
Sudah satu minggu lebih Dipa berada di luar kota. Tepatnya dia berada di kota C, yang tempatnya memang adalah sebuah pedesaan yang lebih kecil daripada kita A. Tempat tinggal Laras sebelumya.
Dan selama itu pula Sandra benar-benar kelimpungan mencari keberadaan suaminya itu. Hidupnya terasa tidak lengkap, dia benar-benar merasa kehilangan.
"Ibu, kenapa ayah tidak mau pulang juga dari luar negeri. Aku yakin kalau ayah pasti bisa membantu kita mencari mas Dipa!" ujar Sandra pada sang ibu yang sejak pagi juga terus memijat kepalanya karena pusing memikirkan nasib kedua putrinya.
Sandra terus merengek seperti anak kecil, padahal di usianya yang sekarang seharusnya dia bisa mencari solusi sendiri untuk masalahnya, setidaknya dia bisa mencari suaminya dengan bertanya pada semua teman-teman suaminya. Tapi ini tidak, dia malah hanya diam di rumah terus mengerjakan rutinitas nya, tetap kumpul-kumpul dengan sahabat sosialitanya di cafe juga ke salon.
Rahma tak habis pikir kalau sikapnya dan suaminya yang terlalu memanjakan Sandra justru membuat Sandra yang usianya sudah lewat kepala tiga masih seperti anak remaja saja.
Rahma juga selalu di buat pusing dengan urusan Sarah. Karena sandiwara nya yang berpura-pura sakit, satu minggu sekali Rahma harus membawa Sarah ke rumah sakit untuk check up dan terapi. Meski semua itu hanya sandiwara, tapi tak jarang ibu mertua Sarah ikut menemani mereka, hingga terapi itu harus terlihat seperti real di depan Marina. Dan semua hal itu selalu membuat Sarah mengeluh pada Rahma. Belum lagi biaya yang harus terus Rahma keluarkan, waktu yang harus dia luangkan. Semua hal itu membuat Rahma tak sempat lagi mengurus dirinya sendiri.
Rahma yang usianya sudah hampir setengah abad bisanya terlihat sangat anggun dan elegan. Tapi sekarang dia sudah seperti Marina yang memiliki banyak rambut berwarna putih di atas kepalanya.
"Ya Tuhan Sandra, kita sudah lapor polisi. Ibu bahkan tidak yakin kalau suami mu masih hidup!" ucap Rahma yang sudah mulai menyerah mencari Dipa.
"Ibu!" pekik Sandra marah.
"Kenapa berteriak? coba kamu pikir. Satu minggu lebih Sandra, sudah satu minggu lebih. Dipa belum ada kabar. Kalau dia masih hidup tidak mungkin kan kalau dia tidak kembali. Dia itu pekerja holic. Tidak mungkin dia akan membiarkan perusahaan yang sudah dia buat maju, hancur begitu saja. Atau kalau dia tersesat di suatu tempat, tidak mungkin kan dia tidak bisa meminta seseorang untuk menghubungi kita. Ibu rasa lebih baik kamu jangan mencari Dipa lagi...!"
"Kenapa ibu bilang begitu? ibu tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa mas Dipa? kenapa malah berkata seperti itu!" tanya Sandra yang sudah kembali menangis.
__ADS_1
Rahma memegangi kepalanya lagi.
'Ya Tuhan, aku punya dua anak perempuan yang cantik-cantik dan berpendidikan tinggi. Tapi kenapa mereka bodoh seperti ini!' batin Rahma.
"Sandra, coba sekarang katakan pada ibu! apa yang membuatmu berpikir kamu tidak bisa hidup tanpa Dipa. Lihat dirimu, lihat penampilan mu. Apa akan ada yang tahu kalau kamu sedang berduka karena suami mu sudah seminggu tidak pulang dan tidak ada kabar?" tanya Rahma yang sudah mulai jengah pada sikap manja Sandra.
"Ibu, kenapa ibu terus menanyakan hal-hal yang semakin membuat ku sedih. Sudahlah aku akan pergi saja ke kantor Vicky lagi, siapa tahu sudah ada kabar tentang mas Dipa!" kesal Sandra yang langsung bergegas meninggalkan ibunya yang terduduk di sofa ruang tamu sambil memegangi kepalanya lagi.
"Oh ya Tuhan, aku rasa aku harus pergi ke spa. Semua masalah Sarah dan Sandra membuat kepalaku mau pecah!" gumam Rahma yang lalu menuju ke kamarnya.
Sementara itu di kediaman Abimanyu, Susana masih sama seperti satu minggu sebelumnya. Abimanyu masih tidak mau keluar dari kamar. Bahkan setelah Andri datang dan menyampaikan kalau saham mereka turun drastis Abimanyu masih tetap tidak mau keluar dari dalam kamarnya.
Sarah yang pulang bersama Marina, ingin sekali menemui Abimanyu. Tapi pria itu menolaknya. Hal itu membuat Sarah menangis.
Marina sebenarnya sangat kasihan pada Sarah. Dia baru saja di terapi tapi ketika dia ingin menemui Abimanyu, suaminya malah menolaknya.
"Bu, sampai kapan waktu yang di perlukan mas Abi? apa sampai saat itu aku masih ada waktu juga? aku sudah sekarat Bu!" ucap Sarah begitu pilu.
Apa yang dikatakan Sarah membuat Marina ikut menangis. Marina langsung memeluk menantunya itu.
"Sarah, jangan berkata seperti itu. Kamu dengar sendiri apa kata dokter tadi kan. Perkembangan pengobatan mu sangat bagus, bahkan sudah lebih dari satu bulan, sel kanker itu sama sekali tidak berkembang. Itu sudah merupakan sebuah keajaiban!" ucap Marina dengan sangat lembut sambil terus mengusap punggung Sarah berkali-kali.
__ADS_1
Sarah yang masih menangis pun hanya bisa diam tidak menjawab Marina.
Dia memang berpura-pura sakit, tapi kalau suaminya terus menolaknya, menjauhinya seperti ini maka dia akan benar-benar sakit. Sakit karena pikiran dan hatinya.
"Sekarang kamu temui Cindy dulu saja ya. Ibu akan membujuk Abi, untuk menemui mu dan Cindy di kamar Cindy. Ya?" tanya Marina. Dan Sarah pun hanya bisa menganggukkan kepalanya berharap ibu mertuanya itu berhasil membujuk suaminya untuk bertemu dan bicara dengannya.
Setelah Sarah pergi. Marina pun membuka kamar Abimanyu yang gelap. Meski sudah siang, tapi tirai jendela sama sekali tidak pernah di buka, lampu juga tidak pernah di nyalakan. Hingga kamar Abi malah tampak sangat menyeramkan.
"Aku sudah bilang tidak mau bertemu Sarah!" tegas Abi dengan nada datar begitu ada yang membuka pintu.
"Ini ibu, Sarah sedang ke kamar Cindy!" sahut Marina yang langsung duduk di tepi tempat tidur Abimanyu.
"Apa kamu tahu, kalau tadi ibu menemani Sarah untuk terapi. Apa kamu tahu apa kata dokter tentang penyakit nya?" tanya Marina pada Abimanyu.
Satu detik, dua detik...
Tak ada jawaban yang Marina dengar dari anaknya itu. Marina hanya bisa menghela nafas panjang.
"Abi, hentikan semua ini. Ibu tahu kamu butuh waktu, tapi kamu juga tidak lupa kan kalau Sarah itu sakit parah. Waktunya juga sudah tidak banyak lagi. Jangan jadi egois seperti ini nak. Kamu masihlah suami Sarah, kamu masih punya tanggung jawab untuk menjaga dia, menjaga jiwa dan raganya. Apalagi waktunya sudah tidak lama lagi. Jangan buat dirimu menyesal, kamu sudah kehilangan Laras dengan kesan tidak baik. Apa kamu juga akan membiarkan dirimu kehilangan Sarah dengan kesan yang sama?" tanya Marina yang membuat Abimanyu mengangkat kepalanya melihat ke arah sang ibu.
***
__ADS_1
Bersambung...