
Laras dan Dipa sudah sampai di bandara. Wajah wanita berusia 21 tahun itu benar-benar terlihat dingin. Wajah yang dulu kemana-mana selalu dihiasi dengan senyuman dan salam sapa terhadap semua orang yang dikenalnya, sekarang benar-benar sudah berubah menjadi sangat dingin. Jangan kan menyapa, tersenyum saja Laras tidak lagi melakukan itu saat disapa orang lain. Termasuk beberapa petugas bandara yang menyapanya dengan ramah.
Saat di dalam pesawat dan saat mereka sudah melakukan penerbangan pun, Laras memilih untuk memejamkan matanya meskipun tidak tidur. Karena dia juga sedang tidak ingin banyak bicara. Jika dia tidak berpura-pura tidur. Dipa akan terus mengajaknya untuk bicara. Dan Laras sama sekali tidak menginginkan hal itu.
Beberapa jam kemudian, Laras dan Dipa juga sudah sampai di kota B. Kota dimana Keluarga Abimanyu dan keluarga Wijaya tinggal. Dipa menghirup nafas dalam-dalam.
"Kita sudah sampai Laras!" ucap Dipa santai.
"Selamat sore tuan!" sapa seorang anak buah Dipa yang memang sudah mendapatkan kabar kalau Dipa akan sampai sore ini.
"Sore, Anwar. Kenalkan ini, nona Indri!" sahut Dipa membuat Laras menatap penuh tanya pada pria itu.
"Selamat sore nona Indri. Silahkan tuan dan nona!" ucap Anwar ramah sambil mempersilahkan Dipa dan Laras untuk segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang sudah melaju itu, Laras hanya diam.
"Tidak ingin tahu kita akan kemana?" tanya Dipa.
"Aku malah lebih ingin tahu kenapa kamu bilang namaku Indri?" tanya Laras.
"Sederhana, menurut anak buah ku, menurut laporan mereka. Laras sudah meninggal. Itulah rumor yang beredar di kota A dan juga keluarga Abimanyu. Laras sudah meninggal karena musibah kebakaran pabrik penggilingan padi milik ayahmu, kamu dan semua anggota keluarga mu tewas di tempat kejadian. Abimanyu ke sana, dan benar ada 4 makam baru.
Itulah yang membuat Abimanyu sekarang ini depresi.
"Dia depresi?" tanya Laras yang baru mendengar hal itu. Dan dia cukup terkejut.
Dipa melihat perubahan ekspresi di wajah Laras.
"Iya, dia depresi. Apa kamu merasa kasihan padanya?" tanya Dipa lagi.
Laras pun mengalihkan pandangannya dari Dipa.
__ADS_1
'Mas Abi depresi setelah mendengar tentang kematian ku? benarkah?' batin Laras.
Dipa yang melihat Laras hanya diam, mengerti kalau Laras mungkin sedang memikirkan Abimanyu. Tapi Dipa sama sekali tidak terpengaruh akan hal itu, karena dia sudah menyiapkan rencana yang akan menghilangkan semua keraguan Laras untuk membalas rasa sakit hatinya pada Abimanyu dan Rahmalia.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di hotel. Dua kamar di pesan atas nama Indri. Itulah identitas yang harus di pakai oleh Laras sekarang, tapi itu juga tidak buruk karena Indriyana memang adalah nama belakangnya.
Dipa meminta Laras untuk istirahat karena nanti malam, di hotel ini juga dia akan mempertemukan Laras dengan Abimanyu.
Laras pun bersiap, pakaian dan semua skenario yang harus dia mainkan sedang dia pelajari. Dipa menjadikan nya seorang pengusaha muda yang memiliki sebuah perusahaan air mineral yang cukup besar di kota D. Padahal perusahaan itu adalah perusahaan yang Dipa bangun tanpa sepengetahuan Sandra dan keluarga Wijaya. Hanya Vicky, teman baiknya saja yang tahu kalau dia sedang mengembangkan bisnis ekspedisi dan juga perusahaan air mineral di luar kota. Dengan kedua perusahaan itu, Dipa mengumpulkan uang untuk membuatnya lepas dari keluarga Wijaya.
Saat sedang bersiap, tiba-tiba saja pintu kamar Laras ada yang mengetuk.
"Siapa?" tanya Laras.
"Ini aku!" jawab Dipa.
Laras pun segera membuka pintu, dan di lihatnya Dipa yang sudah datang bersama dengan seorang wanita cantik yang membawa sebuah koper yang cukup besar di sebelah kanannya.
"Ada apa?" tanya Laras yang melihat ke arah Dipa dan wanita itu secara bergantian.
Laras pun mengangguk paham, dan mempersilahkan Fika masuk. Tapi saat Dipa akan masuk, Laras malah bertanya pada Dipa.
"Kamu juga mau masuk? mau apa?" tanya Laras dengan tatapan tidak senang.
"Ck... pelit sekali. Aku hanya ingin jadi orang pertama yang melihat penampilan mu setelah di rias!" jawab Dipa.
"Tidak mau, kamu lihat hasilnya nanti saja. Kalau kamu masuk sekarang kamu akan lihat prosesnya juga, sana sana!" ucap Laras mendorong Dipa menjauh dari pintu kemudian segera menutup pintu kamarnya.
Dipa yang di perlakukan seperti itu oleh Laras malah terkekeh.
"Ck.. pelit sekali!" gumamnya dan pergi meninggalkan kamar Laras.
__ADS_1
Dipa pun kembali ke kamarnya, dia memang datang bersama Laras dan akan selalu mendampingi Laras. Tapi dia tidak datang sebagai Dipa. Dia sudah menyiapkan sebuah penyamaran bahkan dia akan menyamar sebagai paman Laras.
Di dalam kamarnya, Dipa juga sudah memanggil seorang ahli make up dan pengubah penampilan. Oleh ahli make up dan merias bernama Oscar itu, Dipa di pakaian rambut palsu yang melekat sangat kuat di kepalanya. Dan hanya bisa terlepas dengan cairan khusus. Lalu wajahnya di rias hingga wajahnya terlihat seperti seorang pria paruh baya berusia sekitar 50 tahun, dengan kaca mata dan kumis yang cukup tebal.
"Taram... bagaimana tuan? oh lihatlah anda terlihat seperti seorang kakek!" kekeh Oscar yang meskipun seorang pria tapi gayanya sangat gemulai.
Melihat penampilan nya sendiri di depan cermin, Dipa terkekeh.
'Ya ampun, apakah aku akan seperti ini saat tua nanti!' pikirnya.
"Ini bagus, ajarkan pada Anwar caranya. Aku akan pergi melihat Indri!" ucap Dipa yang langsung keluar dari kamarnya untuk melihat persiapan Laras.
Sedangkan Anwar, anak buah Dipa yang di tinggalkan hanya berdua saja dengan Oscar pun bergidik ngeri melihat Oscar mendekatinya.
"Hei tuan, dengar tidak tadi kata tuan tampan. Kesini biar aku mengajarimu caranya!" seru Oscar yang terus berusaha meraih tangan Anwar yang menjauh.
"Ajari ya ajari saja, aku akan memperhatikan nya. Tidak perlu dekat-dekat!" protes Anwar yang sepertinya memang takut pada Oscar. Bukan takut dalam arti sebenarnya, lebih seperti geli geli gimana gitu mungkin.
"Tuan, bagaimana aku mengajarimu kalau jauh begitu. Kemari lah! aku gak gigit kok!" bujuk Oscar yang sepertinya malah sengaja ingin mengganggu Anwar.
Sementara itu Dipa sudah sampai di kamar Laras, pintu kamar Laras terbuka dan Fika yang membukanya setelah Dipa mengetuknya beberapa kali.
"Bagiamana dia? apa sudah siap?" tanya Dipa.
Fika langsung mengangguk.
"Sudah tuan, silahkan!" jawab Fika dan mempersilahkan Dipa masuk.
Begitu masuk ke dalam, mata Dipa dibuat tak berkedip, wanita yang tadinya berambut lurus dengan riasan sangat tipis dan berwajah polos. Kini berubah menjadi wanita yang sangat anggun, dengan rambut bergaya Eropa dan gaun malam yang begitu elegan berwarna hitam dengan list perak, riasan yang bold membuatnya tampak seperti wanita yang sangat kuat.
"Ini kamu Laras?" tanya Dipa tak percaya kalau wanita yang berdiri di depannya itu adalah Laras.
__ADS_1
***
Bersambung...