Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 26


__ADS_3

Laras sudah kembali dari warung nenek Untung, dan dia membawakan makanan untuk dokter Nanang. Karena sudah lewat dari jam makan siang, dokter Nanang belum menyusulnya ke warung nenek Untung. Laras yakin kalau kasus kecelakaan orang kaya itu pasti sangat serius.


Makanan yang sudah Laras bungkus Laras masukan ke dalam ruangan dokter Nanang. Karena dokter Nanang tidak ada di ruangannya, Laras juga tidak berani memasang tanda buka di ruangan dokter Nanang. Karena takut kasus yang di tangani dokter Nanang sangat penting dan dokter Nanang tidak bisa meninggalkan nya maka Laras juga tidak akan bisa menangani pasien uang berobat nantinya. Karena itu Laras memilih untuk tetap memasang tanda sedang istirahat di pintu ruangan ruang praktek dokter Nanang.


Laras pun penasaran dengan kondisi pasien yang katanya kecelakaan parah di dekat jalan tol tadi. Laras memutuskan untuk melihatnya.


Ternyata memang sangat ramai dengan petugas di dekat ruang UGD itu, semakin penasaran maka Laras pun mendekat dan berjalan ke arah Arum. Di tempat ini Arum sudah seperti pusat layanan informasi, hampir semua hal dia mengetahui nya.


"Mbak Arum, kenapa ramai sekali di sini, apa kondisi pasien itu sangat serius?" tanya Laras berbasa-basi.


Dengan keadaan seperti ini pun dia sebenarnya sudah tahu kalau kondisi pasien pastinya sangat parah. Hanya saja dia ingin tahu kenapa tenaga medis dan petugas puskesmas yang lain juga ada di sini.


"Laras golongan darah kamu apa?" tanya Arum yang malah bertanya pada Laras dan bukan menjawab pertanyaan Laras tadi.


"Golongan darah ku A, ada apa mbak?" tanya Laras lagi pada Arum karena dia tidak tahu kenapa Arum tiba-tiba menanyakan tentang golongan darahnya.


Tapi setelah mendengar jawaban Laras, wajah Arum malah terlihat begitu antusias.


"Laras, kebetulan sekali. Kamu tahu tidak pasien di dalam itu sedang kekurangan banyak darah karena kecelakaan yang di alami dia kehilangan banyak darah. Dan dokter Dimas tadi mengumpulkan para petugas untuk di periksa darahnya kalau ada yang cocok, dan bersedia memberikan bantuan pada pasien itu! kebetulan golongan darahnya juga A. Laras kamu mau bantu pasien itu tidak?" tanya Arum setelah menjelaskan panjang lebar tentang alasan kenapa banyak petugas puskesmas di sini.


Tanpa pikir panjang, Laras langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya mbak aku mau!" jawabnya juga dengan yakin.


Menurut Laras kalau dengan beberapa mili darahnya bisa membantu menyelamatkan orang lain bukankah itu adalah hal yang baik.


Arum langsung membawa Laras masuk ke dalam ruang periksa. Ada petugas lain yang memeriksa Laras.


Setelah beberapa pemeriksaan ringan, perawat itu lalu mengernyitkan dahinya dan bertanya.


"Laras, kamu serius mau mendonorkan darah mu? kamu sedang hamil loh!" ucap perawat itu.


Jeger


Bak di sambar petir di siang hari, Laras begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca dengan mulut yang tak mampu mengeluarkan suara apapun.


"Laras, Laras!" panggil perawat itu sambil mengayunkan tangan nya di depan wajah Laras karena Laras malah diam mematung tanpa suara dan tanpa gerakan.


Tak juga mendapatkan respon, perawat itu mulai khawatir dan akhirnya menepuk bahu Laras akan kencang.


"Laras, apa kamu baik-baik saja?" tanya perawat itu yang mulai cemas karena sikap Laras.


Laras yang tersadar setelah pundaknya di teluk sang perawat yang berdiri di depannya langsung menundukkan kepalanya dan melihat ke arah perutnya.


'Ternyata aku hamil, seharusnya ini kabar baik bukan? tapi...!' batin Laras merasa begitu pilu.


"Laras, sebaiknya kamu tidak usah mendonorkan darah mu ya, masih ada petugas lain kok. Kamu sebaiknya istirahat yang banyak, kehamilan mu sepertinya masih sangat muda!" tambah perawat itu berusaha menasehati Laras.


Dengan langkah gontai Laras pun berjalan meninggalkan ruangan periksa. Arum yang masih berdiri di luar pun bertanya pada Laras apakah dia boleh mendonorkan darah atau tidak setelah di periksa.

__ADS_1


"Laras, bagaimana hasilnya? kamu bisa donor tidak?" tanya Arum penasaran karena kabar dari ruang UGD masih butuh sekitar dua kantung darah lagi.


Laras tidak bersuara, dia hanya menjawab dengan gerakan menggelengkan kepalanya saja.


Arum terlihat kecewa, tapi dia lantas tersenyum pada Laras.


"Tidak apa-apa, masih ada yang lain kok. Jangan sedih ya!" ucap Arum menyemangati Laras.


Arum mengira Laras terlihat sedih karena dia tidak lolos pemeriksaan. Padahal ada hal lain yang menyebabkan Laras bahkan tidak tahu harus apa sekarang ini.


Laras kembali ke ruangan dokter Nanang, dia menutup pintu rapat-rapat lalu duduk dan menundukkan kepalanya di atas meja dengan alas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.


Laras menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa semua jadi seperti ini, di saat aku ingin melupakan nama mas Abi, kenapa justru aku mengandung darah dagingnya!" lirih Laras di sela Isak tangisnya.


Laras masih terus menangis selama beberapa saat. Meskipun dia juga adalah istri sah Abimanyu, yang entah bagaimana Abimanyu bisa melakukan itu. Saat itu setahunya kartu identitas Abimanyu berstatus single, dia benar-benar terpedaya oleh pria itu. Meskipun dia punya surat nikah dan juga akta pernikahan, tapi Laras bahkan meragukan keaslian semuanya itu karena setahunya tidak akan ada pernikahan kedua kalau istri pertama tidak memberikan ijin. Dan pernikahan Laras itu, dia bahkan baru tahu kalau dia itu istri kedua Abimanyu setelah satu tahun.


Namun di sisi lain Laras juga tahu kalau anak yang dia kandung itu sama sekali tidak bersalah, anak itu tidak berdosa. Dia bahkan tidak tahu kalau ayahnya adalah seorang penipu. Dia juga tidak bisa memilih bukan, siapa yang akan jadi ayah dan ibunya.


Laras mengusap perut nya perlahan, dia menyeka air matanya.


"Bagaimana bisa ibu tidak menyadari kehadiran mu nak. Maafkan ibu ya!" gumam Laras.


Kemudian Laras mengingat suatu hal. Malam dia sampai di rumah lama ibunya, dia sempat pingsan. Beberapa minggu yang lalu, dan dia ingat dokter Nanang memeriksanya.


"Dokter Nanang, apa dia tidak tahu kalau aku hamil?" tanya Laras.


"Laras, apa kamu sudah makan siang?" tanya dokter Nanang sambil lalu hendak masuk ke ruangan periksa nya.


Laras pun berdiri dan berkata.


"Dokter, apa dokter tahu kalau aku hamil?" tanya Laras membuat dokter Nanang yang sudah memegang handel pintu ruangan periksa menarik tangannya kembali dan berbalik ke arah Laras.


Dokter Nanang melihat Laras, memperhatikan wajahnya yang sembab.


'Dia pasti sudah tahu, dia pasti habis menangis. Mungkin sebaiknya aku jujur saja!' pikir dokter Nanang.


Hingga akhirnya dokter Nanang mengajak Laras untuk kembali duduk supaya saat mereka bicara Laras lebih bisa menstabilkan emosinya. Karena sebenarnya bicara sambil duduk akan membuat kita lebih tenang daripada saat kita bicara sambil berdiri.


"Iya Laras, kamu memang sedang hamil. Kalau di hitung sampai sekarang ini, kehamilan mu mungkin sudah masuk trimester pertama akhir!" jelas dokter Nanang yang bicara dengan sikap tenang dan mencoba untuk tidak membuat Laras emosional.


"Kapan dokter tahu aku hamil?" tanya Laras dengan tatapan mata datar pada dokter Nanang.


"Sebenarnya saat kamu pingsan malam itu. Malam itu kamu kelelahan, makanya kamu pingsan. Untung saja kondisi kehamilan mu baik-baik saja, anak dalam kandungan mu itu sangat kuat!" ucap Dokter Nanang sambil tersenyum.


"Kenapa saat itu dokter tidak mengatakan kalau aku hamil?" tanya Laras lagi dan masih sama ekspresi wajah nya benar-benar sangat datar.


Dokter Nanang terdiam sejenak, dia masih ingat kalau ibu Indriyani mengatakan kalau suami Laras baru saja meninggal. Dia takut kalau dia mengatakan alasannya maka Laras akan kembali sedih.

__ADS_1


Tapi melihat dokter Nanang tak kunjung menjawab pertanyaan nya, Laras pun bertanya lagi.


"Kenapa dokter? apa ada masalah dengan kehamilan ku?" tanya Laras yang mengira malah ada masalah dengan kehamilan nya. Dan itulah penyebab dokter Nanang menyembunyikan hal itu darinya.


Dokter Nanang lantas menggerakkan tangannya dengan cepat. Dia melambaikan tangan di depan Laras.


"Tidak Laras, kandungan mu baik-baik saja. Bayimu sangat sehat!" jawab dokter Nanang.


Jawaban dari Dokter Nanang itu malah membuat Laras semakin penasaran dengan alasan yang sebenarnya dokter Nanang menyembunyikan hal itu pada Laras.


"Jadi kenapa dokter?" tanya Laras dan kali ini dia bicara tidak dengan nada suara datar lagi. Suara Laras sudah mulai meninggi.


"Laras...!" dokter Nanang masih bingung untuk menjelaskan nya.


"Sebenarnya ibumu yang melarang ku mengatakan padamu tentang kehamilan mu. Tapi maksud bibi Indriyani itu baik, dia tidak mau kamu sampai kepikiran, lalu kalut. Suami mu kan baru saja meninggal, hal itu pasti berat untuk mu...!"


"Ibu bilang suamiku sudah meninggal?" tanya Laras menyela apa yang disampaikan oleh dokter Nanang.


Dokter Nanang langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan Laras itu.


"Bukankah suamimu memang sudah meninggal, dalam peristiwa kebakaran pabrik penggilingan padi, sehari setelah itu ayah mu juga meninggal. Bibi pikir itu pasti hal berat untukmu! jadi...!" dokter Nanang menjeda kalimatnya.


Dokter Nanang merasa ragu untuk meneruskan apa yang dia ingin katakan karena mata Laras sudah berkaca-kaca.


"Laras, dengar... kamu sama sekali tidak boleh berpikir yang tidak-tidak ya. Meskipun anak ini tidak memiliki ayah lagi, tapi aku...! Dokter Nanang memberanikan dirinya menyentuh telapak tangan Laras tapi Laras langsung menepisnya.


"Tidak apa-apa dokter, meskipun dia memang sudah tidak punya ayah. Tapi dia masih punya aku, ibunya! terimakasih dokter sangat perhatian padaku dan kehamilan ku tapi maaf dokter, seperti yang dokter dengar dari ibuku, ayah bayi ini baru saja meninggal. Aku juga tidak berniat untuk...!" Laras menjeda kalimatnya. Dia nyaris mengikuti emosional nya yang tidak stabil.


Laras melihat ke arah dokter Nanang yang terlihat sangat sedih. Bagaimana pun Laras tidak boleh egois. Dia tidak bisa menolak terang-terangan begini.


"Maaf dokter, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku...!"


Mendengar permintaan maaf Laras, Dokter Nanang pun tersenyum, dia berpikir setidaknya dia masih punya kesempatan.


"Iya Laras, aku mengerti!" jawab dokter Nanang sedikit kecewa.


"Oh ya dokter, aku sudah bawakan makan siang dokter di ruangan dokter!" ucap Laras lagi.


"Iya, kamu sudah makan?" tanya dokter Nanang karena tadi Laras belum menjawab pertanyaan nya yang itu.


Laras pun mengangguk.


"Sudah dokter!" jawab Laras.


Dokter Nanang pun masuk ke ruangannya dan Laras pun duduk kembali di kursinya.


'Ibu benar, ayah bayi ini memang sudah mati! tapi kenapa ibu minta dokter Nanang menyembunyikan kehamilan ku ini juga?' batin Laras bertanya-tanya sambil mengelus perutnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2