
Setelah meninggalkan puskesmas, dokter Nanang tidak langsung mengajak Laras pulang ke rumahnya. Dia mengajak Laras untuk sarapan dulu di sebuah rumah makan yang baru di buka. Kebetulan pemilik rumah makan itu adalah teman kecil dokter Nanang. Namanya Kanaya, dia yang mengundang dokter Nanang untuk menghadiri pembukaan rumah makannya.
"Tapi teman dokter kan hanya mengundang dokter, apa tidak apa-apa kalau aku ikut dengan dokter? sebaiknya aku pulang naik ojek saja!" ucap Laras yang takut kalau dirinya ikut datang padahal tidak menerima undangan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Laras itu, dokter Nanang lantas tersenyum.
"Memang ada hal seperti itu ya? bukankah sudah biasa kalau kita menghadiri undangan, kita bisa membawa pasangan kan?" tanya dokter Nanang membuat Laras langsung menatap sedih ke arah dokter Nanang.
"Dokter, aku minta maaf. Tapi aku sudah katakan kalau aku tidak bisa...!"
"Aku hanya bercanda Laras!" ucap dokter Nanang menyela apa yang akan Laras katakan.
Dokter Nanang lalu kembali melihat ke arah depan untuk kembali fokus mengemudi.
'Kenapa selalu seperti ini Laras, kenapa tidak bisa buka hatimu sedikit saja untukku. Suami mu sudah meninggal, dan aku pun sudah mengatakan kalau aku bersedia menerima anakmu, aku bahkan akan menganggapnya sebagai anakku!' batin dokter Nanang merasa sedih.
Meskipun sedih dan kecewa, tapi dokter Nanang juga tidak mau membuat Laras merasa tidak enak dan menjaga jarak darinya. Karena itu setiap Laras mulai tidak nyaman, dia selalu berusaha membuat suasana yang tidak kondusif menjadi cair kembali.
Laras melihat ke arah dokter Nanang sekilas. Dia tahu kalau senyuman yang di tunjuk dokter Nanang itu hanya untuk menutupi kekecewaan nya.
Indra selalu bilang padanya kalau dia menyukai dokter Nanang menjadi kakak iparnya. Laras selalu menanggapi hal itu dengan candaan, karena adiknya itu memang masih kecil masih sangat remaja sehingga tidak mengerti meskipun dia sudah beberapa kali menjelaskan padanya.
Laras memang mengatakan kalau suaminya sudah meninggal, tapi itu hanya di ucapannya saja. Suaminya masih hidup, dan sekarang dia sedang mengandung anak Abimanyu. Bagaimana mungkin dia bisa menjalin hubungan dengan pria lain. Meskipun ada caranya, Laras juga tidak mau. Hati Laras benar-benar sudah tertutup.
Beberapa saat kemudian, Laras dan dokter Nanang sudah tiba di depan sebuah rumah makan yang sangat ramai. Dokter Nanang membukakan pintu mobil untuk Laras dan membantunya turun.
"Dokter aku bisa sendiri!" protes Laras yang menepis tangan dokter Nanang yang ingin memegang tangannya.
Dokter Nanang lantas menjadi salah tingkah, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Maaf Laras, kamu kan sedang hamil. Jadi aku hanya ingin memastikan kamu turun dengan aman dari mobil!" ucapnya jujur. Dia memang ingin memberikan perhatian pada Laras.
__ADS_1
Laras akhirnya tersenyum mendengar jawaban dokter Nanang.
"Terimakasih dokter, tapi aku ini sangat kuat. Dokter tidak perlu mencemaskan aku...!"
"Nanang!" panggil seseorang dari arah rumah makan yang membuat Laras menjeda kalimatnya dan bersamaan dengan Laras melihat ke arah sumber suara.
Seorang wanita cantik dengan dress panjang lengan pendek dari bahan jeans dan riasan wajah yang cantik, juga rambut hitam yang terurai panjang dengan jepit perak di sisi kiri kepalanya.
"Kanaya!" ucap Dokter Nanang sambil melambaikan tangan ke arah wanita cantik itu.
"Hai, selamat pagi!" ucapnya tersenyum manis pada Dokter Nanang.
Namun pandangannya dengan cepat langsung berpindah ke arah Laras. Kanaya melihat Laras dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang dipakai Laras.
Laras yang merasa tatapan Kanaya itu aneh, sedikit mengerutkan keningnya.
'Jelas sekali dia menyukai dokter Nanang!' pikir Laras.
Laras kemudian melihat ke arah dirinya, dia masih pakai seragam perawat dan dengan sweater hijau.
'Jelas terlihat sekali kan kalau aku memang perawat!' batin Laras.
Dokter Nanang pun mengangguk dan tersenyum.
"Iya dia perawat di puskesmas, namanya Larasati tapi sebentar lagi dia namanya akan berubah menjadi Larasati Nanang Adrian!" ucap dokter Nanang lalu menggandeng tangan Laras dan mencium punggung tangan Laras.
Bukan hanya Kanaya yang terkejut dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh dokter Nanang. Laras pun sama terkejutnya hingga dia refleks langsung menarik tangannya yang sedang di cium oleh dokter Nanang.
Kanaya lantas memandang Laras dengan tatapan tidak suka.
'Ya ampun, tatapannya seperti ingin mencekik ku. Dokter Nanang ini benar-benar ya, dia membuat aku mendapatkan musuh baru. Sungguh luar biasa!' batin Laras yang sudah merasa kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi sasaran kemarahan dari Kanaya.
__ADS_1
"Dia calon istrimu? tapi kenapa bibi Ningrum tidak pernah menceritakan nya padaku, kamu juga tidak pernah bilang?" tanya Kanaya yang tak melepaskan pandangan tajamnya dari Laras.
Laras benar-benar hanya bisa menghela nafas panjang. Seharusnya dia memang naik ojek saja tadi.
Ketika Laras masih berusaha untuk tenang, dokter Nanang lagi-lagi membuat Laras kesal dengan tiba-tiba merangkulnya.
"Iya, dia adalah Laras. Kalau kamu ingat dia adalah anak pak Syarifuddin, yang sejak kecil memang sudah dijodohkan oleh orang tuaku dengan ku!" tambah dokter Nanang lagi.
Laras berusaha untuk menyingkirkan tangan dokter Nanang dari lengannya tapi itu percuma saja. Dokter Nanang malah memegangnya semakin erat.
Setelah mendengar apa yang di katakan dokter Nanang, Kanaya langsung berlari meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah makan.
Setelah Kanaya pergi, Laras langsung menjauh dari dokter Nanang.
"Dokter, apa-apaan ini?" tanya Laras memprotes apa yang dilakukan oleh dokter Nanang.
"Maafkan aku Laras, tapi aku hanya ingin dia menjauh dariku. Dia terus mengejar ku, tapi aku tidak mau dia sakit hati karena aku mencintai orang lain!" jawab dokter Nanang jujur.
Laras benar-benar hanya bisa menghela nafas nya panjang. Dokter Nanang lalu mengajak Laras ke rumah makan lain dan tetap mengajaknya sarapan, meski selera makan Laras sudah hilang, tapi dia memikirkan anaknya yang butuh banyak asupan nutrisi. Jadi dia tetap makan makanan sehat yang di pesankan dokter Nanang untuknya.
"Kamu masih marah ya?" tanya dokter Nanang yang melihat Laras sejak tadi hanya diam. Meskipun dia makan, tapi terlihat sangat tidak senang.
"Tidak dokter, aku hanya tidak terlalu lapar!" jawab Laras.
Tapi mendengar jawaban Laras, dokter Nanang malah menambahkan beberapa sendok sayuran lagi ke atas piring Laras.
"Jangan seperti itu, kamu harus banyak makan. Karena yang menyerap nutrisinya ada dua orang!" kata dokter Nanang yang membuat Laras lagi-lagi menghela nafasnya panjang.
***
Bersambung...
__ADS_1