
Sepanjang perjalanan menuju ke puskesmas, Laras hanya diam. Sesekali dia melihat keluar jendela mobil dokter Nanang. Tapi kemudian dia kembali menunduk dan sama sekali tidak sekalipun menoleh ke arah dokter Nanang yang sejak tadi selalu mencuri curi pandang ke arah Laras.
"Kamu sudah makan?" tanya dokter Nanang mencoba untuk mengawali percakapan dengan Laras.
"Sudah dokter!" jawab Laras singkat.
Dokter Nanang cukup lama diam, dia masih menunggu Laras bertanya balik padanya apakah dia sudah makan atau belum. Tapi sepertinya beberapa detik menunggu Laras tak kunjung mengatakan pertanyaan itu. Hal itu membuat dokter Nanang menghela nafasnya cukup panjang.
"Laras, jika kamu ingin aku menemani mu maka...!"
"Tidak dokter, aku sudah banyak merepotkan dokter dan juga keluarga dokter!" sela Laras sebelum dokter Nanang selesai dengan apa yang ingin dia katakan pada Laras.
Sedangkan Laras yang seakan tahu apa yang ingin dokter Nanang katakan, dia dengan cepat menyela sang dokter dan lagi-lagi menolak bantuan dokter Nanang lagi. Membuat kekecewaan kembali di rasakan oleh dokter Nanang.
Tapi dokter Nanang juga belum mau menyerah, dia sama sekali tidak mau menyerah dulu.
"Kamu dan juga bibi serta Indra sama sekali tidak pernah merepotkan aku dan juga keluarga ku. Sebuah kehormatan bisa membantu Bibi Indriyani yang telah membantu ayah dan ibuku. Laras, jika kamu membutuhkan apapun, ingat untuk mengatakan nya padaku. Ya?" tanya dokter Nanang setelah menjelaskan kalau dia sama sekali tidak pernah merasa di repotkan oleh Laras ataupun keluarga nya.
Karena tidak mau memperpanjang perdebatan. Akhirnya Laras memilih untuk menganggukkan kepalanya saja. Dan melihat Laras mengangguk tanda setuju, dokter Nanang pun tersenyum.
Tanpa terasa mereka pun akhirnya sudah berada di depan puskesmas. Dokter Nanang turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian dengan cepat dia bergegas memutar ke arah depan untuk membukakan pintu mobil untuk Laras. Tapi sayangnya sebelum Dokter Nanang sampai, Laras sudah lebih dulu turun dari dalam mobil.
"Dokter Nanang, terimakasih banyak ya karena dokter susah mengantarku!" ucap Laras sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Jangan formal seperti itu Laras, aku senang bisa melakukan sesuatu untuk mu!" ucap dokter Nanang yang coba untuk memberikan kode perhatian nya pada Laras.
Laras juga bukannya tidak menyadari itu, tapi dia tidak mau dokter Nanang kecewa. Karena saat ini hatinya benar-benar sudah tertutup untuk pria manapun.
"Dokter aku masuk dulu ya!" ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju ke puskesmas.
"Laras!" panggil dokter Nanang.
Laras pun menoleh.
"Iya dokter!" jawab Laras singkat.
"Pulang besok pagi, aku jemput ya. Seperti janji ku pada bibi Yani!" kata dokter Nanang.
Dan lagi-lagi tanpa banyak bicara, Laras hanya mengangguk sekali lalu kembali berjalan ke arah pintu masuk puskesmas.
Sementara itu dokter Nanang hanya bisa kembali menarik nafas panjang. Dia masih tidak akan menyerah meskipun Laras terus bersikap dingin dan cuek padanya. Dokter Nanang pun masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu meninggalkan area puskesmas.
__ADS_1
Sementara itu di dalam puskesmas, perawat yang tadinya bertugas di shift siang pun memberikan penjelasan tentang pasien yang ada di ruang rawat inap pada Laras.
"Tadi siang dia sudah sadar, saat di tanya dia menjawab dengan baik meski masih agak lamban responnya. Infusnya mungkin akan habis dalam lima belas menit lagi, ingat untuk tidak mengalirkannya terlalu cepat. Jam 3 pagi, pastikan periksa berapa cc urine nya ya. Dokter Wilman membutuhkan data itu!" jelas Sekar, perawat yang bertugas di siang hari.
Laras mengangguk paham dengan semua penjelasan Sekar. Menurutnya hanya perlu kesabaran dan ketelitian saja untuk menjaga pasien ini, dan kesabaran itu adalah keunggulan Laras. Karena Laras memang termasuk wanita yang sangat sabar.
Setelah tepat pukul 10 malam, Sekar pun pulang dan meninggalkan Laras seorang diri di bagian ruang rawat inap. Meskipun begitu sebenarnya masih banyak petugas lain yang ada di puskesmas. Ada dokter jaga shift malam, dan juga petugas ambulans, ada juga petugas kebersihan dan petugas keamanan.
Laras menghirup nafas dalam-dalam ketika akan masuk ke dalam ruang rawat untuk bersiap mengganti botol infus pasien. Meskipun tadi Sekar bilang masih sekitar sepuluh menit lagi, tapi Laras hanya ingin memastikan dia tidak terlambat menggantinya.
Saat Laras masuk ke dalam ruang rawat inap itu, ternyata pasien di dalamnya sedang terjaga. Pria tampan itu yang usianya mungkin sekitar 35 tahunan menoleh ke arah Laras. Tapi dia hanya diam.
"Selamat malam, maaf saya mengganggu. Saya hanya ingin mengganti botol infus nya pak!" kata Laras berusaha sopan dan ramah pada pasien itu.
"Namaku Dipa, panggil saja aku Dipa!" ucap pasien itu yang membuat Laras terdiam sejenak di tempatnya.
Laras sedang berpikir, apakah dia harus menuruti permintaan pasien itu atau tidak. Tapi menurut nya memanggil dengan nama saja itu terdengar tidak sopan, sedangkan usia Laras terpaut jauh pastinya dari pasien itu.
"Bagaimana kalau saya panggil pak Dipa saja?" tanya Laras sambil tersenyum canggung.
Tapi di luar dugaan Laras yang mengira pasien itu akan marah, dia malah terkekeh pelan.
"Heh.. uhuk uhuk!"
Laras membantu Dipa untuk bangun dan memposisikan tempat tidurnya setengah duduk.
Ketika melihat wajah Dipa merah dan seperti nya akan mun*tah. Laras lalu mengambil baskom alumunium yang ada di bawah tempat tidur pasien. Dan mengarahkannya ke bawah mulut Dipa.
Dan benar saja, Dipa muntah beberapa kali. Lebih tepatnya tiga kali. Laras bahkan menghitungnya. Setelah di rasa sudah berhenti. Laras langsung meletakkan kembali baskom itu di bawah dan segera mengambil tissue untuk membersihkan area mulut Dipa.
"Saya bantu lap ya pak!" ucap Laras sopan meminta ijin pada Dipa.
Laras pun tidak hanya mengelap area mulut Dipa. Melihat keringat di dahi dan leher Dipa. Laras juga meraih tissue lagi dan mengelap area yang berkeringat itu.
Setelah di rasa bersih, Laras membantu Dipa untuk berbaring lagi.
Laras dengan cepat meraih buku catatan kecil di kantong baju perawatnya dan mencatat sesuatu. Setelah selesai dia kembali melihat ke arah botol infus.
'Sepertinya masih sekitar lima sampai sepuluh menit lagi, aku akan bersihkan baskom itu dulu. Siapa tahu dia mun*tah lagi nanti!' pikir Laras.
Tapi sebelum Laras melakukan apa yang dia pikirkan tadi. Terlebih dahulu dia bertanya tentang apa yang dirasakan oleh Dipa.
__ADS_1
"Tuan Dipa, apakah anda masih mual?" tanya Laras.
Dipa pun menggeleng pelan.
"Atau anda ingin minum?" tanya Laras lagi.
Dan lagi-lagi Dipa menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi ya. Saya akan membersihkan baskom itu. Sebentar saya kembali lagi!" ucap Laras.
Laras meraih baskom alumunium itu, dan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di ruang rawat. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan baskom alumunium yang sudah bersih. Laras pun meletakkan nya kembali ke bawah ranjang.
Laras kembali memperhatikan botol infus Dipa.
"Siapa namamu?" tanya Dipa membuat Laras langsung menoleh ke arah pria itu karena dia bertanya tiba-tiba.
Laras tersenyum ramah.
"Nama saya Laras!" ucap Laras.
"Laras, apakah kamu tidak jijik dengan yang aku lakukan barusan?" tanya Dipa pada Laras.
Laras langsung terdiam dan berpikir.
"Maksud pak Dipa bagaimana?" tanya Laras yang masih bingung.
"Tadi sore aku juga mun*tah. Dan perawat yang membantuku terlihat sangat jijik dan dia bahkan menutup hidungnya saat membawa baskom itu ke kamar mandi!" jelas Dipa yang sudah mulai bisa bicara panjang lebar.
Laras langsung menghela nafas panjang.
'Rupanya pasien ini sensitif sekali. Dia bahkan memperhatikan hal itu!' pikir Laras.
"Pak Dipa jangan pikirkan itu ya, mungkin perawat tadi sedang sensitif!" jawab Laras coba untuk tidak membuat Dipa merasa tidak nyaman.
Tapi saat Laras mengatakan hal itu, Dipa malah menunduk sedih.
"Bahkan istriku saja seperti itu, dia bahkan tidak pernah mau membuka sepatu dan kaos kaki ku saat aku kelelahan bahkan tertidur di sofa!" keluh Dipa yang membuat Laras ikut sedih mendengarnya.
Laras juga ikut sedih, tapi itu adalah urusan pribadi pasiennya. Dia sama sekali tidak berhak berkomentar apapun. Dan kebetulan sekali, botol infusnya sudah mau habis, Laras langsung mengalihkan perhatian Dipa dengan meminta ijin mengganti botol infus nya.
"Maaf pak Dipa, saya akan ganti botol infusnya. Sebentar ya pak!" ucap Laras sopan.
__ADS_1
***
Bersambung...