Wanita Lain Itu... Aku

Wanita Lain Itu... Aku
WLIA 23


__ADS_3

Sementara itu selama beberapa hari setelah kembali dari kota B dan mengetahui apa yang terjadi pada Laras dan juga keluarganya. Keadaan Abimanyu benar-benar sangat menyedihkan, dia bahkan sudah beberapa hari ini tidak datang ke perusahaan. Dia hanya mengurung dirinya di dalam kamar, bahkan dia hanya akan makan kalau Cindy yang datang membujuknya. Benar-benar sangat menyedihkan. Abimanyu seperti sudah tidak punya semangat hidup lagi, dan dia hanya bertahan demi Cindy saja.


Marina yang sedih melihat kondisi anaknya itu juga hanya bisa pasrah pada keadaan, masalahnya dia juga tidak bisa membantu Abimanyu. Karena kalau dia mengijinkan Abimanyu mencari tahu keberadaan Laras yang kata Abimanyu, dia sangat yakin kalau wanita itu belum meninggal. Marina malah sangat merasa tidak enak hati kepada keluarga Sarah. Apalagi setelah semua orang mengetahui seperti apa keadaan Sarah saat ini. Hal kecil yang membuat saya sedih kemungkinan akan memperpendek usianya begitu kata dokter Rusdi.


Karena pernyataan dokter Rusdi itulah yang membuat semua orang kini hanya bisa diam melihat keadaan Abimanyu yang benar-benar menyedihkan.


Marina yang mendengar dari pelayan kalau Abimanyu sampai sore belum makan pun segera menemui putranya itu di dalam kamarnya.


Saat Marina masuk ke dalam kamar Abimanyu, pria itu hanya terbaring dengan posisi miring menghadap ke arah jendela, dia diam tak berdaya di atas tempat tidur dengan pandangan nanar ke arah jendela yang sengaja di biarkan terbuka padahal hari sudah mulai petang.


Marina pun menyalakan lampu dan menutup jendela kabar anaknya itu sambil berkata.


"Cindy sudah di jemput oleh neneknya, malam ini Sarah bilang ingin tidur bersama dengan Cindy. Apa kamu tidak mau pulang ke sana dan bersama dengan anak juga istrimu?" tanya Marina.


Marina berusaha bicara dengan nada yang biasa padahal dalam hatinya Dia sangat merasa sedih ketika dia melihat wajah sang anak yang semakin lama terlihat semakin kusut. Bulu halus di sekitar wajah terutama di bagian atas bibir dan dagunya semakin kentara, itu karena sudah beberapa hari ini Abimanyu tidak merawat dirinya dengan baik dia bahkan lupa untuk mencukur kumis dan juga jenggotnya. Hingga terlihat kurang rapi dan membuat wajahnya yang pucat semakin terlihat pucat saja.


Tapi setelah Marina bicara begitu banyak, Abimanyu masih tidak menunjukkan respon apapun. Marina semakin sedih hatinya. Tapi dia masih bersyukur karena Abimanyu masih ingat pada Cindy hingga dia tidak membuat dirinya sendiri terjerumus dalam hal negatif. Kalau orang lain di luar sana mungkin saja akan mengalihkan diri pada minuman keras atau hal semacam itu, tapi Abimanyu sama sekali tidak mau melakukan itu karena dia masih sangat memikirkan Cindy.


Tapi bahkan senyum dan tawa canda putri kecilnya itu pun hanya bisa menghiburnya sekejap saja, dalam beberapa saat kemudian Abimanyu akan kembali ingat pada Laras dan juga semua kesalahannya pada Laras dan keluarganya.

__ADS_1


Marina lalu duduk di kursi yang dia tarik ke dekat tempat tidur Abimanyu.


"Nak, ibu mengerti perasaan mu. Ibu tahu kamu pasti merasa sangat bersalah pada wanita itu. Tapi kamu juga tidak boleh menghancurkan hidup mu seperti ini nak, mungkin kamu pikir dengan diam dan mengurung diri di dalam kamar seperti ini kamu tidak akan membuat masalah bagi orang lain, tapi kamu salah!" ucap Marina yang mulai terdengar begitu serius.


Saat Marina mulai sangat serius, Abimanyu masih tidak merespon apa yang dikatakan ibunya itu. Pandangannya masih lurus ke depan dan tidak menoleh sedikitpun ke arah Marina.


Marina pun mencoba untuk menyentuh lengan putranya itu dengan lembut.


"Kamu adalah CEO sebuah perusahaan besar nak, kalau kamu seperti ini maka perusahaan mu juga akan terpengaruh. Andri sudah beberapa kali datang dan minta untuk bertemu dengan mu untuk membahas masalah penting, dia bilang perusahaan benar-benar akan rugi kalau kamu tidak datang pada meeting besok. Coba kamu bayangkan nak, kalau perusahaan itu hancur? mungkin bagi kita itu tidak masalah, karena ayah mu masih ada perusahaan lain, tapi apa kamu memikirkan nasib ratusan, bahkan ribuan karyawan mu itu? akan seperti apa mereka nanti? bagaimana keluarga mereka kalau mereka tidak punya pekerjaan lagi? apa kamu memikirkan semua itu nak?" tanya Marina yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Sebenarnya selain benar-benar perduli pada nasib seluruh karyawan perusahaan Abimanyu, Marina lebih sedih melihat keadaan Abimanyu yang seperti ini. Sejak tadi dirinya bicara, Abimanyu bahkan sama sekali tidak meresponnya. Hati ibu mana yang akan tahan dengan penderitaan anaknya yang seperti ini.


"Ibu, akan keluar. Ibu tidak akan memaksamu nak. Tapi ibu mohon pikirkan lagi ya, mungkin Laras juga tidak akan tenang di alam sana kalau kamu terus seperti ini, dia juga pasti akan sedih melihatmu seperti ini!" ucap Marina lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar Abimanyu.


Semua fakta itu membuat Marina merasa kalau apa yang di katakan Abimanyu hanya karena dia tidak bisa menerima kematian Laras dan juga keluarganya saja. Hingga Marina juga menghentikan penyelidikan. Apalagi Sarah terlihat sedih ketika dia bilang dia sedang mencari tahu kebenaran tentang istri kedua Abimanyu itu.


Marina menutup pintu kamar Abimanyu dan menyeka air matanya yang menetes perlahan.


Sementara itu di dalam kamarnya, Abimanyu masih diam dan tidak menunjukkan respon apapun ketika Marina menyebutkan nama Laras. Tapi beberapa saat kemudian matanya terpejam. Dan setiap kali dia memejamkan matanya, bayangan wajah Laras selalu ada disana, wanita cantik itu tersenyum dan memanggil nama Abimanyu dengan lembut. Hal itu membuat setitik air mata mengalir dari sudut mata Abimanyu.

__ADS_1


"Laras!" lirih Abimanyu yang kemudian membuka matanya.


***


Sementara di tempat lain, Laras dan juga ibunya tengah sibuk menyiapkan pakaian kerja Laras. Sudah beberapa hari ini Laras bekerja di puskesmas sebagai asisten dokter Nanang.


"Sudah selesai ibu setrika, ibu letakkan di sini ya?" tanya Indriyani yang sudah selesai menyetrika pakaian kerja Laras.


"Terimakasih ibu, lain kali biar Laras saja. Ibu jangan capek-capek ya!" sahut Laras.


"Ibu gak capek nak, kamu yang gak boleh capek-capek!" ucap ibunya lembut.


"Ibuku sayang, Laras ini masih muda. Harus banyak bergerak, ibu yang sudah berumur harus banyak istirahat!" ucap Laras sambil merangkul ibunya dari belakang.


"Ih, kak Laras ngatain ibu tua...!" sambung Indra yang baru selesai mengerjakan PR.


Dan mereka pun terkekeh bersama.


'Syukurlah, Laras sudah mulai kembali ceria seperti dulu lagi!' batin Indriyani lega.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2