Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 18


__ADS_3

Satu hari kemudian, Indriyani bersama dengan Laras dan juga Indra sudah sampai di kampung halaman Indriyani. 25 tahun meninggalkan kota ini membuat semua tampak sangat berbeda di pandangan Indriyani. Dia bahkan tak yakin masih bisa mengenali jalan ke arah rumahnya yang dulu.


Dengan langkah pelan Indriyani bersama dengan Laras dan juga Indra melangkah keluar stasiun.


"Sekarang kita akan kemana Bu?" tanya Indra yang begitu penasaran dengan tujuan mereka.


Indriyani lalu melihat ke arah Indra dan menyentuh kepala Indra dengan pelan sambil melihat ke arah Laras.


"Pulang nak, kita akan pulang!" ucap Indriyani dan Laras hanya mengangguk paham.


Laras sangat percaya pada ibunya, kemanapun ibunya membawanya dan juga adiknya dia percaya tempat itu adalah tempat yang terbaik untuk saat ini.


Indriyani lalu memanggil satu taksi yang sedang menunggu penumpang. Indriyani lalu menyebutkan alamat yang akan dia tuju pada supir taksi, supir taksi itu mengangguk paham lalu berkata.


"Ongkosnya 200 ribu ya Bu, tempatnya lumayan jauh!" kata supir taksi itu dengan sopan.


"Iya pak!" jawab Indriyani juga dengan sopan.


Selama perjalanan, Indra memilih untuk tidur karena di dalam kereta tadi dia masih terus ingat pada sang ayah dan sulit sekali untuk tidur. Sementara Indriyani dan Laras melihat ke arah jendela di kanan dan kiri mereka.


Pemandangan indah pedesaan begitu damai di pandang mata. Sawah yang luas menghiasi kiri dan kanan jalan.


Semakin jauh taksi mereka melaju semakin terlihat pula pedesaan yang begitu asri dengan sawah di mana-mana. Beberapa kebun sayur juga terselip di antara luasnya padi yang sudah hampir menguning.


"Neng sama ibunya dari kota ya?" tanya supir taksi itu melihat penampilan Laras dan juga Indriyani yang memakai pakaian yang cukup bagus dan dandanan seperti orang kota kebanyakan.


Laras melihat ke arah dirinya, dia tersenyum lirih. Pakaian yang dia pakai dan juga adiknya pakai ini adalah pemberian dari Abimanyu. Dia benar-benar muak pada pria itu.


"Iya pak!" jawab Indriyani membuat Laras tersadar dari lamunannya tentang Abimanyu.


"Ibu mau liburan di desa ya?" tanya supir taksi itu.

__ADS_1


"Iya!" jawab Indriyani lagi dengan sangat singkat.


Jawaban singkat Indriyani itu membuat supir taksi itu menjadi canggung sendiri, awalnya dia ingin mengajak mengobrol penumpangnya karena merasa sedikit mengantuk. Tapi sepertinya Indriyani dan anak-anaknya memang sedang tidak ingin banyak bicara. Supir taksi itu pun memilih diam.


Sampai beberapa lama kemudian mereka pun tiba di alamat yang di katakan oleh Indriyani. Saat mereka sampai waktu sudah menjelang malam. Ada seorang wanita paruh baya yang terlihat menyapu halaman dan kepulan asap pembakaran daun kering dan sampah juga ada di sampingnya. Indriyani tersenyum ketika turun dari taksi dan melihat ke arah wanita paruh baya itu.


Supir taksi menurunkan tas Laras dan keluarganya. Laras pun sudah membangunkan Indra dan mereka pun sudah turun dari taksi.


Dua lembar uang pecahan seratus ribuan di serahkan oleh Laras pada supir taksi itu dan supir taksi itu pun pergi.


Indriyani mengajak Laras dan juga Indra berjalan mendekati sebuah rumah yang halamannya sangat luas dan menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang asik menyapu tanpa perduli sekitarnya.


"Ningrum!" panggil Indriyani.


Wanita paruh baya yang memegang sapu tadi langsung menoleh ketika namanya di panggil. Matanya berkaca-kaca melihat Indriyani dan dia langsung menjatuhkan sapu lidi yang dia pegang.


"Yani, masyaallah Indriyani!" ucapnya yang langsung berlari ke arah Indriyani dan memeluknya.


Kedua wanita paruh baya itu menangis dan saling memeluk dengan erat seperti sedang menumpahkan rasa rindu yang teramat sangat dalam hati mereka berdua.


Laras dan Indra yang di lihat oleh Ningrum juga hanya bisa menundukkan kepala mereka dengan Laras yang terus merangkul Indra mencoba untuk memberi kekuatan pada adiknya yang dia tahu sangat kehilangan ayahnya tersebut.


"Ayahnya Laras sudah meninggal... !" lirih Indriyani yang membuat Ningrum begitu terkejut hingga terhuyung ke belakang.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, mas Syarif...!" lirih Ningrum yang tanpa terasa air matanya kembali menetes karena merasa sangat sedih.


Setelah beberapa saat, Ningrum lalu mengajak Indriyani dan juga Laras serta Indra masuk ke dalam rumah itu. Rumah dengan model yang begitu unik. Dengan pintu yang banyak, dan bisa di buka seperti garasi yang di lipat, dengan kaca antik yang berwarna hijau dan merah, sangat unik.


"Semuanya masih seperti saat kamu meninggalkan nya!" ucap Ningrum.


Mata Indriyani berkaca-kaca melihat sebuah potret hitam putih yang berbingkai kaca di dinding sebelah kiri.

__ADS_1


Dia berjalan mendekati potret lama itu, seorang pria dengan kumis tebal, seorang wanita yang memakai pakaian tradisional, kemben dan sanggul yang tapi. Juga seorang gadis remaja yang terlihat sangat ayu.


Laras mendekati sang ibu, dan seperti tahu apa yang ingin Laras tanyakan, Indriyani pun berkata.


"Ini kakek dan nenek mu Laras!" jawab Indriyani yang sudah berderaian air mata.


"Terimakasih sudah menjaga rumah ini dengan baik, semuanya bersih dan terawat. Terimakasih Ningrum!" ucap Indriyani pada Ningrum.


Ningrum lalu menepuk bahu Indriyani pelan.


"Bicara apa kamu, aku yang terimakasih sudah di kasih tempat tinggal dan juga di percaya mengurus semua kebun dan sawah mu, dengan itu aku bisa menyekolahkan anak-anak ku, saat suamiku sakit kamu bahkan menjual semua emas mu dan membiayai pengobatannya. Kalau bukan karena kamu, aku dan suamiku tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan saat itu. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, sekarang aku dan mas Cipto sudah di bangunkan rumah oleh Nanang. Semua berkat dirimu Yani!" ucap Ningrum panjang lebar.


"Oh ya, Alhamdulillah!" sahut Indriyani yang juga senang mendengar kehidupan Ningrum sudah menjadi sangat baik sekarang.


"Iya, Nanang sekarang sudah jadi Dokter. Dia yang bertanggung jawab buat pendidikan kedua adiknya sekarang. Slamet dan juga Aris sekarang juga kuliah di kota C, mereka mau jadi guru katanya!" ucap Ningrum terlihat sangat bangga pada Nanang dan juga dua anaknya yang lain.


Saat Ningrum dan Indriyani sedang mengobrol, Laras keluar dari kamarnya setelah membereskan kamar dan barang-barang nya. Tapi saat keluar dari kamar, Laras tiba-tiba saja...


Brukk


"Laras!" teriak Indriyani yang panik melihat Laras pingsan.


Ningrum juga Indriyani langsung berdiri dan menghampiri Laras.


"Laras, kamu kenapa nak?" ucap Indriyani panik membuat Indra juga keluar dari kamarnya.


"Kak Laras kenapa Bu?" tanya Indra bingung.


"Mungkin kelelahan, beberapa hari ini banyak hal yang terjadi!" ucap Indriyani sedih.


"Ya sudah, kita angkat dulu ke tempat tidur. Biasanya jam segini Nanang sudah pulang dari puskesmas, biar aku suruh dia kemari periksa Laras!" ucap Ningrum yang di balas anggukan kepala cepat oleh Indriyani.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2