Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 19


__ADS_3

Indra terlihat terus menangis melihat Lars tak kunjung sadarkan diri.


"Bu, bagaimana kalau kak Laras juga meninggalkan kita seperti ayah Bu?" tanya Indra membuat Indriyani langsung memeluk putra bungsunya itu.


"Ssst... Indra kamu bicara apa? gak boleh bicara seperti itu. Kak Laras pasti baik-baik saja! jangan bicara begitu ya!" ucap Indriyani yang terus melihat ke arah Laras yang masih memejamkan matanya.


Indriyani dalam hatinya juga merasa sangat cemas. Apa yang dialami Laras beberapa waktu ini bukanlah hal yang mudah. Sebagai wanita dia juga bisa merasakan penderitaan dari putrinya itu, di bohongi mentah-mentah oleh Abimanyu, di janjikan untuk di pilih dan menceraikan istri pertama nya, tapi kenyataannya malah dia mendengar sendiri suara Abimanyu yang mengatakan tidak akan pernah menceraikan istri pertama nya dan tidak akan membawa Laras pada kedua orang tua Abimanyu, belum lagi kematian ayahnya karena berita itu. Bahkan sebelum ayahnya meninggal, ayahnya terlihat sangat kecewa pada Laras. Hati Laras pasti sangat pilu, sedih dan hancur saat ini.


Indriyani juga takut kalau kondisi ini membuat Laras menjadi lemah dan berakibat pada kesehatan putrinya itu. Indriyani bahkan tak sanggup membendung lagi air matanya.


Tak lama Ningrum kembali bersama dengan seorang pemuda tampan yang umurnya mungkin sekitar 25 tahunan berpakaian sangat rapi dan memakai kacamata. Sebuah tas yang dia pegang lalu dia letakkan di atas meja dan meraih sesuatu di dalamnya. Sebuah stetoskop.


"Yani, ini Nanang. Dia akan memeriksa Laras!" ucap Ningrum yang langsung di balas anggukan kepala cepat oleh Indriyani setelah menyeka air matanya.


Mata dokter Nanang melebar ketika merasakan detak jantung Laras. Dia kemudian memeriksa denyut nadi Laras. Dan akhirnya dia menoleh ke arah Indriyani dan berkata.


"Apa dia sudah menikah?" tanya Nanang pada Indriyani.


Indriyani yang mendengar pertanyaan itu langsung melepas rangkulannya dari Indra.


"Sudah dokter, ada apa?" tanya Indriyani yang mulai terlihat cemas.


"Oh, kalau begitu suaminya pasti akan sangat senang...!"


"Tapi suaminya sudah mati dokter!" sela Indriyani dengan ketus.


"Bu...!" sambung Indra yang bingung dengan jawaban ibunya.


"Suami kakakmu sudah mati Indra, apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Laras sebelum kita naik kereta?" tanya Indriyani membuat Indra diam dan menunduk sedih. Indra juga mengerti kalau Abimanyu telah menyakiti Laras dan menjadi penyebab wanita tua itu datang hingga ayahnya meninggal.


Tapi setelah mendengar jawaban Indriyani, dokter Nanang langsung terlihat sedih.


"Maafkan saya, saya tidak tahu!" dokter Nanang langsung melihat ke arah Laras dengan tatapan kasihan.

__ADS_1


"Ada apa nak, Laras kenapa?" tanya Ningrum penasaran.


"Laras hamil Bu!" jawab dokter Nanang yang memuat Indriyani terjatuh lemas ke lantai dingin rumahnya.


"Bu!" panggil Indra yang cepat membantu ibunya untuk bangun dan duduk di salah satu kursi rotan di belakangnya.


"Laras!" lirih Indriyani yang sudah menangis.


'Malang betul nasibmu nak, setahun menikah kamu tidak hamil, tapi setelah kita memutuskan untuk pergi dan melupakan pria bernama Abimanyu itu kamu malah hamil, kamu malah mengandung anak pria pembohong itu!' lirih Indriyani dalam hatinya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya, Ningrum juga langsung menutup mulutnya tak percaya. Tapi kemudian dia mengusap lembut kening Laras jingga kepalanya.


"Kasihan sekali kamu nak, kamu pasti sangat sedih." ucap Ningrum begitu perduli pada Laras.


Nanang juga melihat Laras dengan tatapan sedih.


'Seharusnya saat seperti ini adalah saat paling membahagiakan untukmu, tapi terlihat kamu sangat tersiksa dalam hati. Untung saja kandungan mu kuat, kalau tidak dengan kondisi mental mu yang seperti ini bisa saja hal buruk terjadi!' batin dokter Nanang.


Dokter Nanang sudah memeriksa Laras dan dia tahu Laras sedang dalam keadaan mental yang tidak baik. Untung saja di jalan menuju ke rumah ini tadi ibunya bilang kalau suami Indriyani baru saja meninggal jadi ibunya minta kalau penyakit Laras parah, tolong jangan dikatakan dulu pada Indriyani agar sahabat ibunya itu tidak semakin sedih.


Malam juga semakin larut, setelah mengetahui kondisi Laras tadinya dokter Nanang ingin tinggal dan menjaga Laras. Tapi Indriyani melarangnya.


"Di desa seperti ini tidak akan baik kalau dokter terus disini malam-malam begini. Kamu yang akan menjaga Laras!" ucap Indriyani.


"Tapi kalau ada apa-apa cepat panggil saja aku ya Yani, rumah ku yang tadi aku kasih tahu Indra itu, gak jauh dari sini!" kata Ningrum yang di balas anggukan kepala oleh Indriyani.


"Baik bibi, saya akan pulang. Ini ada beberapa vitamin yang bisa Laras minum kalau dia sudah sadar, tapi diminum setelah makan ya bi!" ucap dokter Nanang.


"Iya nak!"


"Indra ambilkan dompet ibu!" seru Indriyani.


"Bibi mau membayar ku?" tanya dokter Nanang impulsif.

__ADS_1


"Tidak, bibi mau membayar vitamin ini, pasti mahal kan?" tanya Indriyani.


"Kalau bibi melakukan itu aku akan malu pada diriku sendiri, aku bisa menjadi dokter seperti ini juga karena bantuin bibi Yani dan paman Syarif. Ibu dan ayah yang mengatakannya padaku, jadi tolong jangan menganggap ku seperti dokter, anggap aku seperti keluarga bibi sendiri ya!" ucap dokter Nanang begitu menyentuh hati Indriyani.


"Terimakasih nak!" ucap Indriyani.


"Sama-sama bibi, kami permisi dulu!"


Dokter Nanang dan ibunya pun pulang, beberapa saat kemudian Laras terbangun dan berusaha untuk duduk. Tapi kepalanya masih terasa pusing, jadi dia memegangi kepalanya.


Indra uang kebetulan masuk dengan membawa sepiring nasi dan juga lauk langsung mendekati Laras.


"Kakak sudah bangun? ayo makan dulu. Kata dokter kakak pingsan karena kakak belum makan!" ucap Indra sambil duduk di sebelah ranjang Laras dan menyendok nasi serta lauk dan di arahkan ke mulut Laras.


Laras tersenyum dan membuka mulutnya.


"Terimakasih Indra, kamu memang adik paling baik sedunia. Lalu apa kata dokter lagi?" tanya Laras pada Indra.


Indra terlihat gugup, masalahnya ibunya melarangnya memberitahu Laras kalau dia sedang hamil. Karena Laras pasti tidak akan menginginkan anak itu karena rasa bencinya yang begitu besar pada Abimanyu.


"Tidak tahu, cuma tadi dokter bilang kakak kurang vitamin. Tuh di kasih banyak vitamin sama dokter, gratis lagi!" ucapnya lalu menyuapkan nasi lagi pada Laras.


Laras lagi-lagi tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh adiknya itu.


"Gratis ya, baik banget dokternya!" kata Laras.


"Iya kak, ganteng lagi!" tambah Indra membuat Laras lagi-lagi tersenyum.


Dari balik pintu kamar Indriyani tersenyum lirih dengan mata yang berkaca-kaca melihat kedua anaknya sudah bisa tersenyum lagi.


'Mas, kamu lihat kan? sekarang apa yang harus aku lakukan. Laras hamil mas!' lirih Indriyani dalam hati sambil melihat foto suaminya yang dia genggam.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2