Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 34


__ADS_3

Indriyani masih panik, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia berusaha keluar dan meminta bantuan, tapi sepagi ini para tetangganya tidak ada yang di rumah, mereka pergi ke kebun dan sawah lalu anak-anak mereka pergi sekolah.


Untung saja dokter Nanang belum jauh dan segera kembali dengan cepat meskipun sebenarnya urusannya juga tak kalah penting. Begitu dokter Nanang datang, Indriyani langsung menghampiri dokter Nanang dengan berlari.


Wanita paruh baya itu bahkan lupa kalau dia tidak pakai alas kaki sangking paniknya.


"Nak dokter, tolong Laras nak dokter. Laras pendarahan!" ucap Indriyani sambil terisak.


Dokter Nanang terkejut mendengar apa yang bibi nya itu katakan. Lalu dengan segera dokter Nanang pun berlari ke arah rumah Indriyani dan masuk dengan cepat. Dokter Nanang langsung menggendong Laras dan membawanya keluar.


"Bibi Yani, tolong bukakan pintu mobilnya!" seru dokter Nanang dengan nada yang sedikit tinggi.


Jujur saja dokter Nanang benar-benar sangat panik, yang dia pikirkan hanyalah secepatnya membawa Laras ke rumah sakit.


Tanpa mengunci pintu rumah, Indriyani pun langsung masuk ke dalam mobil memangku kepala Laras. Dokter Nanang juga langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya itu ke puskesmas.


Indriyani tampak panik, wajah Laras menjadi sangat pucat dan saat Indriyani memegang tangan anaknya itu, telapak tangan Laras sangatlah dingin.


"Nak dokter, cepatlah nak. Tangan Laras sudah dingin sekali!" ucap Indriyani yang terisak semakin menjadi sambil terus menggosok telapak tangan Laras yang dingin dengan tangannya.


Dokter Nanang juga dengan kecepatan tinggi melajukan mobilnya, jalanan yang becek dia terabas begitu saja. Klakson mobil terus di bunyikan agar tidak ada yang menghalangi laju mobilnya.


Hingga pada akhirnya mereka pun tiba di depan puskesmas. Dokter Nanang langsung menggendong Laras dan membawanya masuk ke dalam puskesmas.


"Dokter Ivana, dimana dokter Ivana?" teriak dokter Nanang yang langsung membawa Laras ke ruang UGD.


Setelah membaringkan Laras di tempat tidur pasien. Dokter Nanang langsung berlari mencari dokter Ivana yang memang sedang memeriksa seorang pasien uang sedang hamil.


Dokter Nanang langsung membuka pintu ruang periksa dokter Ivana.

__ADS_1


"Ivana, cepat ada pasien gawat darurat!" ucap dokter Nanang yang langsung menarik tangan dokter Ivana.


Dokter Ivana yang terpaksa ikut berlari mengikuti dokter Nanang semakin dibuat heran. Masalahnya dokter Nanang terlihat begitu panik dan semua noda darah yang ada di tangan di bajunya itu membuat dokter Ivana kebingungan.


Tapi begitu dokter Ivana sampai di ruang UGD dia juga begitu terkejut.


"Laras!" ucapnya terkejut melihat pasien gawat darurat yang di maksud oleh dokter Nanang adalah Laras.


"Ayo cepat-cepat, siapkan semuanya. Siapkan penanganan kasus AB!" seru dokter Ivana yang langsung membuat para perawat senior mengerti apa yang harus mereka lakukan.


Dokter Nanang dan juga Indriyani di minta untuk menunggu di luar. Meski kalaupun di dalam ruangan dokter Nanang juga bisa membantu, tapi dalam keadaan panik seperti itu dokter Ivana mengambil keputusan untuk meminta dokter Nanang keluar saja.


"Bagaimana dengan Laras nak, bagaimana dengan bayinya?" tanya Indriyani yang masih saja terus menangis.


"Ibu sabar ya. Di dalam Laras sedang di tangani. Untuk bayinya, tadi dokter Ivana sedang menguji urine Laras untuk memastikan dia masih positif atau tidak. Tapi saat aku mau melihatnya dokter Ivana memintaku keluar. Ibu sabar ya, dokter Ivana pasti menyelamatkan Laras!" ucap Dokter Nanang berusaha menenangkan Indriyani. Meski sebenarnya dirinya sendiri juga sangat panik.


Sementara itu di dalam ruang UGD.


"Bagaimana ini, jika tidak segera di lakukan tindakan maka nyawa Laras dalam bahaya, dia sudah kehilangan banyak darah. Tapi kalau masih harus menunggu dua belas jam lagi untuk memastikan anak itu bisa bertahan atau tidak, nyawa Laras benar-benar dalam bahaya!" ucap dokter Ivana yang bimbang menentukan keputusannya.


"Dok, diluar ada orang tua Laras. Bagaimana kalau kita minta pendapatnya?" tanya perawat senior.


"Baik, aku akan tanya ibunya. Kamu pastikan keadaan Laras ya. Jika terjadi sesuatu cepat panggil aku!" seru dokter Ivana dan perawat senior itu langsung mengangguk paham.


Begitu keluar dari ruang gawat darurat, perawat lain sudah menyerahkan surat persetujuan pengambil tindakan pada pasien. Dokter Ivana kemudian menerangkan kondisi Laras dan bayinya.


"Masih positif, tapi kondisi Laras kritis. Dia sudah kehilangan banyak darah. Kita harus secepatnya ambil tindakan jika tidak nyawa Laras dalam bahaya!" jelas dokter Ivana.


'Jika aku tanda tangan maka Laras pasti akan membenciku karena aku sudah membuatnya terpaksa kehilangan bayinya' pikir dokter Nanang bimbang.

__ADS_1


Sementara hal itu bukan hanya di pikirkan oleh dokter Nanang, Indriyani juga memikirkan hal yang sama. Laras pasti akan terpukul sekali jika dia kehilangan bayinya.


Tapi di saat mereka berdua ragu, seorang pria berbadan tegap dengan kaos berkerah dan celana panjang menghampiri mereka. Rupanya sejak tadi Dipa mengamati apa yang terjadi pada Laras dari jarak yang tidak jauh. Hingga dia pun bisa mendengarkan apa saja percakapan dokter Ivana dengan Dokter Nanang dan juga Indriyani.


Tanpa ragu, Dipa meraih dokumen yang di pegang oleh dokter Ivana.


"Aku yang akan bertanggung jawab, lakukan segera tindakan operasi nya!" ucap Dipa dengan yakin sambil menandatangani dokumen yang sudah dia ambil dari dokter Ivana.


Setelah dokumen nya di tandatangani, dokter Ivana segera masuk ke dalam ruang UGD karena memang harus segera melakukan penanganan pada Laras yang kondisinya kritis.


Sementara itu Dipa terus menatap tajam pada dokter Nanang.


"Anda seorang dokter kan? bagaimana seorang dokter yang tahu nyawa Laras sedang terancam masih ragu untuk tanda tangan di dokumen itu. Apa karena anda takut kalau Laras akan membenci anda karena dia harus kehilangan bayinya?" tanya Dipa dengan nada rendah namun terdengar penuh penekanan.


"Kenapa anda takut hal itu, dia akan marah kalau dia masih hidup. Tapi itu lebih baik, setidaknya dia masih hidup!" tambah Dipa yang sepertinya sangat kecewa karena dokter Nanang tadi sempat ragu mengambil keputusan di saat genting.


Dipa langsung berlalu begitu saja, meninggalkan dokter Nanang yang hanya bisa menyesali tindakan bimbang nya tadi.


"Pria itu benar, seharusnya bibi tadi cepat tanda tangani dokumen itu!" sesal Indriyani juga.


"Siapa dia nak dokter?" tanya Indriyani.


"Salah satu pasien rawat inap, dia yang di rawat oleh Laras selama satu minggu ini!" jawab dokter Nanang dengan pelan.


Mendadak dokter Nanang benar-benar merasa seperti orang bodoh. Dia bahkan beberapa kali mengusap kepala dan wajahnya. Dipa yang melihat itu dari jauh hanya bisa menggelengkan kepala.


"Anak muda, kurang pengalaman. Mengambil keputusan begitu saja tidak bisa. Laras tidak mungkin tertarik padanya!" gumam Dipa lalu kembali ke kamarnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2