
"Aku akan membantumu, aku akan berdiri di sampingmu menghadapi keluarga Wijaya!" ucap Dipa yang membuat Laras menghela nafasnya panjang.
"Bukankah itu keluarga istrimu, kenapa kamu malah mau membantuku menghancurkan mereka?" tanya Laras.
"Bukankah aku juga sudah bilang padamu, aku sudah jenuh, sangat jenuh menjadi boneka mereka. Dulu aku diam, karena aku tidak mampu. Selama sepuluh tahun ini aku sudah mengumpulkan semua kekuatan yang akan membuatku mampu melawan mereka, karena itu aku akan membantumu!" jawab Dipa.
"Kamu tidak akan mengkhianati ku?" tanya Laras yang masih sulit untuk percaya seratus persen pada Dipa karena memang mereka baru mengenal lebih dari satu minggu.
"Aku janji aku tidak akan mengkhianati mu, aku tidak akan meninggalkan mu!" ucap Dipa yang terdengar seperti sebuah ikrar di telinga Laras.
Laras pun menatap ke arah Dipa yang juga dengan menatapnya.
"Baiklah, katakan apa rencana nya?" tanya Laras.
Dipa tersenyum dan menjelaskan semua rencana yang sudah dia pikirkan sebelumnya. Rencana Dipa adalah membawa Laras langsung ke hadapan Abimanyu. Dengan demikian setidaknya Rahma dan Sarah akan merasa sangat terganggu dengan hal itu. Dan saat itulah Dipa akan mengumpulkan bukti untuk membongkar semua sandiwara Rahma dan juga Sarah.
"Langsung berhadapan dengan pria itu?" tanya Laras yang masih sangat sulit untuk bisa bertatap muka dengan Abimanyu. Laras merasa sangat benci pada pria itu. Dia tidak bisa bayangkan apa yang akan dia lakukan saat dirinya bertemu dengan Abimanyu nanti.
"Iya, dan saat itu kamu harus bisa bersikap seperti Laras yang dulu, Laras yang begitu lembut, perhatian dan tidak berdaya. Bukankah itu yang Abimanyu sukai darimu?" tanya Dipa membuat Laras mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Lalu?" tanya Laras yang sudah mulai sangat kesal.
"Apalagi? buat dia meninggalkan Sarah! Dengan begitu artinya kamu sudah melakukan pembalasan pertama mu. Setelah Sarah hancur, semua keputusan ada di tanganmu kamu mau kembali pada Abimanyu atau meninggalkan nya!" jelas Dipa.
"Kembali padanya? aku pasti sudah tidak waras kalau aku melakukan hal itu!" sahut Laras yang membuat Dipa tersenyum diam-diam.
***
Sementara itu di peternakan miliknya. Dokter Nanang masih berusaha menyelamatkan ternaknya yang bisa di selamatkan. Meskipun separuh dari ternaknya mati, tapi dokter Nanang tetap berusaha untuk bersikap tenang.
"Dokter, semua sudah di periksa? makanan, rumput, semuanya aman. Mungkinkah ini memang penyakit yang disebabkan penyakit atau semacamnya dok?" tanya pengurus peternakan.
__ADS_1
"Entahlah pak Toni, aku juga sedang menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium!" sahut dokter Nanang.
Tapi kemudian saat mata dokter Nanang melihat ke sebuah arah. Ada seseorang yang seperti sedang memperhatikan mereka di balik tembok pembatas antara kandang ternak dengan gudang.
Tapi dokter Nanang tidak langsung memberikan respon yang berlebihan, dokter Nanang memilih mengambil ponselnya dari sakunya.
"Aku akan coba menghubungi teman ku yang di laboratorium dulu pak Toni!" ucap dokter Nanang.
Dokter Nanang pun menggunakan ponselnya tapi bukan mencari aplikasi telepon. Dia sedang menggunakan aplikasi kameranya. Dia menggunakan kamera jarak jauh, hingga memperbesar wajah orang yang sedang mengintip dari arah tembok. Mata dokter Nanang melebar ketika mengetahui siapa pria mencurigakan itu.
'Itu kan pak Asep, bukankah dia supirnya Kanaya?' tanya dokter Nanang dalam hati.
"Pak Toni, sinyal ku bermasalah sepertinya. Aku akan ke depan dulu dan coba menghubungi temanku lagi!" seru dokter Nanang yang langsung berpura-pura berjalan ke arah depan.
Tapi tanpa sepengetahuan semua orang, sebenarnya dokter Nanang sedang bergerak dengan penuh hati-hati menuju ke arah belakang kandang ternak. Dia begitu penasaran sebenarnya apa yang dilakukan oleh supir Kanaya itu. Dan benar saja ketika dokter Nanang masih menggunakan kamera jarak jauhnya, dia melihat supir Kanaya itu menuangkan satu botol ukuran sedang cairan berwarna putih ke dalam tempat penampungan air minum yang baru saja di ganti oleh pegawai peternakan.
Sebagai seorang dokter, Nanang cukup mengerti apa yang sedang dilakukan oleh pak Asep itu. Dia pun menyimpan kembali ponselnya setelah selesai menyimpan rekaman yang sudah dia ambil barusan dengan ponselnya.
"Pak Asep!" teriak dokter Nanang yang langsung membuat pak Asep pun kaget dan tanpa berbalik berusaha untuk lari dengan sangat cepat secepat yang dia mampu ke arah gerbang yang ada di samping peternakan.
Gerbang yang sudah lama tidak digunakan. Dan sudah di gembok.
Dokter Nanang tetap mengejar pak Asep, sementara pak Toni yang mendengar teriakkan dokter Nanang juga langsung mengajak beberapa pegawai peternakan untuk melihat ke arah sumber suara.
"Bedu, Ujang, ayo kita lihat ke sana, aku dengar pak dokter berteriak!" seru pak Toni dan kedua anak buahnya langsung berlari mengikutinya dari arah belakang.
Pak Asep sudah tua jadi larinya pun sangat kalah cepat jika di bandingkan dengan dokter Nanang. Dan pada akhirnya tanpa perlawanan, pak Asep berhasil di tangkap oleh dokter Nanang.
"Apa yang sudah pak Asep tuang di bak penampungan air minum untuk ternak? katakan!" teriak dokter Nanang yang sangat geram pada perbuatan Pak Asep.
"Ampun pak dokter, saya hanya di suruh. Nona Kanaya yang sudah menyuruh saya menuang cairan racun itu ke sana, kalau tidak dia akan memecat saya pak dokter!" ucap pak Asep yang juga sempat di rekam kembali oleh dokter Nanang.
__ADS_1
Setelah pak Toni datang, dokter Nanang menyerahkan pak Asep pada pak Toni agar segera di laporkan kepada pihak berwajib. Karena apa yang dilakukan pak Asep sudah sangat merugikan dokter Nanang.
Selanjutnya dokter Nanang meminta para pegawainya untuk menguras kembali dan mensterilkan bak penampungan air minum untuk hewan ternak yang sudah di tuangi racun oleh pak Asep.
"Jadi inilah penyebabnya kita tidak menemukan hal aneh, sebab bak itu setiap dua jam sekali di ganti airnya!" ucap pak Toni.
"Benar pak, sekarang pak Toni harus lebih waspada lagi ya. Perbanyak CCtv yang dipasang. Nanti semua biayanya di hitung dan di kirimkan padaku ya!" seru dokter Nanang.
"Baik pak dokter!" jawab pak Toni.
Dokter Nanang yang sudah terlanjur mengalami banyak sekali kerugian pun segera mengurus masalah ini dan melaporkan nya pada pihak berwajib. Dia juga sudah punya cukup bukti.
Pak Toni juga sudah membereskan rumah tinggal di peternakan yang memang biasa di pakai untuk menginap oleh dokter Nanang. Tapi baru saja akan memejamkan matanya untuk beristirahat, ponsel dokter Nanang berdering.
Mata dokter Nanang terlihat malas ketika melihat siapa yang telah memanggilnya melalui telepon.
"Nanang, tolong aku. Aku tidak mau di penjara! tolong cabut tuntutan mu padaku. Aku mohon... hiks hiks..!" ucap Kanaya dari seberang sana dengan isakan tangis yang terdengar begitu memilukan.
Tapi dokter Nanang sama sekali tidak merasa kasihan pada teman sejak kecilnya itu.
"Aku minta maaf Kanaya, tapi setiap perbuatan itu akan ada konsekuensinya...!"
"Kenapa Nanang? kenapa kamu begitu kejam padaku? apa kamu tahu kenapa aku melakukan semua itu, sewaktu kamu susah dulu kamu begitu dekat dengan ku, aku hanya ingin kamu kembali hidup susah agar kamu dan keluargamu bergantung lagi padaku dan keluarga ku!" jelas Kanaya kenapa melakukan semua itu pada dokter Nanang.
Dokter Nanang hanya bisa menghela nafas panjang.
"Maaf Kanaya, tapi yang kamu lakukan itu salah. Dan aku tidak pernah mendukung sesuatu yang salah!" ucap dokter Nanang yang langsung menutup panggilan telepon dan menonaktifkan ponselnya.
***
Bersambung....
__ADS_1