
Sedangkan di tempat lain, semua orang sedang di landa kepanikan di rumah Rahma karena mendengar kalau suami dari anak pertamanya yaitu kakak kandung Sarah sebenarnya telah kembali dari luar negeri. Namun sudah 24 jam saat terakhir Sandra menghubungi suaminya yang katanya sedang mengambil barang yang terbawa oleh tamannya saat akan di jemput di bandara. Sampai sekarang suaminya Sandra justru tidak bisa di hubungi sama sekali.
"Ibu bagaimana ini, mas Dipa sudah bilang dia sudah keluar dari bandara 24 jam yang lalu, tapi sampai sekarang dia belum kembali Bu, dia bahkan tidak menjawab telepon ku bagaimana ini Bu?" tanya Sandra yang begitu mencemaskan Dipa suaminya, karena Sandra sangat mencintai suaminya itu.
Meski sudah sepuluh tahun menikah dan belum di karuniai anak, Dipa tetap setia pada Sandra. Hal itu membuat Sandra dan keluarga nya juga sangat menyayangi Dipa.
Rahma yang baru saja lega karena masalah Sarah putri bungsunya beres. Kini malah di buat panik dengan masalah putri sulungnya Sandra.
"Tenang dulu, dia bilang kemarin mau ambil barang dimana?" tanya Rahma dengan lembut pada Sandra.
Rahma sangat menyayangi dua anaknya itu, dia juga tidak ingin Sandra bertambah panik, karena itu Rahma berusaha untuk bertanya dengan pelan dan lembut pada Sandra yang sedang menangis sesegukan.
"Mas Dipa hanya bilang kalau dia sudah turun dari pesawat kemarin, lalu dia menyuruh supir yang menjemputnya untuk pulang dan membawa barang-barang nya ke rumah. Dia akan naik taksi saja ke rumah temannya itu, karena dia juga belum tahu daerah tempat tinggal teman yang baru di kenalnya di pesawat itu, jadi dia akan bertanya pada supir taksi. Katanya begitu Bu, nama dan alamat temannya itu aku tidak bertanya ... hiks hiks... seharusnya aku bertanya pada mas Dipa. Sekarang aku harus bagaimana Bu?" tanya Sandra yang terus terisak dan memeluk ibunya karena merasa begitu sedih dan menyesal kenapa dia tidak menanyakan semua itu pada suaminya.
Rahma pun hanya bisa memeluk anaknya itu, keluarga Dipa semuanya ada di luar negeri. Dia juga bingung harus bagaimana sekarang.
"Tenang dulu Sandra, ibu akan minta semua anak buah ayah mu mencari tahu keberadaan suamimu, mungkin akan butuh waktu untuk mencari semua orang yang ada di pesawat yang sama dengan suami mu kemarin. Jika besok kita belum dapat hasil juga, kita akan lapor pada polisi, Sudah... tenang dulu!" ucap Rahma sambil mengelus lengan putrinya itu.
Sangat masih terus menangis, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada suaminya hingga tidak bisa di hubungi. Biasanya suaminya selalu memberi kabar setiap harinya meskipun dia di luar kota atau di luar negeri.
Sarah yang melihat Sandra dalam masalah, hanya berdiri melihat kakaknya itu menangis dari pagar besi pembatas di lantai dua. Sama sekali tidak ada keinginan Sarah untuk bertanya pada kakaknya itu ataupun sekedar memberi simpati.
"Untung saja masalah ku sudah selesai, jika tidak ibu pasti akan lebih mementingkan kak Sandra. Ck... sudahlah!" ucapnya sebelum berjalan menuju ke dalam kamarnya lagi.
Sementara keesokan harinya, Cece yang di tugaskan untuk merawat pasien korban kecelakaan itu malah terkena masalah. Dia harus pulang ke kampungnya karena orang tuanya akan segera menjodohkan nya dengan seorang pria pilihan orang tuanya. Alhasil tidak ada yang bisa menjaga pasien itu di malam hari. Karena gaji lemburnya lumayan dan juga bisa sambil istirahat. Maka Arum menawarkan pekerjaan itu pada Laras.
__ADS_1
"Bagaimana Laras, uang lemburnya lumayan. Mau tidak?" tanya Arum yang tidak tahu kalau Laras sedang hamil.
Mendengar Arum mengobrol dengan Laras, dokter Nanang yang baru datang pun ikut bergabung karena penasaran dengan apa yang di obrolkan dia wanita itu di ruang tunggu pasien yang masih sepi.
"Selamat pagi!" sapa dokter Nanang.
"Selamat pagi dokter!" jawab Laras dan juga Arum bersamaan.
"Seru sekali, sedang membicarakan apa pagi-pagi begini?" tanya dokter Nanang.
Karena merasa ini juga bukan masalah pribadi yang hanya mereka berdua saja yang boleh tahu, maka Arum pun menjelaskan pada dokter Nanang tentang apa yang sedang dia bicarakan dengan Laras.
"Begini dok, kan Cece mendadak resign karena mau di jodohkan sama orang tuanya jadi tidak ada yang merawat pasien rawat inap. Nah, saya menawarkan pada Laras untuk menggantikan pekerjaan Cece itu, kan cuma dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi dok. Tapi uang lemburnya kan lumayan, dan...!"
"Mana bisa begitu, Laras sudah bekerja dari jam 7 sampai jam 5. Sudah sangat lelah pasti!" sela dokter Nanang yang mengkhawatirkan kondisi kehamilan Laras kalau kerjanya di porsir seperti itu.
"Begitu ya, sayang sekali ya. Baiklah kalau begitu!" ucap Arum yang terlihat sangat menyayangkan hal itu.
Namun saat Arum akan pergi, Laras berdiri dan memanggilnya.
"Mbak Arum, aku mau. Aku mau jadi perawat rawat inap shift malam!" ucap Laras yang langsung membuat dokter Nanang ikut berdiri dan memegang lengan Laras.
"Laras, tapi kamu sedang...!"
"Tidak apa-apa dokter, aku pasti bisa. Seperti kata mbak Arum tadi kalau tugas ku hanya menjaga pasien saat terjaga dan selalu disana untuk tahu dan membantu apa saja yang dia butuhkan, mengganti botol infus dan mengabarkan pada dokter jaga kalau terjadi sesuatu pada pasien, aku yakin aku bisa dok!" jelas Laras dengan wajah yang begitu yakin dia mampu mengerjakan semua itu.
__ADS_1
Meski kecewa, tapi dokter Nanang berusaha untuk menerima keputusan Laras. Dokter Nanang melepaskan tangan Laras dan mengangguk paham.
"Baiklah, tapi ingat untuk menjaga dirimu baik-baik ya!" ucap dokter Nanang yang langsung masuk ke dalam ruang periksa.
Setelah dokter Nanang menutup pintu, Arum malah mendekati Laras.
"Laras, kamu tuh sama dokter Nanang cocok tahu!" ucapnya begitu saja.
"Ih, mbak Arum ngomong apa sih?" tanya Laras yang malah menjadi tidak enak hati.
"Lihat gak tadi tuh, dokter Nanang itu perhatian banget sama kamu. Dia itu kayaknya suka deh sama kamu Laras!" kata Arum lagi yang semakin membuat Laras canggung.
"Gak mungkinlah mbak, dokter Nanang itu pantas menyukai dan di sukai wanita yang lebih baik dari aku mbak, yang pendidikannya sama tingginya, pokonya yang lebih baik lah!" ucap Laras dengan tegas.
'Setidaknya bukan seorang wanita yang sudah menjadi wanita lain, yang merebut cinta seorang suami dari istrinya dan merebut cinta seorang ayah dari anaknya seperti aku!' batin Laras sedih.
Laras masih terus menyesali kebodohannya yang begitu percaya pada kebaikan Abimanyu. Dirinya bahkan menganggap semua yang terjadi padanya ini adalah karma dari perbuatannya itu.
Arum yang mendengar semua penjelasan Laras pun menyerah. Sepertinya memang Laras tidak tertarik sama sekali pada dokter Nanang. Itulah yang ada di pikiran Arum.
"Ya sudahlah, tapi kalau kamu sudah berubah pikiran dan mau menerima dokter Nanang, kabar kabarin aku ya. Ajak makan-makan gitu!" ucap Arum bercanda.
Laras hanya tersenyum, karena dia yakin itu tidak akan pernah terjadi. Hatinya benar-benar sudah tertutup untuk cinta.
***
__ADS_1
Bersambung...