Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 43


__ADS_3

Abimanyu masih terlihat sangat syok melihat wanita yang sedang di beri selamat oleh para tamu undangan setelah dia turun dari panggung. Satu persatu pengusaha dari yang muda sampai yang tua menghampiri Laras. Bagaimana tidak, selain penampilan Laras yang memang sangat mempesona malam ini, semua orang juga kagum padanya. Karena dalam usianya yang terbilang masih sangat muda, 21 tahun. Dia sudah menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan yang begitu besar di kota D. Tentu saja banyak orang yang mendadak menjadi pengagumnya malam ini.


Dipa yang menyamar menjadi paman Laras sejak tadi juga terus memperhatikan Abimanyu yang terlihat sangat kaget dan itu terlihat jelas dari sikap Abimanyu yang seperti orang bingung. Dipa langsung mendekat ke arah Laras yang sejak tadi sibuk meladeni ucapan selamat dan jabat tangan dari para pengusaha lain yang menghadiri acara tersebut.


"Berhenti tersenyum di sini, target mu ada disana!" bisik Dipa pada Laras yang masih sibuk menjawab pertanyaan para pengusaha itu satu persatu.


Para pengusaha itu sudah seperti wartawan saja yang sejak tadi bertanya Laras darimana? anak siapa? perusahaannya sudah berdiri berapa tahun? apakah dia berniat untuk membuka cabang dan bekerja dengan salah satu dari pengusaha yang ada di tepat ini. Semua pertanyaan itu tidak semua dapat Laras jawab, karena belum juga dia menjawab pertanyaan dari satu orang, yang lain sudah bertanya lagi padanya. Anwar yang sudah berusaha membawa Laras dari kerumunan juga sangat sulit membawa Laras dari sana.


"Maaf tuan-tuan, aku adalah paman Indri. Jika ada pertanyaan biar aku yang jawab!" ucap Dipa yang langsung meminta Anwar membawa Laras ke belakang panggung.


Setelah Laras tiba di belakang panggung, dia langsung duduk di sebuah sofa yang ada disana.


"Ya ampun, aku gugup sekali. Mereka itu pengusaha atau wartawan?" tanya Laras yang tidak menyangka dia akan di sambut se heboh itu.


"Nona, aku akan meninggalkan mu. Berpura-pura lah menundukkan kepalamu, pria itu sudah dekat. Saat kamu merasa ada langkah kaki masuk, seperti yang tuan Dipa katakan. Berpura-pura lah mengira kalau itu aku yang anda minta mengambilkan air minum!" ucap Anwar menjelaskan pada Laras apa yang harus dia lakukan karena Abimanyu memang sedang berjalan ke arah mereka.


Begitu mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Anwar dengan cepat meninggalkan Laras. Seperti yang sudah di instruksikan oleh Anwar, Laras pun menundukkan kepalanya. Berpura-pura kalau dia merasa pusing karena keramaian di ballroom tadi.


Abimanyu melangkah dengan perlahan. Hatinya terus mengatakan kalau wanita yang tadi dia lihat itu adalah Laras. Meskipun wanita itu bilang namanya Indri dan asalnya dari kota D. Tapi perasaan Abimanyu mengatakan kalau wanita itu adalah istrinya Laras. Tapi langkahnya menjadi ragu karena dirinya juga tidak bisa menepis kalau Laras tidak mungkin adalah seorang CEO perusahaan yang sudah berdiri sejak lima tahun lalu. Abimanyu seperti orang yang kebingungan. Matanya merah, rasa sesak begitu terasa di dadanya membuatnya semakin kesulitan untuk bernafas. Di tambah beberapa hari ini memang kesehatan nya tidaklah baik.


Deg deg deg


Jantung Abimanyu berdetak dengan kencang ketika dia sudah sampai di ruangan di belakang panggung. Seorang wanita sedang duduk sambil memijit kepalanya dan menunduk.


Langkah Abimanyu semakin pelan, tapi dia tetap melangkah.


Mendengar suara langkah kaki. Laras langsung berpura-pura mengira kalau itu adalah Anwar.

__ADS_1


"Ya ampun Anwar, cepatlah! kenapa jalan mu lama sekali. Mengambil minum saja haruskah selama itu...?" tanya Laras yang langsung melihat ke arah Abimanyu.


Sebenarnya Laras ingin sekali bergegas melangkah mendekat ke arah Abimanyu dan memukulnya dengan sekuat-kuatnya. Pria itu telah menyebabkan ayah, sahabat bahkan calon anaknya tiada. Laras benar-benar ingin menumpahkan amarahnya pada Abimanyu. Tapi Laras menahan semua itu dan berdiri, berpura-pura terkejut seperti yang sudah di instruksikan oleh Dipa.


"Oh, maaf. Aku pikir kamu adalah asisten ku. Ya ampun dimana Anwar? tenggorokan ku kering sekali!" ucap Laras yang lalu berjalan mendekat ke arah Abimanyu.


Semakin Laras mendekat jantung Abimanyu semakin berdetak semakin kencang. Tapi sayang Laras bukan menghampiri Abimanyu, tapi dia melewati nya.


"Laras!" panggil Abimanyu dengan mata yang berkaca-kaca.


Laras menghentikan langkahnya, tapi bukan karena dia merasa terpanggil oleh Abimanyu. Laras berhenti karena Anwar sudah ada di depannya.


Abimanyu yang sempat mendengar langkah kaki wanita itu berhenti pun memejamkan matanya sekilas.


Dia pikir setelah dia memanggil nama Laras dia berhenti, itu artinya wanita itu benar-benar Laras.


"Anwar, kenapa mengambil minum saja lama sekali sih!" keluh Laras pada Anwar.


"Maaf nona, tadi tuan memanggilku sebentar!" jawab Anwar.


Abimanyu pun berbalik, hatinya hancur dan kecewa karena ternyata wanita itu berhenti bukan karena panggilan nya tapi karena asistennya sudah datang.


Abimanyu langsung berbalik, tapi sayang Laras dan Anwar sudah berjalan menjauh dari sana. Abimanyu mengusap wajahnya kasar. Dia terduduk lemas di atas sofa yang tadi di duduki Laras.


"Aku pasti sudah tidak waras mengira wanita itu Laras... Laras.. aku sangat merindukanmu!" lirih Abimanyu yang langsung menyandarkan kepalanya yang terasa sangat pusing di sandaran sofa lalu memejamkan matanya.


Sementara itu Laras yang sudah berada di luar ballroom berjalan bersama dengan Anwar menghampiri Dipa yang sudah terlebih dahulu keluar dari ballroom.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Dipa yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


Laras hanya diam sambil menghela nafasnya. Sebenarnya sangat berat baginya berhadapan lagi dengan Abimanyu yang sudah memenuhi hatinya dengan rasa dendam dan sakit hati. Tapi Laras sudah setuju mengambil jalan ini, dia tidak bisa mundur lagi. Apalagi dia selalu ingat akan cerita Hendro tentang apa yang terjadi pada Wulan dan keluarganya. Hal itu semakin membuat Laras ingin segera menghancurkan Sarah dan juga ibunya.


"Seperti yang tuan sudah perkirakan! tuan Abimanyu terlihat sangat syok!" jawab Anwar karena Laras hanya diam.


"Bagus! aku yakin besok dia akan datang mencari mu Laras!" ucap Dipa yang begitu yakin.


Sementara Laras masih diam.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Laras.


"Bersikap lah seperti seorang yang tak pernah mengenal Abimanyu, aku tahu kamu pasti bisa!" ucap Dipa.


Laras hanya menghela nafasnya. Tapi dia langsung menganggukkan kepalanya perlahan.


"Aku mengerti, apa sekarang aku boleh kembali ke kamar ku?" tanya Laras dan Dipa pun menganggukkan kepalanya.


Laras langsung bergegas menuju lift untuk kembali ke kamarnya. Saat Laras sudah masuk ke dalam lift. Dipa berkata pada Anwar.


"Terus awasi dia Anwar, jaga dia, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya!" perintah Dipa pada Anwar agar terus menjaga Laras.


"Baik tuan!" jawab Anwar.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2