Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 44


__ADS_3

Laras yang sudah berganti pakaian dan membersihkan dirinya pun keluar dari kamarnya menuju ke arah balkon yang hanya berbatas dinding kaca dari kamarnya.


Malam yang begitu sunyi, bahkan langit juga tampak sangat gelap. Tidak ada satu bintang pun menghiasinya. Dan rembulan juga entah kemana, hingga tak tampak sama sekali walaupun hanya bayangannya saja.


Hati Laras campur aduk rasanya malam ini. Setelah bertemu dengan Abimanyu dia memang sangat kesal dan ingin sekali melampiaskan segenap sakit hati yang ada di hatinya. Tapi begitu dia menatap mata Abimanyu yang berkaca-kaca dan penuh dengan kesedihan. Laras rasanya ingin pergi saja, dan melupakan semua dendamnya. Dia ingin menghukum Abimanyu dengan kepergiannya. Tapi Laras kembali menghela nafas berat ketika mengingat kata-kata Hendro tentang apa yang terjadi pada Wulan dan kedua orang tuanya.


Laras menggenggam erat pagar besi pembatas yang ada di balkon kamar hotelnya.


"Tidak Laras, semua harus mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jangan lemah hanya karena mata itu, mata yang sudah membuatmu jatuh cinta dan mempercayai pria itu melebihi dirimu sendiri. Tapi kenyataannya, mata itu adalah mata seorang penipu. Penyebab kehancuran keluarga dan juga kematian sahabat terbaikmu, ayo Laras.. jangan goyah!" ucap Laras pada dirinya sendiri.


Laras meyakinkan dirinya agar tidak terpengaruh dengan apapun perkataan dan sikap Abimanyu nanti. Tanpa terasa langit benar-benar menurunkan salah satu berkahnya, hujan yang di awali dengan gerimis yang langsung turun dengan deras membuat Laras langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.


"Heh, tiba-tiba saja hujan!" gumam Laras.


Laras yang memang sudah mengenakan baju tidur pun bersiap untuk beristirahat. Namun baru akan matikan lampu meja yang ada di samping tempat tidur nya. Ponsel Laras berdering. Laras segera mengangkat telepon itu, yang ternyata dari Dipa.


"Halo tuan Dipa" sapa Laras.


"Bisakah kamu panggil aku Dipa saja?" tanya Dipa.


"Iya Dipa ada apa?" tanya Laras yang segera menuruti permintaan Dipa untuk hanya memanggilnya dengan nama saja.


"Turunlah ke lantai satu, Abimanyu sedang duduk sendirian di halte yang ada di samping hotel. Dia kehujanan, karena dia duduk tidak di haltenya, tapi di depan halte yang tidak ada atapnya. Bawa payung, aku tidak mau kamu sakit!" ucap Dipa yang langsung memutuskan panggilan telepon.


Laras hanya bisa menghela nafas sangat panjang. Dia tahu apa yang di inginkan Dipa, Laras ingin agar Abimanyu tertarik padanya meskipun bukan sebagai Laras.


Laras pun turun dari tempat tidurnya, dia berganti pakaian. Karena tidak mungkin dia berkeliaran di malam yang larut begini dengan baju tidur. Setelah memakai jaket dan celana panjang, Laras meminta pada petugas hotel untuk meminjamkannya sebuah payung.


"Maaf nona, tapi di luar sedang hujan deras, apa yang anda butuhkan? kamu bisa mencarikan nya untuk nona!" tawar petugas hotel yang memang ingin melayani para tamu nya dengan baik.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku hanya butuh payung saja. Aku mau cari supir ku yang pergi membeli keperluan ku tapi sampai sekarang belum kembali!" alasan Laras pada petugas hotel.


Setelah mendengar penjelasan Laras, petugas hotel itu pun langsung mengangguk dan mengambilkan sebuah payung untuk Laras.


Setelah mendapatkan payung, Laras pun pergi mencari Abimanyu. Saat Laras melihat Abimanyu yang sedang duduk di depan halte dengan menundukkan kepalanya dan dengan keadaan yang sudah basah kuyup, Laras menghela nafasnya berat.


'Kamu memang suka menyakiti dirimu sendiri mas!' batin Laras dalam hati.


Laras lalu melihat ke sekeliling, kebetulan sekali tidak jauh dari tempatnya berada ada penjual jagung bakar, jadi dia memutuskan membeli jagung bakar itu. Setelah membeli dua buah, Laras langsung berjalan ke arah Abimanyu yang masih dalam posisinya semula. Tidak bergeser satu inci pun.


Laras langsung berdiri di dekat Abi, dan secara otomatis. Payung yang dipakai oleh Laras juga melindungi Abimanyu dari air hujan yang turun.


Merasa air hujan tidak lagi terjatuh di kepalanya dan merasa ada yang berdiri di sampingnya, Abu lantas mendongak ke atas melihat siapa yang sudah memayunginya.


"Laras!" panggil Abi dengan ekspresi yang begitu sedih.


Laras hanya memasang ekspresi biasa.


Abimanyu kembali menundukkan kepalanya. Dia sangat kecewa. Memang sepertinya wanita yang dia kira Laras itu memang bukan Laras. Tapi hati kecilnya sejak tadi menolak itu, hati kecil Abi yakin kalau wanita yang berdiri di dekatnya itu adalah Laras, istri yang sangat dia cintai.


"Mau ku bantu untuk menghubungi supir atau keluarga tuan?" tanya Laras yang merasa kalau Abimanyu lebih lama di sini maka dia akan sakit.


Tapi Abimanyu masih diam.


"Tuan...!" panggil Laras lagi.


Brukk


Abimanyu langsung tumbang, dia tergelatak di lantai dengan lumayan keras. Mata Laras langsung melebar, dengan cepat dia menelpon Dipa.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Dipa.


"Dipa, dia pingsan. Mungkin karena terlalu lama terkena hujan. Apa yang harus ku lakukan? apa aku hubungi ambulans saja?" tanya Laras pada Dipa.


"Jangan Laras, tunggu aku sebentar. Aku dan anak buah ku akan ke sana!" seru Dipa yang langsung memutuskan panggilan telepon.


Laras pun menunggu Dipa datang, sambil melihat ke sekeliling Laras pun berpikir, kehidupan di kota besar malah seperti ini. Saat ada yang pingsan di pinggir jalan, mereka yang lalu lalang dengan kendaraan malah tak perduli sama sekali. Berbeda sekali dengan di desa, kalau ada yang pingsan seperti ini, pasti sudah heboh dan banyak orang yang datang membantu. Tapi itu dulu sebelum wanita kejam bernama Rahma membuat warga desa resah dan membuat keributan di desa.


Tak lama kemudian dia anak buah Dipa dan Dipa sendiri datang menghampiri Laras.


Dipa yang memakai payung meminta dua nak buahnya yang hujan-hujanan untuk membawa Dipa ke kamar Laras.


Mendengar Dipa memerintahkan anak buahnya membawa Abimanyu ke kamarnya Laras merasa tidak senang.


"Kenapa harus ke kamar ku?" tanya Laras yang tidak mau kalau Abimanyu di bawa ke kamarnya.


"Kalau bukan ke kamar mu, lantas harus kau bawa kemana? ke rumah istri pertamanya. Kalau seperti itu, dia tidak akan jatuh cinta pada Indriyana!" balas Dipa.


Meski kesal Laras hanya bisa membuatkan Dipa dan rencana itu. Karena bagaimana pun dia juga harus membuat Sarah merasakan sakit hati karena suaminya kembali di rebut oleh wanita lain.


Setibanya di kamar Laras, Dipa meminta anak buahnya untuk pergi.


"Sudah ya, jaga dia dengan baik. Ganti pakaian nya jika tidak dia tidak akan cepat sadar!" seru Dipa membuat mata Laras membelalak tak percaya.


"Maksudmu aku yang harus membuka pakaiannya?" tanya Laras.


"Iya, kalau aku yang buka. Dia akan jatuh cinta padaku, bukan padamu!" ucap Dipa yang langsung pergi meninggalkan kamar Laras.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2