
Abimanyu begitu bersemangat saat meninggalkan rumahnya, dia masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobil nya itu dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dia ingin segera bertemu dengan Laras.
Beberapa hari ini dia tidak bisa bicara dan juga tidak bisa bertemu dengan Laras dan hal itu membuatnya kalut dan sangat tidak bersemangat. Tapi sekarang dia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang sangat dia cintai itu.
Perjalanan lumayan lama tapi Abimanyu tidak merasakannya, dirinya hanya ingin cepat bertemu dengan Laras. Beberapa jam perjalanan akhirnya Abimanyu tiba di desa tempat Laras tinggal.
Tapi perasaan berbeda begitu dirasakan Abimanyu saat menyusuri jalan menuju rumah Laras. Suasana sepi dan dingin begitu menyelimuti jalan yang biasanya ramai dengan canda tawa orang yang berjalan di sisi kiri dan kanan jalan.
Pandangan mata Abimanyu kini tertuju pada sebuah bendera berwarna kuning yang ada di batang pohon nangka besar yang ada di depan pekarangan rumah Laras.
Tapi anehnya rumah Laras begitu gelap dan sepi. Abimanyu menghentikan mobilnya lalu segera keluar dari dalam mobil. Dengan langkah cepat dia menuju ke rumah Laras. Tapi saat akan mendekati pintu, seorang wanita paruh baya menghadangnya.
"Nak Abi, Laras dan keluarganya hiks... hiks...!" wanita paruh baya itu menangis sesegukan dan kemudian seorang pria yang dia kenal adalah karyawan di pabrik penggilingan padi milik Syarifuddin ayah mertuanya juga menghampiri nya.
"Tuan Abi, pak Syarifuddin dan keluarganya sudah meninggal!" ucapnya lirih.
Deg
Jantung Abimanyu serasa berhenti berdetak, dia menghembuskan nafas dan kembali bertanya pada pria dan wanita tua yang ada di depannya itu.
"Kalian jangan bercanda ya!" seru Abimanyu dengan nada suara bergetar.
"Pabrik kebakaran tuan, dan semuanya meninggal!" ucap pria itu tampak begitu sangat ketakutan dan juga sedih pada saat yang bersamaan.
"Laras!" lirih Abimanyu yang terduduk lemas di tanah.
Ketika Abimanyu sangat syok dan tidak percaya pada apa yang terjadi, wanita itu kemudian berkata lagi.
__ADS_1
"Kalau tuan tidak percaya, tuan bisa ikut saya ke makam keluarga pak Syarifuddin!" ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke suatu tempat.
Abimanyu dengan langkah gontai mengikuti wanita tua dan pria tua itu. Sampai lah mereka di sebuah pemakaman umum, dan ketika Abimanyu melihat empat buah makam yang sepertinya baru. Dia semakin lemas saja, apalagi ada sebuah nisan kayu dengan tulisan nama Larasati disana. Abimanyu langsung berlari ke arah makam itu dan memeluk makam itu sambil menangis sejadi-jadinya.
"Laras, maafkan aku. Seharusnya aku tidak meninggalkan mu, seharusnya aku... Laras!" teriak Abimanyu frustasi.
Pria dan wanita tua itu saling pandang. Mereka terlihat ikut sedih tapi mereka memang harus melakukan semua itu jika tidak keselamatan keluarga mereka telah di ancam oleh Rahma dan anak buahnya. Beberapa warga memang di bayar untuk berbohong, tapak beberapa di ancam oleh Rahma dan juga anak buahnya membuat mereka tak berdaya.
Abimanyu masih menangis karena begitu menyesal tidak ada di samping Laras di saat terakhirnya.
Tapi dalam hati Abimanyu, dia merasa kalau sebenarnya Laras tidak ada di makam ini. Hari Abimanyu memang sangat sedih dan terasa pilu saat melihat makam pak Syarifuddin, tapi entah kenapa hatinya tidak merasakan perasaan yang sama ketika melihat makam Laras.
Abimanyu langsung berdiri dan menghampiri wanita dan pria tua itu lagi.
"Apa kalian yakin kalau yang meninggal adalah Laras?" tanya Abimanyu dengan cepat.
Pria dan wanita yang ada di depan Abimanyu itu malah saling pandang, mereka tidak tahu harus menjawab apa. Dari gelagat dua orang di depannya Abimanyu makin yakin kalau mungkin saja yang meninggal itu bukan Laras.
"Maaf tuan, tapi nona Laras memang tidak terlihat lagi setelah mayat itu di temukan!" jawab pria tua itu panik. Dia hanya mengatakan apa yang ada di pikiran nya saja karena sudah panik dan takut karena Abimanyu terlihat begitu emosional.
Abimanyu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat berkali-kali. Dia lalu melihat ke arah makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama Laras.
"Tidak ... pasti itu bukan Laras!" gumam Abimanyu.
Abimanyu lalu meninggalkan makam dengan cepat, tujuannya adalah rumah Wulan sahabat dekat istrinya itu.
Beberapa orang terlihat sangat kasihan melihat kondisi Abimanyu, tapi mereka juga mencemaskan keadaan keluarga mereka yang sudah mendapatkan ancaman dari Rahma dan para anak buahnya yang sudah berbaur dengan masyarakat di sini.
__ADS_1
Abimanyu mengetuk pintu rumah Wulan dengan kuat.
Ceklek
"Wulan..!"
Tapi baru saja Abimanyu menyebutkan namanya, Wulan langsung menutup pintu dengan cepat. Abimanyu berusaha untuk menahan agar Wulan tidak menutup pintu dengan kakinya.
"Pergi, dasar penipu. Karena kamu aku kehilangan sahabat ku, karena kamu pak Syarif yang sudah aku anggap ayah sendiri meninggal. Pergi kamu penipu!" pekik Wulan berusaha terus mendorong pintu rumahnya agar tertutup.
"Wulan tolong dengarkan aku, aku akan pergi jika kamu jawab pertanyaan ku. Aku tidak percaya pada ucapan semua orang yang mengatakan Laras sudah meninggal, aku hanya ingin dengar darimu. Kamu adalah sahabatnya kan, katakan padaku kalau Laras belum meninggal kan?" tanya Abimanyu dengan cepat. Dia begitu terdengar panik.
Sementara Wulan yang mendengar apa yang dikatakan Abimanyu sebenarnya sangat terkejut. Tapi karena Laras sendiri juga mengatakan padanya agar jika Abimanyu mencarinya maka katakan saja dia sudah mati maka Wulan pun membuat pintu itu dan langsung menatap Abimanyu dengan mata merah dan pandangan mata yang sangat tajam.
"Kamu ingin tahu dimana Laras. Maka aku akan menjawabnya. Laras sudah mati!" ucap Wulan dengan penuh kekesalan pada Abimanyu.
"Kamu puas kan? karena kebohongan mu sebuah keluarga hancur, sekarang pergilah dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku atau mas Hendro, karena dia akan benar-benar menyingkirkan mu!" kesal Wulan.
Abimanyu benar-benar di buat tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Saat Abimanyu lengah dan menjauhkan kakinya dari pintu, Wulan langsung menutup pintu itu dengan cepat dan menguncinya.
Abimanyu masih berdiam mematung di tempatnya. Pandangan matanya kosong begitu pula dengan hati dan juga pikirannya.
"Laras... Laras!" lirih Abimanyu terdengar begitu pilu.
Wulan yang melihat Abimanyu masih berdiri di luar rumahnya dari jendela mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Dasar pembohong, kamu pantas menderita seperti itu. Kamu telah menghancurkan Laras dan keluarganya, kamu memang pantas menderita!" geram Wulan uang begitu membenci Abimanyu.
__ADS_1
***
Bersambung...