
Beberapa hari telah berlalu, Abimanyu benar-benar cemas ketika mengetahui ponselnya yang dia berikan pada sekertaris nya untuk di perbaiki malah di curi orang. Sekertaris nya itu bahkan saat sedang dalam keadaan yang sangat buruk di rumah sakit akibat pencurian ponsel milik Abimanyu itu.
Abimanyu sangat panik, sebab dia bahkan lupa mengambil SIM card yang ada di dalam ponsel itu sebelum memberikannya pada sekertaris nya itu untuk di perbaiki. Sedangkan nomer ponsel Laras hanya tersimpan di ponsel itu dan di sim card ponsel yang telah hilang di curi orang itu.
Tanpa Abimanyu ketahui kalau ternyata dalang di balik pencurian ponsel itu juga adalah istri dan mertuanya sendiri, Sarah dan juga Rahma.
Sore hari ketika Sarah sudah di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Rahma menemuinya.
"Dimana suami mu?" tanya Rahma pada sanga anak yang sedang merapikan riasannya.
"Mas Abi bilang dia ada meeting penting, dia bilang setengah jam lagi akan datang!" jawab Sarah.
"Sepertinya hubungan mu dengannya sudah membaik ya?" tanya Rahma lagi.
Sarah langsung meletakkan cermin berukuran sedang berbentuk bundar yang dia pegang.
"Heh, seperti itulah Bu. Aku harus terus berpura-pura sakit, memegangi perut dan meringis agar dia tidak melamunkan wanita kampungan itu!" keluh Sarah yang terlihat sangat kesal.
Rahma langsung merangkul putrinya itu dan duduk di belakang Rahma.
"Mulai sekarang kamu tenang saja, cukup gunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk terus merayu suami mu agar semakin dekat padamu. Ibu sudah menjalankan semua rencananya, kamu tahu bahkan ibu sudah membayar beberapa warga di desa itu untuk mengusir wanita itu dari sana. Dan rencana ibu itu telah berhasil, ibu juga sudah menyiapkan rencana lain agar suamimu percaya kalau wanita itu dan keluarganya sudah mati, ibu bahkan sudah siapkan tiga makam palsu...!"
Tapi saat Rahma mengatakan tiga makam palsu, Sarah langsung menoleh ke arah Rahma.
"Apa maksud ibu tiga makam palsu? bukankah seharusnya empat?" tanya Sarah bingung. Karena setahu dirinya jumlah anggota keluarga wanita yang telah merebut suaminya itu ada empat orang.
Rahma langsung melepas rangkulannya dari Sarah.
"Ayah wanita itu benar-benar meninggal, ibu dengar itu dari anak buah ibu!"
__ADS_1
Wajah Sarah sangat terkejut, dua langsung berbalik menghadap ke arah ibunya.
"Ibu membunuhnya?" tanya Sarah dengan suara yang lumayan keras.
Rahma langsung membekap mulut Sarah dengan cepat dan melotot pada putri bungsunya itu.
"Jaga mulut mu! kamu mau ibumu ini mendapatkan masalah karena ucapan mu barusan?" tanya Rahma kesal pada anaknya.
Sarah langsung menggelengkan kepalanya dan Rahma pun melepaskan bekapan tangannya dari mulut Sarah.
"Ibu tidak tahu kalau ayah wanita kampung itu sampai meninggal, ibu hanya ingin membuatnya malu dan memberinya pelajaran saja!" jelas Rahma dan Sarah pun mengangguk paham.
Sebenarnya dalam pikiran Sarah kalau pun ibunya memang membunuh ayah wanita yang telah merebut suaminya itu, Sarah juga akan percaya, karena yang dia tahu ibunya akan melakukan apapun agar Abimanyu tidak menceraikan dirinya.
"Masalah wanita kampung itu akan selesai beberapa saat lagi, ibu yakin Abimanyu akan segera pergi ke sana. Saat itu kamu harus bersikap seperti wanita yang benar-benar sudah bisa merelakan suami mu untuk wanita lain, buat Abimanyu berpikir kalau kamu sudah berubah dan bukan lagi Sarah yang egois dan manja mengerti!" seru Rahma pada Sarah, dan langsung di balas dengan anggukan paham oleh Sarah.
Dan benar saja, setengah jam kemudian Abimanyu datang untuk menjemput Sarah. Rahma juga ikut mengantarkan putrinya itu kembali ke rumah suaminya. Di perjalanan pulang Sarah terus menanyakan tentang Cindy pada Abimanyu.
Tadinya Sarah membuat riasannya lumayan tebal, tapi sang ibu menghapus riasan Sarah dan menggantinya dengan riasan yang lebih pucat.
Sarah sempat protes, karena dia tidak pernah suka riasan yang biasa. Tapi karena Rahma menjelaskan kalau semua ini akan membuat rumah tangganya dengan Abimanyu bertahan maka Sarah menuruti ibunya.
Abimanyu yang melihat Sarah tetap pucat meskipun dokter Rusdi sudah mengijinkannya pulang tidak langsung menjawab pertanyaan Sarah, tapi dia malah bertanya pada Sarah.
"Sarah, sebenarnya kamu terlihat belum sehat. Apa tidak sebaiknya kamu di rawat lebih lama lagi?" tanya Abimanyu yang khawatir melihat kondisi Sarah.
'Heh, bagus sekali. Abimanyu benar-benar merasa bersalah dan perduli pada Sarah. Untung saja Rusdi bisa menangani semuanya karena rumah sakit itu akulah salah satu pemilik saham terbesarnya, kalau tidak hari ini pasti Sarah yang menangis dan bukan perempuan kampung itu!' batin Rahma puas pada rencananya.
Sarah langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Tidak mas, waktu ku mungkin... hiks.. hiks sudah tidak lama lagi. Aku hanya ingin bersama mu dan Cindy... hiks...!" Sarah pun berkata seperti itu sambil menangis.
'Wah, ini juga usaha luar biasa darinya, biasanya dia tidak bisa menangis secepat itu, bagus Sarah, semua sandiwara ini akan semakin sempurna ke depannya!' batin Rahma lagi.
Dia senang karena Sarah sekarang sudah bisa menangis dengan cepat dan bisa berakting menjadi wanita yang sangat lemah.
Abimanyu langsung memeluk Sarah, dia benar-benar merasa sedih dan sangat bersalah. Yang ada dipikiran Abimanyu saat ini juga adalah Cindy. Dia akan sangat kasihan kalau tahu waktu yang dia miliki untuk bersama dengan ibu kandungnya bahkan kurang dari setahun lagi.
Setelah tiba di rumah, Abimanyu membantu Sarah berjalan menuju ke kamarnya. Rahma sangat senang melihat Abimanyu yang sangat perhatian pada Sarah. Kalau dulu dia bahkan enggan menggandeng Sarah, kini kemana-mana Abimanyu memapah Sarah.
"Mas, terimakasih banyak!" ucap Sarah lembut.
Abimanyu lalu membantu meletakkan pakaian Sarah di dalam lemari.
"Mas sudah terlalu lama disini, apakah Laras tidak akan...!" Sarah menjeda ucapannya.
Abimanyu yang tadinya meletakkan pakaian Sarah di lemari juga langsung terdiam. Ketika Abimanyu melihat ke arah Sarah, wanita itu menunduk sedih. Tapi tak lama dia langsung melihat ke arah Abimanyu dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah pulang ke rumah, sebentar lagi Cindy juga akan datang bersama dengan ibu mertua. Ada ibu ku juga disini yang akan menjagaku. Jadi mas bisa pergi untuk menemui Laras, aku tahu mas pasti sangat merindukannya kan?" tanya Sarah berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
Abimanyu benar-benar dibuat takjub dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Laras. Wanita yang biasanya sangat egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri bisa berkata seperti itu, Abimanyu sungguh tidak percaya pada semua itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Abimanyu yang sebenarnya memang sangat merindukan Laras.
Sarah lalu mengangguk perlahan.
"Iya mas, pergilah. Aku akan katakan pada ibu. Kalau mas ada pekerjaan penting!" tambahnya lagi semakin membuat Abimanyu tak percaya kalau wanita dihadapan nya ini adalah Sarah Amalia, istrinya.
***
__ADS_1
Bersambung...