
Abimanyu masih terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari dokter Rusdi tentang penyakit yang diderita oleh Sarah. Meskipun dia memang sudah tidak mempunyai perasaan apapun pada Sarah dan memang sejak awal dia memang tidak mempunyai perasaan kepada wanita yang telah menjadi istrinya selama 7 tahun itu.
Abimanyu bukannya tidak berusaha untuk mencintai Sarah namun tetap saja ketika dia berusaha maka Sarah akan membuatnya merasa kalau usahanya sia-sia. Awal pernikahan Abimanyu selalu berusaha untuk membahagiakan Sarah menurut semua keinginan wanita itu dan pada saat itu Sarah pun bersikap baik.
Namun semakin lama Abimanyu semakin kehilangan ketertarikannya kepada Sarah. Tapi setelah mendengar penyakit yang diderita oleh Sarah, Abimanyu bahkan menangis. Bagaimana pun juga Sarah adalah ibu dari anak yang sangat dicintai yaitu Cindy.
Dan waktu tujuh tahun itu tidaklah singkat untuk hanya sekedar dihargai.
"Apa benar-benar tidak ada cara untuk menyelamatkan Sarah dokter? aku akan keluarkan berapa pun agar Sarah bisa sembuh. Aku akan membawa Sarah ke rumah sakit manapun yang bisa menyembuhkannya?" tanya Abimanyu pada dokter Rusdi.
Dokter Rusdi tak perlu menunggu waktu lama untuk langsung menggelengkan kepalanya dengan yakin.
"Maaf tuan Abimanyu, menurut hasil laporan medis dan pemeriksaan menyeluruh, nyonya Sarah sudah tidak bisa diobati lagi. Saya benar-benar mohon maaf!" ucap Dokter Rusdi.
Langkah Abimanyu terlihat gontai saat berjalan keluar dari ruangan dokter Rusdi. Dia benar-benar syok karena dokter Rusdi mengatakan kepadanya bahwa percuma saja membawa Sarah keluar negeri atau ke rumah sakit manapun karena hasilnya aku tetap sama. Abimanyu juga sebenarnya tahu kalau penyakit kanker rahim stadium akhir itu memang sangat sulit diobati. Tapi dia masih berusaha seandainya saja ada cara untuk menyembuhkan Sarah.
Rahma yang melihat Abimanyu keluar dari ruangan dokter Rusdi pun segera menghampiri menantunya itu dan bertanya.
"Apa yang dikatakan oleh dokter, Abi?" tanya Rahma yang ekspresi wajahnya terlihat begitu panik dan sangat menjelaskan keadaan putrinya.
Abimanyu yang melihat mertuanya itu terlihat sangat cemas pun ragu untuk mengatakan kebenarannya kepada sang ibu mertua.
Melihat Abimanyu lama sekali memberikan jawaban kepadanya, Rahma pun berkata.
"Ada apa Abi? apa mungkin Sarah sudah tidak bisa tertolong..?" tanya Rahma lirih dengan isakan tangsi yang kembali terdengar dan membuat Abimanyu semakin merasa menyesal dan sedih.
__ADS_1
Penyesalan Abimanyu adalah karena dia tidak mengetahui penyakit istrinya itu padahal istrinya sudah mengidap penyakit itu selama bertahun-tahun. Dan kesedihannya adalah karena dia sudah mengatakan kata-kata yang menyakiti perasaan istrinya itu sebelum Sarah pingsan.
Abimanyu dalam merangkul dengan ibu mertuanya dan mengajaknya untuk duduk di kursi besi yang berada tidak jauh dari ruang dokter Rusdi.
"Ibu, dokter Rusdi bilang kalau umur Sarah sudah tidak lama lagi, dia mungkin hanya bisa bertahan antara 7 sampai 8 bulan lagi!" lirih Abimanyu.
"Sarah!" lirih Rahma dengan tangis yang membanjiri wajahnya.
Abimanyu bertambah sedih mendengar ucapan lirih dari sang ibu mertua dan juga Isa akan tangis yang begitu menyayat perasaannya.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat menghampiri mereka dan mengatakan kalau Sarah sudah dipindahkan di ruang rawat. Abimanyu dan ibu mertuanya langsung berjalan mengikuti perawat itu menuju ke ruang rawat di mana Sarah berada.
Saat mereka berdua masuk ke dalam ruang rawat mereka berdua melihat kalau Sarah masih belum sadarkan diri. Rahma langsung berlari dan memeluk putrinya itu sambil terus menangis sesegukan.
Beberapa saat kemudian Rahma pamit pulang untuk mengambil semua keperluan Sarah. Dan Abimanyu yang menggantikan posisi ibu mertuanya untuk menunggu Sarah sadar. Abimanyu duduk di sisi sebelah kanan tempat tidur pasien Sarah. Dia melihat ke arah Sarah yang menutup rapat matanya, dengan berbagai alat medis yang tertempel di tubuhnya.
Abimanyu berpikir sejenak lalu berkata sambil memegang telapak tangan Sarah dan sedikit menggenggamnya.
"Aku sudah putuskan Sarah, aku akan menemani mu di sisa hidupmu!" ucap Abimanyu yang kembali meneteskan setetes air mata dari sudut matanya.
Sementara itu di kota A. Laras yang tengah menyeduh teh hijau untuk sang ayah tiba-tiba merasa terkejut karena cangkir yang dia pakai untuk menyeduh teh yang akan diberikan kepada ayahnya tiba-tiba saja retak dan pecah menjadi dua. Untung saja dia belum mengangkat cangkir itu, jika tidak pasti tangannya akan terluka terkena pecahan cangkir atau bahkan terkena tumpahan air panas.
Deg
Perasaan Laras pun menjadi sangat tidak tenang, ada yang mengganjal di hatinya dan itu membuatnya merasakan sesak di dadanya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Laras sambil bergumam.
Indriyani yang mendengar suara gelas pecah pun langsung menghampiri putrinya dan ketika melihat cangkir yang ada di depan Laras terbelah menjadi dua, Indriyani langsung mendekati Laras dan memeriksa tangan putrinya itu.
"Laras, kamu tidak apa-apa?" tanya Indriyani terlihat sangat khawatir pada putrinya takut-takut kalau Laras terkena air panas atau serpihan cangkir.
Laras yang tersadar dari lamunannya karena sang Ibu memegang tangannya pun segera melihat ke arah sang ibu.
"Oh, tidak apa-apa bu. Untung saja aku belum mengangkatnya, tapi ini pertanda apa ya Bu?" tanya Laras yang pernah mendengar beberapa hal tentang firasat. Kalau sedang menyeduh sesuatu dan gelas yang kita pakai pecah dan retak itu adalah pertanda buruk.
Indriyani yang juga menyadari akan bertanda itu pun diam sejenak. Tapi dia juga tidak mau kalau melihat putrinya itu menjadi stress dan kepikiran karena hal itu. Indriyani langsung mengusap bahu Laras dan berkata.
"Tidak apa-apa, mungkin tadi itu airnya terlalu panas, dan cangkir yang kamu pakai itu kan sudah lama, pasti karena cangkirnya menjadi tipis dan terkena air panas lalu pecah. Sudah... sudah jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kamu istirahat saja. Biar ibu yang buat teh untuk ayahmu!" ucap Indriyani yang langsung dibalas anggukan oleh Laras.
Laras pun pergi kembali ke kamarnya, dan setelah melihat Laras pergi Indriyani baru mulai berpikir lagi sambil membereskan cangkir yang pecah tadi.
"Ada apa ya? ah... semoga semua baik-baik saja!" ucapnya lalu membuatkan teh hijau untuk suaminya.
Sementara di dalam kamarnya, Laras segera meraih ponselnya dan memeriksanya. Dia sangat berharap kalau Abimanyu segera memberikan kabar padanya atau sekedar mengirimkannya pesan kalau dia sudah sampai di kota B. Tapi ternyata tidak ada pesan dari Abimanyu satu pun dan juga tidak ada panggilan dari suaminya itu.
"Mas, aku harap semua baik-baik saja!" gumam Laras sambil memeluk ponselnya yang di gambar wallpaper nya ada gambar pernikahan nya dengan Abimanyu.
***
Bersambung...
__ADS_1