Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 22


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Laras dan keluarganya sudah bisa beradaptasi dengan baik di kota C. Di kampung halaman ibunya. Laras dan ibunya sedang berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Berbekal uang hasil tabungan Laras selama bekerja di minimarket dan beberapa perhiasan ibunya mereka berdua ingin memulai sebuah usaha untuk bisa menyambung hidup mereka.


Meskipun Hendro, satu-satunya orang di kota A yang masih bisa menghubungi Laras mengatakan kalau pabrik penggilingan padi itu sudah berhasil di klaim asuransi nya tapi Laras sama sekali tidak mau menyentuh sepeserpun uang itu, karena itu adalah pemberian dari Abimanyu. Laras meminta Hendro menyimpan uang itu atau menggunakannya saja untuk usahanya supaya bisa mempekerjakan warga desanya kembali.


"Kita cuma punya uang kurang dari sepuluh juta nak, kira-kira kita buka usaha apa ya?" tanya Indriyani pada Laras.


Laras pun berpikir sejenak, sebentar lagi adiknya juga harus masuk ke SMA dan pasti juga butuh uang. Jadi dia tidak bisa menggunakan semua yang itu.


"Bu, bagaimana kalau Laras cari kerja saja. Sebentar lagi kan Indra harus masuk SMA, pasti butuh biaya. Kalau uang itu kita pakai untuk modal, iya kalau dalam beberapa hari bisa balik modal? kalau tidak?" tanya Laras pada ibunya.


Dan apa yang dikatakan Laras itu juga membuat Indriyani berpikir lagi. Masalahnya adalah saat ini anaknya itu sedang hamil, Indriyani takut kalau kehamilannya akan terpengaruh kalau Laras bekerja. Karena jika dia bekerja, pasti dia akan kelelahan dan kandungannya juga pasti akan kena dampaknya.


"Kamu akan kelelahan nak!" ucap Indriyani beralasan. Dia belum mau mengatakan kehamilan Laras padanya karena takut Laras bahkan akan lebih sedih lagi dari sebelumnya dan bertambah marah lagi pada Abimanyu.


Laras lalu menggenggam erat tangan sang ibu yang ada di atas meja.


"Ibu, yang namanya kerja itu pasti lelah. Tapi kan Laras bisa istirahat setelah itu, kan bekerja juga tidak 24 jam!" bantah Laras sambil tersenyum pada ibunya.


"Lagian Laras juga butuh pengalihan Bu, kalau hanya diam di rumah Laras masih suka kesal sendiri kenapa...!"


Mendengar sang putri sudah mulai membicarakan kekesalannya, Indriyani pun menyela Laras.


"Baik, baiklah... tapi cari pekerjaannya kanan yang terlalu berat ya. Nanti ibu juga akan tanya-tanya sama Ningrum kira-kira ada tidak pekerjaan yang bisa ibu lakukan!" ucap Indriyani.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Laras pin mengangguk paham dan tersenyum senang.


Beberapa saat kemudian, Indra pun kembali. Adik Laras itu tadi pagi di ajak oleh dokter Nanang ke puskesmas. Kenapa itu bisa terjadi? hal itu karena Indra begitu penasaran dengan apa saja yang dilakukan oleh seorang dokter di puskesmas. Untung saja dokter Nanang itu orangnya sangat pengertian dan juga baik. Dia tidak keberatan Indra ikut dengannya ke puskesmas.


"Ibu, kak Laras... Indra pulang!" seru Indra yang langsung duduk di sebelah ibunya dan menyandarkan dirinya di lengan ibunya.


"Heh, sudah puas gangguin dokter Nanang?" tanya Laras dengan nada kesal.


Sesungguhnya dia sangat tidak senang dengan apa yang di lakukan Indra. Dia merasa kalau adiknya itu sedikit keterlaluan karena dengan dirinya ikut dokter Nanang, maka dokter Nanang akan terganggu pekerjaannya.


"Indra tidak mengganggu sama sekali!" jawab sebuah suara yang terdengar memasuki ruang makan.


Laras dan Indriyani langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"Kalau begitu duduk dulu nak!" lanjut Indriyani.


Dokter Nanang pun duduk dan meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Matanya langsung tertuju pada sebuah buku yang ada di dekat Laras. Cukup mudah bagi dokter Nanang untuk memahami apa yang tertulis disana, ada modal ada bahan pokok, dan ada transport, ada juga bahan lain-lain. Cukup mudah bagi dokter Nanang untuk menyimpulkan kalau Laras sedang merencanakan sebuah usaha.


"Laras mau bikin usaha?" tanya dokter Nanang yang melihat ke arah Laras yang terlihat sedang berpikir.


Laras memang tengah berpikir, dia sedang berpikir kemana dia akan mulai mencari pekerjaan. Dan pekerjaan apa yang cocok untuk lulusan SMA seperti dirinya dikira ini.


"Eh.. tadinya sih iya dok, tapi setelah dipikir-pikir, saya mau cari kerja saja!" jawab Laras yang tersadar dari lamunannya sendiri.

__ADS_1


"Oh begitu, kalau Laras mau, Laras bisa kerja di Puskesmas. Kebetulan di sana kekurangan tenaga medis!" kata dokter Nanang.


Sebenarnya mendengar hal itu Laras sangat senang dan terlihat jelas ekspresi wajah nya juga terlihat sangat antusias. Tapi setelah dipikir-pikir lagi Laras sama sekali tidak punya basic tentang ilmu medis. Dia malah takut tidak bisa bekerja dengan baik.


"Tapi dokter, aku sama sekali tidak punya basic perawat, aku rasa...!" Laras belum selesai dengan apa yang ingin dia katakan ketika dokter Nanang menyelanya.


"Tenaga medis di puskesmas tidak hanya tentang memberi obat atau memeriksa pasien, jika hanya mengganti infus atau membantu pasien mengisi data diri, Laras bisa kan?" tanya dokter Nanang menjelaskan kalau pekerjaan lain yang tidak berhubungan dengan obat dan penyakit juga ada di puskesmas.


Laras langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Dia baru tahu kalau ternyata ada hal seperti itu di puskesmas, karena memang dia tidak terlalu memperhatikan sekitar saat di puskesmas mengantar ayahnya berobat waktu itu. Dia hanya fokus pada ayahnya dan tidak memperhatikan keadaan sekeliling. Dia sampai lupa kalau dia juga dulu di bantu oleh seorang petugas saat akan mengisi data diri pasien dan juga membantunya mendapatkan bantuan BPJS untuk ayahnya ketika dia belum mengenal Abimanyu.


"Kalau begitu aku mau dokter!" kata Laras dengan penuh semangat membuat dokter Nanang juga ikut senang.


"Baiklah kalau begitu besok pagi aku akan mengajak mu ke puskesmas. Kebetulan aku juga butuh seorang asisten!" ucap dokter Nanang membuat Laras mengernyitkan keningnya.


Saat Laras tengah berpikir. Indra pun membuka suara karena cukup mengerti dengan obrolan ketiga orang di depannya itu.


"Oh aku tahu, sebenarnya dokter ingin kak Laras jadi asisten dokter ya? pantas saja tadi dokter minta orang membawakan sebuah meja di luar ruangan dokter!" ucap Indra yang membuat dokter Nanang menunduk sambil memegang keningnya.


Indriyani yang melihat dokter Nanang merasa malu pun melihat ke arah dokter itu dengan serius.


'Semoga kebaikan dokter Nanang ini tidak ada maksud lain. Karena aku yakin setelah di sakiti oleh Abimanyu seperti itu dia tidak akan mudah membuka hatinya untuk pria lain, mungkin malah tidak akan pernah!' batin Indriyani merasa sedih.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2