Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 25


__ADS_3

Setelah semua pasien sudah di obati, dan tidak ada antrian pasien yang baru. Laras memutuskan untuk membereskan dan merapikan ruang praktek dokter Nanang. Ketika Laras sedang bersih-bersih, dokter Nanang keluar dari dalam ruang periksa.


Melihat Laras yang sedang mengepel dan juga merapikan kursi, dokter Nanang langsung meraih kursi yang di pegang oleh Laras.


"Laras, jangan mengangkat kursi! biar aku saja!" ucap dokter Laras yang meraih kursi plastik yang di angkat Laras dengan tangan satu sebab dia akan mengepel lantai di bawah kursi tersebut.


Pandangan Laras malah menatap aneh ke arah dokter Nanang.


'Apa dokter Nanang ini tidak terlalu berlebihan, ini hanya kursi plastik. Bahkan aku bisa mengangkatnya dengan satu tangan, kalau ada yang melihat ini mereka pasti akan salah paham!' batin Laras.


Laras pun menjauh sedikit dan membuat jarak dengan dokter Nanang, karena saat dokter Nanang meraih kursi dari tangan Laras maka secara otomatis dokter Nanang berdiri dekat sekali dengan Laras.


Menyadari kalau dia memang terlalu dekat dengan Laras. Setelah menurunkan kursi yang dia pegang. Dokter Nanang juga langsung terlihat salah tingkah.


"Laras, aku tidak bermaksud...!" dokter Nanang menjeda kalimatnya. Dia agak bingung menjelaskannya.


Karena sebenarnya dokter Nanang sedang mengkhawatirkan kondisi kehamilan Laras, makanya dia langsung meraih kursi yang di angkat Laras. Sampai dokter Nanang lupa, kalau sebenarnya Laras belum tahu tentang kehamilan nya itu.


Melihat dokter Nanang salah tingkah, Laras jadi tidak enak hati. Dirinya juga bukan merasa tidak nyaman dokter Nanang di dekatnya, dia hanya tidak ingin menimbulkan opini publik yang bisa salah paham kalau mereka terlalu dekat.


"Tidak apa-apa dokter, aku tadi terkejut saja dokter langsung meraih kursi itu. Tapi itu hanya kursi plastik dokter, tapi tetap saja aku sangat berterimakasih karena dokter begitu perhatian padaku!" ucap Laras sambil menundukkan wajahnya.


"Iya Laras. Oh ya, ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang di warung belakang puskesmas ini. Di warung nenek Untung?" tanya dokter Nanang.


Laras berpikir sejenak. Kalau makan siang disana juga banyak orang bukan, jadi tidak akan ada orang yang berpikir berlebihan tentang hubungan mereka juga. Selain itu, kalau mereka makan siang di warung nenek Untung, maka secara otomatis mereka juga membantu nenek Untung yang hanya seorang janda tua yang hidup sendirian dan mencukupi kebutuhan hidup dengan membuka sebuah warung makan kecil di belakang puskesmas. Warung itu juga merupakan rumahnya.


"Baiklah dokter, aku akan membereskan semua peralatan ini dulu!" ucap Laras.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggu di sini!" sahut dokter Nanang yang langsung di balas anggukan kepala dari Laras.


Laras lalu berjalan ke arah ruang kebersihan di puskesmas untuk meletakkan kain pel dan juga ember yang dia bawa. Saat akan menuju keruangan itu, dia melihat seseorang baru saja di bawa dari mobil ambulans menuju ke ruang gawat darurat. Sekilas Laras melihat ke arah orang itu, noda merah mengotori pakaian nya yang merupakan setelan jas mahal, Laras tahu itu karena dulu Abimanyu sering memakai setelan jas semacam itu. Lukanya juga terlihat parah. Kakinya bahkan sedang di tahan oleh petugas puskesmas yang bertugas.


Bagian umum dengan bagian dokter Nanang memang berbeda. Tapi karena dokter Nanang adalah dokter yang baik, dia pun mengikuti rombongan tersebut.


Ketika dokter Nanang melihat Laras tak jauh dari sana, dia pun menghampiri Laras terlebih dahulu.


"Laras, sebaiknya kamu makan siang duluan saja. Ada kondisi darurat!" ucap dokter Nanang dengan terburu-buru.


Bahkan tanpa menunggu jawaban Laras, dokter Nanang sudah bergegas meninggalkan nya dan masuk ke ruangan gawat darurat. Sikap dokter yang seperti itu, yang lebih mementingkan keselamatan orang lain, membuat senyum terukir di wajah Laras.


'Sebenarnya dokter Nanang adalah pria yang sangat baik!' pikir Laras.


Dan pada akhirnya Laras memutuskan untuk pergi sendiri ke warung nenek Untung, karena mang perutnya juga sudah terasa lumayan lapar. Laras memutuskan untuk membungkus saja nanti nasi dan lauk untuk dokter Nanang.


"Nek, pesan nasi rames biasa ya pakai telur saja!" ucap Laras pada nenek Untung.


"Eh, neng Laras. Iya neng sebentar ya!" jawab nenek Untung.


Sambil menunggu pesanannya, Laras menyapa beberapa orang petugas puskesmas yang sedang makan di warung nenek Untung.


"Eh, tadi tuh ada telepon ya yang minta ambulans datang ke sana?" tanya petugas yang bernama Cece yang bekerja di bagian informasi.


"Iya, kecelakaan parah. Mobilnya nabrak pembatas jalan tuh di tol!" jawab Arum salah satu temannya.


"Hah.. kok bisa?" tanya Cece yang meletakkan sendok nya kembali ke atas piring. Padahal dia tadi sudah mau menyuapkan makanan di dalam sendok nya itu ke mulutnya.

__ADS_1


"Iya, katanya sih rem nya blong. Tahu gak mobilnya tuh ringsek parah. Masih untung pas ambulans ke sana tuh korban satu-satunya masih bernafas, masih selamat dia, mukjizat banget itu!" jawab Arum yang benar-benar terkesan sudah biasa membicarakan hal tersebut sambil santainya menikmati makan siangnya.


"Neng, ini makanannya. Tumben gak bareng sama dokter Nanang?" tanya nenek Untung.


"Makasih nek, iya nek tadi dokter Nanang ikut menangani kasus darurat!" jawab Laras lalu mulai menyantap makanannya.


Bekerja di puskesmas memang harus tahan dengan segala macam bau dan juga kondisi. Mata dan hidung harus terbiasa melihat dan mencium segala sesuatu yang berhubungan dengan organ tubuh, dan pasien kecelakaan parah. Laras juga sudah mulai terbiasa dengan hal itu, meski dirinya sedang hamil dia juga tidak mengalami mual dan semacamnya. Jadi itu semakin membuatnya tidak menyadari kalau dirinya sedang hamil.


"Eh tapi katanya tadi Bang Ruspandi sempat nemuin dompetnya ya, yang jatuh dekat mobil yang kebakar itu?" lanjut Cece bertanya pada Arum.


Ruspandi adalah supir ambulans yang tadi menolong pasien kecelakaan.


"Iya, dan sepertinya orang kaya banget. Banyak kartu katanya di dompetnya, juga ada banyak dolarnya!" ucap Arum sambil terus mengunyah makanannya.


"Wah, orang kaya! masih muda gak?" tanya Cece lagi.


"Dari KTP nya sih umurnya 35 an gitu!" jawab Arum.


"Wah, mudah-mudahan dia gagar otak ya!" kata Cece membuat Arum memukul lengan teman kerjanya itu.


"Sembarangan kalau ngomong!" protes Arum.


"Ih, biarin. Kan aku tuh yang bakal ngurus rawat inap, nanti aku kan bisa bilang kalau aku ini pacarnya kalau dia beneran gagar otak!" jelas Cece sambil terkekeh membuat Arum dan Laras sama-sama menggelengkan kepala mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Cece.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2