
Setelah beberapa hari menjalani perawatan, akhirnya Dipa pun sudah boleh pulang oleh dokter. Sungguh suatu keajaiban dengan keadaan mobil ringsek dan terbakar, Dipa hanya mengalami luka di kepala dan tangannya yang memang saat itu banyak sekali darah yang keluar. Tapi luka itu benar-benar hanya luka luar dan tidak berakibat fatal.
Kebetulan, Laras lah yang menjaga malam ini. Karena memang dia masihlah perawat Shift malam. Beberapa di rawat oleh Laras, Dipa sepertinya menaruh hati pada Laras. Sebelum menikah dengan Abimanyu dulu, Laras memang hanya wanita desa biasa yang tidak pernah tahu berdandan. Tapi setelah menikah dengan Abimanyu, suaminya itu sering membelikan skincare mahal dan bermerek. Juga berbagi macam alat makeup, jadi sejak itu Laras semakin tahu cara merias wajahnya dan menjaga tubuhnya dengan baik.
Hasilnya sekarang, Laras memang lah salah satu perawat paling cantik dan juga terlihat enak di pandang di Puskesmas ini.
"Apa disini ada rumah kosong atau kontrakan kosong, aku tidak tahu setelah aku keluar dari sini aku akan tinggal dimana?" tanya Dipa membuat Laras yang merapikan pakaian Dipa yang sudah di setrika jadi menghentikan aktivitas nya dan langsung beralih pada pria yang gagah itu.
"Pak Dipa, sebaiknya anda pulang ke rumah. Istri anda pasti sangat cemas!" ucap Laras memberi nasehat.
Tidak ada yang tahu bagaimana cemasnya menunggu suami pulang lebih daripada seorang istri. Laras juga pernah merasakan itu, saat suaminya dulu tak memberi kabar saja dia sudah sangat cemas.
"Aku hanya ingin menghilang dari mereka sebulan atau dua bulan, saat aku kembali aku ingin lihat apa mereka sudah melupakan aku tidak, apakah perusahaan itu masih berkembang pesat kalau tidak ada aku disana!" ucap Dipa yang terdengar begitu egois di telinga Laras.
"Pak Dipa apa pernah berpikir, kalau perusahaan pak Dipa itu bangkrut, berapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan mereka? berapa banyak orang yang akan hidup susah?" tanya Laras yang membuat Dipa tersenyum getir.
"Apa menurutmu aku sangat egois?" tanya Dipa.
Dan Laras hanya bisa menghela nafas panjang.
"Aku bukanlah orang yang pantas menilai hal itu. Jika memang sudah tidak mencintai istrimu lagi maka sebaiknya datangi dia dan katakan kalau anda tidak mencintainya lagi. Jangan membuat sebuah hubungan seperti sebuah permainan!" seru Laras begitu emosional.
Dipa bisa melihat kesakitan di mata Laras saat mengatakan semua itu. Dipa curiga mungkinkah Laras juga pernah mengalami hal yang begitu menyakitkan tentang cinta.
"Walau sebenarnya kamu terus bertahan karena janji yang terlanjur kamu ucapkan pada orang yang tak mungkin kamu sakiti?" tanya Dipa pada Laras.
Laras langsung menoleh lagi pada Dipa. Jujur saja dia kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Dipa itu.
"Ayahku, bukan... kepala panti asuhan di tempat ku dibesarkan dan dirawat sejak kecil, anaknya sakit, sakit parah. Kami bahkan tidak punya uang untuk membawa Nicolas ke rumah sakit besar. Tapi saat itu, tuan Antoni Wijaya, ayah mertuaku datang dan memberikan bantuan. Sandra bilang dia menyukai ku dan ingin aku menikah dengannya, dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan apapun yang terjadi, kalau aku menjanjikan hal itu pada Sandra, maka Nicolas akan di bawa keluar negeri dan di operasi agar penyakitnya sembuh!" Dipa menjeda ceritanya.
__ADS_1
Laras mulai memperhatikan nya dengan seksama.
"Kejadian itu sudah sepuluh tahun yang lalu, dan aku masih bertahan di sisi wanita yang sejujurnya tak pernah aku cintai. Aku sudah berusaha, namun benar-benar tidak bisa. Anggap saja aku egois, tapi apa mungkin perasaan kita bisa di paksakan?" tanya Dipa pada Laras.
Dan wanita yang terlihat sedih mendengar cerita Dipa itu hanya diam saja.
"Aku hanya butuh waktu satu bulan mungkin, untuk sekedar menjadi diriku sendiri. Jika hal ini kamu anggap egois maka apa dayaku?" tanya Dipa uang seolah pasrah apapun anggapan Laras padanya.
Laras kemudian ingat kalau di belakang rumahnya ada sebuah rumah kecil yang tadinya adalah tempat tinggal para pekerja kebun. Tapi karena kebun itu sudah tidak di tanami lagi karena Laras dan ibunya belum punya modal, dan saat Ningrum menawarkan bantuan ibunya Laras tidak mau menerima dengan alasan tidak mau menjadi beban. Maka rumah itu kosong sekarang.
"Apa pak Dipa punya cukup uang untuk hidup selama sebulan itu?" tanya Laras yang jujur saja meski bisa memberikan tempat tinggal tapi dia tidak yakin bisa menambah pengeluaran untuk makan dan segala macam keperluan Dipa.
Dipa langsung terkekeh.
"Apa kamu percaya, kalau uang yang ada dalam kartu kecilku yang aku bawa itu bahkan bisa membuatku bertahan sepuluh tahun meskipun aku tidak bekerja? tanya balik Dipa.
Laras lalu mengangguk kan kepalanya.
"Benarkah, apa kamu tidak menagih uang sewa padaku?" tanya Dipa.
Laras terdiam tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rumah itu mang tidak terpakai, jadi kenapa aku harus menagih uang sewa. Sudah malam, sebaiknya pak Dipa istirahat. Besok pagi, anda sudah boleh pulang!" ucap Sila yang sudah selesai membereskan pakaian Dipa dan meletakkan nya di atas nakas.
Tapi saat Laras akan melangkah pergi keluar dari ruangan Dipa. Pria itu memanggilnya.
"Laras!" panggil Dipa membuat Laras menghentikan langkah nya dan menoleh.
"Iya, apa ada yang anda butuhkan lagi?" tanya Laras.
__ADS_1
Dipa lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya mau bilang terima kasih!" ucap Dipa.
Laras pun mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.
Keesokan harinya, Laras sudah mau bersiap pulang. Seperti biasa dokter Nanang sudah menjemput nya.
Beberapa perawat sudah bergosip mengenai mereka berdua. Tapi mereka mengira Laras itu memang seorang janda, jadi tidak masalah kalau memang punya hubungan spesial dengan dokter Nanang. Lagipula keduanya dikenal sangat baik di sini. Jadi tidak ada yang tidak setuju pada hubungan mereka.
"Selamat pagi Laras, bagaimana pekerjaan mu tadi malam?" tanya dokter Nanang.
Laras uang tersenyum di sapa oleh dokter Nanang langsung menghampiri dokter itu yang sedang membukakan pintu mobil untuk nya.
"Selamat pagi dokter, seperti biasanya. Sangat baik. Dan ini adalah hari terakhir ku shift malam, sebab pasien rawat inap itu sudah boleh pulang pagi ini!" ucap Laras.
"Apa kamu sedih, tidak bisa dapat gaji lembur lagi?" tanya dokter Nanang menduga-duga.
Laras langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak juga, rezeki itu sudah ada yang mengaturnya. Aku sudah sangat senang bisa dapat uang lembur satu minggu yang jumlahnya sama dengan gajiku satu bulan!" ucap Laras sambil terkekeh.
Dokter Nanang pun ikut terkekeh. Mereka pun naik mobil dan meninggalkan puskesmas. Dari jauh Dipa melihat Laras yang di jemput oleh dokter yang sering melihat dan memeriksa kondisi nya juga lantas bertanya pada salah seorang perawat yang lewat.
"Perawat, itu tadi dokter Nanang kan? apa setiap hari dia menjemput Laras?" tanya Dipa.
Perawat yang tak lain adalah Arum itu langsung mengangguk.
"Iya, bukan hanya menjemput. Tiap Laras berangkat kerja di shift malam, dokter Nanang juga mengantarkan nya. Mereka sangat dekat. Kami semua di sini sih mendukung hubungan mereka, bukankah mereka sangat serasi?" tanya Arum yang langsung meninggalkan Dipa yang terlihat tidak senang mendengar apa yang Arum katakan tadi.
__ADS_1
***
Bersambung...