Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 35


__ADS_3

Setelah hampir satu jam, akhirnya Laras di pindahkan ke ruang rawat. Indriyani begitu lega ketika mendengar Laras sudah melewati masa kritisnya meskipun dia juga merasa sedih karena harus kehilangan calon cucu pertamanya.


Laras masih belum sadarkan diri, ketika dokter Nanang mendapatkan panggilan mendesak karena dan masalah yang terjadi di peternakan miliknya.


"Bi Yani, sepertinya aku harus pergi dulu. Tapi sebelum itu aku akan mengurus semua admistrasi untuk Laras. Ada urusan mendesak!" ucap dokter Nanang yang langsung di balas anggukan oleh Indriyani.


"Terimakasih banyak ya nak dokter, kalau tidak ada nak dokter tadi. Bibi tidak tahu apa yang akan terjadi pada Laras. Sekali lagi terima kasih banyak ya nak dokter!" kata Indriyani tulus.


Dokter Nanang pun segera menuju ke bagian administrasi, tapi ketika dia bertanya pada petugas bagian administrasi tentang semua administrasi Laras, petugas bagian administrasi itu malah bilang kalau semuanya sudah di bereskan oleh Dipa.


"Dipa?" tanya Dokter Nanang.


"Iya, semua sudah di selesaikan oleh tuan Dipa. Pasien yang seharusnya keluar hari ini, tapi dia minta agar bisa keluar dari sini bersamaan dengan Laras!" jelas petugas bagian administrasi pada dokter Nanang.


"Oh begitu, baiklah. Terimakasih ya!" ucap dokter Nanang


"Sama-sama dokter!" sahut petugas bagian administrasi itu pada dokter Nanang.


Nanang lalu berjalan menjauh dari bagian administrasi menuju ke mobilnya. Tapi dia masih berpikir tentang semua keterlibatan Dipa dengan Laras. Pria itu bahkan berani menandatangani surat pernyataan pertanggungjawaban untuk tindakan yang akan di lakukan pada Laras. Pria itu juga melunasi semua biaya administrasi yang jumlahnya tidak sedikit.


"Sebenarnya siapa Dipa itu? apa dia mengenal Laras sebelumnya?" tanya Nanang yang mulai terganggu dengan kehadiran Dipa di antara Laras dan juga dirinya.


Tapi karena dokter Nanang masih punya hak penting yang harus dia selesaikan. Dia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Dengan cepat dokter Nanang menuju ke mobilnya , karena anak buahnya sudah kembali menghubungi nya.


Saat jam makan siang, Dipa masuk ke dalam ruangan rawat Laras. Indriyani yang melihat Dipa masuk pun segera berdiri dari duduknya di sebelah tempat tidur pasien Laras.


"Selamat siang Bu, ku bawakan ibu makan siang. Ibu pasti belum makan siang kan?" tanya Dipa yang berusaha akrab dengan Indriyani.

__ADS_1


"Kamu yang telah mengambil keputusan untuk Laras tadi kan? terimakasih banyak nak. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada Laras, kata dokter Ivana terlambat beberapa menit saja akibatnya sangat fatal!" ucap Indriyani.


Karena memang setelah Laras di pindahkan ke ruang rawat. Dokter Ivana tadi sempat datang dan menjelaskan tentang kondisi Laras pra tindakan besar tadi. Jika terlambat beberapa menit saja maka Laras benar-benar akan celaka. Karena dia sudah banyak sekali kehilangan darah, sudah dalam kondisi anemis tingkat parah. Maka dari itu Indriyani juga sangat bersyukur ketika dirinya dan juga dokter Nanang masih bingung dan berpikir, seseorang bernama Dipa itu datang dan memberikan keputusan nya di waktu yang tepat.


"Aku hanya bertindak sesuai kebutuhan Bu. Mari aku siapkan makan siang untuk ibu...!"


"Yani, panggil saja Bu Yani!" ucap Indriyani yang langsung menghampiri Dipa.


Setidaknya dia juga harus menghargai kebaikan Dipa pada Laras tadi kan.


"Nak Dipa ini yang di rawat Laras saat shift malam kan?" tanya Indriyani mengingat apa yang tadi sempat di katakan dokter Nanang padanya.


"Iya Bu Yani. Dan seharusnya aku memang sudah keluar siang ini. Tapi karena Laras masuk kemari, aku putuskan untuk menunggu Laras saja sampai dia keluar dari sini!" jawab Dipa yang membuat Indriyani berpikir.


Melihat wanita paruh baya di depannya seperti sedang berpikir, Dipa langsung terkekeh pelan.


"Ibu Yani jangan cemas, aku kan sudah sembuh. Jadi biarkan aku yang gantian menjaga Laras. Bukankah ini juga masih harus menjaga putra bungsu ibu, adiknya Laras?" tanya Dipa.


Dan Bu Yani mengangguk. Indriyani sedikit menoleh ke arah Laras.


'Rupanya dia banyak bicara pada nak Dipa ini. Dia malah jarang mau bicara dengan dokter Nanang. Apa itu artinya dia percaya pada pria di depan ku ini?' tanya Indriyani dalam hati.


"Ibu jangan khawatir, aku bukan orang jahat. Aku juga bukan orang yang akan menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Aku hanya ingin memulai hidup baru ku disini! sebenarnya apa yang terjadi pada Laras Bu? tadi sewaktu pulang dari sini dia masih kelihatan baik-baik saja?" tanya Dipa.


Pertanyaan Dipa itu sontak saja membuat selera makan Indriyani hilang dan meletakkan sendok dan piringnya kembali ke atas meja. Melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Indriyani, Dipa tahu kalau masalah yang di hadapi Laras pasti hal yang sangat berat.


"Aku memang tidak mengenal baik Laras dan juga Bu Yani. Tapi kadang memang lebih baik menceritakan masalah pada orang yang tidak di kenal, karena akan lebih tersimpan dengan rapat!" tambah Dipa mencoba untuk membuat Indriyani percaya pada perkataan nya dan bersedia menceritakan apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


Cukup lama Indriyani diam, tapi dia memang sudah merasa sangat terbebani dengan semua masalah ini. Dia sudah berusaha mengikhlaskan apa yang di perbuat Rahma pada keluarganya, tapi memang sepertinya wanita itu bukan manusia. Dia sangat kejam.


"Sahabat baik Laras meninggal!" ucap Indriyani memulai perkataan nya dengan suara yang lemah.


"Oh, aku turut berduka cita Bu!" sela Dipa yang menyampaikan belasungkawa nya.


"Wulan adalah sahabat baik Laras, selalu ada di saat suka maupun suka bersama Laras. Tapi pagi ini kami mendengar dia meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan. Laras langsung syok, dia terus berteriak-teriak memaki wanita yang telah menyebabkan kematian Laras dan ayahnya hingga dia...!" Indriyani menjeda kalimatnya karena air matanya mengalir deras.


Dipa yang melihat Yani begitu sedih jadi merasa tidak enak hati karena sudah menyebabkan wanita paruh baya itu kembali sedih.


"Semua ini karena pria itu, dia yang menipu Laras. Karena dia, kami semua harus pergi dan membuat orang yang dekat dengan kami ikut menderita!" lanjut Indriyani dengan air mata yang masih berderai.


"Siapa bu?" tanya Dipa penasaran.


"Suami Laras, Abimanyu Mahendra. Dia menipu Laras dia bilang dia belum menikah saat menikahi Laras tapi ternyata dia sudah punya anak dan istri, sejak saat itulah ibu mertua Abimanyu itu selalu membuat kehidupan Laras tidak tenang!" jelas Indriyani sesegukan hingga kurang terdengar jelas di telinga Dipa.


"Siapa nama suami Laras Bu?" tanya Dipa memastikan.


"Abimanyu Mahendra!" jawab Indriyani yang sepertinya sangat tidak suka menyebutkan nama pria itu.


Mata Dipa melebar, dia begitu terkejut.


'Abimanyu Mahendra, Abi. Bukankah dia suami Sarah. Jadi apa maksudnya yang telah menghancurkan keluarga Laras dan melenyapkan teman Laras itu adalah ibu mertua. Oh... dia memang bisa melakukan itu, dia memang kejam!' batin Dipa.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2