan! kan di dalam mobil. Tidak baik juga kan untuk calon keponakan ku!" tambah Indra.
Dokter Nanang begitu senang, dia tersenyum pada Indriyani dan juga Indra yang telah mendukungnya.
"Ayo Laras!" ajak dokter Nanang.
Dengan berat hati Laras pun mengangguk setuju untuk ikut bersama dokter Nanang. Indra juga langsung merangkul ibunya dan memeluknya ketika Laras dan dokter Nanang sudah pergi dengan mobil dokter Nanang.
"Alangkah bagusnya kalau kak Laras bisa membuka hatinya untuk dokter Nanang ya Bu!" harapan itu terlontar dari mulut Indra uang masih kelas satu SMA.
Membuat Indriyani mengusap pipi Indra.
'Apa yang kamu katakan itu benar nak, tapi itu tidak akan mudah. Cinta pertama kakak mu telah menipunya, bahkan mengkhianati nya. Hatinya tidak akan mudah di ketuk lagi!' batin Indriyani sedih.
__ADS_1
***
Bersambung...