
Sudah dua hari Abimanyu di rumah ayah Laras, dalam dua hari ini Abimanyu bahkan sudah meminta cuti dan menyerahkan semua urusan perusahaan pada tangan kanannya yaitu Andri.
Abimanyu ingin fokus mengurus masalah dirinya dengan Laras terlebih dahulu. Dia ingin mendapatkan kembali kepercayaan Laras karena dia juga tidak berbohong kalau dia ingin menceraikan Sarah. Niat itu memang sudah bulat di dalam hati Abimanyu. Dia merasa kalau Sarah tidak akan pernah berubah. Dan selamanya hanya akan memikirkan dirinya sendiri dan tidak akan pernah mementingkan pernikahannya apalagi anak mereka satu-satunya yaitu Cindy.
Hari ini adalah jadwal check up kesehatan rutin Syarifudin ayah Laras dan Abimanyu sendiri yang mengantarkan ayah mertuanya itu ke rumah sakit yang letaknya memang cukup jauh dari desa mereka.
Laras dan juga Indriyani ibunya tidak ikut karena mereka harus menyiapkan acara syukuran kelulusan adik Laras yaitu Saipul. Karena Saipul sudah lulus SMP, Abimanyu ingin mengadakan syukuran dengan makan bersama dengan seluruh warga desa.
Saat sedang sibuk memasak, Wulan menghampiri Laras yang sedang membersihkan daun pisang. Sambil meletakkan adonan ketan yang sudah di kukus, Wulan duduk di sebelah Laras.
"Laras, ini ketannya. Mana abon nya?" tanya Wulan.
Tapi saat Wulan bertanya seperti itu, Laras masih melihat ke arah daun pisang dan terus membersihkannya dengan lap. Wulan baru sadar kalau sejak tadi hanya daun pisang itu yang Laras pegang. Wulan menghela nafas panjang menyadari kalau ternyata sahabatnya itu sedang melamun.
"Laras!" panggil Wulan sambil menyentuh lengan Laras.
Laras langsung melihat ke arah tangan Wulan lalu ke arah Wulan.
"Wulan, ada apa?" tanya Laras yang semakin membuat Wulan yakin kalau sebenarnya Laras sedang melamun.
Wulan menyadari kalau sahabatnya itu memang sedang dalam masalah, tapi dia tidak menyangka sudah dua hari bersama suaminya dia belum bisa menyelesaikan masalahnya. Karena tempat mereka sedang berada ramai orang, Wulan pun memilih untuk tidak membahas masalah pribadi Laras.
"Tidak ada apa-apa, tadi aku bertanya dimana abon nya!" jawab Wulan.
Laras langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O, lalu dia membuka beberapa lembar daun pisang yang ada di hadapannya. Tangannya langsung meraih dua bungkus abon sapi yang ada di bawah tumpukan daun pisang dan memberikannya pada Wulan.
__ADS_1
"Ini Wulan, maaf tadi aku...!"
Sebelum Laras meneruskan ucapannya, Wulan sudah menepuk punggung tangan sahabatnya itu dan tersenyum.
"Sudahlah tidak apa-apa. Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu dan keluargamu orang baik. Tuhan pasti membantu kita menyelesaikan semua masalah ini!" ucap Wulan yang sangat mengerti dengan masalah Laras.
Mereka pun bersama-sama membuat kue tradisional yang berbahan beras ketan kukus dan abon yang di bungkus dengan cantik memakai daun pisang. Setelah semua siap dan semua makanan pun siap dan Abimanyu dan Syarifudin sudah kembali dari rumah sakit acara pun dimulai, acara doa dan makan bersama.
"Beruntung banget ya pak Udin punya mantu kaya raya dan baik hati, rumah di bangun, pabrik juga di bangun, semua warga desa jadi punya kerjaan. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan suami Laras ya!" ucap seorang wanita paruh baya dengan kebaya dan lipatan kain di atas kepalanya.
"Amin!" sahut seorang nenek tua yang sedang berusaha keras mengunyah makanan yang ada di atas piringnya.
Laras yang mendengar semua itu memejamkan matanya. Semua orang bahkan sangat menyayangi dan menyanjung suaminya. Apa jadinya kalau semua orang disini tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu tentang kesehatan ayah!" kata Abimanyu lalu berjalan lebih dulu menuju ke kamar mereka.
Laras yang begitu mencemaskan ayahnya langsung mengikuti langkah Abimanyu.
Ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi uang ada di dalam kamar, Abimanyu meletakkan sebuah map coklat di atas meja.
"Laras, ini adalah hasil pemeriksaan kesehatan ayah!" ucap Abimanyu.
Laras yang melihat map itu kemudian ke arah wajah Abimanyu merasa sedikit cemas. Masalahnya Abi terlihat sedih.
Dengan cepat tangan Laras langsung meraih map coklat itu dan membukanya.
__ADS_1
Laras membaca dengan teliti, dan menurutnya kesehatan ayahnya baik-baik saja. Tapi begitu sampai pada halaman paling belakang, dan melihat note dari dokter yang memeriksa ayahnya Laras terlihat ikut cemas seperti Abimanyu.
"Mas, ini... ayah?" tanya Laras yang ingin mendengarkan penjelasan dari Abimanyu tentang note dokter itu.
Note itu berisi, kalau tuan Syarifudin harus selalu dalam kondisi emosi yang stabil. Sesuatu yang mengejutkannya atau membuatnya marah, sedih dan emosi yang berlebihan maka bisa berakibat fatal baginya.
"Benar Laras, kondisi ayah mu kembali seperti setahun yang lalu, dia tidak boleh lelah, emosi dan juga stress. Atau akan berakibat sangat fatal" jelas Abimanyu yang langsung membuat mata Laras berkaca-kaca.
'Maafkan aku Laras, sebenarnya ayah baik-baik saja. Itu seperti yang tertera pada laporan medisnya. Maafkan aku karena aku sudah membohongimu lagi demi membuatmu tetap berada di sisiku. Aku sangat mencintaimu Laras!' batin Abimanyu.
Itulah yang terjadi sebenarnya, saat melakukan pemeriksaan kesehatan sebenarnya keadaan Syarifudin telah berangsur baik dan sudah sangat pulih dari peristiwa kecelakaan setahun yang lalu. Namun ketika mereka sudah akan kembali ke mobil, Abimanyu meminta sang ayah mertua untuk menunggu di mobil. sebentar karena Abimanyu mengatakan padanya kalau ada yang tertinggal. Tapi sebenarnya Abi menemui dokter dan minta agar dibuatkan note tambahan pada laporan medis. Abi beralasan kalau itu semua untuk membantunya, dokter yang sangat mengenal Abi pun menuruti permintaan Abimanyu. Dan jadilah note itu yang di letakkan di belakang laporan medis Syarifudin.
Laras yang sudah tidak bisa menahan tangisnya pun hanya bisa menundukkan kepalanya dan meremas kertas note dari dokter itu.
"Tapi aku tidak ingin menjadi wanita lain, mas!" lirih Laras yang tidak bisa menahan perasaannya yang begitu sedih dan dilema.
Jika dia tidak mengatakan semua itu pada ayahnya, maka ayahnya akan mengira rumah tangga Laras baik-baik saja. Tapi jika dia beritahu masalah yang sedang dia hadapi maka keselamatan sang ayah yang jadi taruhannya.
Abimanyu lalu berdiri dan memeluk Laras dari belakang.
"Percayalah padaku Laras, besok aku akan kembali ke kota B. Lalu aku akan menceraikan Sarah. Kamu tidak akan menjadi wanita lain. Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu!" ucap Abimanyu yang terus mencium puncak kepala Laras membuat Laras menjadi serba salah dan tak tahu harus berbuat apa.
***
Bersambung...
__ADS_1