
Tak kalah saat Dipa melihat betapa cantiknya Laras. Laras juga terkejut dengan penampilan Dipa, bahkan sekilas Laras tidak mengenali kalau itu Dipa.
"Paman ini..?" tanya Laras yang langsung membuat Dipa terkekeh.
"Ini aku, Dipa. Baguslah kalau kamu tidak mengenaliku, artinya penyamaran ku berhasil!" ucap Dipa yang langsung mengalihkan perhatian pada dua orang yang merias Laras.
"Kalian boleh pergi, ingat untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun setelah kalian pergi dari hotel ini!" seru Dipa.
Kedua wanita cantik itu mengangguk paham dan segera membereskan perlengkapan mereka dan keluar dari kamar Laras.
"Ingat ya, kamu adalah Indriyana Gunawan. Pemilik perusahaan air mineral terbesar di kota D. Dan aku paman mu, Handra Gunawan!" jelas Dipa lagi padahal sebelumnya pun Dipa juga sudah menjelaskan semuanya pada Laras.
Laras mengangguk paham, Dipa pun mendekati Laras dan mendekatkan sikunya pada Laras, seperti seorang pria yang menawarkan diri agar si wanita menggandeng lengannya itu.
Laras yang memang mengerti pun segera menautkan tangannya di siku Dipa. Dipa sudah banyak menunjukkan ada Laras video tentang apa saja yang biasa di lakukan saat di perjamuan para pengusaha yang akan dia dan Dipa hadiri. Dipa juga mengajarkan pada Laras table manner dalam waktu singkat, Laras yang memang cukup pintar pun mampu menguasai nya dengan baik.
Sesampainya di tempat pesta, Laras menghentikan langkahnya, tiba-tiba saja dirinya merasa sangat gugup. Meskipun Dipa sudah mengajarinya berbagai hal tapi setelah melihat beberapa orang yang berpakaian layaknya dirinya yang elegan dan mewah ada rasa tidak percaya diri dalam hati Laras.
Dia belum pernah menghadiri pesta yang kata Dipa adalah pesta kalangan para pengusaha yang sedang berkembang. Dipa yang melihat hal itu, menggenggam tangan Laras yang terasa sangat dingin. Dipa menghela nafasnya, dia tahu pasti ini tidak mudah bagi Laras. Tapi mereka sudah sampai di sini. Mereka tidak mungkin mundur lagi.
Dipa menggenggam erat tangan Laras.
"Dengarkan aku Laras, kita sudah tidak bisa mundur lagi. Semua sudah di siapkan." jelas Dipa.
Tapi dari tangan Laras yang dia genggam, dia tahu kalau Laras masih sangat gugup karena tangan Laras masihlah sangat terasa dingin.
Tiba-tiba saja Dipa memikirkan sebuah cara untuk membuat Laras kembali bisa menguatkan tekadnya.
"Ingat apa yang sudah terjadi pada ayah mu Laras, pada sahabat ku Wulan. Dan pada calon anakmu. Kamu tidak akan membiarkan mereka yang telah menghancurkan hidup mu hidup dengan tenang dan bahagia kan?" tanya Dipa yang membuat tangan Laras menggenggam erat tangan Dipa.
__ADS_1
Dipa tersenyum, tapi dia segera memalingkan wajahnya itu sekilas saat dia tersenyum.
'Bagus Laras, kamu harus kuat dan segera menghancurkan Rahmalia Wijaya itu!' batin Dipa.
Setelah Laras mulai siap, Dipa lalu memberi isyarat pada Anwar untuk segera menyerahkan undangan pada petugas.
Anwar yang memang di pilih karena dirinya tidak di kenali orang lain selain Vicky, hal itu juga sudah di pikirkan dengan matang oleh Dipa.
Setelah memeriksa undangan, para petugas memeriksa Anwar, Dipa dan Laras dengan detektor. Setelah mereka lolos alat detektor, seorang pelayan wanita yang berpakaian rapi dan berias dengan rapi langsung mempersilahkan mereka masuk dan menunjukkan dimana meja mereka.
Anwar, Dipa dan Laras berjalan mengikuti pelayan wanita itu. Tapi sebelum mereka sampai di meja mereka, Dipa melihat Abimanyu yang sedang bercengkrama dengan salah seorang pengusaha lain. Dipa lalu berkata pada Laras sambil memperlambat langkahnya.
"Lihat di sebelah kiri, di dekat tower wine itu!" seru Dipa.
Laras yang mendengar apa yang dikatakan oleh Dipa segera melihat ke arah yang di katakan oleh Dipa. Tidak sulit mencari dimana letak tower wine yang memang mencolok perhatian.
Laras langsung mengepalkan tangannya, dia bahkan menghentikan langkahnya membuat Dipa juga ikut berhenti.
Laras jadi ingat apa yang tadi Dipa katakan padanya sebelum ke bandara kalau Abimanyu Mahendra sedang depresi. Tapi dari apa yang Laras saksikan sendiri dengan mata kepalanya. Pria bernama Abimanyu Mahendra itu justru sedang tertawa senang dengan beberapa orang pria berpakaian mewah di depannya. Dengan sebuah gelas wine di tangannya, dari yang Laras lihat tidak ada beban sama sekali dalam hidup nya.
"Kamu bilang dia depresi?" tanya Laras pada Dipa.
"Itu yang ku dengar!" jawab Dipa dengan cepat.
"Sepertinya yang kamu dengar itu salah, dia terlihat sangat bahagia!" kesal Laras yang langsung melanjutkan langkahnya menyusul Anwar dan juga pelayan wanita itu yang sudah mulai agak jauh.
Dipa hanya tersenyum menyeringai sambil melihat ke arah Abimanyu.
'Ck... sayang sekali Abimanyu, wajahmu seharusnya tidak sesenang itu. Karena itu akan membuat Laras semakin membencimu!' batin Dipa.
__ADS_1
Dipa kemudian menyusul Laras ke arah meja mereka. Acara pun dimulai. Penyelenggara acara yang merupakan sebuah asosiasi para pengusaha beberapa kota membuka acara dengan sambutannya.
Setelah itu, acara di lanjutkan dengan memperkenalkan beberapa pengusaha yang tengah naik daun. Salah satunya adalah perusahan air mineral milik Dipa. Tapi semua sudah di atur oleh Dipa, hingga perusahaan itu berganti kepemilikan atas nama Indriyana Gunawan.
Beberapa pengusaha sudah di panggil ke atas podium, dan suara riuh tepuk tangan selalu mengiringi setiap nama yang naik ke atas panggung. Hingga tiba saatnya perusahaan air mineral milik Dipa di sebutkan, Laras langsung menoleh ke arah Dipa. Dan Dipa langsung menganggukkan kepalanya lalu menepuk punggung tangan Laras beberapa kali.
"Kamu pasti bisa!" ucap Dipa menyemangati Laras.
"Kita sambut dengan meriah, Nona Indriyana Gunawan pemilik perusahaan Gunawan grup!" seru pembawa acara.
Laras langsung berdiri dan berjalan dengan anggun menuju ke arah panggung. Suara tepuk tangan mengiringi Laras yang semakin dekat dengan panggung. Tapi saat Laras sudah naik ke atas panggung seorang pria yang adalah Abimanyu Mahendra langsung menjatuhkan gelas wine yang tadi dia pegang di tangannya.
Prang
'Laras!' lirih Abimanyu dalam hatinya.
Gelas itu jatuh dan pecah, namun tidak ada yang menyadari hal itu karena suara tepuk tangan dari para undangan yang ada di ruangan itu. Hanya dua orang yang ada di sebelah Abimanyu yang menyadari apa yang baru saha terjadi pada Abimanyu
"Tuan Abimanyu, apa anda baik-baik saja?" tanya salah satu orang yang ada di samping Abimanyu.
Abimanyu sama sekali tidak merespon apa yang ditanyakan oleh orang yang ada di sampingnya itu. Mata dan pikirannya hanya tertuju pada wanita yang memakai gaun hitam yang sedang berdiri di atas panggung sambil memperkenalkan dirinya pada undangan yang lain.
"Nama saya Indriyana Gunawan, senang sekali bisa berada disini di antara para pengusaha senior. Mohon bimbingannya!" ucap Laras yang di beri mikrofon oleh pembawa acara.
Semua orang bertepuk tangan mendengar perkenalan dari Laras. Tapi Abimanyu justru memegang dadanya yang terasa sangat sakit.
'Tidak, tidak mungkin... itu pasti Laras!' batinnya.
***
__ADS_1
Bersambung...