Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 17


__ADS_3

Laras masih terus menangis saat Hendro sedang mengemudikan mobil pick up yang membawa ayahnya dengan cepat.


"Ayah, ayah bangun... ayah!" tangis Indra pun pecah.


Tapi Indriyani sejak tadi sudah merangkul tangan suaminya yang sudah terasa dingin itu. Dia mencium kening suaminya dan menangis sejadi-jadinya.


Laras yang melihat sikap ibunya itu tercengang, dia tidak mengerti kenapa seolah ibunya sedang mencium kening ayahnya sebagai tanda perpisahan untuk terakhir kalinya. Laras lalu meletakkan kepalanya dengan posisi miring di dada sang ayah.


"Ya Tuhan, tolong jangan... tidak!" lirih Laras dengan air mata semakin deras.


"Kakak kenapa? ayah kenapa kak?" tanya Indra yang tidak mengerti dan ketakutan.


"Ayah mu sudah tiada nak!" jawab Indriyani dengan air mata yang terus mengalir.


Indra menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak, ayah bilang besok mau antar Indra daftar ke SMA. Ayah... ayah!" teriak Indra histeris.


Mendengar teriakan Indra, Hendro menghentikan laju kendaraan nya. Dia langsung turun dan memeriksa denyut nadi Syarifuddin. Hendro bahkan sudah lemas dan langsung terduduk di tanah.


"Pak Syarifuddin!" lirih Hendro yang juga merasakan sangat kehilangan atas kepergian Syarifuddin yang begitu baik padanya dan keluarganya.


Semua menangis, termasuk Hendro. Pria baik yang selama ini selalu membantunya telah tiada. Laras bahkan sudah tidak bersuara, dia menangis tanpa suara, hatinya begitu merasa kehilangan, tapi rasa bersalah, dan penyesalan begitu dalam membuatnya menggenggam tangan ayahnya itu dengan erat.


'Maafkan Laras ayah, semua ini gara-gara Laras. Maaf..!' lirih Laras dalam hatinya.


***


Di pemakaman, ketika semua orang yang mengantar sudah pulang. Dan tinggal laras, ibunya, Indra dan Hendro yang ada disana. Laras memeluk pusara ayahnya dan menangis terisak.


"Maafkan Laras ayah, maaf!" lirih Laras yang masih terus menyesali apa yang dia lakukan. Seharusnya dia tidak percaya pada Abimanyu.


Kalau dia menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya semua pasti tidak akan berakhir seperti ini.


Indriyani yang memang sudah ikhlas pada apa yang terjadi pada suaminya merangkul Laras.

__ADS_1


"Nak, sudah ya. Ayahmu sekarang sudah tidak akan rasakan sakit lagi, biarkan ayah beristirahat dengan tenang ya nak!" ucap Indri yang berusaha menenangkan Laras. Padahal hatinya sendiri begitu hancur karena kepergian suami yang sudah bersama dengannya dalam suka dan duka selama lebih dari 25 tahun.


Hendro juga menangkan Indra yang sejak tadi juga terus menangis dan enggan meninggalkan makam.


***


Sepulangnya dari makam, Laras melihat kalau rumahnya sudah ramai orang. Ternyata orang-orang itu sedang bertengkar.


"Laras sudah masuk saja, tidak usah di dengarkan ibu-ibu ini!" seru Wulan.


"Eh memangnya kalian mau apa suami kalian nanti di goda sama pelakor ini?" tanya salah seorang ibu yang memakai gelang sampai di dekat sikunya.


"Iya, kan dia sudah kehilangan Abimanyu tuh yang orang kaya itu, nanti dia pasti cari target baru...!"


'Astagfirullah!' lirih Laras dalam hatinya.


"Ibu-ibu ini denger gak sih, Laras itu gak tahu kalau Abimanyu itu udah punya istri?" tanya Tari yang terus berusaha membela Laras.


"Halah, alesan aja. Kalian juga ngapain belain dia terus, pabriknya kebakaran, ayahnya meninggal. Semua ini pasti karma perbuatan jahatnya sudah merebut suami orang!" cela salah seorang wanita lain lagi.


Jantung Laras terasa sangat nyeri mendengar apa yang dikatakan oleh salah satu tetangganya itu.


Laras terdiam, lalu dia maju ke depan dan bicara pada ibu-ibu yang ingin mengusirnya pergi dari desa ini.


"Saya akan pergi dari desa ini! Silahkan kalian pergi! dan jangan bertengkar lagi!" ucap Laras lalu mengajak ibunya masuk ke dalam rumah.


Hendro, Wulan dan Tari mengikuti Laras masuk.


"Laras kamu ngomong apa? kamu tuh gak salah, ibu-ibu tadi aja yang...!"


"Wulan, Laras benar. Sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Nak Hendro, ibu berikan rumah ini untuk nak Hendro, dan semua sawah yang nak Hendro urus semua buat nak Hendro, Wulan dan Tari!" ucap Indriyani yang sudah benar-benar tidak tahan dengan situasi yang menyudutkan Laras.


Indriyani tadi sempat melihat beberapa orang yang tidak dia kenal padahal dia sudah 25 tahun lebih tinggal di desa ini berada di kerumunan orang-orang yang mencoba mengusir Laras. Indriyani sadar kalau semua itu pasti ulah wanita yang mengaku sebagai mertua Abimanyu itu. Indriyani tahu kalaupun mereka bertahan hari ini, besok pasti mereka akan datang lagi dan membuat keributan yang lain. Indriyani sangat mencemaskan Laras yang sedang kalut dan juga Indra uang begitu sedih. Meski dirinya tak kalah hancur, tapi sebagai seorang ibu, serapuh apapun dia harus tetap kuat dan menjadi tempat bersandar bagi Laras dan Indra.


Indriyani menyerahkan semua hartanya pada Hendro, Wulan dan juga Tari yang memang selama ini selalu membantu Laras sebelum Laras menikah dengan Abimanyu.

__ADS_1


Indriyani tidak pernah mengatakan pada siapapun, tapi dia masih punya rumah di kampung halamannya. Dia meninggalkan rumah itu dan menitipkannya pada sahabatnya. Indriyani dulu juga meninggalkan rumah dan semua usahanya di kampung halamannya untuk hidup bersama Syarifuddin di kota ini.


Laras yang memang sangat kalut juga tidak bertanya apapun pada ibunya akan kemana mereka setelah ini.


"Lalu Bu Indri dan Laras juga Indra...?" tanya Hendro khawatir.


"Tuhan akan bersama kami, kami pasti akan baik-baik saja!" ucap Indriyani tersenyum lirih.


Wulan dan Tari menangis memeluk Laras. Laras hanya diam, dia masih sangat kehilangan ayahnya. Yang lebih tidak bisa dia terima lagi adalah karena Abimanyu telah membohongi dirinya, dan itu membuatnya sangat membenci Abimanyu.


Malam harinya, Laras, ibunya dan juga Indra sudah di antar oleh Hendro sampai di stasiun. Wulan juga Tari juga ikut.


"Maafkan kami Laras, kami tidak bisa membantumu di saat seperti ini!" ucap Wulan begitu menyesal karena tidak bisa membantu Laras.


"Kalian jaga diri baik-baik ya!" ucap Laras.


"Lalu kalau Abimanyu mencari mu, kamu harus bilang apa?" tanya Tari yang langsung membuat raut wajah Laras berubah menjadi sangat emosi.


Laras mengepalkan tangannya kuat.


"Itu tidak mungkin... tapi kalau memang dia datang maka katakan saja aku sudah mati!" ucap Laras dengan mata yang memerah.


Indriyani lalu merangkul Laras. Wulan juga langsung memeluk Laras. Dia tahu pasti Laras sangat sakit hati pada Abimanyu, pria itu sudah membohongi nya dan juga membuat mertuanya mendatangi Laras hingga membuat Syarifuddin meninggal. Wulan bisa mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Laras, mendadak Wulan juga sangat membenci pria bernama Abimanyu Mahendra itu.


Laras, Indra dan ibunya sudah berada di dalam kereta.


"Ibu, kita akan kemana?" tanya Indra.


"Kita akan pergi jauh, sangat jauh sampai tidak akan ada yang menemukan kita!" ucap Indriyani dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu ayah?" tanya Indra dengan mata uang sama dengan ibunya, berkaca-kaca dan hampir menangis.


"Dimana pun kita berada, doa kita akan sampai pada ayah!" ucap Indriyani memeluk Indra dan air matanya pun kembali mengalir.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2