Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 24


__ADS_3

Suatu pagi ketika Laras sudah mau berangkat ke puskesmas, seperti biasanya dia akan berjalan ke pangkalan ojek yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Laras tidak punya kendaraan pribadi, bahkan sepeda pun tidak ada. Dan dia juga tidak berniat untuk membeli sepeda atau sepeda motor. Karena untuk pergi ke puskesmas Laras hanya perlu ongkos delapan ribu rupiah pulang pergi untuk naik ojek.


Kalau Indra malah lebih murah lagi, dia hanya tinggal naik bus jam 7 pagi dan pulang dengan bus jam 2 siang. Pulang dan pergi Indra bahkan hanya butuh uang sebesar 5 ribu rupiah saja untuk ongkos.


Hidup di desa memang serba murah, tapi mencari uang disini juga hanya bisa mencari sedikit sedikit, gaji pegawai di puskesmas pin ternyata bahkan kurang dari satu juta sebulan. Tapi kalau untuk biaya makan, listrik dan air saja. Itu sudah cukup untuk satu bulan, karena mereka juga menanam banyak sekali jenis sayuran di kebun, dan ibu Laras juga menjual beberapa ke pasar kalau sudah panen. Kebun sawi dan bayam mereka bahkan sudah dua kali panen, dan ibu Laras juga sudah menjualnya ke pasar, dan hasilnya juga lumayan.


Yang Laras pikirkan adalah bagaimana dengan masa depan Indra. Karena dulu sewaktu dengan Abimanyu, dia terlanjur di iming-iming untuk kuliah menjadi seorang pengusaha seperti Abimanyu. Laras bahkan diam-diam sering melihat Indra membaca beberapa buku tentang usaha dan bisnis pemberian Abimanyu padanya.


"Pagi Neng Laras!" sapa Kang Ujang. Tukang ojek langganan Laras.


"Pagi kang Ujang!" jawab Laras


Kang Ujang pun segera memberikan helm kepada Laras dan kemudian kang Ujang pun mengantar Laras ke puskesmas.


"Neng Laras betah tinggal di sini neng?" tanya kang Ujang berbasa-basi.


"Alhamdulillah, betah kang. Semua orang disini baik-baik sekali!" jawab Laras jujur.


"Iya neng, beginilah warga di desa. Kami tidak punya apapun selain satu sama lain. Haih, tapi anak saya yang tua mah, malah pengennya ke kota cari kerja. Katanya mah kalau disini gak akan bisa sukses!" kata kang Ujang yang terlihat sangat sedih dengan keinginan anaknya.


"Siapa bilang kang, itu buktinya dokter Nanang! dia sukses kan disini!" dan kedua orang tuanya juga bisa menyekolahkan anaknya sampai kuliah kan!" sahut Laras.


"Iya sih neng, tapi kan ibu Ningrum mah punya sawah yang luas. Punya kebon pisang berhektar-hektar. Kalau saya mah cuma tukang ojek, istri saya juga cuma butuh petik kopi!" ucap kang Ujang yang sepertinya sedang mengeluh tentang hidupnya.


Laras pun memilih untuk diam, karena dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan. Keadaan ibu Ningrum memang berbeda jauh dari kang Ujang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka tiba di depan puskesmas.


"Makasih ya kang, tetap semangat. Semoga anak kang Ujang dapat hidayah dan ngerengek minta ke kota lagi. Kata orang Ibukota itu kejamnya lebih kejam dari ibu tiri!" kelakar Laras sambil memberikan ongkos ojek pada kang Ujang.


Tapi sepertinya kang Ujang menanggapi serius apa yang baru saja Laras katakan padanya.


"Eh, bener juga neng. Kang Ujang pernah denger itu. Biar nanti kang Ujang kasih tahu Mumun. Biar dia mikir-mikir lagi kalau mau kerja di kota!" ucap kang Ujang yang langsung tancap gas meninggalkan Laras.


Dia terlihat semangat sekali ingin menemui anaknya yang bernama Mumun itu dan segera memberitahukan apa yang tadi Laras katakan tentang ibukota uang kejamnya lebih kejam daripada ibu tiri.


Laras tersenyum melihat kang Ujang yang begitu bersemangat. Saat Laras masuk ke dalam puskesmas, sudah ada beberapa pasien yang menunggu di ruang tunggu. Laras melihat ke arah jam yang ada di dinding.


'Baru pukul 7, dokter Nanang masih setengah jam lagi baru datang. Tapi anak-anak yang di bawa ibu-ibu ini kelihatan sangat menderita menahan rasa sakit!' batin Laras


Laras begitu sedih saat melihat beberapa anak yang berada di pangkuan ibu mereka terlihat lemah tak berdaya, beberapa lagi malah terlihat merengek dan terus menangis sambil mengeluhkan rasa sakit.


"Sabar ya nak, sebentar lagi dokter Nanang pasti datang. Sabar sebentar ya!" ucap Laras dengan lembut sambil mengelus perut anak itu yang katanya terasa sakit.


"Mbak memangnya gak bisa ya periksa anak saya, kalau bisa tolong dong mbak. Dari semalam anak saya kesakitan tapi karena puskesmas ini tutup kalau malam, terpaksa saya menunggu sampai pagi. Dari semalam anak saya terus nangis mbak. Tolong anak saya mbak!" ucap ibu itu yang terlihat sangat pucat.


Sepertinya ibu itu juga tidak tidur semalaman menunggui anaknya yang sedang merasakan sakit. Mata Laras berkaca-kaca. Dia kembali ingat pada sanga ayah yang selalu menjaganya ketika dia sakit, sama seperti yang dilakukan ibu itu, almarhum ayah Laras bahkan tidak akan tidur kalau Laras ataupun Indra sakit.


"Maaf Bu, tapi saya...!"


"Laras!" panggil sebuah suara yang membuat semua ibu-ibu di tempat itu menghela nafas lega.

__ADS_1


"Nak itu pak dokter sudah datang, sabar ya!" ucap salah seorang ibu yang anaknya masih terus menangis.


Laras langsung menghampiri dokter Nanang.


"Dokter, mereka sudah menunggu dari pagi-pagi sekali. Anak-anak ini mereka banyak yang mengeluh sakit perut!" ucap Laras yang langsung menjelaskan situasi yang terjadi.


"Baiklah, mulai dari yang pertama datang!" ucap dokter Nanang.


Laras pun mempersilahkan pasien yang pertama datang. Mereka semua diperiksa dan di obati satu persatu oleh dokter Nanang. Laras juga menghela nafas lega, ketika beberapa anak sudah tidak menangis dan mengeluh kesakitan lagi setelah di beri obat. Dokter Nanang sangat baik, dia tidak pernah mematok harga pasti untuk berobat, dia akan membiarkan warga desa membayar seikhlasnya dan semampu mereka. Dia bahkan pernah memberi penyuluhan pada semua warga desa, kalaupun mereka tidak punya uang tapi ada anggota keluarga mereka yang sakit. Jangan ragu datang ke puskesmas. Mereka bisa mendapatkan pengobatan gratis dari dokter Nanang. Sungguh pria yang sangat baik.


"Mbak saya permisi, terimakasih ya!" ucap ibu yang anaknya tadi sempat di periksa oleh Laras karena terus menangis.


"Iya Bu, tapi saya tidak melakukan apapun!" kata Laras terus terang.


"Mbak juga baik kok, mbak sama dokter Nanang itu serasi loh!" ucap ibu itu lagi.


Laras terkesiap mendengar apa yang ibu di depannya katakan.


"Hah, ibu... saya sama dokter Nanang itu cuma..!"


"Iya loh mbak, kalian tuh serasi. Dan dokter Nanang kelihatanya juga suka sama mbak. Saya lihat tadi waktu buka pintu, dia lirik ke arah mbak terus loh!" ucap ibu satu lagi yang baru saja selesai mengambil obat.


Laras bingung harus bilang apa, tapi kalau apa yang dikatakan ibu di depannya ini benar. Sepertinya dia akan membuat dokter Nanang kecewa.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2